Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Sinar matahari pagi yang tajam berhasil menerobos celah gorden, menari-nari di atas sprei putih dan memaksaku untuk keluar dari alam mimpi. Kepalaku terasa sedikit berdenyut saat aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaran. Begitu mata terbuka sepenuhnya, napasku tertahan.
Sensasi hangat dan berat itu masih ada. Sebuah tangan besar dengan jari-jari yang kokoh melingkar posesif di atas perutku, mengunci posisiku dalam dekapannya. Rasanya seolah aku adalah miliknya yang tidak boleh hilang sedikit pun.
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan hati-hati, aku mencoba menggeser lengannya, berharap bisa melepaskan diri sebelum ia benar-benar terjaga. Namun, setiap pergerakan kecilku justru memicu reaksi darinya. Lengan itu bukannya melonggar, malah semakin mengencang, menarik tubuhku hingga tak ada lagi jarak tersisa di antara kami.
Ia mengeluarkan suara dengkuran halus dari tenggorokannya suara orang yang baru saja tersadar dari tidur lelap. Tanpa membuka mata, wajahnya merapat ke ceruk leherku, menghirup aromaku dengan gerakan yang sangat posesif.
Abhi " Masih terlalu pagi untuk mencoba melarikan diri, sweetheart," suaranya serak dan berat karena kantuk, bergetar tepat di dekat telingaku.
Dekapannya semakin erat, membuatku merasa seolah seluruh oksigen di ruangan ini sudah habis terserap oleh keberadaannya. Ia sama sekali tidak berniat melepaskanku, justru menahanku di sana, di pusat dunianya yang terasa begitu mencekik.
Suaraku terdengar parau dan hampir seperti bisikan saat aku mencoba kembali bernegosiasi, Caca " Aku ingin membersihkan tubuhku, Bhi... bisa tolong lepaskan?"
Harapanku untuk segera lepas dari jeratan ini pupus seketika. Alih-alih melonggarkan cengkeramannya, lengannya justru mengencang hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang beradu dengan punggungku. Tekanan di perutku semakin nyata, sebuah pengingat bahwa di sini, di atas tempat tidur ini, keinginanku tidak memiliki arti dibanding keinginannya.
Ia tidak membuka mata, namun seringai tipis muncul di sudut bibirnya aku bisa merasakannya melalui pergeseran otot di lengannya.
"Nanti kita mandi bersama," ucapnya dengan nada final yang tidak menerima bantahan, suaranya masih berat khas orang yang baru bangun tidur.
Abhi " Untuk saat ini, diamlah. Biarkan aku tidur sejenak, dan kamu... kamu akan tetap di sini dalam dekapanku."
Kepalanya kini bersandar di bahuku, napasnya yang teratur terasa panas di kulitku. Ia benar-benar mengunci gerakanku, memaksaku untuk tetap diam dan terjebak dalam posisi yang intim namun terasa sangat mengintimidasi. Aku bisa merasakan dominasi yang begitu pekat, seolah-olah ia sedang memberitahuku bahwa bahkan pagi ini pun, aku sepenuhnya adalah miliknya untuk diatur sesuka hati.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya dalam dekapannya, Abhinav akhirnya bergerak. Ia tidak menunggu aku siap dengan satu gerakan yang sangat efisien dan dominan, ia mengangkat tubuhku dari tempat tidur seolah aku tidak memiliki bobot sama sekali. Aku hanya bisa memekik pelan dan refleks mengalungkan tangan di lehernya untuk menjaga keseimbangan.
Langkahnya mantap saat ia membawaku menuju kamar mandi yang luas. Di sana, bathtub pualam sudah terisi air hangat yang mengepulkan uap tipis, membiaskan cahaya pagi yang masuk melalui jendela. Tanpa ragu, ia melangkah masuk ke dalam air bersama tubuhku yang masih berada dalam gendongannya, lalu mendudukkanku dengan hati-hati di hadapannya di dalam air yang hangat itu.
Suasana di kamar mandi menjadi sangat sunyi, hanya suara gemericik air yang sesekali memecah keheningan. Ia tidak langsung melepaskanku; ia justru menarik tubuhku lebih dekat hingga lutut kami bersentuhan di dalam air. Tangannya yang besar dan hangat mulai membelai lenganku, kemudian bahuku, dengan gerakan yang terasa sangat intim dan penuh kepemilikan.
"Lihat," bisiknya dengan suara yang lebih rendah dari biasanya, matanya menatapku lekat-lekat, menelusuri setiap inci wajahku di bawah remang cahaya pagi. "Tidak ada yang bisa masuk ke ruang ini, sweetheart. Di sini, hanya ada aku dan kamu."
Sentuhannya yang berenang di permukaan kulitku terasa kontras dengan air hangat yang memeluk tubuh kami. Aku merasa seolah sedang dicuci bersih dari dunia luar, namun dengan cara yang membuatku sadar sepenuhnya bahwa ia sedang menandai wilayahnya. Kehangatan air itu justru membuatku merasa semakin tidak berdaya, seolah kehangatan itu adalah bagian dari kurungan manis yang ia ciptakan khusus untukku.
Suasana kamar mandi yang tadinya tenang kini berubah drastis, dipenuhi oleh uap panas yang menyesakkan sekaligus memabukkan. Setiap sentuhan Abhinav tidak lagi terasa seperti sekadar pembersihan tubuh ia berubah menjadi penelusuran yang menuntut dan penuh hasrat.
Jemari tangannya yang kokoh bergerak perlahan, seolah sedang "mengabsen" setiap lekuk tubuhku dengan keintiman yang membuat napasku tercekat. Ia tidak membiarkan satu inci pun kulitku terlewatkan dari sentuhannya. Ciumannya yang panas mendarat di bahuku, menyusuri garis leher, hingga turun ke tulang selangka, meninggalkan jejak-jejak yang terasa membakar.
Aku berusaha mempertahankan pertahanan terakhirku, namun permainan Abhinav terlalu intens dan terampil. Perlahan, perlawanan itu memudar, digantikan oleh gelombang sensasi yang tak bisa kubendung. Tubuhku yang tadinya kaku kini merespons setiap gerakan tangannya, mengikuti ritme yang ia ciptakan.
Suara air yang teraduk oleh gerakan tubuh kami seolah menjadi musik latar bagi ketundukanku yang perlahan meruntuhkan benteng pertahanan diriku. Di bawah tatapan mata hazel nya yang kini sarat akan api keinginan, aku merasa diriku tidak lagi memegang kendali. Aku terbawa dalam arus yang ia buat, membiarkan diriku larut dalam intensitas yang semakin memburu, hingga dunia di luar sana benar-benar menghilang, menyisakan hanya kami berdua dalam pusaran hasrat yang menyesakkan sekaligus candu ini.