Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPANIKAN DI TEPI SAWAH
# PELET LAKNAT 2
## Bab 33: Kepanikan di Tepi Sawah
Pak Wawan melangkah keluar dari beceknya petakan sawah seraya menepis sisa tanah kering yang menempel di celananya. Ia lantas mendaratkan duduknya di atas galengan sawah. Keningnya berkerut dalam menatap raut wajah istrinya yang pucat pasi bagai tak berdarah, dengan dada yang masih kembang-kempis menahan sesak.
"Ada apa, sih, Bu? Pagi-pagi sudah ribut dan lari-larian ke sawah sampai napas ngos-ngosan begitu?" tanya Pak Wawan heran seraya melepas caping di kepalanya dan memainkannya kaku.
"Dea, Pak! Dea sudah pergi dari rumah... kejiwaannya terganggu, Pak!" jerit Ibu Nengsih seraya mencengkeram erat lengan baju suaminya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, menetes kencang membasahi pipinya.
Pak Wawan tersentak kaget, namun raut wajahnya perlahan berubah kesal dan tak percaya. "Ibu ini bicara apa, sih?! Jangan sembarangan kalau omong! Pergi dari rumah bagaimana? Kejiwaannya terganggu bagaimana? Bapak makin tidak mengerti!"
"Ibu tidak sembarangan, Pak! Tadi Dea mengacak-acak lemarinya sendiri, lalu memakai gaun mencolok dan rambutnya dibiarkan terurai berantakan. Waktu Ibu cegah di depan pintu... dia... dia mendorong Ibu sampai jatuh terjerembap, Pak!" tangis Ibu Nengsih makin pecah, matanya terpejam menahan rasa sakit di badannya. "Dia terus-terusan menyebut nama Jaka, lalu pergi meninggalkan rumah begitu saja!"
Mendengar penjelasan sang istri, bukannya ikut panik, Pak Wawan justru tersenyum simpul. Ia mengembuskan napas santai, menanggapi kecemasan sang istri tanpa sedikit pun rasa risau.
"Ibu ini! Bapak perhatikan dari hari ke hari Ibu ini trauma sendiri sama anak kita. Bu, dengarkan Bapak... Dea itu tidak kabur seperti yang Ibu bayangkan. Dia cuma main ke rumah temannya yang bernama Jaka. Itu loh, Bu, anak Bu Lasmi pedagang sayur. Biarkan sajalah! Beri Dea kebebasan, jangan dikurung terus, kasihan dia. Lagipula, Ibu sepertinya cuma kecapekan, makanya bicaranya ngelantur begitu... pakai bilang anak sendiri gila segala," jelas Pak Wawan seraya menepuk-nepuk pelan bahu istrinya.
Ibu Nengsih tidak menjawab. Ia tertunduk membisu, merenungi dirinya yang mungkin memang telah panik berlebihan terhadap sang anak.
"Sudah, ya, Bapak mau kerja lagi. Ibu jangan khawatir, nanti juga pulang anak itu. Kalau tidak pulang, baru kita susul dia ke rumah Jaka," lanjut Pak Wawan seraya bangkit dari duduknya, mengenakan kembali capingnya, lalu berjalan melangkah melanjutkan aktivitasnya di tengah sawah.
Ibu Nengsih mengusap sisa air matanya yang mengering di pipi, mengembuskan napas panjang seraya menatap punggung suaminya yang kembali menyatu dengan lumpur sawah. Kata-kata Pak Wawan seolah sedikit menenangkan hatinya, meski ada bongkahan ganjal yang masih tertancap erat di dalam dadanya. Dengan langkah perlahan dan kepala tertunduk, Ibu Nengsih memutar arah kembali menuju rumah.
"Mungkin benar kata Bapak, aku hanya kecapekan, makanya melihat Dea berubah sedikit paniknya langsung berlebihan. Tapi... dorongan itu?! Ah, sudahlah... makin pening kepalaku kalau harus membahas itu terus sama Bapak," gumam Ibu Nengsih seraya menggeleng pelan dan melangkah ragu melewati galengan sawah yang becek.
Sementara itu, di sudut desa yang lain, Jaka tengah mengendarai sepeda motornya membelah jalanan kampung dengan Dea yang memeluknya erat dari belakang. Dengan dada membusung bangga dan senyum menyeringai, Jaka sengaja berkeliling seolah ingin memamerkan kepada seluruh warga bahwa ia telah berhasil mendapatkan Dea.
Laju motor itu perlahan memelan hingga akhirnya berbelok memasuki pekarangan sebuah rumah sederhana—rumah milik keluarga Kiki. Jaka sengaja mematikan mesin motornya tepat di depan halaman, mengumbar tatapan puas penuh kemenangan.
Tok... tok... tok...
"Kiki! Kiki, kamu ada di rumah?" panggil Jaka agak berteriak, sembari menggenggam erat jemari kaku Dea di sampingnya.
Sementara itu, Dea hanya berdiri membisu bak patung tanpa ekspresi sedikit pun, pandangannya kosong menatap lurus ke depan.
Tak lama kemudian, pintu kayu utama itu berderit terbuka perlahan. Tampak seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. "Eh, Nak Jaka! Ada apa, Nak?" tanya Ibu Siti seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Melihat yang keluar adalah ibunya Kiki, Jaka sempat tersentak kaget. Namun dengan cepat ia menguasai diri, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Eh, Ibu... Kikinya ada, Bu?" tanya Jaka berpura-pura ramah.
"Maaf ya, Nak Jaka, Kikinya lagi tidak ada di rumah," sahut Ibu Siti pelan dengan nada bicara yang menyimpan duka.
"Lho, ke mana, Bu?"
"Kiki mulai hari ini tinggal di pesantren, Nak..."
Mendengar kata "pesantren", Jaka kaget setengah mati. Matanya membelalak tak percaya. "Hah?! Pesantren, Bu? Y-ya sudah kalau begitu, Bu... kami pamit dulu!" ujar Jaka buru-buru memutar badan dan menuntun Dea kembali menuju sepeda motornya.
"Hah! Ngapain coba dia masuk pesantren? Mau jadi ustaz dia?! Ada-ada saja itu anak!" gumam Jaka dalam hati, tak tahan untuk menyunggingkan senyum geli penuh ejekan di wajahnya.
Di ambang pintu, Ibu Siti sengaja memilih diam dan tidak memberitahukan musibah tragis yang menimpa Kiki. Ia tahu betul tabiat Jaka; ia teramat takut jika Jaka tahu, pemuda itu justru akan makin mengolok-olok kondisi putranya yang kini mendadak bisu.
Jaka pun kembali memacu sepeda motornya berkeliling desa. Dengan keangkuhan yang meluap-luap, ia melakukan hal yang sama ke rumah teman-temannya yang lain—termasuk mendatangi kediaman Ayu, mantan kekasih Kiki. Saat berpapasan, Jaka sengaja memamerkan kemesraannya bersama Dea di depan mata Ayu. Namun, Ayu hanya menatap dingin dan memilih bungkam. Gadis itu menyembunyikan rapat-rapat kenyataan bahwa hubungannya dengan Kiki telah berakhir, tanpa berniat memberi tahu Jaka sedikit pun tentang nasib malang mantan kekasihnya itu.