Indonesia
NovelToon NovelToon
Pilihan TerbaikNya

Pilihan TerbaikNya

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Petualangan / Tamat
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arsalan Nisha

Karmel siswi di sebuah SMA. Ia memiliki dua sahabat, Riri dan Dee. Mereka memiliki perjalanan cinta yang berbeda.

Karmel dengan kemampuan seni di tanganya. Wajahnya cukup cantik namun ia belum memiliki ketertarikan pada siapapun. Riri sebagai sahabatnya, melakukan berbagai macam cara agar la juga memiliki laki-laki idaman. Ia ingin sahabatnya itu merasakan rasa cinta yang berbunga-bunga.

Diam-diam Karmel memiliki perasaan terhadap Julian. Namun ia masih belum yakin perasaan macam apa yang sedang ia rasakan.

Di masa kuliahnya, ada sosok laki-laki lain yang masuk kedunia nya. Ia bukan orang berada, bukan hidup di dunia yang biasa.

Petualangan baru dimulai. Karmel masuk ke dunia yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Kemanakah cinta Karmel akan berakhir? Apakah ia akan bersama cinta yang ia bawa sejak SMA ? atau pada laki-laki yang memberinya petualangan baru untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsalan Nisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Ingatan Yang Kembali

Tak sampai 6 bulan semester genap berjalan. Karena kelas akhir memang biasanya lebih pendek dibanding kelas sebelumnya. Semua pelajaran, tes dan bimbingan dipadatkan dan dipercepat. Tak pernah ada pulang lebih awal. Yang ada, pulang selalu hampir petang. Begitulah kelas ahir.

Melodi bukan termasuk deretan anak terpandai atau populer di sekolah. Namun langkahnya selalu jadi perhatian karena banyak yang sudah tahu kalau ia adalah anak dari Pak Agus kepala sekolah SMA ini.

Hari ini Melodi berangkat bersama Julian. Karmel tentu tidak boleh mengeluh. Karena ia sendiri yang membuat jarak dengan Julian sebelumnya. Begitu juga dengan Melodi yang terus akan berpikir bahwa Karmel telah merencakan untuk menyakiti hatinya. Melodi sangat yakin kalau Karmel dan Daffin lebih dari sekedar teman.

"Bagaimana bisa? Daffin mengusap kepala Karmel. Aku sangat sakit hati, fin. Memangnya apa bagusnya Karmel dibanding aku hah?" gumam Melodi saat mengingat Karmel dan Daffin kemarin

Melodi hari ini berangkat bersama Julian. Mereka seperti pasangan yang sangat menempel. Kemana-kemana bersama. Orang-orang yang melihat sepakat kalau mereka adalah pasangan serasi.

Hari ini Karmel memakai jumper yang sama dengan milik Julian. Tak ada alasan apapun karena ia memang hanya ingin memakainya.

Saat ia berjalan menuju kelas. Seseorang menghentikan langkahnya. Julian berdiri di hadapannya. Karmel menatapnya tajam. Seolah keduanya menyimpan kekesalan yang tak jelas alasanya.

"Ada apa? Bukankah kita sudah tidak ada urusan?" kata Karmel

"Apa yang kamu pakai itu?" kata Julian

"Jumper," jawab Karmel

"Kenapa ada juga di rumahku?" tanya Julian lagi

"Mana aku tahu," kata Karmel hendak melangkah pergi

"Tunggu! itu bukan seragam kelas kan?" tanya Julian

"Bukan. Itu seragam anak pantai," kata Karmel

"Pantai? Maksudnya?" tanya Julian

"Pantai asuhan, bodoh," kata Karmel puas ahirnya bisa mengatakan itu pada Julian

"Aku serius. Bagaimana bisa kita punya baju yang sama," kata Julian

"Kamu bisa pergi ke lapangan basket. Ini hanya gambar yang kita buat. Sudah. Tidak ada yang istimewa." jelas Karmel

"Sudah puas? apakah aku boleh pergi, tuan?" kata Karmel

Julian tak menjawab namun badannya bergeser. Karmel kemudian pergi. Hatinya mendadak perih. Ia ingin sekali menjawab bahwa jumper itu adalah jumper couple atau semacamnya. Ia telan sendiri niatnya itu dan membiarkan Julian membuat persepsinya sendiri.

Julian kemudian pergi ke lapangan basket. Matanya berkeliling dan melihat satu tembok dengan gambar yang tak asing buatnya. Dilihatnya gambar itu lama-lama. Ingatanya seperti kembali berulang pada proses saat ia menggambar. Terlihat juga dalam memorinya Karmel ada disana. Dengan senyum yang membuatnya seketika itu berdebar.

Kepalanya terasa sakit. Tatkala satu ingatan muncul dipikirannya. Rasanya nyeri seperti ditusuk benda tajam. Kali ini rasa sakitnya membuatnya harus terduduk di tanah. Kepalanya berdenyut. Saat ia berusaha merangkai ingatannya. Wajah Karmel beberapa kali muncul. Bahkan ia juga mengingat ia sempat mengambil foto Karmel diam-diam. Saat itu perasaanya begitu bahagia.

"Dasar! kenapa dia selalu muncul? Sulitku percaya, masa laluku dekat dengan gadis kasar itu," gumam Karmel

Dari Jauh. Karmel mengamati Julian. Ia sempat akan menghampiri Julian saat jatuh terduduk. Namun ia tahan langkahnya itu. Ia tak mau melukai hati Julian.

Dikelas. Semua temannya bergosip. Andres pun mengajak Karmel berbicara.

"Mel, satu sekolah sudah tahu, Julian di jodohkan dengan Melodi. Bahkan ada kabar yang bilang kalau mereka juga sudah bertunangan," kata Andres

"Tidak ada urusannya denganku, Ndres." Jawab Karmel ketus

"Apa kamu yakin? Bukankah Julian sempat dekat denganmu? aku tahu, dia terkadang cemburu saat kita ngobrol. Aku laki-laki mana bisa dibodohi, sudah jelas dia menyukaimu," jelas Andres

Karmel menatap Andres. Ia mencerna apa yang di dengarnya barusan. Lalu menghela nafas panjang.

"Anggap saja itu masa lalu, Ndres. Bukankah setiap orang punya masa lalu? Sekarang, Melodi lah masa depannya," kata Karmel

Karmel merunduk menyibukkan diri. Ia berpura membuka buku dan membacanya. Andres melihat Karmel yang tampak murung.

"Mulai saat ini aku teman yang bisa kamu andalkan, Mel. Apapun pilihanmu aku pasti mendukungmu, Sis. Yeaaach, haha" kata Andres

"Terimakasih Bro, setidaknya aku sudah punya satu teman kampus sebelum Ospek berlangsung, yaitu kamu, hehe," kata Karmel

Lagi-lagi. Julian memergoki Karmel yang ngobrol dan tertawa bersama teman sebangkunya itu. Andres seperti kotoran mata bagi Julian yang sangat mengganggu. Apalagi melihat mereka dekat, meski ia berusaha tidak peduli. Namun tetap saja ada rasa kesal di dadanya yang selalu datang dengan sebab yang sama.

Karmel dan Julian sempat berpapas pandang. Mereka saling tatap seolah mereka berkomunokasi dari hati ke hati. Meski raut wajah kesal. Namun ada hati di dalam sana yang menyimpan rindu begitu dalam.

'Aku bisa melakukannya, aku bisa biasa saja' kata Karmel dalam hatinya

Berbeda dengan Karmel yang berusaha melupakan, Julian justru semakin mencari tahu masa lalunya. Ia kemudian membuka ponsel miliknya. Ia tak menemukan satu pun foto Karmel. Kemudian ia baru ingat, ponsel yang ia pegang adalah pemberian bundanya belum lama ini.

"Owhya sosmed! harusnya ada jejak disana," kata Julian yang senang menemukan ide

"Kenapa si Julian? Kayaknya sibuk banget sama ponselmu," kata Melodi yang mengintip aktifitas Julian

Julian membuka sosial media nya. Ia tak menemukan foto Karmel. Tapi Julian menemukan foto dengan pemandangan malam yang sangat bagus. Bukit dengan banyak bintang. Ada siluet perempuan disana dengan caption 'luv bae'.

"Kenapa aku tak bisa mengingat apapun," gumam Julian

Melodi hanya mengedikan bahunya melihat Jukian yang berbicara sendiri. Ia tak begitu peduli dengan yang sedang Julian lakukan.

Saat jam istirahat. Karmel hendak pergi ke perpustakaan. Ia mengambil buku literasi untuk mengerjakan beberapa tugas. Julian duduk disebrang meja nya. Sama persis saar ia dan Julian bertemu disana.

Seklebat bayangan muncul di pikiran Julian. Karmel meliriknya. Dalam batinnya khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada Julian. Sakit kepalanya kali ini seperti tidak terhankan, beberapa kali ingatan itu membuatnya sakit berkali-kali. Julian jatuh dari tempat duduknya.

"Ju! Julian!!! Kamu kenapa?" kata Karmel yang reflek mendekati Julian

"Lepaskan! jangan pura-pura mau menolong kalau memang tidak mau menolong," kata Julian tegas

"Maaf Ju," kata Karmel tak tahan air matanya menetes, ia tak sanggup melihat Julian yang tersiksa begitu. Ia tahu kalau Julian berusaha sangat keras mengembalikan ingatannya

"Katakan semua padaku, atau tidak usah muncul dihadapanku lagi," kata Julian

"Ju.. ayok kita ke UKS dulu, aku janji nanti pasti akan ku ceritakan, berjanjilah tidak akan memaksakan seperti ini," kata Karmel yang membantu Julian bangkit dan membantunya untuk ke UKS

Tangan Karmel berada di tangan kiri Julian. Kini Julian menangkup tangan Karmel dengan tangan kanannya. Jantungnya berdegup tak karuan. Namun ia semacam mendapat efek yang membuatnya kecanduan. Rasa nyaman saat bersama Karmel telah menjadi candunya.

Sampai di UKS Julian tiduran di ranjang pengobatan. Karmel membantu mengambilkannya minum.

"Dimana Melodi? harusnya dia ada disini, biar aku telepon kan," kata Karmel

Julian mencegahnya dan menghentikan tangan Karmel yang hendak menelepon Melodi.

"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Sekarang katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?" tanya Julian

"Aku? Tentu hanya temanmu, kita bertemu pertama kali sama persis diperpustakaan tadi. Lalu setelah itu kita semakin sering bertemu, kamu sering membantuku," kata Karmel dengan nada sedih

Julian mengamati Karmel. Ia mungkin harus memutuskan sesuatu.

"Kamu mungkin sudah dengar rumor bahwa aku dan Melodi di jodohkan, apa kamu tahu sebelumnya?" tanya Julian

"Tentu saja, ponsel kita pernah tertukar saat itu. Aku jadi tahu semuanya," kata Karmel

"Apa nama ku di ponselmu?" tanya Julian

Karmel kaget saat Julian menanyakan hal demikian. Haruskah dia mengatakan juga bagaimana perasaanya. Ia menunjukan nama yang ada di ponselnya.

"Ini nomor ponselmu dulu. Aku tidak punya nomor baru mu," kata Karmel

"Julian Bae?" kata Julian

"Itu bukan aku yang memberikan nama itu. Kamu sendiri yang mengubahnya saat ponsel kita tertukar, aku sengaja membiarkannya," kata Karmel

Julian terdiam. Ia ingat kalau foto siluet dengan caption 'luv bae' itu adalah Karmel. Namun ia belum bisa ingat dimana dan kapan foto itu diambil.

Tiba-tiba Melodi datang. Dengan gaya centil khasnya itu, ia menghampiri Julian di UKS.

"Julian, kamu tidak apa-apa? Heh, Karmel kamu ceroboh banget ya, Julian ini belum boleh mikir berat. Kamu pasti mengusiknya," kata Melodi lantang

"Maaf Mel, aku pergi dulu " kata Karmel

Karmel tidak ingin ribut panjang. Andai orang lain melihat, pasti semua akan berpikir bahwa Karmel adalah pihak ke tiga dari hubungan Julian dan Melodi.

Andres ada di pintu kelas. Ia menghentikan Karmel yang bermata sembab. Namun Karmel mengabaikannya. Hati nya masih sangat kacau, ia malas berbicara dengan siapapun.

Dua minggu lagi ujian Nasional. Rasanya waktu berlari begitu cepat. Karmel dan Julian sering bertemu. Tapi keduanya tidak saling bertegur sapa.

Hari Ujian pun datang. Karmel duduk dibelakang Julian. Mereka berdua fokus pada Ujian Nasional. Penentuan tiga tahun belajar. Dengan segala perjuangan yang dilakukan. Menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Mereka tak ingin semua usahanya sia-sia.

Setelah Ujian demi Ujian berakhir. Sekolah mengadakan acara perpisahan. Tidak ada acara keluar kota ataupun panggung pentas. Begitu banyak bencana alam dan kerusuhan. Tahun ini acara perpisahan ditiadakan.

Semua siswa akhir tinggal menikmati masa liburannya. Sambil menunggu hasil pengumuman Ujian. Tiga minggu sampai satu bulan lamanya mereka libur, mereka akan bosan jika tanpa kegiatan.

"Mel, ke pantai yuk," ajak Riri

"Emang kamu ga ada kegiatan? bukankah kamu akan persiapan untuk mendaftar sekolah pelayaran?" kata Dee

"Ga ada," kata Riri

"Boleh deh, kapan?" kata Karmel

"Besok kita kumpul di rumah Karmel saja," kata Dee kemudian

Ke esokan harinya. Semua teman Karmel telah berkumpul. Riri dan Karmel berboncengan. Sedangkan Dee dan David.

"Wuaduh, ni aku cowo sendiri? Ajak Julian atau siapapun deh," kata David

"Yaudah aku ajak Andres saja ya?" kata Karmel

"Gebetan baru lagi kah?" kata Riri

"Bukan. Dia teman sebangku aku, kebetulan dia masuk jurusan dan universitas yang sama denganku, ia akan jadi teman selama beberapa tahun kedepan," jelas Karmel

"Ehem, yakin ga pengin hubungin Julian aja?" kata Dee

Karmel menggelengkan kepala. Ia tak ingin mengajak Julian karena pasti ia harus mengajak Melodi juga. Kemudian Kak Daffin keluar dari rumah, ia mendengar percakapan mereka

"Kakak aja yang ikut," kata Daffin

"Iya kak boleh kak, yuk ah berangkat," kata David

Kemudian Karmel dan teman-temannya berangkat menuju sebuah pantai. Mereka menempuh perjalanan hampir dua jam.

Sesampainya di pantai. Tak terlaĺu banyak orang disana. Mungkin karena bukan week end. Beruntung cuaca sangat cerah. Langit biru tanpa awan. Angin berhembus sangat kencang dan matahari yang panas sangat menyengat di kulit.

"Waaah, enak sekali ya udaranya," kata David

"Iya... Sekolah tidak mengadakan acara perpisahan. Anggap saja ini acara perpisahan buat kita," kata Dee

"Hush.. jangan ngomomg berpisah ah," kata Riri

"Iya. Kalian tidak akan berpisah. Hanya saja akan sibuk dengan mengejar impian masing-masing," kata Daffin

Riri sedari tadi melihat Daffin. Diam-diam ia mengagumi Daffin. Laki-laki yang bisa dibilang sudah mapan diusianya yang masih sangat muda. Ia juga punya wajah yang cukup tampan, bertubuh jangkung dengab kulit yang sawo matang.

"Eh itu bukannya Melodi ya?" kata Dee

"Benar. Itu Julian kan? Dunia memang sempit," kata David

Deg!

'Kenapa harus disini. Ada banyak pantai yang bisa mereka gunakan untuk berpacaran. Kenapa juga harus disini' batin Karmel

"Ah udah ayok kita makan kelapa muda aja. Atau nasi pecel kayaknya enak ya? hehe," kata Daffin

"Iya setuju, Ka." kata Riri

Mereka ahirnya memilih sebuah kedai di dekat pantai untuk sekedar duduk-duduk. Menunggu matahari tidak terlalu panas sembari makan siang. Daffin memilihkan tempat yang agak jauh dimana sepeda motor mereka diparkirkan. Ia membaca raut wajah Karmel saat melihat Julian. Sehingga ia sengaja memilihkan kedai yang agar jauh dari mereka.

"Sudah. Tidak usah dipikirkan. Semua akan segera berlalu, jangan kembali larut," kata Daffin pada Karmel

Riri memperhatikan sikap Daffin itu. Ia membayangkan jika Daffin adalah pasangannya, mungkin ia akan sangat bahagia.

Karmel kemudian mencari kamar mandi umum. Ia berjalan ke beberapa kedai yang menyediakan toilet.

Tak sengaja, ia melihat Julian yang sedang mengulungkan tangan pada Melodi. Ia membantunya menaiki anak tangga. Melodi memeluk Julian saat sampai dipuncak tangga itu.

"Sial! kenapa sakit hati aku melihatnya," gumam Karmel sendiri

Tak sengaja Julian melihat ke arah Karmel yang memperhatikannya. Ia menangkap raut wajah yang marah pada Karmel.

Karmel kemudian berjalan mundur dan berlari. Saat ia sadar dari lamunannya sendiri. Julian memperhatikannya disana.

'Apakah tadi itu Karmel?' kata Julian dalam hati

Setelah Karmel berkumpul kembali dengan teman-temannya. Ia menjadi bad mood. Wajahnya menjadi murung.

Tanpa Karmel tahu. Julian mengikuti kemana arah ia pergi. Saat ia menemukan Karmel. Ia melihatnya dari jauh. Julian memperhatikan Karmel.

'Jika Tuhan memberikanku kesempatan hidup. Mungkin satu alasannya adalah kamu' kata Julian dalam hati

Julian mencari kontak Karmel dalam grup kelas. Ia kemudian meneleponnya.

Ponsel Karmel bergetar. Sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Ia kemudian mengangkatnya.

"Maaf untuk semuanya," kata Julian

"Sorry, siapa ya?" kata Karmel

"The One Before Any Else," kata Julian

"Juju?" kata Karmel. Matanya berkeliling mencari keberadaan Julian

Semua mata tertuju pada Karmel yang sedang mengangkat telepon. Mereka mengetahui nama Juju sebagai Julian. Teman-temannya sudah melihat Julian bersama Melodi.

"Kenapa dia menelepon?" kata Riri

"Dia hanya bilang minta maaf," kata Karmel

"Kenapa tidak menemuimu langsung?" kata Dee

"Sudahlah. Lupakan saja, dia sedang bersenang-senang dengan Melodi," kata Karmel

Julian yang masih memperhatikan Karmel. Ia merasa kecewa. Ia berharap Karmel mengatakan sesuatu yang bisa menenangkannya. Ternyata meneleponnya malah membuatnya semakin gelisah saja.

Ia mengambil langkah untuk mendekati Karmel. Julian tak bisa membunuh rasa resahnya sesaat setelah Karmel menghindar darinya.

"Julian? Dimana Melodi?" kata Riri

"Dia sudah kusuruh pulang bersama supirnya," kata Julian

"Sini ayok gabung bareng kami," kata Dee

"Aku ingin bicara dengan Karmel," kata Julian

------------

Bersambung......

1
Nazwah Azahrah
wah jangan jangan papa nya julian kele_sss....
Nazwah Azahrah
is is...kode nya tuh canggih ai ai .
Arsalan Nisha: mampir juga karyaku yang lain kak, Survival in love... makasih kak sudah berkunjung
total 1 replies
denara
kapan ini up nya. kok tau tau pernikahan tamat pula. kayaknya td pagi baca siapa kamu?
Syuka thor.
ayah karmel ga tau endingnya ini.

semangat buat karya baru lagi thor
Arsalan Nisha: haha... tambah imajinasi sendiri ya mbak..
niatnya mau dipanjangin tapi takut bertele-tele pdahal intinya udah ketangkep..
total 1 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
sudah ku like untuk favorite. nanti kubaca slow ya ka😉👌
Arsalan Nisha: thanks kak..
total 1 replies
Pink Panther
4 like👍
kutunggu likebacknya di Who is He? dah UP juga lho😄💕
Arsalan Nisha: done kaka
total 1 replies
denara
crazy up
denara
ahhh penasaran aq
denara
yah njuk piye iki?
sela nikah sama jodi saja
Kurisu:Alfa'
It's time to war!
Pink Panther
2 like👍
kutunggu likebacknya di karyaku Who is He? sah UP😄💕

saling dukung yah🌹
Arsalan Nisha: ok kak... otw
total 1 replies
denara
wei wei malah bikin penasaran ini,
njuk piye iki saingan berat Naru jadinya
Arsalan Nisha: gak end end yo mbak...
total 1 replies
Nur Eni
lanjut....
Arsalan Nisha: siap...
total 1 replies
Nur Eni
up nya jgn lama2 thor... lelah menunggu 😁😁😁... penasaran terus
Arsalan Nisha: maaf, maaf... hp error jd kemarin app sempat dibuang...
.
terimakasih yaaa sudah mau menunggu
.
happy reading
total 1 replies
Anindha.
Semangat berkarya, mari saling mendukung🤗

Salam dari "His Heartbeat"🤍
Arsalan Nisha: ok kak
total 1 replies
Pink Panther
like👍
kutunggu likebacknya di karyaku Who is He? dah UP lho🙌💕
Arsalan Nisha: done kaka
total 1 replies
Anita Jenius
Hadir kak..
10 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
Kurisu:Alfa'
Lama gk up...
Arsalan Nisha: iya kak... semangat2
total 1 replies
denara
sukaaaa bgt.
ayo semangat thor buat up tiap hari hehehehe
Arsalan Nisha: semangat2.. hehe
total 1 replies
Nur Eni
suka thor..
Arsalan Nisha: Makasiih...
total 1 replies
Pink Panther
6 like🙌👍
kutunggu kelanjutan like kk di karyaku Who is He?😄💕
Arsalan Nisha: ok kak..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!