Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Undangan Makan Malam Keluarga

Di area lobi utama gedung pencakar langit Kawasan Bisnis Sudirman yang megah, keheningan merayap sejenak di antara Dirga dan Lisa Larasati. Suasana terkesan formal namun sarat akan dinamika emosional yang mendalam. Lisa masih menatap Dirga dengan tatapan memohon, menantikan jawaban atas undangan makan malam keluarga yang baru saja diutarakannya.

Dirga berdiri tegak dengan sikap tenang. Kehadirannya di ruang publik yang mewah itu memancarkan wibawa alami, meski jaket ojek online kusam masih membalut tubuhnya. Matanya yang tajam menatap Lisa dengan kecermatan yang penuh perhitungan.

"Bu Lisa," panggil Dirga dengan nada suara rendah dan berat. "Undangan ini sebuah kehormatan. Namun, saya kira segala transaksi dan bantuan yang terjadi di antara kita murni didasarkan pada profesionalisme dan rasa saling menghargai. Anda tidak perlu merasa berutang budi sedemikian rupa hingga harus melibatkan ranah pribadi keluarga."

Lisa dengan cepat menggelengkan kepala. Langkah kakinya maju selangkah, menunjukkan kebulatan tekad yang amat sangat.

"Ini bukan sekadar formalitas basa-basi korporasi, Dirga," tegas Lisa, intonasinya terdengar penuh kesungguhan. "Ayah saya, Pak Arisandra, bukan orang yang mudah menaruh hormat pada sembarang orang. Ketika saya melaporkan bagaimana kamu membongkar sabotase Pak Surya, yang hampir menghancurkan fondasi Larasati Group, beliau sangat terkejut. Ditambah lagi dengan tindakanmu hari ini yang menolak memeras posisi anak perusahaan kami yang terdesak... Ayah secara khusus meminta saya membawamu ke rumah."

"Pak Arisandra sendiri yang meminta?" tanya Dirga, alisnya terangkat tipis.

"Benar," jawab Lisa mantap. "Beliau ingin mengenal sosok pemuda yang memiliki integritas setinggi itu di zaman sekarang. Bagi keluarga kami, makan malam ini adalah bentuk apresiasi paling terhormat yang bisa kami berikan. Jika kamu menolaknya, saya akan sangat merasa bersalah, Dirga. Tolong, penuhi undangan ini. Hanya makan malam keluarga yang hangat."

Dirga mengamati ketulusan di mata wanita muda di hadapannya. Dalam benaknya, Dirga menimbang berbagai kemungkinan. Menjalin hubungan baik dengan figur pemuncak konglomerasi seperti Pak Arisandra adalah langkah strategis yang tidak bisa dipandang sebelah mata bagi rencana jangka panjangnya. Apalagi, intuisi batinnya memberikan sinyal bahwa interaksi ini akan menjadi pintu gerbang bagi pengujian dan batu loncatan berikutnya.

"Baiklah," ucap Dirga akhirnya, suaranya terdengar lugas dan mantap. "Jika Pak Arisandra sendiri yang mengundang, saya akan hadir nanti malam."

Senyum lega dan riang seketika terukir indah di wajah Lisa. Beban besar seolah terangkat dari pundaknya. "Terima kasih, Dirga! Terima kasih banyak! Saya akan mengirimkan alamat lengkap kediaman utama kami di kawasan Kebayoran Baru serta jam kedatangan melalui pesan singkat."

"Pukul berapa acara akan dimulai?" tanya Dirga.

"Pukul tujuh malam," sahut Lisa cepat. "Saya akan memastikan menyambutmu secara langsung di depan. Sampai bertemu nanti malam, Dirga."

"Sampai bertemu nanti malam, Bu Lisa," balas Dirga singkat sebelum memutar badannya dan melangkah keluar menuju pelataran parkir sepeda motor.

Sore harinya, Dirga tiba di rumah panggungnya yang kini sudah memiliki atap kokoh dari baja ringan dan genteng metal baru. Bau cat basah dan kayu segar dari hasil perbaikan Pak Mandor Karno masih tercium samar. Dirga membersihkan diri dengan teliti, membasuh seluruh sisa debu dan keletihan dari perjalanannya ke Desa Sukamaju dan Sudirman.

Ia berdiri di depan cermin tua yang tergantung di dinding kamar. Di dalam lemari kayunya, tidak ada setelan jas buatan penjahit ternama atau pakaian bermerek impor. Dirga memilih kemeja kain lengan panjang berwarna abu-abu gelap yang bersih dan tersetrika rapi, dipadukan dengan celana bahan hitam serta sepatu kulit sederhana yang terawat baik. Pakaian itu tidak mewah, namun melekat pas di tubuhnya yang tegap, memancarkan kesan rapi, dingin, dan bersahaja.

"Harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mahal kain yang membungkus tubuhnya, melainkan oleh keteguhan prinsip dan kebersihan jiwanya," gumam Dirga pelan, mengutip nasihat yang pernah disampaikan almarhumah ibunya.

Tepat pukul setengah tujuh malam, Dirga memicu sepeda motor matik barunya menembus kepadatan lalu lintas Jakarta menuju kawasan elite Kebayoran Baru.

Kompleks perumahan yang ditujunya merupakan area pemukiman paling eksklusif, di mana benteng-benteng tinggi dan deretan pepohonan rindang menyembunyikan rumah-rumah mewah bergaya arsitektur modern klasik. Setelah melewati penjagaan ketat petugas keamanan kompleks yang memeriksa identitasnya, Dirga mengarahkan sepeda motornya berhenti tepat di depan gerbang besi tempa menjulang tinggi berukir emas milik kediaman utama keluarga Arisandra.

Seorang penjaga gerbang berbadan tegap membukakan pintu kecil setelah Dirga menyebutkan namanya. Dirga memarkirkan sepeda motornya di area khusus parkir tamu di samping deretan mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah. Ia merapikan kemeja abu-abu gelapnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu melangkah tenang menelusuri selasar berlantai marmer putih yang diapit oleh kolam air mancur dan taman megah menuju pintu utama kediaman tersebut.

Di depan pintu jati berukir rapi setinggi tiga meter yang terbuka separuh, dua sosok berdiri menanti. Namun, sosok yang berdiri di sana bukanlah Lisa maupun Pak Arisandra.

Sosok pertama adalah seorang wanita paruh baya berusia lima puluhan dengan riasan tebal, mengenakan gaun sutra berwarna ungu menyala lengkap dengan kalung berlian yang berkilauan di lehernya. Di sampingnya berdiri seorang gadis muda seusia Lisa, mengenakan pakaian desainer ternama dengan gaya angkuh dan sapuan gaun melambai. Mereka adalah Tante Siska, ibu sepupu Lisa, dan Chintya, sepupu kandung Lisa dari pihak keluarga ibu.

Langkah kaki Dirga terhenti beberapa meter di depan undakan tangga marmer pintu masuk. Pandangan mata kedua wanita itu langsung tertuju pada Dirga.

Mata Tante Siska menyipit, menyapu penampilan Dirga dari ujung sepatu kulit sederhananya, celana bahan hitamnya, hingga kemeja abu-abu gelap polos tanpa logo merek ternama. Bibirnya yang berbalut gincu merah menyala seketika tertarik ke bawah, membentuk kurva kehinaan yang dipenuhi nada jijik dan pelecehan yang tak tertutupi.

"Astaga..." cetus Tante Siska dengan suara melengking halus namun tajam. Ia menutup hidungnya menggunakan sapu tangan berenda seolah-olah ada bau menyengat yang terbawa angin. "Chintya, coba kamu lihat. Siapa orang ini? Mengapa ada pemuda dengan pakaian murah seperti ini berdiri di depan pintu utama kediaman Arisandra?"

Chintya melipat kedua tangannya di dada, menatap Dirga dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. Matanya menatap kemeja sederhana Dirga seolah-olah sedang melihat noda kotoran di atas karpet mahal.

"Entahlah, Mama," jawab Chintya dengan nada mengejek yang dingin. "Mungkin dia petugas pengantar barang yang tersesat, atau tukang servis panggilan yang lupa pintu belakang. Hey, Kamu! Kamu tahu ini rumah siapa?"

Dirga tetap berdiri tegak di undakan tangga bawah. Wajahnya lurus dan tanpa ekspresi, matanya yang dingin menatap kedua wanita itu tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Selamat malam," ujar Dirga dengan suara berat dan datar. "Saya Dirga. Saya hadir ke sini atas undangan resmi dari Bu Lisa dan Pak Arisandra untuk acara makan malam keluarga."

Tante Siska terperanjat, lalu tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa buatan yang terdengar begitu sengau dan penuh nada penghinaan.

"Apa? Undangan makan malam keluarga?" seru Tante Siska sambil menudingkan jarinya yang berhias cincin permata ke arah Dirga. "Jangan membual di tempat ini, Pemuda! Rumah ini adalah kediaman pimpinan tertinggi Larasati Group! Orang-orang yang datang makan malam di meja Pak Arisandra adalah para pejabat, menteri, dan konglomerat papan atas. Bagaimana mungkin pemuda kusam berpenampilan rakyat jelata seperti kamu diundang ke sini?"

"Mama benar," timpal Chintya dengan tatapan tajam nan sinis. "Lihat pakaianmu! Kemeja murah tanpa merek, tidak memakai jas, dan kamu datang mengendarai sepeda motor matik di antara mobil-mobil elit kami? Sungguh tidak tahu diri! Kamu pasti penipu yang mencoba memanfaatkan kebaikan Lisa!"

Dirga tidak bergeming. Ia tidak membiarkan provokasi mentah dari kedua wanita kaya yang picik itu menggoyahkan ketenangannya. Rasa percaya dirinya terpancar kuat, berdiri kokoh di atas integritas dan harga diri yang tidak bisa dibeli dengan perhiasan berlian.

"Penampilan luar tidak pernah mengurangi keabsahan sebuah undangan resmi, Nyonya," balas Dirga dingin dan menohok. "Saya datang bukan untuk memamerkan pakaian atau meminta penilaian dari Anda. Saya datang karena pemilik rumah ini yang meminta saya untuk hadir."

"Kurang ajar sekali mulutmu!" bentak Tante Siska, mukanya memerah karena merasa ditegur oleh pemuda yang dianggapnya berderajat rendah. "Berani-beraninya kamu berbicara dengan nada seperti itu di hadapan saya! Kamu tahu siapa saya? Saya adalah ipar dari Pak Arisandra! Penjaga! Mana penjaga gerbang?!"

Sebelum Tante Siska sempat memanggil petugas keamanan untuk mengusir Dirga, suara langkah kaki tergesa-gesa berbunyi dari dalam lorong utama rumah. Lisa muncul dari balik pintu jati, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang sangat anggun. Wajahnya yang semula berseri-seri seketika mengeras saat melihat konfrontasi di ambang pintu.

"Tante Siska! Chintya! Apa yang sedang kalian lakukan di luar sini?!" tegur Lisa dengan nada suara tinggi penuh kejengkelan.

Lisa melangkah cepat menuruni anak tangga, berdiri persis di samping Dirga, lalu menatap ibu dan anak itu dengan pandangan marah. "Mengapa kalian memperlakukan tamu kehormatan saya dan Ayah seperti ini?!"

Tante Siska melotot heran, menunjuk Dirga dengan penuh kekagetkan. "Lisa! Kamu tidak gila, kan? Pemuda kusam ini yang kamu bilang tamu kehormatan? Dia datang memakai kemeja biasa dan mengendarai motor! Dia sama sekali tidak layak melangkahkan kaki di atas marmer rumah ini!"

"Tante, jaga batasan bicara Tante!" potong Lisa dengan tegas, matanya berkilat marah. "Dirga adalah orang yang telah menyelamatkan perusahaan kita dari kehancuran! Kedudukannya di rumah ini jauh lebih terhormat daripada siapapun yang hanya bisa menilai orang dari pakaiannya!"

Chintya mencibir sinis. "Lisa, kamu pasti sudah dicuci otaknya oleh pemuda miskin ini. Mana ada orang hebat berpenampilan seadanya seperti dia?"

"Cukup!" sebuah suara berat, berwibawa, dan sarat akan dominasi mendadak bergema dari dalam lorong rumah.

Seorang pria paruh baya berusia enam puluhan dengan rambut beruban yang tertata rapi, mengenakan setelan kasual mewah, melangkah keluar ke area pintu. Perawakannya tegap, dan sorot matanya yang tajam memancarkan aura seorang pimpinan tertinggi yang telah puluhan tahun menguasai dunia bisnis korporasi. Dialah Pak Arisandra, pemilik utama Larasati Group.

Kehadiran Pak Arisandra seketika membungkam Tante Siska dan Chintya. Suasana di ambang pintu menjadi hening mencekam.

Pak Arisandra menghentikan langkahnya, pandangan matanya yang dingin dan berpengalaman langsung tertuju secara khusus pada Dirga. Beliau mengamati pemuda berkemeja abu-abu gelap yang berdiri tegap di samping putrinya, seorang pemuda yang meski dikelilingi kemewahan dan hinaan, tetap berdiri dengan kepala tegak tanpa sedikit pun menunjukkan rasa minder atau gentar.

"Jadi..." ucap Pak Arisandra pelan, suaranya terdengar berat dan dalam. "Kamu yang bernama Dirga?"

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!