Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Delapan ratus lima puluh ribu?!" Nurhan memekik lagi. "Besar sekali, Nak!"
"Iya, Pak," jawab Edo lesu.
Dedah mengernyitkan kening. "Itu kamu ambil cicilan motor berapa tahun?"
"Lima tahun."
"Ya Allah!" Nurhan menepuk pahanya. "Lima tahun?!"
"Astagfirullah, Do!" Dedah ikut memekik. "Kenapa lama sekali?!"
Edo mengembuskan napas kasar. Ia mengacak rambutnya sendiri. Niat hati meminta bantuan kepada orang tuanya agar bisa membayar cicilan motor, tetapi jawaban mereka justru membuat kepalanya semakin pening. "Mama sama Bapak punya uang atau nggak, sih?" tanyanya, mulai kehilangan kesabaran.
Dedah menghela napas panjang. "Ada, tapi cuma lima puluh ribu. Bapakmu kan nggak kerja, Nak. Uang yang Mama punya juga tinggal segitu. Itu pun hasil menjual jagung."
Nurhan memalingkan wajah. Ia merasa malu karena tidak bisa membantu putranya sendiri. Namun, mau bagaimana lagi? Penghasilannya tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja terkadang mereka harus berhemat dan dibantu oleh Erma.
"Ah, lima puluh ribu cukup buat apa, atuh, Ma?" keluh Edo.
"Ya, Mama juga tahu itu nggak cukup," balas Dedah. "Tapi memang cuma segitu uang yang Mama punya."
Edo mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Cicilan motor tidak mungkin ditunda begitu saja. Belum lagi kebutuhan hariannya yang harus tetap terpenuhi.
Nurhan spontan berkata, "Kamu coba pinjam ke Tetehmu saja sana," sarannya.
Edo langsung menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau!"
"Kenapa?" tanya Dedah.
"Nggak ah! Minjam uang sama Teh Erma itu sama saja bunuh diri!" serunya. "Bapak nggak lihat tadi bagaimana marahnya Teh Erma ke aku? Rambutku sampai dijambak begitu! Kalau aku berani minta uang, bisa-bisa bukan cuma rambut yang dicabut, leherku juga dicekik!"
Nurhan dan Dedah saling berpandangan. Mereka teringat bagaimana Erma memarahi Edo habis-habisan tadi. Putri mereka memang sedang sangat kecewa kepada adiknya itu. Keduanya akhirnya mengangguk pelan.
"Iya juga, sih," gumam Dedah.
Edo mendengkus. Setidaknya, orang tuanya memahami alasan dirinya enggan meminta bantuan kepada sang kakak. "Mama coba, dong, telepon A Damin. Mama pinjam uang ke dia," pinta Edo kemudian.
Dedah mengerutkan kening. "Ke Aa-mu?"
"Iya. Siapa lagi? A Damin kan punya usaha tetap. Bengkelnya besar dan selalu rame. Jadi pasti dia punya uang."
Nurhan menghela napas. "Do, Aa-mu kan juga punya keluarga yang harus dinafkahi. Anaknya tiga, lho. Nina baru mau masuk SMA, Ela masuk SMP dan Budi... baru masuk SD. Dia juga pasti lagi pusing nyari biaya."
"Tapi aku kan cuka minjam, bukan minta. Nanti aku bayar kok."
"Kapan dibayarnya?" tanya Nurhan spontan.
Edo terdiam sesaat. "Nanti kalau aku sudah punya uang."
"Ya, kapan kamu punya uangnya?" Nurhan kembali mendesak.
Edo mulai kesal. "Aduh, Pak! Kenapa malah tanya begitu, sih? Aku ini lagi butuh bantuan!"
Dedah buru-buru menyela sebelum percakapan mereka berubah menjadi pertengkaran. "Sudah, sudah. Jangan berantem. Nanti Mama coba telepon Damin. Siapa tahu dia punya uang lebih dan mau membantu."
Wajah Edo sedikit cerah. "Nah, begitu dong, Ma. Dari tadi itu yang aku tunggu."
"Tapi Mama nggak janji, ya. Kalau memang dia nggak punya uang, kita juga nggak bisa memaksa."
"Iya, iya. Yang penting Mama coba dulu."
Dedah mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia membuka daftar kontak, kemudian mencari nomor Damin, anak sulungnya yang tinggal di desa sebelah. Setelah menemukan nomor yang dimaksud, Dedah menekan tombol panggilan.
Mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya suara seorang laki-laki terdengar dari seberang. "Halo, Ma? Aya naon?"
Dedah langsung tersenyum kecil. "Halo, Dam. Kamu lagi sibuk, nggak? Mama mau bicara penting."
"Nggak, aku lagi ngopi. Bicara saja." Damin berdeham dari seberang.
"Begini, Jang. Mama teh mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa?"
Dedah melirik Edo yang duduk di sebelahnya. Putranya itu langsung memberikan isyarat agar sang ibu segera menyampaikan maksudnya.
"Begini, Jang. Edo sedang butuh uang untuk membayar cicilan motor. Kamu punya uang lebih nggak? Kasihan adikmu ini." Suara Dedah dibuat memelas.
Edo memasang telinga baik-baik. Ia berharap kakak pertamanya bersedia membantu sehingga dirinya tidak perlu pusing memikirkan cicilan yang sudah mendekati tenggat pembayaran.
Namun, jawaban Damin di seberang sana membuat senyum di wajahnya perlahan memudar. "Aduh, Ma. Kebetulan sekarang aku juga lagi nggak punya uang lebih. Kemarin aku baru bayar kebutuhan sekolah anak-anak. Terus, uang dari hasil bengkel sudah aku belanjakan."
Dedah terdiam sesaat. "Masa kamu nggak punya tabungan?"
"Nggak ada, Ma. Satu minggu yang lalu, aku habis beli motor baru. Jadi tabunganku udah kepake," jawab Damin. "Lagian kenapa sih Edo harus minjam uang untuk bayar cicilan motor, bukannya dia dan istrinya kerja, ya?"
Dedah berdecak. Terlontar lah penjelasan soal apa yang terjadi pada rumah tangga Edo.
"Bercerai?!" Damin memekik dari seberang, membuat suaranya yang sengaja diloudspeaker menggema di ruangan itu.
"Iya. Pusing pokoknya mah, Jang."
"Si Edo-nya ada di rumah sekarang?"
Dedah melirik Edo, "Ada. Dia baru saja pulang karena mau membereskan masalahnya."
"Kasihkan HP-nya. Aku mau bicara," kata Damin.
"Bicara saja, Nak. Mama sudah meloudspeaker panggilan ini."
"Do!"
"Iya, A."
"Berapa cicilan motor kamu?" tanya Damin.
"Delapan ratus lima puluh ribu, A."
"Weh, besar ning."
"Iya. Aa mau bantu tidak?"
"Hm, kapan jatuh temponya?" Pertanyaan Edo dibalas pertanyaan oleh Damin.
"Tanggal 3 bulan ini, A."
"Wah, sebentar lagi atuh."
"Iya." Edo mengangguk lemah.
"Kirain masih semingguan lagi, kalau tanggal tiga mah, Aa nggak bisa bantu."
"Kalau tetap nggak bisa bantu... kenapa harus tanya-tanya!" umpat Edo dalam hati. "Ya sudah, A. Tidak apa-apa. Aku cari pinjaman ke teman kerjaku saja." Kalimat itulah yang keluar dari bibir Edo.
"Ya." Damin mematikan panggilan.
Edo berdecak kencang. "Ckkk! Kirain nanya-nanya teh mau kasih pinjaman, ternyata... enggak!" omelnya sambil berdiri dari duduknya.
"Kakakmu banyak pengeluaran, Do," tanggap Nurhan.
"Iya, aku tahu. Udah, ah. Aku mau ke kamar." Edo berdiri. "Ngomong sama Bapak dan Mama malah bikin kepalaku mau pecah!" ketusnya sambil berlalu masuk ke kamar.
Tiba di kamar, ia menjatuhkan tubuh di kasur. "Ah, sialan! Ke siapa lagi aku harus meminjam uang?" Rambutnya yang sudah agak gondrong ia jambaki dengan kasar. "Masa aku harus merepotkan Ohang terus? Malu lah." Ia mengusap wajahnya kencang. "Aku kan udah numpang di rumah dia. Dikasih pinjam HP, eh... masa sekarang harus pinjam uang untuk bayar cicilan? Ah, yang benar saja." Kepalanya seperti digetok-getok palu. Selama hampir satu tahun ini, ia tak pernah memikirkan cicilan motor. Tahu-tahu sudah dibayar setiap bulannya. Tapi saat ini, ia pusing memikirkan hal itu.
Di tengah kacaunya hati, satu nama menghantam ingatannya. "Mia... kenapa sih lo harus memberontak?" gumamnya. "Seharusnya lo terus nurut ke gue. Jadi istri yang patuh sama apa yang gue bilang." Tanpa sadar, setitik rasa penyesalan itu hadir. Menerjang keangkuhannya yang awalnya yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja tanpa kehadiran Mia.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅