Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cerai / Pelakor / Tamat
Popularitas:260.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Ketika hati telah memilih pada siapa rasa akan berlabuh, tapi ketika itu juga pilihannya jatuh pada orang yang tidak tepat.

Sebuah perjalanan yang tak mudah aku lalui untuk dapat hidup bersamanya, harus kandas karena sebuah penghianatan. Dia begitu pandai bersilat lidah dan dapat meluluhkan hatiku setiap saat, tapi aku bosan dengan semua kebohongan.

Perlahan, semua kebusukan yang disembunyikannya terungkap. Membuat hatiku benar-benar remuk redam karenanya.

Bagaimana selanjutnya? Apa yang harus aku lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

"Dari mana aja kamu?" bentak wanita paruh baya yang berdiri di teras rumah sambil berkacak pinggang.

"Nggak dari mana-mana, Bu," jawab Amir dengan lesu.

Ia membanting diri di kursi sambil menghela napas. Wajahnya kuyu, tampak pucat dan tak bersemangat. Duduk melamun, menatap gerbang rumah yang tinggi dan besar.

"Abis ketemu perempuan itu lagi? Udah berapa kali Ibu bilang, kamu nggak usah datengin dia lagi. Kenapa, sih? Kamu kayaknya tergila-gila banget sama dia. Inget, Amir. Besok kamu akan menikah sama Melina. Jangan bikin masalah!" cerocos Ibu dengan kesal.

Amir berdecak, ia melirik sebentar dan tanpa menjawab langsung beranjak meninggalkan teras menuju kamarnya.

"Amir! Amir, kamu denger Ibu nggak?"

Tidak ada sahutan, Amir tetap bungkam malas menjawab kalimat sang ibu. Ia membanting diri di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih kusam.

"Mas, warnanya udah kusam. Boleh nggak, ya, kita ganti warna?"

Terkenang suara Mayang disaat mereka masih bersama. Wanita itu mengatakannya dengan manja sambil memeluk tubuhnya. Bahagia. Satu kata itu mewakili keadaan di masa lalu.

"Mayang." Amir berguling memeluk bantal guling.

Matanya melirik figura di atas nakas, gambar itu tertelungkup tak pernah ia perhatikan. Mungkin Mayang yang melakukan, diraihnya dan dipandangi dengan penuh kerinduan. Gambar Mayang disapunya dengan ibu jari, kepergian wanita itu menghancurkan hatinya.

"Kenapa kamu nggak bisa maafin Mas? Padahal kita bisa ngulang semuanya dari awal lagi. Mas nggak bisa kehilangan kamu, Mayang," gumamnya sedih.

Ia mendekap figura itu, memejamkan mata membayangkan sosoknya ada di sana. Membelai pipi, mengecup dahi, memagut bibir, mendekap hangat tubuhnya.

"Jangan sedih, semuanya pasti bisa kita lewati. Ini ujian dari Allah, Mas. Soal anak, kita nggak punya kuasa untuk menentukan. Semua itu hak mutlak Allah, yang harus kita lakukan berusaha dan bersabar. Juga berdoa semoga Allah segera menitipkan amanah-Nya kepada kita."

Berderai air mata Amir tatkala kalimat Mayang terkenang dalam ingatan. Dia wanita yang tangguh, sabar menahan segala hinaan dari sang mertua.

"Maafin Mas, Mayang. Karena rasa nggak sabar Mas menghancurkan rumah tangga kita."

Amir mendekap erat-erat figura tersebut. Meluapkan perasaannya yang membuncah terhadap seorang Mayang. Bayangan air matanya melintas, untuk pertama kalinya ia melihat Mayang menangis.

****

Sepulang sekolah, Mayang menyiapkan semua dagangan. Hari itu, dia akan mulai menjajakkan jualannya di pinggir jalan bersama para pedagang yang lain.

"Bismillah, aku awali usaha ini dengan mengharap ridho-Mu, ya Allah." Mayang tersenyum penuh syukur, mulai membungkusnya ke dalam dus dan mengikatnya.

Sebanyak tiga buah dus berisi aneka cemilan dengan berbagai macam rasa di dalamnya. Cemilan kekinian yang disenangi anak-anak juga remaja, bahkan orang tua.

"Wah, Bu Mayang mau jualan juga di sana?" tanya salah satu tetangga sambil mendorong gerobaknya.

"Iya, Pak. Mudah-mudahan ada rezeki di sana. Boleh, kan, Pak?" jawab Mayang sambil tersenyum.

"Ya, boleh-boleh aja, Bu. Siapa yang larang. Ayo, sama saya," ajaknya yang diangguki Mayang dengan senang.

"Ibu! Ibu mau jualan di taman? Aku ikut, ya," pinta Zalfa yang datang berlari ketika melihat Mayang.

"Udah izin sama nenek? Nanti dicariin," tanya Mayang yang diangguki segera oleh gadis kecil itu.

Mereka berjalan beriringan, pukul tiga sore lapak itu telah dibuka. Para pedagang berjejer menjajakkan jualannya. Aneka macam makanan ada di sana. Mayang sering datang ke tempat itu bersama Rani dan Tsabit jika ada kesempatan keluar.

"Udah di situ aja, Bu. Nanti juga rame yang datang. Taman ini emang kecil, tapi yang datang banyak," ucap tetangga tadi memberitahu.

Mayang mulai membuka dus, menyusun jualan di atasnya. Duduk secara lesehan dengan sebuah karpet sebagai alas bersama Zalfa yang berteriak tak malu menawarkan dagangan milik Mayang.

"Berapa camilannya?" Seseorang bertanya pada gadis kecil itu.

"Sini, Kak! Pilih aja mau yang mana?" katanya sambil menunjuk pada sederet cemilan yang terpasang di atas dus.

"Nggak usah dilayanin, Zalfa. Dia cuma iseng, mana mau makan ini semua," sungut Mayang saat tahu siapa sosok dibalik laki-laki bertopi itu.

"Nggak, kok. Kakak mau beli. Yang mana rasa balado?" katanya.

Zalfa mengambil sesuai yang dipintanya, memberikannya pada laki-laki tersebut dengan ramah.

Ia, yang tak lain adalah Raja menerimanya dengan baik. Duduk di atas karpet seraya membuka makanan itu dan melahapnya.

"Katanya nggak suka yang pedes, itu dimakan juga," sindir Mayang sembari menyenggol bahunya.

Ia tersenyum sambil menyahut, "Aku kemarin nyobain di ru ... eh, di lapak. Kebetulan katanya teman aku adiknya beli banyak. Eh, ternyata enak juga."

Hampir Raja keceplosan, ia meringis sambil berpaling dari Mayang. Memakan keripik itu secara perlahan menikmati setiap gigitannya.

"Alasan." Mayang bersungut-sungut.

Sudah lima belas menit lamanya, belum juga ada pembeli yang datang. Ia melirik arloji, waktu asar telah tiba. Mayang berpamitan kepada Raja juga Zalfa untuk menunaikan kewajibannya.

"Aku ikut," sambar Raja dengan cepat.

"Zalfa nggak apa-apa di sini sendiri? Ibu cuma bentar, kok." Mayang merasa cemas meninggalkan anak itu sendirian.

"Udah nggak apa-apa, ada saya ini."

Mayang tersenyum saat tetangga itu berucap. Ia lantas pergi ke mushola terdekat yang berada di pinggir taman tersebut. Raja memasuki tempat suci itu dengan perasaannya yang tak menentu.

Sudah lama sekali rasanya dia tidak datang menghadap Tuhan. Bersimpuh di rumah-Nya yang suci, merendahkan diri di hadapan sang pemilik kehidupan. Bersama Mayang, dia bisa meraih apa yang telah menjauh dari hidupnya.

Air wudhu itu kembali membasuh kulitnya, dingin dan mendamaikan. Langkah pelan dan pasti saat menapak di atas lantai keramik putih menuju ke haribaan Tuhan. Dibatasi oleh hijab putih, keduanya menunaikan kewajiban dengan khusyuk.

Ya Allah, lama sekali rasanya aku tak datang pada-Mu. Jauh sudah kakiku melangkah meniti kehidupan, tapi tak jua aku temukan kedamaian. Bersamanya, hanya saat bersamanya aku selalu ingat pada-Mu. Dia wanita yang baik, yang tanpa sadar telah membawaku kembali ke jalan kebenaran.

Menetes air mata Raja mengingat semua waktu yang ia sia-siakan selama hidupnya. Jauh dari Tuhan dan agama, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya.

Terima kasih, ya Allah. Engkau pertemukan aku dengan seorang wanita yang menuntunku ke jalan-Mu.

Raja amat bersyukur, pertemuannya dengan Mayang bukanlah hal yang sia-sia. Sesuatu yang berharga bernama hidayah diraihnya setelah kebersamaan mereka beberapa waktu ini.

Raja mengusap wajah, menyudahi buaiannya. Menoleh ke belakang, pada seseorang yang berada di balik hijab itu. Ia berdiri, keluar lebih dulu dan menunggu Mayang di teras mushola.

"Udah selesai?" tegur Mayang sambil tersenyum.

Ia menoleh dan menelisik wajah yang tak dipoles make-up itu. Alami, kecantikannya memancar penuh pesona. Mereka beranjak dan beriringan menuju lapak. Mayang tercengang saat melihat Zalfa yang dikerubungi para pembeli.

"Ibu!" panggil anak itu sambil melambai.

Mayang berlari mendekat, antusias melayani pembeli yang datang begitu banyak. Sementara Raja, duduk di sebuah bangku menatapnya sambil tersenyum kagum. Dia wanita yang berbeda, tangguh dan tidak banyak mengeluh. Pantas untuk bahagia.

Mayang menatapnya dan tersenyum seraya mengangkat sejumlah uang dari hasil penjualannya. Raja mengangguk sambil mengedipkan mata, ikut tersenyum bangga. Wanitaku.

Keceriaan juga wajah bahagia Mayang menciptakan semu merah di pipinya. Ia tersipu, berpaling sambil menggigit bibirnya karena gugup.

"Oh, jadi sekarang Ibu guru jualan keripik? Menyedihkan!"

Suara seseorang yang terdengar ketus, menyurutkan senyum Mayang.

1
Simba Berry
Rani belum k3na karma.dia masih jahat.seharusnya belum tamat.
Simba Berry
dicerita semua novel yg saya baca hanya gara2 cowok dari sahabat rasa malaikat menjadi sahabat rasa iblis.🤣🤣🤣
Simba Berry
didunia ini sulit mendapatkan yg namanya sahabat sejati.demi kepentingan diri sendiri sahabat dikorbankan.bahkan sahabat bisa jadi musuh yg paling berbahaya.
Firgi Septia
astaga Rani TDK tobat dia
Aisy Hilyah: dia begitu
total 1 replies
Firgi Septia
rubah muncul
Firgi Septia
Rani ternyata matre syukur ibu Ratna TDK punya mantu macam rani
Aisy Hilyah: bener banget
total 1 replies
Firgi Septia
rani2 jadi sahabat licik,munafik pelakor lagi
Firgi Septia
si Rani siluman rubah licik
Firgi Septia
mewek aku bacanya kayamu bagus sekali thor🥰🥰🥰
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Firgi Septia
🤣🤣🤣siapa yg mau nikahin kamu Rani egois dan munafik bilang cucu lagi🤣🤣
Firgi Septia
betul pak istrinya dan anaknya saja yg egois
Firgi Septia
baiknya ibu Tsabit termasuk mertua idaman nih
Firgi Septia
ibu Ratna ibu mertua idaman semua menantu terbest lah
Firgi Septia
mama Rani 11 12 sama anaknya papa Rani saja yg bijak
Firgi Septia
munafik maksudnya
Firgi Septia
ternyata Rani 11 12 sama si jalang yg satu
Firgi Septia
Karena obsesi menjadi jahat sahabat apa namanya ini
Firgi Septia
kamu Mustinya bersyukur rani ortumu masih ada dan dari keluarga yg mapan ketimbang Mayang yg jadi janda setelah 2 tahun menikah
Firgi Septia
oh Rani ternyata kamu teman yg egois dan munafik 1 sama dengan Melina si pelakor
Firgi Septia
oh ternyata Rani jg munafik jadi orang mau senggol sahabatnya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!