Seorang gadis bernama Clarisa yang bekerja di sebuah rumah sakit, sebagai seorang perawat. Berharap bisa bertemu dengan pria impiannya, dan berusaha kuat dengan keadaan di keluarganya yang terus menerus membandingkannya dengan kakaknya.
Sedangkan dilain sisi, kehidupan seorang pria bernama Ray, yang bekerja sebagai anggota di biro investigasi kriminal. Dengan tujuan bisa menemukan pelaku pembunuhan sang adik.
Ray seorang pria yang dingin bertemu dengan Clarissa yang keras kepala.
Bisakah kedua manusia ini mencapai keinginan dan impian mereka, dan bagaimanakah benang benang takdir akan mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cherry blossom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hubungan toxic
Malam yang sunyi, tanpa adanya aktivitas yang terlihat dan jalanan yang terlihat sepi oleh kendaraan. Sangatlah berbeda dengan salah satu rumah yang terlihat masih terang dan terdapat suara manusia.
Suara itu terdengar memilukan bagi orang yang memiliki hati nurani. Semua isakan tangis, jeritan, mulai terdengar jelas di balik pintu rumah kecil itu.
Terlihat seorang wanita yang terisak dengan wajah yang mulai di penuhi oleh darah segar. Ia terisak, dengan air mata yang kini bercampur dengan darah nya.
Sedangkan di hadapannya terlihat seorang pria yang kini tengah menatap wanita itu dengan tajam, dan sebuah pecahan botol minuman yang berada di tangannya.
"Katakan padaku.! Siapa laki laki itu..?" tanya pria itu yang kini berjongkok tepat di depan wajah wanita itu.
"Hiks.. hiks.. Di.. dia sahabat ku..!" ucap wanita itu dengan raut wajah takutnya.
"hah, sahabat.? Benarkah..? Atau jangan jangan selama ini kau memang sudah menyukainya dan bersembunyi dariku untuk bisa bertemu dengannya..?"
"Ti.. tidak suamiku..! Hiks.. sungguh.! Aku tidak pernah menyukainya..!"
"Oh.. maksud mu, aku salah..? Begitu..?"
PYAAR.... !!!
"Aaaaaaaa...!"
Pecahan botol itu hancur seketika, setelah pria itu memukulkannya ke tembok, tepat di samping wajah istrinya, yang hal itu membuat istrinya menjerit ketakutan.
"Sayang..! Kau itu hanya milik ku.! Tidak ada pria lain yang bisa memiliki mu.! KAU DENGARRRR..!!"
"Aaaaaaaa...!"
Dengan kejamnya, pria itu menarik keras rambut istrinya dan menyeretnya. Membuat istrinya menangis, dan menjerit kesakitan.
Bbrrrraaaaakkk....!
Noda noda darah mulai mewarnai tembok yang ber cat putih itu. Ya, pria itu tanpa rasa kasihan, memukulkan kepala istrinya ke dinding rumah mereka, yang kini darah yang keluar dari kening istrinya semakin banyak. Bahkan membuat temboknya yang awalnya berwarna putih kini menjadi merah.
"Akh.. hiks.. hiks..!" isak kesakitan wanita itu yang malah semakin membuat suaminya tersenyum senang.
"Sayang..! Jangan menangis..! Aku akan selalu ada di sampingmu.!" ucap pria itu yang langsung memeluk istrinya.
Malam penuh darah itupun mulai menyingkir, dan tergantikan oleh cahaya mentari pagi yang mulai menyinari bumi.
Terlihat pria tampan yang mulai membuka matanya karena gangguan dari sinar matahari yang mulai menyusup masuk melalui celah tirai di kamarnya.
Ray langsung beranjak dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap berangkat bekerja. Beberapa saat kemudian, terlihat ia yang keluar dari kamarnya dengan sebuah seragam kerja hitam dengan jaket hitam nya, yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Ia berjalan menuju kearah dapur untuk mengambil air minum, namun sesampainya disana, ia melihat dinda yang sedang menyiapkan berbagai makanan di atas meja makan di dapurnya.
"Eh mas Ray, kau sudah bangun.? Ayo duduk.! Aku sudah membuatkan mu sarapan.!" ucapnya.
"Hmm..! Kau bisa tinggal di sini, dan bekerja di sini.! Kau bisa menyapu, mengepel, memasak..! Tapi ingat, jangan pernah kau masuk ke dalam kamar ku..!" ucap Ray.
"Benarkah mas Ray..? Terima kasih banyak, aku akan bekerja sebaik mungkin yang saya bisa..!" balas dinda yang sangat bahagia.
"Aku akan menggaji mu sebulan sekali..! Sekarang duduk dan makanlah..!" ucap Ray.
Dilain tempat.
Terlihat Clarissa yang pagi pagi sekali telah sampai di rumah sakit. Entah mimpi apa semalam, hingga ia bisa bangun sepagi itu.
"Hai suster rissa..! Tumben udah datang jam segini..!" tegur salah satu rekan perawat Clarissa.
"Iya, semalam habis mimpi buruk, makanya bisa bangun sepagi ini..!" jawab Clarissa.
"Memangnya mimpi apa..?"
"Aku mimpi di kejar kejar hantu saat bekerja di sif malam..!" ucap Clarissa yang langsung membuat temannya itu cemberut, karena nanti malam ia harus bekerja, dan pagi ini ia akan segera pulang.
Saat tengah mengobrol bersama, tiba tiba seorang pria tua berlari dan memanggil manggil dokter di ruangan UGD. Clarissa dan rekannya itupun segera menghampiri pria tua itu.
"Ada yang bisa kami bantu pak.?" tanya Clarissa.
"Suster..! Tolong selamatkan putriku.! Hiks.! Dia habis di pukuli suaminya, keadaannya benar benar terluka parah..!" ucap pria tua itu sembari menunjuk ke arah pintu ruangan UGD.
Saat Clarissa mengikuti arah yang di tunjuk pria tua itu pun, ia melihat seorang wanita yang di tuntun seorang wanita tua, yang mungkin adalah ibunya. Wanita itu yang terluka parah di bagian keningnya. Bahkan matanya juga membengkak keunguan dengan darah yang menutup sebagian wajah wanita itu.
"Suster Siska.! Cepat panggil dokter..!" ucap Clarissa pada rekannya itu.
"Baik..!"
Siska pun langsung pergi untuk memanggil dokter yang memang sedang di rumah sakit, sedangkan Clarissa segera membantu wanita itu untuk tidur di ranjang rumah sakit.
Tidak lama setelah itu, terlihat David yang segera menghampiri Clarissa dan pasien.
"Pasien mengalami kecelakaan atau apa..?" tanya David.
"KDRT dok..!" jawab Clarissa.
"Apa kasusnya akan di bawa ke jalur hukum..?" tanya David kembali pada kedua orang tua pasien.
"Iya dok..! Kami berniat untuk memenjarakan menantu kami yang kejam itu..!" ucap pria tua itu.
"Baiklah..! Suster siska, tolong bantu mereka untuk mengurus surat surat yang dibutuhkan. Dan suster rissa, tolong bantu saya bawa pasien ke ruang forensik sekarang..!" ucap David yang membagi tugas agar lebih cepat.
"Baik dok.!" jawab Siska dan Clarissa bersamaan.
Waktu pun terus berjalan, harapan dan do'a terus menerus di panjatkan kedua orang tua yang kini sedang menunggu putri mereka yang sedang menjalani pemeriksaan oleh dokter.
Air mata terus membanjiri mata sayu sang ibu, dengan kerutan tipis yang mulai memenuhi wajah tuanya. Ketakutan, khawatir, sedih kini bercampur menjadi satu dalam benaknya.
Hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka, dan terlihat David yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter..! Bagaimana keadaan putri kami.?" tanya bapak itu.
"Kalian tenang saja, keadaannya tidak dalam bahaya lagi. Dan kami akan segera menempatkannya di ruang pemulihan. Dan soal hasil pemeriksaannya akan kami beritahukan nanti.!" jelas David.
Mendengar penjelasan dari David, seketika membuat wajah khawatir mereka sedikit berkurang, dan terlihat senyum kelegaan terpancar dari keduanya.
"Terima kasih dok.! Terima kasih banyak..!" ucap bapak itu.
"Sama sama.! Kalau begitu saya permisi lebih dulu..!" ucap David yang kemudian pergi dari sana.
Beberapa saat setelah David kembali ke ruangannya, pintu ruangan itu pun kembali terbuka. Dan memperlihatkan Clarissa yang tengah mendorong ranjang rumah sakit, dan pasien yang dalam keadaan tertidur setelah di beri obat.
Clarissa mengantarkan pasien ke ruangan perawatan, agar keadaan pasien bisa di pastikan benar benar pulih.
"Bapak..! Ibu..! Pasien sudah di beri obat oleh dokter agar bisa beristirahat, kalian tenang saja, beberapa jam lagi ia akan terbangun..! Kalau ada apa apa kalian bisa menekan tombol merah ini.!" jelas Clarissa sembari menunjukkan sebuah bel berwarna merah yang tepat berada pada tembok di samping ranjang pasien.
"Baik suster..!"
"Kalau begitu saya permisi dulu.!" ucap Clarissa.
"Terima kasih suster..!"
Clarissa berjalan menuju ke ruangan David untuk mengecek hasil pemeriksaan pasien yang baru saja selesai mereka tangani.
TOK.. TOK.. TOK..!!
"Masuk.!"