Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01
"Aku berangkat ya, Sayang. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku," ucap Alfa pada Davina, istrinya.
Pria dengan tinggi badan seratus tujuh puluh tiga sentimeter itu sedikit menunduk hanya untuk mengecup kening istrinya penuh rasa cinta.
Sebagai seorang pemborong sekaligus pemasok barang, memang sudah menjadi tugas Alfa untuk sering bepergian, memastikan pesanan sampai ke tangan pelanggan tepat waktu dan dalam kondisi baik. Tak jarang dia harus keluar kota hingga meninggalkan rumah berhari-hari lamanya.
Davina tersenyum lembut, menatap suaminya dengan pandangan meyakinkan. "Iya, Mas. Tenang saja, jangan khawatirkan kami. Aku pastikan semuanya baik-baik saja."
Perhatian Alfa beralih pada gadis kecil dalam gendongan istrinya. “Nai, jadi anak baik, ya, Nak. Ayah berangkat kerja dulu, jangan rewel sama Bunda," tuturnya lembut.
Alfa lantas menciumi pipi gembil Naima, putri semata wayangnya beberapa kali hingga ia tertawa dalam gendongan ibunya.
"Dah, Yayah."
Bocah perempuan berusia tiga tahun lebih itu melambaikan tangannya pada sang ayah.
Alfa tersenyum. “Dah, Sayang.”
Setelah berpamitan, akhirnya Alfa berangkat menaiki truk kerjanya. Davina berdiri beberapa saat di depan pagar, memandangi kendaraan yang membawa suaminya hingga menghilang di tikungan jalan. Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah.
"Nai, main boneka, ya? Bunda mau beres-beres dulu," kata Davina
Kemudian menurunkan putrinya dari gendongan ke lantai beralas karpet tebal, biasa tempat Naima bermain.
Lagi gadis kecil itu hanya mengangguk karena memang belum begitu lancar berbicara.
Selanjutnya Davina segera menyibukkan diri membersihkan rumah agar suasana tetap nyaman sambil memperhatikan buah hatinya.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di halaman rumah. Seorang lelaki seusia Alfa datang. Dia Ammar sahabat dekat sekaligus orang kepercayaan Alfa yang paling diandalkan untuk mengurus semua pekerjaan di rumah.
Tok
Tok
Tok
Naima yang melihat kedatangan Ammar tampak girang.
"O'om..." ujarnya.
Ia berdiri lalu mengangkat tangannya minta digendong.
"Halo, Naima..." sapa Ammar.
Lelaki itu tersenyum langsung meraih tubuh mungil Naima ke dalam gendongannya.
Davina keluar dari belakang begitu mendengar suara Ammar. "Sudah datang, Mas?" sapanya ramah.
"Sarapan dulu... sudah aku siapkan."
Ia kemudian mengambil Naima dari gendongan Ammar.
Ammar mengangguk lalu ke belakang untuk sarapan. Tidak ada yang aneh karena hal itu sudah biasa bahkan ketika Alfa di rumah. Selesai sarapan Ammar segera pergi ke gudang yang mana Davina sudah berada di sana lalu bergabung mengurus pekerjaan.
"Apa barang sudah datang semua pagi ini?” tanyanya. Dia melihat beberapa catatan di atas meja.
“Sudah. Silakan diperiksa lagi,” jawab Davina.
Seperti biasa Ammar bekerja sangat profesional, memeriksa barang satu per satu, menimbangnya, kemudian mencatat jumlahnya dengan teliti. Sesekali obrolan ringan tercipta di antara keduanya.
***
Di jalan
Alfa yang sedang dalam perjalanan menuju tempat pengiriman barang, tiba-tiba merasakan kendaraan yang dikemudikannya berguncang.
“Kenapa ini?” gumamnya.
Dia melirik ke arah kaca spion, kemudian segera memperlambat laju kendaraan dan menepi lalu turun. Salah satu ban belakang kendaraannya ternyata kempes.
“Waduh, harus cari bengkel ini.”
Alfa kembali naik ke truk guna mencari bengkel terdekat. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya menemukan sebuah bengkel kecil di pinggir jalan.
Saat sedang menunggu ban kendaraannya diperbaiki, Alfa dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang sangat dikenalnya.
“Lho, Mas Alfa?” sapa orang tersebut.
Alfa menoleh dan tersenyum. “Iya, Pak. Mau servis motor?”
“Oh...cuma mau ganti oli saja, Mas,” jawab pria itu.
Keduanya lantas berbincang ringan. Mereka membicarakan pekerjaan, hingga berita-berita yang sedang viral.
Sampai kemudian Pak Amin menatap dengan serius. “Mas Alfa, sebaiknya berhati-hati,” katanya.
“Hati-hati soal apa, Pak?” tanya Alfa heran.
“Sebaiknya Mas Alfa jangan terlalu percaya kepada orang lain. Meskipun orang itu dekat dengan kita. Terkadang, kepercayaan yang kita berikan justru bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri," jawab Pak Amin.
Alfa tampak bingung mendengar ucapan tetangganya itu. “Maksudnya apa ya, Pak?”
Pak Amin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Saya cuma mengingatkan saja sebagai sesama tetangga. Lebih baik waspada lebih awal daripada menyesal di akhir nanti. Ya sudah, saya pamit dulu, ya."
Selesai berkata pria paruh baya itu segera beranjak pergi meninggalkan bengkel setelah motornya selesai diganti oli.
Beberapa saat kemudian, ban truk Alfa pun selesai diperbaiki. Dia kembali melanjutkan perjalanan. Namun, entah mengapa ucapan tetangganya itu terus berputar di kepala meski sudah berusaha ditepisnya berkali-kali. Rasa gelisah mulai menggerogoti hatinya mengalahkan logika.
Setelah urusan pengiriman barang selesai, biasanya Alfa akan langsung menuju tempat penyadapan karet untuk memantau hasil panen. Namun, hari itu dia memutuskan langsung kembali ke rumah. Hatinya merasa tak tenang memintanya untuk segera pulang.
Sesampainya di dekat rumah, Alfa sengaja mematikan mesin truknya, agar suaranya tidak terdengar dan membiarkan kendaraan itu meluncur pelan hingga berhenti di depan gudang. Dia kemudian turun, memilih berjalan kaki menuju rumahnya.
Melihat suasana rumah yang tampak sepi dan lampu yang sudah dimatikan sebagian, Alfa sempat menghela napas lega.
"Mungkin Davina dan Naima sudah tidur," pikirnya positif.
Alfa membuka pintu rumah dengan hati-hati. Dia bahkan berusaha tidak menimbulkan suara karena tak ingin membangunkan istri dan putrinya.
Akan tetapi, baru beberapa langkah masuk, keningnya langsung berkerut. Terdengar suara aneh dari arah kamar. Alfa mempertajam pendengarannya lalu berjalan mengendap-endap seperti hendak menangkap maling mengikuti sumber suara tersebut. Semakin dekat dengan kamar, langkahnya semakin pelan. Hingga akhirnya, dia berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Didorongnya perlahan pintu yang ternyata tidak tertutup sempurna. Dan apa yang dilihatnya membuat sekujur tubuhnya seketika membeku. Di bawah keremangan cahaya lampu tidur, dia melihat di atas tempat tidur, dua sosok manusia yang sangat dikenalnya sedang bergumul. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan pandangan nyaris membunuh.
Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap-luap. Rahangnya mengeras serta kedua tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Ingin sekali rasanya menerjang masuk dan melampiaskan semua kemarahan saat itu juga. Namun, sebelum itu dia ingin melakukan sesuatu untuk membuat efek kejut pada mereka.
Perlahan, Alfa berbalik lalu bergegas menuju dapur. Tangannya meraih ember lantas mengisinya dengan air, kemudian berjalan kembali menuju kamar dengan langkah mantap, penuh kemarahan yang tertahan.
Alfa mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar, lalu tanpa aba-aba....
Byuurrr!!!
Satu ember penuh air dingin itu disiramkan tepat ke arah dua orang yang masih berpelukan di atas tempat tidur.
"Aaaa...!!!"
Keduanya berteriak hampir bersamaan, kaget setengah mati begitu air dingin mengguyur tubuh mereka juga kasur di bawahnya. Hingga membuat suasana yang tadinya panas penuh nafsu di kamar itu seketika berubah dingin dan kacau balau.