Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik mereka
Pak Rahman masih berdiri ketika pemuda itu selesai berbicara.
"Kamera dan carrier?" ulangnya.
"Iya, Pak. Semuanya masih kami taruh di pos dekat jalan rawa. Warga takut membawanya masuk rumah."
Pak Rahman mengangguk pelan.
"Bagus. Jangan ada yang menyentuh lagi."
Ia kemudian menoleh kepada Arga, Bima, Dedi, dan ayah Arga.
"Saya sebenarnya sudah menduga Arga akan datang lagi bukan sekadar ingin berterimakasih atau rindu tapi dia kembali ke desa karena memang saya rasa dia yang bisa menjawab semua keanehan desa yang tetjadi sejak dua puluh tahun lalu."
Arga terdiam. Pak Rahman tersenyum tipis.
"Sebelum Arga pulang, ide untuk menjelajah hutan sisi utara rawa adalah idenya. Dan dari perjalanan itu kita tahu bahwa hutan disana memang seakan menyimpan waktu. Hal yang sering warga dengar dari orangtua disini dari dulu, dan perjalanan saat itu seakan membuktikan nya."
Bima mengangguk. Pak Rahman kembali menatap pemuda di halaman.
"Ambil semua barang yang ditemukan hari ini. Bawa ke sini."
Pemuda itu tampak ragu.
"Semuanya, Pak?"
"Semuanya."
"Termasuk carrier?"
"Termasuk carrier. Jangan dibuka atau diacak-acak lagi sebelum sampai sini."
Pemuda itu mengangguk.
"Baik, Pak."
Ia segera berbalik dan berlari meninggalkan halaman.
Ayah Arga memandang Pak Rahman.
"Pak, kalau barang-barang itu memang berkaitan dengan pendaki yang hilang..."
"Saya belum tahu." Pak Rahman duduk kembali.
"Itulah kenapa saya tidak ingin barang-barang itu disentuh sembarangan."
Bima masih berdiri. Tatapannya kosong.
"Kamera..." gumamnya.
Dedi menatapnya.
"Kamu kepikiran sesuatu?"
Bima menggeleng.
"Belum tahu."
Namun sebenarnya ada sesuatu yang mulai bergerak dalam ingatannya. Sebuah kamera. Barang yang seakan menjadi mata bagi Bayu. Karena setiap sudut selalu menjadi bidikan nya.
Tidak sampai setengah jam kemudian, suara langkah kaki terdengar dari halaman. Pemuda tadi kembali bersama tiga orang warga lainnya. Mereka membawa sebuah carrier besar yang tampak kotor di bagian bawah. Ada lumpur yang mengering di beberapa sisi. Selain itu, seorang warga membawa tas kecil berisi beberapa barang lain.
Dan di tangan pemuda tadi terdapat sebuah kamera.
"Pak."
Pak Rahman berdiri.
"Taruh semuanya di sini."
Carrier diletakkan di lantai ruang tamu. Kamera diletakkan di atas meja. Bima langsung melangkah mendekat. Begitu melihat kamera itu, langkahnya berhenti.
Wajahnya berubah.
"Itu..."
Dedi memperhatikannya.
"Bim?"
Bima tidak menjawab. Ia mendekati meja dengan perlahan. Tangannya menyentuh kamera tersebut. Ia membaliknya. Melihat bagian samping. Kemudian matanya tertuju kepada tali kamera. Di sana tergantung sebuah benda kecil berbentuk bola.
Gantungan bola.
Bima langsung membeku.
"Ini punya Bayu." Suara itu begitu yakin.
Arga mendekat.
"Mas Bima yakin?"
Bima mengangguk.
"Sangat yakin." Ia mengangkat tali kamera tersebut.
"Bayu selalu pakai gantungan ini."
Dedi memperhatikan benda kecil itu.
"Kamu pernah lihat sebelumnya?"
"Selalu. Dimana ada bayu maka disitu ada kamera ini." Bima menatap kamera itu.
"Dan ini di beli waktu kami ke toko bareng." Tangannya sedikit gemetar.
"Dan dia tidak pernah melepasnya."
Ruangan mendadak sunyi. Pak Rahman memperhatikan Bima dengan serius.
"Berarti kamera itu punya teman kamu yang namanya Bayu?"
"Ini kamera Bayu." Bima mengatakannya sekali lagi. Kali ini lebih pelan.
Arga menatap kamera tersebut cukup lama. Kamera saku yang bahkan tidak dia kenali modelnya. Tidak ada layar seperti kamera digital pada umumnya.
"Mungkin bisa kita lihat isi foto atau vidio di kamera ini." Arga berkata setelah tidak menemukan jawaban bagaimana cara melihat hasil yang ada didalam kamera tersebut.
"Ini beda Ga, di zaman ayah kecil dulu kamera ini memang cukup dikenal. Tidak ada vidio, hanya foto dan harus mengeluarkan roll film nya dulu untuk bisa dicetak kemudian dilihat." Ayah Arga menyadari perbedaan zaman antara Arga dan Bima memang sangat jauh meski mereka terlihat hanya berbeda beberapa tahun.
Semuanya mengangguk, termasuk Arga. Meski dia masih belum sepenuhnya paham bagaimana cara kerja kamera didepan nya ini.
Bima menarik napas.
"Kameranya masih utuh." Ia memeriksa bagian luar. Tidak ada kerusakan besar.
"Kalau ditemukan di dekat rawa, berarti..."
Dedi memotong.
"Jangan menyimpulkan dulu."
Bima mengangguk.
"Iya."
Namun tatapannya tidak bisa lepas dari kamera itu. Kemudian ia melihat carrier.
"Yang ini..." Bima berjongkok. Tangannya menyentuh bagian luar carrier. Ia memeriksa tali bahu, pengait, dan beberapa bagian yang terlihat.
"Sepertinya aku pernah lihat."
Arga ikut berjongkok.
"Punya Bayu?"
Bima menggeleng.
"Belum tentu."
Ia mengamati lebih lama.
"Carrier seperti ini banyak. Tapi aku tahu siapa yang punya seperti ini diantara kami. Rasyid. Jika memang benar ini punya Rasyid, seharusnya ada inhaler di salah satu kantongnya."
Arga reflek membuka beberapa kantong luar. Tidak ada apa-apa. Kantong samping. Kosong. Kantong depan. Hanya ada tanah dan serpihan daun kering. Arga mulai memeriksa bagian lainnya. Tangannya masuk ke salah satu kantong kecil yang berada di bagian bawah.
Ia mengeluarkan sebuah benda.
Sebuah inhaler.
Arga terdiam dan langsung menatap Bima.
Bima menelan ludah.
"Rasyid. Dia punya masalah pernapasan. Selalu membawa inhaler." Ia melihat carrier itu kembali.
"Berarti carrier ini milik Rasyid."
Arga terdiam. Dua barang. Satu kamera milik Bayu. Satu carrier milik Rasyid. Ditemukan di tempat yang sama. Di dekat rawa.
Pak Rahman mengusap dagunya.
"Kalau begitu, barang-barang ini sudah jelas ada yang punya. Tapi dimana mereka?" Pertanyaan Pak Rahman menggantung di ruang tamu.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Bima masih memandangi carrier milik Rasyid. Sesekali matanya beralih kepada kamera Bayu yang tergeletak di atas meja.
Dedi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Bim."
Bima menoleh.
"Ceritakan semuanya."
Bima terdiam.
Dedi melanjutkan.
"Jangan cuma bagian yang pernah kamu ceritakan kepadaku."
Ia menunjuk ke arah Pak Rahman, Arga, dan ayah Arga.
"Ceritakan dari awal. Semuanya."
Bima menelan ludah.
"Kang Dedi yakin?"
Dedi mengangguk.
"Kalau memang ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi kepada kalian tiga puluh tahun lalu, mereka harus tahu. Kita mencoba mencari jawaban."
Bima menarik napas panjang. Kemudian ia bersandar.
"Baik."
Ruangan kembali hening. Bima mulai bercerita.
"Waktu itu kami sedang berjalan bersama akan turun." Ia menatap kosong ke depan.
"Saya masih ingat semuanya. Hari itu sebenarnya tidak ada yang terasa aneh. Kami masih bersama. Masih bercanda. Masih membicarakan perjalanan setelah turun dari gunung."
Bima berhenti sejenak.
"Lalu kabut datang. Awalnya tipis. Kami masih bisa melihat beberapa meter ke depan."
Ia mengangkat tangannya, memperagakan jarak.
"Lalu semakin tebal. Suara teman-teman saya masih terdengar. Bahkan Arif berteriak beberapa kali meminta kami jangan bergerak agar tidak terpisah." Bima tersenyum pahit.
"Tapi kemudian..." Ia menelan ludah.
"...suara itu semakin jauh."
Dedi menunduk.Bima melanjutkan.
"Saya mencoba mendekati mereka. Saya berteriak. Mereka juga seperti menjawab. Tapi saya tidak pernah sampai. Seolah-olah kabut itu memisahkan kami."
Pak Rahman bertanya pelan.
"Berapa lama?"
Bima menggeleng.
"Saya tidak tahu. Ketika kabut mulai menipis, saya sudah sendirian." Ia menatap kedua tangannya.
"Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada suara. Tidak ada jalan. Hanya hutan." Bima menarik napas.
"Saya pikir rombongan saya ada di belakang. Jadi saya kembali. Tapi saya tidak menemukan mereka. Besoknya saya mencoba mencari ke arah lain. Lalu hari berikutnya. Dan berikutnya lagi." Bima mengusap wajah.
"Saya berjalan sendirian selama beberapa hari."
Dedi bertanya,
"Sendirian tanpa tahu arah?"
"Iya." Bima mengangguk.
"Dan selama berjalan itulah saya mulai mendengar sesuatu."
Arga menatapnya.
"Apa?"
"Langkah kaki."
Bima menjawab pelan.
"Langkah kaki di belakang saya."
Semua orang diam.
"Awalnya saya pikir itu teman-teman saya. Saya berhenti. Suara langkah itu juga berhenti."
Bima menatap Pak Rahman.
"Saya berjalan. Suara itu berjalan. Saya berhenti. Suara itu berhenti."
Arga merasakan tengkuknya meremang.
"Ketika saya berbalik..." Bima menggeleng.
"Tidak ada siapa-siapa."
Dedi menatap adiknya.
"Terus?"
"Terus saya berjalan lagi." Bima tersenyum hambar.
"Hal itu terjadi berkali-kali. Kadang suaranya dekat. Kadang jauh. Kadang seperti ada seseorang berjalan tepat di belakang saya." Ia menarik napas.
"Tapi tidak pernah ada orang."
Suara adzan maghrib diluar sana menghentikan cerita Bima. Tidak ada yang meminta nya melanjutkan langsung, semua sepakat tidak terbiru-buru kali ini. Membiarkan semua puzzle yang ada tersusun sempurna agar esok jawaban itu lebih mudah mereka dapatkan.
Pak Rahman yang pertama berdiri dan mengajak semua tamunya untuk sholat berjamaah di satu-satunya masjid yang ada di kampung itu. Perjalanan menuju masjid masih ditemani bau rawa yang semakin pekat bagi Arga. Tidak muntah, tapi cukup bisa membuatnya berhenti terdiam mencoba menguatkan tubuhnya sendiri.
banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.
masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍