Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Malam kian larut saat armada mobil hitam Luca berhenti tanpa suara di area dermaga tua yang terbengkalai. Bau amis air laut dan karat besi menyengat udara. Rain coat hitam yang dikenakan Luca berkibar pelan tertiup angin malam saat ia melangkah turun, diikuti oleh puluhan anak buah taktis lengkap yang mengepung perimeter gudang kontainer utama.
"Tuan, musuh ada di dalam gudang nomor tiga," bisik Marco seraya memberi isyarat tangan.
Luca tidak menjawab. Ia hanya mengibaskan tangannya, memberi perintah agar pasukannya merangsek masuk dan melumpuhkan seluruh penjaga luar tanpa suara. Dalam hitungan menit, jeritan tertahan dan dentuman tubuh rubuh memenuhi kegelapan.
Dengan langkah tegap dan dingin, Luca mendorong pintu besi gudang yang berderit nyaring.
Di tengah ruangan luas berdebu itu, terikat di atas kursi kayu dan dikelilingi oleh tumpukan peti kayu, berdiri seorang pria tua berpakaian lusuh dengan rambut beruban. Di sekelilingnya, pengawal-pengawal bayarannya sudah terkapar tak bernyawa di atas lantai beton.
Pria tua itu mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Luca yang melangkah makin dekat dari balik kegelapan, matanya membelalak hebat. Kesenangan gila dan rasa takut bercampur di wajah keriputnya.
"L-Luca...?" bisik pria tua itu, suaranya parau dan bergetar. "Anak kecil yang bersembunyi di balik lemari itu... ternyata tumbuh jadi iblis seperti ini?"
Luca menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan sang paman—Reinhard Oliver. Iris mata Luca yang hitam pekat menatap pria di depannya tanpa belas kasihan sedikit pun, seolah sedang menatap sesosok mayat berjalan.
"Sudah dua belas tahun, Paman Reinhard," ucap Luca dengan suara rendah, dalam, dan mematikan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan dendam yang terakumulasi belasan tahun. "Kamu terlihat sangat tua dan menyedihkan untuk ukuran seorang pembunuh."
Reinhard terkekeh pelan, tawa sumbang yang bergema mengerikan di dalam gudang sepi. "Kamu datang untuk membalas dendam, kan? Seperti ayahmu yang bodoh dan lemah itu! Dia menolak membagi kekayaan Oliver, dan kamu... kamu cuma anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa saat aku merenggut nyawa mereka di depan matamu!"
Kilatan amarah yang meluap-luap membakar mata Luca, namun pria itu tidak meledak secara impulsif. Dengan gerakan yang amat tenang dan terukur, Luca merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah pistol perak ukiran ber ornament keluarga Oliver—pistol milik almarhum ayahnya.
*Klek.*
Luca mengokang senjata itu, mengarahkannya tepat di antara kedua mata Reinhard.
"Ayahku mungkin terlalu percaya pada saudaranya sendiri," bisik Luca dingin, mengikis jarak hingga ujung laras pistol yang dingin menempel ketat di dahi Reinhard. "Tapi saya tidak. Saya dibesarkan oleh darah dan pengkhianatan mu, Paman. Dan malam ini... saya datang untuk menagih seluruh hutangmu."
Wajah Reinhard seketika pucat pasi. Keangkuhannya lenyap, berganti dengan ketakutan murni saat merasakan hawa membunuh mutlak dari napas keponakannya sendiri.
Suara gemuruh ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga tua beradu dengan dentuman badai malam itu, seolah meratapi pertempuran berdarah yang pecah di dalam gudang kontainer. Udara di dalam ruangan itu begitu pekat oleh aroma mesiu, bau amis darah, dan debu tebal yang beterbangan.
Luca melepaskan tembakan bertubi-tubi, namun Reinhard bergerak bagai bayangan kelam—menyelinap di antara celah-celah kontainer besi dengan kelincahan mematikan yang menentang usianya. Pria tua itu adalah iblis masa lalu yang melahirkan taktik perang keluarga Oliver, monster yang mengajari ayah Luca bertarung sebelum akhirnya membantainya tanpa belas kasihan.
*Brak!*
Reinhard memotong jarak dari sudut tak terduga, menendang lengan Luca hingga pistol perak milik ayahnya terlempar jauh, memantul nyaring di lantai beton dan menghilang di kegelapan.
"Kamu masih anak kecil yang menangis di balik lemari, Luca!" raung Reinhard dengan tawa gila yang menggema di langit-langit gudang.
Sebelum Luca sempat mengambil posisi bertahan, Reinhard menerjang dengan bilah pisau komando yang berkelebat membelah udara. Luca menangkis dengan pergelangan tangannya, namun kekuatan dan ketepatan serangan sang paman begitu brutal.
*Sret!*
Bilah baja dingin itu merobek rompi taktis Luca, menggores kulit dadanya hingga darah segar memercik keras ke udara. Luca meringis, namun dendam yang membakar dadanya membuat pria itu menolak untuk runtuh. Ia menghantamkan tinjunya ke rahang Reinhard, menyebabkan pria tua itu terseret mundur beberapa meter.
Namun, pengalaman adalah guru yang kejam. Saat Luca melangkah maju untuk memberikan pukulan pamungkas, Reinhard justru menyeringai. Pria tua itu sengaja memancing Luca ke area perangkap.
Dengan satu gerakan menyapu yang sangat presisi, Reinhard memanfaatkan tiang besi penopang kontainer yang sudah goyah.
*CRASH!*
Satu tumpukan peti kayu berat dihantam dan roboh menimpa tubuh Luca. Pria yang di luar sana disembah sebagai penguasa yang tak tersentuh itu kini terhentak keras ke lantai beton, tertindih beban berat dengan darah yang mulai membasahi pakaian hitamnya. Napas Luca tersengal parah, rusuknya terasa retak, dan pandangannya mulai kabur diselimuti warna merah.
Reinhard melangkah perlahan mendekat, menunduk seraya menikmati pemandangan keponakannya yang bersimbah darah di bawah kakinya. Pria tua itu menempelkan ujung pisau berdarah itu tepat di bawah dagu Luca, menekan lehernya hingga menembus kulit tipis sang penguasa muda.
"Kamu membangun kerajaanmu di atas nama besar Oliver, tapi darah di nadimu tetaplah darah pria lemah yang kubantai belasan tahun lalu," bisik Reinhard dingin, matanya berkilat penuh kemenangan yang gila. "Hari ini, aku akan menyelesaikan apa yang seharusnya ku selesaikan malam itu."
"Tuan Luca!"
Rentetan tembakan gila-gilaan dari Marco dan pasukan inti memecah hening, menghujani posisi Reinhard. Reinhard mengutuk pelan, terpaksa melompat mundur dan meloloskan diri ke dalam kegelapan lorong rahasia dermaga, meninggalkan Luca yang terbaring lemah tak berdaya.
Marco berhamburan berlutut di samping bosnya, menyingkirkan puing-puing kayu dengan tangan gemetar. "Tuan! Tahan, Tuan! Bawa mobil ke sini sekarang!"
Di antara rasa sakit yang luar biasa dan darah yang terus mengalir dari tubuhnya, Luca menatap langit-langit gudang yang suram. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, keangkuhan dan predikat "tak terkalahkan" milik Luca runtuh sepenuhnya. Ia tidak hanya kalah fisik, tetapi hatinya hancur berkeping-keping oleh kenyataan bahwa ia masih belum cukup kuat untuk menghabisi pembunuh orang tuanya.
Dan dalam kesadaran yang perlahan meredup itu, bayangan wajah Ruby yang menunggunya di mansion menjadi satu-satunya hal yang menahannya untuk tidak menyerah pada kegelapan.