Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Termakan ulah sendiri.
"Apa, Bang?? Coba ulangi..!!" Bian memastikan pendengarannya tidak salah arah.
"Yaa.. Terserah kau, lah. Mau selamat atau tidak." Jawab Bang Dante.
Mendengar itu, Bian seperti tidak bisa berucap apapun. Namun setelah beberapa saat berpikir, Bian pun memutuskan.
"Oke, begitu saja." Kata Bian cepat. "Tapi hanya pura-pura kan, ya?"
"Kamu bisa menggunakannya sesuai situasi dan kondisi."
'Saya tidak mungkin seb*d*h itu berucap tanpa berpikir, Bian.'
...
Sorak ramai masih terdengar, para anggota sangat antusias melihat semua wanita di sisi Letnan Dante.
"Dekap lengan saya..!!" Pinta Bang Dante.
"Apaa??"
"Kamu nggak dengar??? Banyak laki-laki nih..!!!" Mata Bang Dante sudah membulat besar memberi arahan sekaligus ancaman untuk Bian. "Awas kau nggak senyum. Jangan sampai orang mengira kau hidup di bawah tekanan."
"Ii_yaaa, apa sih." Bian langsung mendekap lengan Bang Dante dan berjalan menuju lapangan dengan senyumnya.
Serda Umar menelan ludah dengan kasar karena itu berarti Letnan Dante tidak sekedar menggertaknya.
Bang Dante menghisap rokok dalam-dalam, membuang asap rokoknya perlahan tapi kemudian ia mengibaskan asap itu agar tidak menerpa wajah ayu Bian, lalu mematikan puntung itu ke asbak khusus di tengah lapangan Batalyon. Ia menatap Bian lekat-lekat, matanya tajam namun tak ada sedikit pun keraguan di sana.
"Kau gabung dulu sama ibu-ibu disana, kenalan..!! Bilang kau calon istri saya..!!" Kata Bang Dante kemudian mengantar Bian ke tempat istri anggota lain berkumpul.
"Selamat siang ibu-ibu." Sapa Bang Dante dengan senyum tipisnya. Sangat tipis tapi banyaknya istri anggota sangat langka melihat pemandangan seperti itu. "Titip calon Mamanya anak-anak, ya."
"Waaaahhh.. Akhirnya ya Om. Mudah-mudahan setelah ini langgeng. Sakinah mawadah warahmah, Om." Sambut Ibu Danyon.
"Aamiin.. Siap, Ibu. Terima kasih banyak do'anya." Kata Bang Dante lalu meninggalkan Bian bersama para istri anggota yang lain.
:
Saat itu, Bang Dante mslihat Bian dari kejauhan. Gadis itu pintar berolahraga meskipun permainan volly nya masih bisa di bilang minus.
"Kau kelihatan dekat sama Bian, naksir??" Tegur Bang Jangkar melihat sahabatnya duduk sendiri.
"Biasa saja. Kau tau sendiri bagaimana cerita Umar disini. Tadi dia sudah mulai ganggu Bian." Ujar Bang Dante sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Bang Jangkar mengangguk pelan. Ia atau betul watak seorang Dante sampai ke akar-akarnya.
"Kalau nggak kuat.. Nikah lah, bro. Buat apa kita masih terpaku dalam bayang masa lalu. Saya tau hatimu sakit, hatimu kecewa. Tapi kamu tidak bisa selamanya begini. Lagipula, ulahmu sendiri yang buat semua orang tau kalau Bian itu calon istrimu. Nggak kasihan kau sama Bian???"
"Kau saja belum nikah, kenapa ajari aku??" Kata Bang Dante.
"Iyaa.. Tapi aku cuti kemarin untuk ajak calon istriku pengajuan. Sekarang aku mau menghadap Perwira rohani. Ku buktikan kalau aku nggak mempermainkan hati perempuan."
Mendengar itu ada rasa bersalah dalam hati Bang Dante, semua sudah terjadi begitu saja. Ia tidak berani melangkah maju, tapi sebersit perasaan tidak dapat di tepisnya.
"Nanti saya bicara sama Bian."
"Begitu, donk. Ya sudah, aku ke lapangan dulu. Ajari bini mu sebentar saja." Pamit Bang Jangkar.
"Kau urus pengajuanmu, biar aku yang turun ke lapangan."
"Wuuiiihh.. Letnan Dante turun tangan sendiri. Mantap kaliii kau Letnan." Ejek Bang Jangkar, pasalnya sahabatnya itu jarang mau berurusan dengan ibu-ibu.
:
"Ayooo..!!!!!"
buugghhh..
Bian kocar-kacir menerima hantaman bola keras dari Bang Dante.
"Kejaaar..!!! Hamster saja masih bisa lari cepat." Omel Bang Dante membuat Bian kesal.
Bian pun berusaha keras mengejar bola, tapi memang smash dari Bang Dante tak ada lawan.
"Nggak bisa, Bian nggak mau lagi..!!" Tolak Bian. Ia sudah tak sanggup mengejar bola hingga satu hantaman kuat melesat menghantam dadanya.
buuuugghh..
Seketika itu juga Bian terbanting di lapangan dengan kuat dan langsung tak sadarkan diri.
"Allahu Akbar, Biaan..!!!" Bang Dante panik, apalagi ada darah segar menetes dari hidung gadis cantik itu.
"Wahyuuu.. Marwaaaannn..!!!!! Siniiii..!!!!!!!!!" Teriaknya memanggil dua ajudan.
...
"Kalau bukan anak sendiri.. sudah ayah cekik lehermu, Dante." Omel Pak Riegan benar-benar marah dengan kelakuan putranya kali ini.
"Yah.. Bian lemas sekali." Mama Phia memperburuk situasi padahal Bian pun sudah baik-baik saja saat ini.
"Lihat itu..!! Kau laki, kan??? kenapa kau ajari Bian seperti menghukum anggotamu??? Kau itu pria gagah atau pria gagal????" Tak hentinya suara Pak Riegan meninggi karena geram. "Aduuuhh.. Mati aku..!! Biaaann......!!" Pak Riegan gelisah mondar-mandir di ruang kesehatan lapangan.
"Ada yang lebih parah, Yah. Ternyata ada rumor yang tersebar kalau Bian ini, calon istrinya Dante. Kalau nggak jadi kan, malu ya Ayaahh.." Mama Phia menyeka tangisnya.
Jelas saat itu Pak Riegan semakin tidak tega. Beliau mengurut pelipisnya. "Ayah yakin Bian nggak akan bertingkah kalau tidak ada yang ajari. Nanti.. Urus berkas pengajuan nikahmu. Kau yang buat ulah, jangan merendahkan harga diri perempuan."
"Tapi, Yah............."
"Apanya yang tapi??? Nggak ada, kasihan Bian."
Bang Dante hanya bisa mengepalkan jemarinya. Ia bagai terkunci di dua tebing yang bisa saja langsung menghimpitnya dan runtuh menimpanya.
...
"Bian.. Kau sudah bangun." Sapa Bang Dante.
"Keluar..!!!" Usir Bian yang masih kesal.
"Ini.. Abang mau minta tanda tanganmu. Kita nikah ya." Ajak Bang Dante.
"Nggak, aku mau nikah sama laki-laki yang bener laki." Jawab Bian.
"Lah, saya ini laki. Mau lihat??"
Seketika lirikan Bian membuat Bang Dante meneguk saliva dengan kasar. Entah kenapa kali ini tatapan mata Bian membuatnya keringat dingin dan takut setengah mati.
~
"Gimana??" Bisik Bang Sabrang saat sahabatnya itu keluar dari ruang rawat Bian dengan wajah pucat.
"Di tolak, nih." Kata Bang Dante.
"Nah, lu. Ngapain main kasar seperti tadi. Mau jadi jagoan lu, preman pasar??" Tegur Bang Jangkar.
"Itu tadi pelan, bro. Sumpah." Jawab Bang Dante penuh sesal.
"Pelan kata, lu. Kata Bian mah sudah di tabok gajah tuh. Dasar stress lu, main sama perempuan bae segala tenaga di keluarin." Omel Bang Sabrang.
Bang Dante sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gimana donk nih?? Kalau besok pagi berkas ini nggak ada di meja komandan Markas, habis gue di gebukin."
"Saranku, mending kamu di gebukin sih. Laki kok lawan perempuan." Ujar Bang Jangkar.
"Hadeeeehh.. Celaka kalau begini. Gimana ya cara merayu Bian." Gumam Bang Dante.
"Ngerayu aja nggak bisa, paraaaahh..!!!!" Ledek Bang Sabrang.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara