Indonesia
NovelToon NovelToon
Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.

Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.

Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.

Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.

Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.

Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.

Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh menit!

Daffa pulang pukul delapan malam. Halimah menyambutnya dengan senyuman. Ia juga hendak membantu Daffa membawakan tas laptop dan melepas jasnya. Tapi...

"Halimah, kamu tidak perlu melakukan semua ini. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Daffa tegas dengan suara datar.

Halimah menarik kembali tangannya yang tadi hendak mengambil alih tas laptop di tangan Daffa. Senyum senang yang tadi menghiasi wajahnya, seketika memudar.

"Kamu tidak perlu melakukan apapun, Halimah. Jangan menganggap apa yang sudah aku lakukan sama kamu, sebagai sesuatu yang harus kamu balas. Aku tidak nyaman dengan itu."

Kalimat itu, terdengar seperti sebuah peringatan tegas di telinga Halimah. Peringatan bahwa ia tidak diizinkan bertindak lebih jauh. Peringatan bahwa Daffa menikahinya bukan karena ingin mencintainya sebagai istri, tapi hanya sebatas saling menjaga dan menghormati.

Halimah tertunduk diam, jari-jarinya saling bertautan memintal ujung jilbabnya. Rasanya, sakit. Bahkan mata Halimah mulai berair, jika ia tidak mengedipkan matanya cepat, air itu pasti akan langsung tumpah.

Daffa sudah masuk ke kamar, melepas jas nya, menggantung di tempatnya. Lalu, segera membersihkan diri.

Mbok Ayu yang melihat dan mendengar apa yang terjadi barusan, hanya bisa menatap iba pada Halimah. Tadinya Mbok Ayu pikir Daffa mungkin mulai tertarik pada Halimah.

Mbok Ayu menilai dari cara Daffa yang memperhatikan Halimah, membelikan ponsel, memberikan kartu kredit. Tapi, ternyata dugaan Mbok Ayu salah. Daffa melakukan semua itu hanya sekedar rasa tanggung jawab terhadap wanita asing yang sudah terlanjur ia bawa masuk dalam kehidupannya.

Halimah kembali duduk di sofa, matanya menatap gambar yang bergerak di layar televisi. Sesekali Halimah tersenyum, lalu tertawa pelan. Bukan karena acaranya lucu, ia sedang menertawakan dirinya yang ternyata sudah melewati batas.

"Sadarlah Halimah. Kamu bukan wanita yang diinginkan siapa pun. Kamu hanya wanita mandul." rintih Halimah dalam hatinya.

Sementara di Kamar, Daffa sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia duduk di pinggir ranjang, meraih ponsel, lalu mencari nomor kontak Tasya yang ia dapat saat sesi interview tadi pagi.

Dengan cepat, Daffa menekan tombol itu. Ia menelpon Tasya.

"Halo, Tasya Amelia!"

Tasya sempat bingung setelah mendengar suara yang sangat ia kenal memanggil nama lengkapnya, "Iya, saya sendiri," jawabnya pura-pura tidak mengenal dengan siapa ia bicara.

"Saya CEO Surya Holding, hanya ingin mengabarkan bahwa Anda di terima di perusahaan saya. Anda bisa mulai bekerja besok. Terimakasih, selamat malam," Daffa langsung mengakhiri pembicaraan itu.

Tasya masih terpaku, ponsel masih di telinganya. Ia tidak menyangka Daffa sekarang semakin terasa dingin dan jauh.

"Jadi benar, kamu sudah menikah dengan Halimah, Daffa!" gumamnya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.

Setelah menelpon Tasya, Daffa keluar dari kamar. Begitu pintu terbuka, ia melihat Halimah tertawa menonton acara televisi.

"Kamu sudah makan malam, Halimah!" serunya menghampiri Halimah dan duduk di sofa yang sama dengan jarak yang sangat dekat.

Halimah langsung diam, berhenti tertawa dan mengedipkan mata berkali-kali agar air yang menumpuk kembali masuk.

"Sudah. Kamu sendiri, sudah makan?" sahut Halimah dengan suara kecil nyaris tak terdengar.

Daffa menatap lekat wajah Halimah yang tak berani membalas tatapan itu.

"Aku sudah makan tadi sama Klien."

Halimah mengangguk ragu, "Ada yang bisa saya bantu?"

Ia benar-benar tidak bisa diam saja tanpa melakukan apapun. Daffa mungkin memang menganggap pernikahan ini hanya sekadar ikatan di atas kertas.

Tapi, Halimah? Ia tulus menjadi istri, ia tulus dengan pernikahan ini dan apapun yang terjadi, ia bersedia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Terlebih Daffa sudah begitu baik padanya.

"Kamu, sedih Halimah?"

Pertanyaan itu membuat air mata Halimah yang mati-matian ia tahan agar tidak jatuh, malah jatuh tanpa izin. Dengan cepat Halimah menghapus air matanya dengan ibu jarinya. Lalu ia menggeleng cepat, "Tidak. Maaf, saya terharu dengan...." pandangan matanya langsung menatap layar televisi.

"Kamu tersinggung karena aku tidak mengizinkan kamu melakukan apapun?"

Mata Halimah melotot, ia tak menyangka Daffa bisa menebak dengan benar isi hatinya.

Daffa menunduk, suaranya kecil, "Aku hanya tidak terbiasa dilayani siapapun."

Kalimat itu berhasil membuat raut wajah Halimah berubah. Ia bingung sekarang.

Daffa menghela napas, perlahan kembali menegakkan kepalanya. Tatap dinginnya berubah menjadi tatapan datar, "Kamu tau kan, aku menyelidiki semua informasi tentang kamu sebelum aku memutuskan menjadikan kamu istriku."

Halimah mengangguk pelan, meski tidak benar-benar paham.

"Aku tau bagaimana Rangga dan keluarganya memperlakukan kamu. Jadi, aku hanya tidak ingin kamu merasa diperlakukan seperti itu juga saat bersamaku."

Kalimat itu, berhasil menyapu kesedihan di dada Halimah beberapa saat yang lalu.

"Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk diterima. Kamu tidak perlu mengorbankan dirimu untuk dicintai. Kamu tau, kita mungkin sama-sama belum sampai pada tahap mencintai sebagai suami istri. Tapi, percayalah Halimah, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti kamu."

Deg!

Detak jantung Halimah berpacu, ia bahkan sampai tidak bisa bernapas dengan benar. Daffa selalu menepati janjinya. Apakah Kalimat barusan juga bisa Halimah anggap sebagai janji yang akan Daffa tepati.

"Apa maksudnya? Apa yang Daffa maksud berusaha untuk tidak menyakiti aku? Bagaimana aku harus mengartikan kalimat itu?" batin Halimah ribut.

Saat kepala Halimah masih penuh dengan berbagai pertanyaan, Daffa menggeser tubuhnya menjauh, lalu berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Halimah.

"Daffa...." ucap Halimah terkejut.

Malam sebelumnya, saat Daffa berbaring seperti ini, ia anggap karena Daffa sedang dalam berduka. Tapi, kali ini kenapa Daffa seperti ini lagi?

"Rasanya nyaman. Aku lelah, biarkan aku seperti ini sepuluh menit saja, Halimah," suaranya kecil, sangat kecil bahkan hampir tidak sampai ke telinga Halimah.

Di dapur, Mbok Ayu tersenyum gemas. Melihat Tuan Mudanya bermanja seperti itu membuatnya kembali berharap, "Tuan Muda, semoga Nyonya Halimah bisa menjadi rumah ternyaman Tuan Muda," Mbok Ayu mendoakan dalam hatinya.

Bersambung....

1
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kaget enggak tuh.
kaget lah masa enggak 🤣🤣🤣
Lia Aulia
Halimah kenapa?
Lia Aulia
Em, ini kalimat apaan dah, sweet kali la 😭😭
sunaryati jarum
Kau selalu keduluan Albert ,Daffa.Nsmun dengan kesadaran ibumu jika selama ini salah ,bisa menjadi mata-mata mata Albert tanpa Albert menyadari,dan Halimah selamat.
sunaryati jarum
Semoga Pak Jamal segera sampai dan menolong Gio dan Halimah selamat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ya Allah mbok kamu mewakili perasaan ku mbok🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ya Allah pengen banget nyumpal mulut nya pakai batu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Halimah bijak sekali
sunaryati jarum
Penyesalanmu terlambat Ny Amanda, semoga masih bisa membantu Daffa mengungkapkan kebenarannya
Mochi
wajib terus nulis sampai tamat ya thor. hehhee. maksa😘
Mochi
hah. ternyata amanda ga tau apa2. kirain ikut terlibat. tambah seru iniii
Mochi
aku udh nebak sih ini dari awal.
Mochi
ga usah kuatir lagi halimah. kamu punya suami yg sangat perhatian dan melindungi.👍👍
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu yang bunuh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ya Allah beneran meninggalkan
sunaryati jarum
Nah semua perbuatan Albert karena dendam dengan Dimas
My_Lucia
ya ampun Halimah nasib kamu malang nian 😭
My_Lucia
segitu Daffa anak kandung kamu sendiri... jahat banget jadi orangtua 😖
My_Lucia
Nah loh ... ga bisa berkutik kan... lagi jahat banget sih jadi orang
Mochi
naahh.. gitu dong halimah. jangan tinggalkan Daffa yaa.. dia benar2 sayang dan melindungi kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!