Perasaan yang terpendam antara sang sekertaris dan bosnya, bos yang di cintai nya akan segera melangsungkan pernikahan. Lantas bagaimana dengan perasaannya yang belum tersampaikan?
Apakah tuhan akan berbaik hati memberikan kesempatan untuk mengutarakan perasaannya? Atau justru perasaannya akan terus terpendam sampai sedikit-sedikit menjadi hilang?
MC pria. manja, curiga an kekanak-kanakan
MC wanita. cuek, bodo amatan, gampang marah.
Not you, bukan kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
"Mau tau sesuatu?"tanya Fakhira, Justin mengangguk.
"Makanlah, maka kaka akan menceritakannya."Justin menerima suapan dari Fakhira.
"Hidup adalah sebuah pilihan."Justin melihat Fakhira dengan bingung.
"Jangan memikirkannya sekarang,kamu masih terlalu muda untuk memikirkan sesuatu yang berat. Untuk sekarang kamu hanya perlu tau satu hal, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mau ga mau hal itu pasti akan selalu terjadi dalam kehidupan-"
"Ka Jihan, aku udah kenyang."kata Justin pelan, Fakhira menepuk-nepuk kepala Justin.
"Kaka udah izin sama kepala sekolah, mau jalan-jalan?"Justin menganguk.
Setengah jam kemudian, Fakhira telah sampai di sebuah taman bermain yang cukup besar. Justin memegang tangan Fakhira sambil tersenyum manis, Fakhira tersenyum tipis melihatnya.
"Mau main apa?"tanya Fakhira.
"Aku ga mau main, aku ingin pergi ke pantai."gumam Justin.
"Ayo pergi."kata Fakhira sambil menarik Justin, mereka pergi ke pantai untuk menghabiskan waktu bersama.
Di kantor, Akram tampak bosan, ia akan pergi keluar untuk jalan-jalan mencari angin.
"Taman ini emang paling pas banget buat nenangin pikiran, hufss, aku lelah."gumam Akram sambil duduk di rerumputan yang ada di taman tak jauh dari kantornya.
"Fakhira? Apa kamu perduli dengan air mataku?apa kamu perduli akan kacaunya perasaanku? Kenapa jatuh cinta sesakit ini?"tanya Akram pada dirinya sendiri.
"Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Kenapa aku ga bisa berhenti untuk mencintai mu hmm? Aku terlalu lelah menghadapi kehidupan ini, ke tambah menghadapi hubungan asmara yang entah seperti apa jalan cerita nya, aku ga sekuat itu."lirih Akram, Akram mengambil ponselnya.
"Lihat aku memiliki fotomu yang diam-diam aku ambil, sudah lebih dari tiga tahun, dan kamu masih tetap sama, dingin."Akram melihat ke atas langit yang cukup cerah.
"Fadli."panggil seorang gadis cantik.
"Hasna."gumam Akram.
"Dia selalu ada di mana-mana."batin Akram.
"Heyy, kamu sendirian aja, mau aku temenin ga?"tanya Hasna dengan tersenyum tipis.
"Ga usah."jawab Akram.
"Kamu lagi ngapain? Ada masalah lagi yah?"tanya Hasna penasaran.
"--"
"Heyy, kau tak menjawab pertanyaan ku!"kata Hasna kesal.
"Sebaiknya anda pulang."kata Akram.
"Ya sebaiknya emang gitu sih, tapi kan kamu lagi sendirian daripada sendirian kan, mending aku temenin, aku udah baca banyak buku soal motivasi, kalau kamu ada masalah dan bercerita kepadaku, aku udah siap ko dengan saran-saran yang akan aku keluarkan."kata Hasna.
"Makasih, tapi saya ga butuh."kata Akram.
"Hm, aku bisa membantu mu."kata Hasna.
"Saya lagi ga butuh bantuan."kata Akram.
"Makan siang bareng gimana?"tanya Hasna.
"Saya ga bisa."jawab Akram.
"Jalan-jalan bareng, taman hiburan di sebelah lagi buka loh."kata Hasna dengan semangat.
"Saya sibuk."kata Akram.
"Sibuk ngapain? Orang cuma duduk di atas rumput aja."kata Hasna.
"Sibuk mikir."kata Akram.
"Ya udah aku temenin."kata Hasna sambil ikut duduk di samping Akram.
"Loh, kamu ko pindah sih?"tanya Hasna bingung.
"Jaga jarak."jawab Akram, Hasna tampak berfikir.
"Aduhh, apalagi yah, kesempatan ini ga bakalan datang berkali-kali, tapi gimana cara memulainya yah."batin Hasna.
"Heyy, kamu mau ke mana?"tanya Hasna saat melihat Akram yang berjalan ke arah mobilnya.
"Pulang."jawab Akram sambil menaiki mobilnya.
"Hihh, gagal lagi kan."gumam Hasna kesal.
Waktu terus berlalu, siang sudah berlalu, senja sudah pergi, kini hanya malam yang menanti. Akram sedang berpakaian, ia akan pergi keluar.
"Fakhira belum juga pulang, padahal kan ini udah jam setengah delapan."gumam Akram.
"Aku pergi aja deh, lagian kan belum tentu juga Fakhira nyariin."Gumam Akram.
Akram pergi menuju cave yang cukup terkenal, cave itu sudah di booking untuk acara reuni sekolah nya. Akram sudah sampai, ia tampak tersenyum tipis setelah itu masuk ke dalam.
"Ah, maaf."kata seorang perempuan yang menabrak Akram, Akram menganguk.
"Fadli?ini benar-benar kamu? Kamu datang."kata perempuan itu dengan tersenyum tipis.
"Anda?"
"Karina, masa kamu ga ingat sih."
"Karina, ouh bunga sekolah."batin Akram.
"Saya ingat."
"Kamu terlalu formal, kita bisa berbicara dengan santai."kata Karina dengan tersenyum manis.
"Saya harus mencari Rafi."
"Rafi ada di sana, kita bisa mengobrol sebentar Fadli."kata Karina.
"Maaf, saya duluan."kata Akram sambil meninggalkan karina.
"Baiklah, dia semakin tampan dan berwibawa."gumam Karina.
"Raf-"
"Fadli?"Akram melihat ke sampingnya, ia tak jadi memanggil Rafi.
"Deg, mereka."batin Akram.
"Benarkah ini kamu? Haha, sudah lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?masih ingat waktu jaman SMK dulu?kamu masih lemah, dan cupu."
Akram menutup matanya, ia masih mengingat masa-masa itu. Masa yang seharusnya ia lewati dengan senang malah sebaliknya, orang yang berada di depannya saat ini. Adalah orang yang selalu membulinya saat SMK, dan Rafi adalah orang yang selalu menolongnya.
"Mereka menjadi pembuly hanya karana mereka lahir dari keluarga yang berada."batin Akram.
"Aku dengar kamu telah menikah,di mana istrimu?dia tidak ingin datang bersamamu? Kasian sekali, memang yah takdir hidup mu selalu menyedihkan."
"Istriku sibuk, Indra."kata Akram.
"Sibuk? Soal pekerjaan? Haha jadi pekerjaan nya lebih penting dari suaminya?Makailah Jihan Fakhirah, pantes sih sibuk, dia kan seorang pengusaha yang sukses, punya berbagai aset di setiap negara. Mana mungkin dia hadir pada acara seperti ini, apalagi hanya menemanimu, kasian sekali."kata Indra mengejek.
"Anda tau?"tanya Akram tak percaya, orang-orang yang tau pernikahan nya kan hanya orang-orang yang di undang selebihnya ia tak tau jelas.
"Jangan berpura-pura Fadli, berita tentang nya sedang trending saat ini. Apalagi pernikahan nya dengan mu, atau jangan-jangan suaminya bukan kamu lagi."kata Indra tak percaya.
Akram mengepalkan tangannya, ia membuka ponselnya dan mencari di sosial media.
"Ini benar, apa Fakhira melakukannya untukku? Aku sangat senang, kemana saja aku selama ini?kenapa baru tau."batin Akram.
"Fadli?"
"Ya."
"Aku rasa memang benar, kamu bukan suami dari pengusaha itu."kata Indra.
"Dia benar is-"
"Teman-teman, perhatikan. Lihatlah yang ada di depan ku saat ini adalah Fadli, teman seangkatan kita yang pendiam. Dia mengaku kalau dia adalah suami dari pengusaha muda yang sedang trending saat ini."kata Indra memotong ucapan Akram.
Orang-orang mulai melihatnya dan berbisik-bisik tentangnya, indra tampak tersenyum puas, entah kenapa ia selalu senang melihat Akram yang terpojokkan.
"Kalau benar memang istrimu, buatlah kita percaya dengan menyuruhnya datang ke acara ini."tantang indra kepada Akram.
Akram tampak berfikir, jika ia tidak membuktikan nya pasti mereka akan semakin memojokkannya. Tapi jika ia menyuruh Fakhira untuk datang, bagiamana jika ia malah menolaknya.