Nada terpaksa menggantikan Gita kakak kembarannya yang kabur di hari pernikahan. Menikah dengan Daffa seorang pria dingin yang terkadang menyebalkan.
Kehidupan pernikahan mereka berjalan seperti air. Mereka beradaptasi satu sama lain dalam diam. Meski sikap Daffa dingin dan acuh namun pria itu terkadang terlihat peduli pada Nada.
Kata Nada suaminya itu aneh. Sikapnya sulit di tebak dan membingungkan. Kadang lucu juga membuat kesal sampai ubun-ubun.
Hingga fakta bahwa Daffa mencari Gita membuat Nada gelisah dan takut. Mungkinkah dia mulai jatuh cinta? Namun bagaimana jika masalalu Nada justru kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Vanya Berulah
“Katakan jika semua itu bukan ulahmu?”
Pekik Kenan pada wanita yang berdiri terdiam dengan tangan melipat dada sambil menatap ke luar jendela. Ia nampak acuh tak mempedulikan Kenan yang sudah terbawa emosi. Nafasnya bahkan memburu terlihat sedang menahan amarah.
“Apa?” Tanyanya berpura-pura tak tahu apa yang di maksud.
Kenan geram, menarik tangan wanita di depan sampai berbalik menghadapnya. “Berhenti bersikap tidak tahu apa-apa, Vanya!”
Vanya berdecih, “Jika semua itu ulahku memangnya kenapa?!”
“Kau tanya kenapa?” Kenan menyahut geram “Kau mempermainkan nyawa manusia!”
Vanya menghempaskan tangan dari cengkraman Kenan. “Aku tidak peduli, selama keinginanku belum tercapai. Apapun akan aku lakukan!”
“Kau gila!”
Vanya menyilangkan tangan di dada, “Ya memang aku sudah gila. Daffa itu miliku!”
Kenan mengacak rambut frustasi, “Kau sudah gak waras, vanya!”
Dengan nafas yang menggebu karena emosi Kenan berjalan mendekati Vanya. Matanya menatap dengan tajam,“Akh berhenti. Dan gak mau ikut campur lagi urusanmu! Terserah kamu mau lakuin apa. Tapi jangan bawa-bawa aku!
“Tunggu” Vanya berseru mencegah. Balas menatap Kenan dengan tatapan remeh. “Kau yakin tak mau membantuku lagi?” Vanya tersenyum miring “Lalu Nada? Kau sudah tak mencintainya lagi?”
Kedua tangan Kenan mengepal menahan kesal. “Itu bukan urusanmu!”
*******
Malam terasa mencekam. Angin berhembus kencang menerpa wajah Daffa yang tampan. Masih mengenakan setelah kantor ia berdiri di balkon dengan handphone di telinga. Entah dengan siapa ia berbicara sampai memunculkan ekspresi gelisah. Di tambah penampilan yang telihat kacau dengan dasi miring, tangan kemeja di gulung asal sampai siku.
“Kau yakin?” Serunya dengan kerutan di dahi.
“Tentu saja. Jelas dia masuk ke dalam penginapan" Sahut suara di sebrang telpon "Nanti saya kirimkan fotonya agar lebih valid”
Daffa terlihat semakin gelisah, terdiam sejenak membasahi bibirnya yang kering. “Tapi, Jakarta Barat?”
“Iya, bukankah itu dekat dengan rumahnya. Rumah ayahnya”
Daffa semakin di buat tak tenang, bergerak acak dengan satu tangan berkacak pinggang “Itu artinya dia berniat untuk pulang”
“Bisa saja”
Dahi Daffa kembali mengerut “Tapi kenapa dia tidak langsung pulang dan malah menyewa kamar? Apa dia bersama seseorang?”
“Tidak. Dia sendirian”
“Awasi dia terus” Daffa mengakhiri percakapan.
“Baik”
Sambungan telpon berakhir. Daffa duduk terdiam di bangku kayu sambil menatap dedaunan yang bergoyang. Pikirannya mulai terbagi. Hatinya menjadi dilema. Antara memilih Nada atau Gita. Namun jika di bandingkan, Gita cukup mengoreskan luka mendalam pada dirinya. Sementara Nada, seorang istri yang kini mengandung anaknya. Tapi kenapa ia tak bisa berhenti peduli pada Gita?
“Mas!”
Nada berseru memanggil. Dahinya mengerut dalam melihat Daffa hanya terdiam. Ia berjalan mendekat.
“Mas Daffa!” Namun sama saja tak ada respon. Hingga akhinya Nada menepuk bahu Daffa “Mas!”
Daffa terperenjat menyahut spontan, “Iya, ada apa?”
“Mas ngelamun?” Seru Nada dengan lembut “Mikirin apa?”
“Ohh, tidak” Sanggah Daffa kemudian tersenyum tipis “Hanya memikirkan pekerjaan. Ada apa kamu memanggil?”
“Makan malam sudah siap”
“Baiklah” Daffa bangkit dari duduk “ayo kita makan”
Nada mengangguk dengan senyuman tipis. Ia terdiam menatap punggung sang suami yang berjalan lebih dulu meninggalkan kamar. Sebenarnya apa yang mengganggu pikiran suaminya itu? Tidak biasanya ia terdiam di balkon sambil melamun.
"Ahh sudahlah. Mungkin mas Daffa memang banyak pekerjaan"
Nada berjalan keluar kamar sampai suara dering ponsel terdengar di saku bajunya. Ia menghentikan langkah. Merogoh saku, mengeluarkan handphone, lalu menggeser tombol hijau di sana.
“Hallo”
“Saya menemukannya!”
“Sia...” Suara Nada tertahan teringat sesuatu “Kak Gita? Kau menemukannya? Dimana dia?”
“Dia terlihat tak jauh dari rumah”
“Rumah?”
“Iya, ia berada masih di daerah Jakarta Barat”
"Apa?"
up
up
up
up
😁