Aning dan Arya adalah dua kakak beradik yang sedang berlibur sekaligus mengikuti ayah mereka yang bekerja sebagai Arkeolog ke sebuah situs peninggalan bersejarah di Peru. Disana mereka berdua menemukan sebuah Kota Yang Hilang, yang telah lama menjadi incaran para arkeolog dunia, dan juga para pencuri dan penjarah. Kota yang masih memiliki peradaban, yang dulunya diduga telah hilang lenyap tak berbekas.
Aning dan Arya bertemu dengan penduduk Kota Yang Hilang tersebut, dan menjalin persahabatan. Membantu teman baru mereka menyelamatkan Kota tersebut, sekaligus menyelamatkan nyawa kawan baru mereka, yang hendak dijadikan kurban persembahan.
Buku ini adalah sebuah karya fiksi murni...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N.Sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE PIRAMIDA
Kami segera menyusuri lorong terang yang dipenuhi patung-patung emas besar, menuju ke ruangan tahta.
Suasana didalam ruangan tahta nampak tegang. Kalau biasanya semua harus
berganti pakaian adat mereka saat hendak masuk menghadap Sapa Inca, kini keadaan tersebut seperti tidak berlaku.
Bahkan Ratu tidak
memakai jubah bertabur permatanya, dan hanya memakai baju seperti yang dipakai
oleh Annamaya dan para perempuan di Acllahuasi sehari-hari. Dia bahkan terlihat terburu-buru saat pergi ke ruangan tahta,
sebab dia bahkan lupa untuk memakai mahkota beratnya itu. Segera kami
menghormat pada Sapa Inca dan Ratu.
Nampak para tetua suku dan pembesar kerajaan juga sudah berada didalam situ.
“ Aning, saya senang melihat kalian sudah berada disini, dan dalam keadaan baik-baik saja ! “ suara Sapa Inca terdengar kontras dengan apayang dia ucapkan. Aku jadi takut.
“ Terus terang saya
marah, karena sekarang keberadaan kami sudah terbuka pada dunia luar, dan itu
karena salah kalian berdua, yang tidak hati-hati !! “ benar juga perkiraanku, Sapa Inca marah pada aku dan Arya. Aku tidak menyalahkan dia, karena memang pada kenyataannya, aku dan adikkulah yang
membuat para penjahat-penjahat itu bisa masuk kedalam Kota yang Hilang.
“ Maafkan aku dan
adikku, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud untuk menyebabkan kota ini berada
dalam bahaya. Kami sendiri sudah memastikan bahwa tak ada orang-orang yang
mengikuti kami saat masuk kedalam sini... “ kucoba untuk membela diri, meskipun
aku agak pesimis, namun apa salahnya dicoba ?. Mungkin sewaktu pertama kali
masuk tadi, Sapa Inca masih belum
tahu bahwa keadaan diluar sana benar-benar gawat, sehingga dia tidak memarahi
kami.
“ Sudahlah ! Sekarang
saya hanya ingin tahu, siapa yang menjadi biang kerok semua ini, dia akan
mendapatkan ganjaran atas perbuatannya mengganggu ketenangan kami !! “ ketus
suara ayah Intipalla terdengar.
Aku lalu menceritakan
padanya tentang Franz, koki di perkemahan yang ternyata adalah penjahat, dan
juga Erold, yang adalah bos besar mereka.
“ Kalian bisa keluar
dari ruangan ini, dan bebas untuk melakukan apapun yang kalian inginkan, dan
keselamatan kalian bukan menjadi tanggung jawab kami mulai dari sekarang,
sementara kami akan berperang melawan para penjahat itu, dan semoga saja Yang Mahakuasa Inti* menyertai perjuangan kami !! “ Sapa Inca memberi isyarat dengan
tangannya menyuruh kami keluar dari ruangan tahta.
“ Aku takut sekali tadi,
Aning. Kupikir Sapa Inca akan marah
lalu menghukum kalian... “ suara Annamaya lirih terdengar disela-sela hiruk
pikuk prajurit yang lalu lalang, mempersiapkan diri untuk keluar dan bertempur
bersama dengan yang lain diluar sana.
“ Aku juga, Anna. Tapi
aku sekarang lebih mencemaskan keadaan Rapalla dan Intipalla diluar sana. Aku
takut terjadi apa-apa pada mereka berdua, “ entah mengapa pikiranku seperti
melekat pada kedua pemuda kakak beradik itu.
Mereka berdua tengah
bertempur mati-matian, dengan keadaan yang tidak seimbang, dimana pasukannya
Franz sangat banyak, ditambah lagi dengan peralatan moderen yang dimiliki oleh
para penjahat, aku jadi makin pesimis. Semoga
saja, kemampuan sihir yang mereka miliki bisa membantu mereka berdua, doaku
dalam hati.
“ Kak, mungkin kita
sekarang harus keluar, dan mencoba untuk menyelamatkan Mama serta Ibu Annamaya
dan semua orang yang ada di Acllahuasi !
“ Arya yang sedari tadi diam tak bersuara, berkomentar membuatku kaget. Jujur,
ide itu sudah sempat singgah di otakku, tapi aku masih ragu dan takut.
“ Apa kata Arya ? “
tanya Annamaya ingin tahu. Segera kukatakan apa yang Arya ucapkan, gadis itu
tersentak kaget.
“ Tapi diluar ada begitu
banyak pasukan musuh, bagaimana kita bisa menuju kesana ? Bisa-bisa kita
terbunuh nanti !! “ seru Annamaya. Jelas sekali dia ketakutan mendengar ide
Arya.
“ Andai saja ada jalan
masuk yang bisa membuat kita kesana tanpa ketahuan.... “
“ Sebenarnya ada, tapi
itu berbahaya, sebab mereka pasti masih berada disana ! “
“ Dimana jalan itu, Anna? “
“ Dirumahku, “ jawab Annamaya pendek. Aku langsung menemukan caranya.
“ Kita akan masuk dari
sana !! “ putusku tegas. Annamaya mengernyitkan keningnya heran.
“ Tapi bagaimana dengan
para penjahat yang ada dirumahku ? “
“ Anna, sewaktu kamu
ditawan disana, hanya kamu yang ditawan, kan ? “ tanyaku. Gadis itu mengangguk
tak bersuara.
“ Itu artinya, ketika
kamu berhasil membebaskan diri, tak ada lagi yang harus mereka lakukan disitu,
iya kan ? dan itu artinya, rumah kamu sekarang kosong, sebab para penjahat itu
sudah pasti pergi ke Acllahuasi, atau
bertempur melawan para prajurit kalian dan juga penduduk !! “
Gadis itu mengangguk-angguk
mengerti.
Arya menatap kami
bingung, aku lalu menjelaskan apa yang akan kami lakukan, dan tanpa banyak
bicara, dia langsung setuju. Terlihat benar tekad besar anak itu untuk
menyelamatkan Mama dan semua perempuan lain yang berada di Acllahuasi.
Kesibukan luar biasa
didalam Piramida, membuat orang-orang tidak begitu memperhatikan kami bertiga.
Mungkin juga karena Intipalla tidak bersama dengan kami. Cepat-cepat, aku
Annamaya dan Arya menyelinap diantara kesibukan itu, dan keluar dari Piramida.
Saat keluar dari bawah
altar, kami bertiga dikagetkan oleh teriakan salah seorang dari gerombolan
penjahat. Ternyata dia sedang berada diruangan altar, sementara menjarah
barang-barang yang bisa dia ambil disitu.
“ Hoi !!! aku menemukan
mereka !! “ teriak laki-laki yang tidak kukenal itu. Tapi, teriakannya langsung
terhenti, karena tiba-tiba saja dia jatuh terjerembab entah pingsan atau mati.
Dibelakangnya Arya berdiri dengan pemukul gong sebesar tongkat pemukul bisbol.
Pasti kepala orang itu sakit sekali.
“ Ini boleh kubawa, Kak
? “ tanya Arya. Aku langsung mengangguk. Anak itu memang sukar untuk ditebak,
tapi setidaknya dia yang menyelamatkan kami kali ini.
Setelah menyingkirkan
tubuh laki-laki itu dengan menggulingkannya ke bawah altar, agar ditemukan oleh
prajurit-prajurit Sapa Inca dalam
Piramida, kami bertiga mengendap-endap keluar dari kuil, untuk masuk lagi
kedalam parit.
Pertempuran diluar
semakin seru, karena entah mereka mengambil darimana, para prajurit-prajurit Sapa Inca tidak lagi bertempur dengan
alat-alat perang tradisional mereka, tetapi memakai senjata-senjata modern. Aku
jadi heran, apalagi melihat mereka sepertinya terlatih menggunakan
senjata-senjata tersebut.
Kucoba untuk mencari
sosok Intipalla dan Rappalla, tapi aku tak menemukan mereka, membuatku jadi
khawatir sekali.
“ Mereka berdua ada
dimana, ya ? “ ternyata Annamaya merasakan hal yang sama denganku.
“ Mereka berdua pasti
baik-baik saja, sekarang kita harus masuk kedalam parit ! “ aku tak ingin
berpikir macam-macam tentang kedua pemuda itu, apalagi sampai berpikir bahwa
mereka terluka atau lebih parah lagi, mati.
Beruntung bagi kami,
jalan masuk kedalam parit tak dijaga oleh siapapun juga. Lagipula, siapa juga
yang akan menjaga selokan ?. Hal itu memudahkan kami untuk masuk dengan cepat.
Begitu sampai didepan
pintu yang menghubungkan antara parit dengan ruang bawah tanah rumah Annamaya,
gadis itu berdiam sejenak, lalu dia berkata,
“ Kita bisa masuk, tidak
ada orang didalam ! “ enak juga punya teman yang bisa membaca pikiran orang.
Bergegas kami bertiga langsung masuk ke dalam ruang bawah tanah itu.
“ Anna, kamu selalu bisa
membaca pikiran orang, ya ? “ tanyaku ingin tahu. Kami bertiga tengah menaiki
tangga untuk masuk ke bagian dalam rumah gadis itu. Bau anyir tercium seketika,
begitu kami mendekati pintu
(BERSAMBUNG)
lanjutin ke 'kota yang hilang 2 ya' 😃😃😃💞