Indonesia
NovelToon NovelToon
KABUT DARAH

KABUT DARAH

Status: tamat
Genre:Horor / Roh Supernatural / Tumbal / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Muzu

Novel ini tidak diperuntukkan bagi kalian yang berhati lembut dan di bawah usia 21 tahun. Semua isi hanya fiktif belaka.

***
Apa yang sebenarnya dicari dari dendam? Apakah keadilan yang ingin ditegakkan, atau sekadar memuaskan nafsu semata? Faktanya, dendam hanya melahirkan dendam baru dan membuat hati tidak pernah merasakan damai.

Mawar Merah kini harus menanggung akibat dari pembalasan dendam yang dilakukannya. Ia menjadi buruan orang-orang yang menuntut balas akan kematian dari keluarga, sahabat, ataupun rekan kerja yang menjadi korban kebrutalan aksinya.

Mampukah Mawar menghadapinya? Ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengekang Kegelapan

Kepergian Sudirman meninggalkan kehampaan yang justru semakin menekan dadanya. Mawar duduk bersila di lantai tanah yang dingin, tubuhnya bergetar dalam diam. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan lagi bagian dari kegelapan. Namun, saat ia mencoba menggali ingatannya, bayangan-bayangan misterius tiba-tiba menghantam kepalanya dengan keras.

“Darah … darah … darah!”

Suara itu menggema dalam kekosongan, bergaung tanpa henti, seakan menuntut sesuatu yang tak kasatmata. Mawar menggigit bibirnya, jari-jarinya mencengkeram tanah. Rasa sakit menusuk kepalanya, membuat dunia di sekitarnya berputar. Ia berdiri di tengah kegelapan, dikelilingi bayangan-bayangan hitam yang bergerak melingkar, semakin lama semakin cepat.

“Siapa kau?” Suaranya bergetar.

“Darah.”

Mawar mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Darah.”

Hanya satu kata yang terus terdengar. Napasnya memburu, kepalanya berdenyut, dan sesuatu yang dingin merayap dari ujung jemarinya, naik ke lengan, merambati tubuhnya. Ia menutup matanya dengan erat, berharap bisa kembali ke kesadarannya. Namun, saat ia membuka mata ….

Asap hitam membumbung dari tubuhnya, berputar seperti ular yang melilitnya. Kulitnya berubah pucat, bibirnya membiru, dan yang paling mengerikan: bola matanya kini sepenuhnya hitam, tanpa sedikit pun bercak putih.

Iteung yang terdiam di sudut lorong bawah tanah, merasakan perubahan itu. Instingnya segera menegang, bulu-bulunya berdiri. Ia menatap Mawar dengan tajam, lalu menggeram rendah.

Akan tetapi, Mawar tak menjawab. Napasnya berat, kepalanya tertunduk. Saat Iteung melangkah lebih dekat, tiba-tiba ….

GRRAAAHHHHH!

Terangkat wajah Mawar, matanya menatap tajam dengan sorot iblis. Iteung langsung meraung keras, suaranya menggema di lorong bawah tanah yang gelap. Angin dingin bertiup kencang entah dari mana, mengguncang dunia yang seolah membeku dalam teror.

Dengan respons cepat, Iteung melompat mundur, tubuhnya merendah dalam posisi siaga. Mata kuningnya menatap Mawar tanpa berkedip, rahangnya mengeras, taringnya menyeringai. Napasnya memburu, mengeluarkan geraman panjang yang menggema di lorong bawah tanah yang lembap.

Seperti seorang penari, Mawar mengangkat tangannya perlahan. Asap hitam masih mengepul dari tubuhnya, berputar liar seperti arus gelap yang tak terkendali. Bibirnya bergerak tanpa suara, dan seketika angin kencang bertiup di dalam lorong, menerbangkan debu dan serpihan tanah.

WUSS!

Dalam sekejap, Mawar menghilang dari tempatnya.

Iteung menyadari bahaya yang mengintainya, lalu secepat kilat melompat ke samping, tepat sebelum cakar hitam Mawar menghantam tempatnya berdiri tadi. Benturan itu menimbulkan ledakan kecil di tanah, menyisakan retakan seperti guratan luka.

“GRRRRHHHHH!”

Terpancing oleh serangan mematikan dari Mawar, Iteung menyerang balik, menerjang Mawar dengan cakarnya yang tajam. Mawar menangkisnya dengan mudah, tetapi dorongan kekuatan macan kumbang itu cukup untuk membuatnya terdorong ke belakang. Seketika, Mawar melompat ke langit-langit lorong, menempel seperti kelelawar, lalu melesat turun dengan kecepatan kilat.

Iteung kembali menghindar, tetapi Mawar lebih cepat. Cengkeraman tangannya berhasil menangkap leher macan kumbang itu, mengangkatnya ke udara dengan mudah.

“Aku … kegelapan ….” Suara Mawar terdengar parau dan tidak wajar.

Insting kebuasan Iteung meronta, cakarnya yang tajam mencakar lengan Mawar yang mencengkeramnya. Namun, semakin ia berusaha, semakin kuat cengkeraman itu.

Tiba-tiba ….

“Tidak …!”

Mawar menjerit keras, suara itu menggema seperti lolongan panjang. Tubuhnya gemetar hebat, seolah ada pertempuran sengit di dalam dirinya. Asap hitam yang menyelimutinya mulai bergetar, berkumpul di satu titik, lalu terdorong keluar dengan paksa dari tubuhnya!

“AAARGHHH!!”

Saat Mawar masih berdiri dengan mata hitam pekat dan tubuh diselimuti asap kelam, suara dalam pikirannya menggema, berat, dan berwibawa.

“Muridku! Kendalikan dirimu! Jangan biarkan kegelapan menguasaimu!”

Suara gurunya begitu jelas, seolah hadir di hadapannya. Mawar tersentak, tetapi bayangan hitam yang mengelilinginya terus bergerak liar, mencengkeram tubuh dan jiwanya. Ia ingin melawan, tetapi semakin ia mencoba, semakin kuat tarikan dari entitas gelap yang bersemayam dalam dirinya.

Iteung masih berada di hadapannya, berdiri mengawasi. Macan kumbang itu tak lagi menyerang, tetapi geramannya masih terdengar, memperingatkan bahwa ia siap melawan jika Mawar kembali kehilangan kendali.

“Kau sudah mempelajari Ajian Pameungkeung. Gunakan sekarang, sebelum semuanya terlambat!”

Mawar memejamkan matanya. Tangannya membentuk segel di depan dada, lalu ia mulai merapal ajian yang dulu diajarkan oleh Sudirman.

"Rasa dalam sukma, api dalam diri, terkunci dalam tujuh penjuru. Tunduk pada kehendakku, tiada keluar sebelum aku perintahkan!"

Tiba-tiba, angin dalam lorong bawah tanah berputar kencang. Bayangan hitam yang menyelimuti tubuh Mawar meronta, mengeluarkan jeritan tanpa suara, seolah menolak dikurung kembali. Mawar menggertakkan giginya, memperkuat cengkeraman tangannya dalam segel ajian.

“Terkuncilah kau!”

BZZZT!

Asap hitam yang mengepul dari tubuhnya tersedot ke satu titik di dadanya. Mawar menahan rasa sakit yang luar biasa saat energi gelap itu menggeliat, berusaha lepas dari kendali. Akan tetapi ia tidak boleh goyah. Ia tidak boleh kalah.

Iteung meraung keras, tetapi kali ini bukan karena kemarahan, melainkan karena menyadari betapa besar kekuatan yang sedang dikendalikan Mawar.

Perlahan, bayangan hitam itu mengecil, mengecil, lalu menghilang sepenuhnya ke dalam tubuh Mawar. Napasnya tersengal, tubuhnya lemas, dan akhirnya ia berhasil.

Mawar membuka matanya. Warna hitam yang sebelumnya memenuhi bola matanya telah sirna, begitu pun dengan wujudnya yang kembali menjadi remaja, meskipun usianya sudah kepala tiga.

Dengan napas berat, ia duduk bersila, mulai bersemedi, mengunci auranya agar tidak terguncang lagi.

Sang macan kumbang mendekat, menundukkan kepalanya, lalu berbaring di sisi Mawar, seolah ikut menjaga keseimbangan energi di sekitarnya.

Cukup lama Mawar bersemedi, kedua matanya kembali terbuka, dan perutnya meronta untuk diasupi makanan. Ia bangkit perlahan, meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu … broot! “Ah … lega,” ucapnya setelah mengeluarkan gas dari tubuhnya. “Sedapnya aroma mawar ini!” Mawar menghirup dalam-dalam aroma gas buang dari tubuhnya itu, lalu melirik ke arah Iteung yang masih berbaring di tempatnya.

“Kau bawa aku ke tempat apaan?” tanya Mawar yang baru sadar dirinya berada di tempat yang gelap dan begitu lembap. Iteung hanya bisa mengaum pelan.

“Sudahlah, aku lapar,” imbuhnya. “Antar aku keluar dari tempat bau bangkai ini.” Iteung kemudian berjalan dan diikuti oleh Mawar di belakangnya.

Beberapa langkah berjalan, Iteung terdiam tiba-tiba. Mawar memperhatikan sekitarnya dan tidak merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya. Ia menoleh ke arah Iteung dengan menautkan kedua alisnya. Sang macan kumbang bergeming seperti patung. Tak lama setelah itu, tiga sosok berpakaian hitam melompat turun dengan gerakan gesit. Mereka melepaskan topeng, menghamburkan kantong kain yang berisi uang dan perhiasan di lantai.

“Ha-ha, ini pekerjaan yang paling mengasyikkan,” kelakar seorang pria remaja berwajah lumayan tampan.

“Kerja yang bagus untuk pemula sepertimu, Jeki,” sahut pria yang lebih tua, yang sibuk membagi hasil jarahan. Sementara itu, pria ketiga hanya bersandar pada dinding kotor sambil mengisap rokok, matanya tajam mengamati sekeliling.

“Ini bagianmu, Jeki!” ujar pria yang membagi jarahan, menyerahkan segepok uang.

Pemuda yang dipanggil Jeki itu memandangi jatahnya dengan wajah masam. “Bang Garang Asem, masa jatahku segini,” protesnya.

Garang Asem tertawa kecil. “Segitu cukup untuk kau hura-hura, Jeki.”

“Sudah, tak usah ribut. Ambil ini, Jek!” Pria yang bersandar pada dinding melemparkan tambahan segepok uang ke arah Jeki.

Jeki menangkapnya dengan cekatan, lalu menyeringai puas. “Terima kasih, Mas Jenang Jenong.”

Jenang Jenong menghembuskan asap rokoknya. “Jumat depan kita beraksi lagi.”

“Di mana?” Garang Asem menatapnya serius.

“Kafe Rose Petals.”

Garang Asem melongo mendengarnya, lalu berkata, “Kalian berdua saja. Aku tidak mau ambil resiko.”

“Kenapa, Bang?” Jeki mengernyit.

“Tidak ada yang pernah kembali setelah merampok kafe itu,” jelas Garang.

Jenang Jenong tertawa mengejek. “Alah, itu hanya rumor orang-orang penakut!” kilahnya tak percaya.

“Rose Petals? Kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu,” gumam Mawar dari kejauhan.

Lorong yang sunyi membuat suara Mawar terdengar samar di telinga para pencuri. “Hei, kalian dengar suara itu?” tanya Garang Asem, menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Ya, aku mendengarnya. Suara cewek itu, Bang,” jawab Jeki.

“Kau ini, kalau soal cewek langsung tanggap,” celetuk Jenang menyindirnya.

“Memang seorang cewek. Ayo kita cari!” Garang melangkahkan kaki ke asal suara dan diikuti oleh keduanya.

Mawar yang masih bersembunyi di balik bayangan, menoleh ke arah Iteung. Macan kumbang itu menatapnya penuh isyarat, meminta izin untuk menyerang. Namun, Mawar menggeleng pelan, memberi tanda agar Iteung tetap bersembunyi.

Iteung menurut, melangkah perlahan meninggalkan Mawar sendirian.

Ketiga pria itu akhirnya menemukannya.

Senyum licik terukir di wajah Jeki saat melihat Mawar berdiri menyandar di dinding.

“Hai, Cantik. Kau tinggal di sini?” Jeki mengedipkan sebelah mata kepada dua seniornya sebelum berjalan mendekat. Dengan percaya diri, ia mengangkat dagu Mawar dengan ujung jarinya.

“Cewek secantik dirimu kenapa tinggal sendirian di lorong gelap begini?” tanyanya sambil menelusuri Mawar dari atas hingga bawah dengan tatapan penuh selera. “Kau kabur dari rumah ya?”

Mawar tidak bereaksi apa pun, bahkan kedua matanya tidak berkedip, hanya pandangan kosong yang terlihat dari bening matanya.

1
Yusrizal.75 Yusan
bagus
Ian Sofyan
ko abisnye koyo ngene re
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Maaf, Kak. Sudah lelah melanjutkannya. Terima kasih sudah berkenan membacanya, Kak. Tunggu cerita baru yg sedang saya susun. 🙃
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
/Sweat/tadi udah tau kan kalo kebal. buka aaja celananya potong titu nya
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
wanita tangguh
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
malah kepleset
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
zombie/Gosh/
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
ada panas2nya🙈
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
sakitnya sampe sini. langsung pegel2
〈⎳🥑⃟HIATUS
APA INI, MEREKA TIDAK BERAKHIR BAHAGIA??? KEJAMNYA!!!!
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
luar biasa,
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
sudah selesai beneran ini
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞: sami sami
total 2 replies
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
siapakah, apa dia Raka Gumilang???
tse
arwahnya luna ya....
〈⎳🥑⃟HIATUS
Bau-bau sad ending
〈⎳🥑⃟HIATUS
Astaghfirullah, gue kaget
〈⎳🥑⃟HIATUS
Mang Opak? 😂
〈⎳🥑⃟HIATUS
Hooh kuwi
〈⎳🥑⃟HIATUS
Bohong
〈⎳🥑⃟HIATUS
Typo di mana-mana
〈⎳🥑⃟HIATUS: lain kali sambil ngopi
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!