Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Tara langsung menoleh heran. "Lho? Bukannya pulang?"
"Kita makan dulu."
Mata Tara langsung berbinar. "Yeay... sate!" Begitu duduk, Tara semangat membuka buku menu, padahal sejak awal ia sudah tahu apa yang akan dipesannya. "Bang. Aku hamil boleh makan banyak, kan?"
Sarif mengangguk sambil tersenyum. "Boleh. Asal jangan berlebihan."
Tara mengangkat tangan memanggil pelayan. "Mas...Sate ayam dua puluh tusuk. Lontong dua. Es teh manis dua."
Sarif menatap istrinya. "Kamu yakin?"
Tara mengangguk mantap. "Yakin. Soalnya sekarang makannya berdua."
Sarif terkekeh. "Yang satu masih sebesar itu."
"Iya sih. Tapi dia pasti lagi semangat tumbuh."
Tak lama kemudian pesanan datang. Aroma sate yang baru dibakar langsung memenuhi meja. Tara menatapnya dengan mata berbinar seperti anak kecil mendapat hadiah.
"Bang. Kalau anak kita lahir...semoga doyan sate juga."
Sarif hampir tersedak mendengar doa istrinya.."Doanya unik."
"Kan biar gampang diajak makan."
Sarif hanya bisa tertawa sambil menggeleng. Sepanjang makan siang itu, obrolan mereka tidak jauh dari calon bayi yang bahkan belum diketahui jenis kelaminnya. Mereka mulai menebak-nebak wajahnya akan lebih mirip siapa, membahas nama, hingga saling meledek tentang siapa yang nanti paling sering bangun malam.
Hari itu benar-benar terasa seperti kencan sederhana yang tertunda. Tidak ada restoran mewah, tidak ada dekorasi romantis, hanya sepiring sate hangat, segelas es teh manis, dan dua orang yang sedang menikmati babak baru dalam hidup mereka. Bagi Tara, kebahagiaan ternyata sesederhana mendengar detak jantung anaknya di pagi hari, lalu menikmati sate kesukaannya bersama lelaki yang setiap hari semakin ia cintai.
Di sela makan siang itu, ketika piring sate mereka hampir kosong, Sarif mendadak terdiam. Jemarinya memainkan gelas teh yang mulai dipenuhi embun. Ia menatap Tara beberapa saat, seolah sedang menyusun kalimat yang tepat.."Sayang..."
Tara yang masih sibuk menghabiskan sepotong sate langsung mengangkat kepala. "Iya, Bang?"
Sarif mengembuskan napas pelan. "Maaf ya...Waktuku banyak tersita untuk dinas."
Tara ikut terdiam.
Sarif melanjutkan dengan suara pelan. "Kadang aku berangkat sebelum kamu bangun. Pulang saat kamu hampir tidur. Sering juga tiba-tiba dipanggil tugas. Bahkan ulang tahun pernikahan kita kemarin juga batal. Aku tahu...itu pasti mengecewakan."
Tara memandang wajah suaminya cukup lama. Baru kali ini ia melihat Sarif yang biasanya tegas tampak begitu merasa bersalah. Perlahan ia meraih tangan Sarif di atas meja. "Bang. Waktu yang kita punya memang nggak banyak. Tapi setiap menitnya selalu berkualitas."
Sarif menatap istrinya.
"Aku nggak pernah menghitung berapa lama kita bersama. Aku cuma bersyukur setiap kali Abang pulang." Suara Tara terdengar begitu tulus. "Aku dari awal sudah tahu menikah sama tentara itu konsekuensinya seperti ini. Kalau negara memanggil aku nggak mungkin egois minta Abang tetap di rumah."
Sarif menggenggam tangan Tara lebih erat. "Terima kasih."
Tara tersenyum jahil. "Tapi Kalau lagi nggak dinas waktunya harus full buat aku."
Sarif tertawa kecil. "Siap."
"Nggak boleh main-main. Nggak boleh sibuk sama berkas. Nggak boleh lihat ponsel terus."
"Siap."
Tara tersenyum puas. "Nah... Begitu dong. Biar adil."
Sarif menggeleng geli melihat istrinya yang kembali ceria. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur. Tara tidak pernah menuntutnya memilih antara keluarga atau tugas. Justru perempuan itu memilih berdiri di sampingnya, menerima seluruh konsekuensi menjadi istri seorang prajurit. Saat itu Sarif semakin yakin, pangkat, jabatan, dan keberhasilannya kelak mungkin akan dikenang banyak orang. Namun kekuatan untuk menjalaninya selalu berasal dari satu tempat yang sama: rumah kecil tempat Tara menunggunya pulang dengan senyum yang tak pernah benar-benar hilang.
***
Malam ini, Tara dan Sarif duduk berdampingan di teras rumah dinas. Angin malam berembus pelan, tetapi tidak mampu mengusir kegelisahan yang sejak tadi memenuhi hati mereka. Sarif tampak beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, hingga akhirnya ia menarik napas panjang. "Sayang, ada satu hal yang perlu kamu tahu."
Tara langsung menoleh. "Apa, Bang?"
Sarif menggenggam tangan istrinya dengan lembut. "Kamu mungkin sudah tau kabar kerusuhan di provinsi sebelah, kan? Sudah ada batalyon yang diturunkan, tetapi ada kemungkinan kamu juga akan turun. Tapi penugasan yang akan kami jalani nanti kemungkinan masih bisa berubah."
"Maksudnya?"
"Kalau situasinya belum benar-benar aman, ada kemungkinan batalyon kami akan mendapat tugas pengamanan tambahan."
Kalimat itu membuat senyum Tara perlahan memudar. "Berarti...Abang bisa dikirim ke sana?"
Sarif mengangguk pelan. "Itu baru kemungkinan. Belum ada keputusan. Tapi aku ingin kamu tahu dari sekarang."
Tara menundukkan kepala. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang menyimpan calon buah hati mereka. Sejak mengetahui dirinya hamil, hatinya memang menjadi jauh lebih sensitif. Mendengar kemungkinan itu saja sudah cukup membuat dadanya berdebar tidak karuan. "Bang...Aku takut."
Sarif langsung merangkul bahu istrinya. "Aku juga berat meninggalkan kalian. Tapi apa pun keputusan yang nanti diambil, aku akan menjalaninya dengan sebaik mungkin."
Tara mengangguk pelan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma kepikiran...Kalau nanti dedek lahir...Abang jangan sampai belum pulang ya."
Sarif tersenyum lembut, lalu berlutut di hadapan Tara. Dengan penuh kasih, ia meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya. "Halo, Nak. Ayah mungkin akan pergi sebentar. Tapi Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk pulang." Kemudian ia menatap Tara. "Aku juga ingin menemanimu saat melahirkan. Aku ingin menjadi orang pertama yang menggendong anak kita."
Tara tak lagi mampu menahan air matanya. Ia memeluk Sarif erat-erat. "Pokoknya...jaga diri baik-baik. Jangan cuma ingat tugas. Ingat juga kalau ada aku sama dedek yang nunggu di rumah."
Sarif mengangguk mantap. "Itu justru alasan terbesarku untuk pulang."
"Tapi semoga saja semuanya sudah baik-baik saja ya Bang, supaya Abang nggak perlu dikirim ke sana."
Malam itu, mereka menikmati kebersamaan lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi pembicaraan tentang penugasan ataupun kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Mereka memilih menghabiskan sisa waktu dengan saling menggenggam tangan, menyimpan kehangatan itu dalam hati, sebagai bekal untuk menghadapi hari-hari ketika jarak kembali memisahkan mereka.
***
Hari demi hari terus berlalu. Tanpa terasa, Tara berhasil melewati trimester pertama dan kedua kehamilannya, sebuah perjalanan yang ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan. Dulu ia sering mendengar orang berkata bahwa hamil adalah anugerah terindah. Itu memang benar. Namun, di balik kebahagiaan menanti kelahiran buah hati, ada perjuangan panjang yang hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang menjalaninya.
Trimester pertama menjadi fase yang paling melelahkan bagi Tara. Hampir setiap hari ia bergelut dengan mual yang datang tanpa mengenal waktu. Aroma nasi yang baru matang saja bisa membuatnya berlari ke kamar mandi. Kadang ia menginginkan makanan tertentu di tengah malam, tetapi begitu makanan itu tersedia, baru satu suap saja perutnya langsung menolak. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan untuk sekadar bangun dari tempat tidur, mandi, atau menyisir rambut, ia harus mengumpulkan tenaga dan keberanian lebih dulu.