Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan

"Lea, bagaimana hasilnya?"

"Astaga!" Elea terlonjak kaget mendapati sosok mertuanya sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan dokter, tak jauh dari tempatnya keluar. Ia refleks memegang dadanya, jantungnya masih berdebar kencang.

"Papa, ngagetin deh," ucapnya sambil menarik napas panjang.

Lucas hanya tersenyum tipis, menepuk bahu menantunya pelan. "Maaf, Nak. Papa cuma nggak sabar mau tahu hasil CT scan Lyn."

Elea tersenyum, kali ini kelegaan lebih jelas terlihat di wajahnya. "Hasilnya bagus, Pah. Nggak ada masalah apa pun."

Lucas menghela napas lega. "Syukurlah... Papa lega dengarnya."

Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ruang rawat Lyn, langkah mereka terus jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Begitu pintu terbuka, suara tawa langsung menyambut mereka.

"Terus dia bilang begitu?!" Lyn tertawa terbahak, hampir menumpahkan sup di tangannya.

"Iya! Terus mukanya lucu banget, Bunda sampai ngakak sendiri di tengah jalan," Vanesa ikut tertawa, mengelap air mata di sudut matanya. "Untung nggak ketabrak, saking Bunda ngakaknya sambil jalan."

Elea dan Lucas saling pandang, tersenyum melihat suasana ceria yang sudah kembali menghiasi ruangan itu.

"Ada apa nih, ribut banget?" tanya Elea, ikut mendekat.

"Ibu! Bunda lagi cerita pas dia ketiban burung waktu jalan-jalan pagi," Lyn menjawab sambil masih terkikik.

Vanesa mendelik. "Woi, jangan ceritain lagi, memalukan tau!"

Elea tertawa kecil mendengarnya, sebelum akhirnya duduk di sisi ranjang.

"Ngomong-ngomong soal berita bagus, Ibu baru dapat hasil CT scan kamu."

Suasana seketika sedikit menegang, semua tertuju pada Elea.

"Hasilnya bersih, Nak. Nggak ada kerusakan apa pun di kepalamu," lanjut Elea, senyumnya melebar. "Dokter aja sampai kagum, katanya jarang banget nemuin pasien sekuat kamu."

"Beneran, Bu?" mata Lyn berbinar penuh syukur.

"Beneran," Elea mengangguk mantap, mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Kamu emang luar biasa, Nak."

Lyn tersenyum lebar, menghela napas lega. "Syukurlah..."

Ia menatap ketiga orang di sekelilingnya, Lucas berdiri dengan wibawanya, Elea menggenggam tangannya erat, dan Vanesa yang masih tersenyum jahil di sampingnya. Ada rasa syukur yang begitu besar, tapi juga rasa penasaran yang belum terjawab sejak semalam.

"Opa... Ibu... Bunda..." panggilnya pelan.

Ketiganya langsung menatap Lyn serentak.

"Ada apa, Sayang?" tanya Elea lembut.

Lyn menarik napas dalam, memberanikan diri. "Sekarang, bisa dong dijelasin... kalian ini sebenarnya siapa?"

Mereka bertiga saling pandang sejenak, seolah tengah menimbang siapa yang harus memulai penjelasan ini.

Lucas akhirnya menghela napas, menatap Elea dengan sorot mata penuh makna. "Lyn sudah melihat semuanya, Nak. Sudah saatnya kamu ceritakan yang sebenarnya."

Elea mengangguk pelan, menggenggam tangan putrinya lebih erat, seolah mencari kekuatan dari sentuhan itu sebelum mulai bicara.

"Baiklah," Elea menarik napas dalam. "Lyn, apa yang kamu lihat di vila itu... memang bukan sesuatu yang biasa. Keluarga kita... bukan keluarga biasa."

Lyn mengerutkan kening, menatap ibunya penuh tanda tanya. "Maksud Ibu?"

Vanesa yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bersuara, nadanya lebih serius dari biasanya. "Lyn, Opa kamu itu bukan sekedar pengusaha biasa."

"Opa," Lucas menyela, suaranya berat namun tenang. "Opa memimpin sebuah organisasi yang sudah berdiri sejak kakek buyut Opa. Bukan organisasi kriminal seperti yang mungkin kamu bayangkan, tapi lebih ke... jaringan keamanan dan intelijen swasta yang bergerak di balik layar."

Mata Lyn melebar, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar.

"Dan Ibu," lanjut Elea pelan, "Ibu dulunya adalah salah satu agen yang pernah dilatih dalam organisasi itu. Begitu juga Bunda Vanesa."

"Jadi... selama ini..." Lyn tergagap, mencoba menyusun kata-kata di tengah kebingunan. "Ibu itu... semacam mata-mata?"

Vanesa terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang mulai tegang.

"Lebuh tepatnya, mantan agen lapangan. Tapi ya, intinya kurang begitu."

"Apa Ibu masih jadi agen?" tanya Lyn pelan.

Elea menggeleng, wajahnya mendadak muram, ada kesedihan mendalam yanh tersirat di matanya.

Vanesa yang melihat perubahan raut sahabatnya, mengambil alih penjelasan dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Lyn, Ayah dan Ibumu dulu sama-sama agen rahasia. Mereka pasangan terbaik yang pernah dimiliki organisasi itu."

Ruangan itu hening sejenak, hanya suara napas Elea yang mulai tak teratur.

"Tapi ada satu misi," lanjut Vanesa, matanya menerawang jauh mengingat masa lalu, "yang gagal total. Ayahmu pulang dalam keadaan tak bernyawa."

Lyn tercekat, menatap ibunya yang kini menunduk, bahunya bergetar pelan.

"Waktu itu, Ibumu lagi mengandung kamu," suara Vanesa melembut. "Setelah kejadian itu, Ibumu tidak lagi menjadi agen rahasia."

Elea mengangkat wajahnya, air mata membasahi pipinya. "Ibu masih ingat kata-kata terakahir ayahmu sebelum berangkat misi itu 'Jangan biarkan anak kita menjalani hidup seperti ini.' "

Suaranya tercekat menahan isak. "Itu alasan Ibu berhenti jadi agen, Nak. Ibu nggak mau kamu tumbuh dalam bahaya yang sama."

Lyn menatap ibunya, dadanya sesak oleh emosi yang campur aduk, sedih, kaget, tapi penuh haru menyadari betapa besar pengorbanan yang selama ini disembunyikan dari dirinya.

"Ibu..." Lyn meraih tangan Elea, menggenggamnya erat. "Itulah kenapa Ibu nggak pernah cerita soal Ayah?"

Elea mengusap air matanya, mengangguk pelan. "Iya, Nak. Karena setiap kali Ibu cerita soal Ayahmu, rasanya seperti kehilangan dia lagi, Nak. Ibu takut... Ibu takut kamu akan membenci dunia ini, dunia yang telah merenggut Ayahmu dari kita berdua."

Lucas yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara, suaranya berat menahan penyesalan yang telah lama ia pendam.

"Itu salah Opa juga, Nak," ucapnya pelan, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Opa yang menugaskan Ayahmu untuk misi itu. Kalau saja waktu itu Opa pilih orang lain, mungkin—"

"Papa," potong Elea lembut, menggeleng pelan. "Ini bukan salah Papa. Vano sendiri yang bersikeras ambil misi itu, meski papa sempat ragu."

Lucas menghela napas berat, rasa bersalah masih jelas tergambar di wajahnya yang mulai menua. "Tetap saja, Opa yang punya wewenang untuk menolaknya. Karena keputusan Opa, kamu tumbuh tanpa sosok Ayah di sisi, Lyn."

Lyn menatap kakeknya, melihat kerutan-kerutan penyesalan yang tersembunyi di balik wajah tegas itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari sosok Lucas yang selama ini terkesan begitu kuat dan tak tergoyahkan.

"Opa," Lyn menggenggam tangan kakeknya, suaranya lembut. "Aku nggak pernah nyalahin siapa pun. Aku cuma... butuh waktu buat mencerna semua ini."

Ruangan itu hening sejenak, hanya isakan pelan Elea yang masih terdengar, bercampur dengan tatapan haru dari Lucas dan Vanesa.

Lyn menatap mereka bergantian, ibunya yang selama ini menyimpan luka mendalam demi melindunginya, kakeknya yang menanggung rasa bersalah bertahun-tahun, dan Vanesa yang setia menemani di setiap langkah sulit berkeluarga ini.

Sesuatu mulai tumbuh di dalam dadanya, bukan lagi sekedar rasa ingin tahu, tapi tekad yang perlahan menguat.

"Aku mau seperti kalian," ucap Lyn tiba-tiba, suaranya mantap meski masih bergetar.

Ketiganya langsung menoleh, terkejut mendengar pernyataan itu.

"Lyn—" Elea membuka mulut, hendak menyela, wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran.

"Bukan, maksudku bukan gitu, Bu," Lyn buru-buru meluruskan, menggeleng cepat. "Aku nggak mau jadi agen atau apa pun kayak Ibu dulu. Aku cuma... aku cuma pengen belajar bela diri."

Elea terdiam, kekhawatirannya sedikit mereda meski masih menyisakan tanda tanya. "Bela diri?"

"Iya, Bu," Lyn mengangguk mantap. "Aku udah ngerasain sendiri gimana rasanya nggak berdaya. Dikurung, diculik, nggak bisa ngelawan sama sekali. Aku nggak mau ngerasain itu lagi."

Vanesa dan Lucas saling pandang, sedikit terkejut namun juga lega mendengar penjelasan Lyn yang lebih masuk akal.

"Aku cuma mau bisa jaga diri sendiri," lanjut Lyn, matanya menatap lurus ke arah ibunya. "Kalau suatu saat kejadian kayak kemarin terulang lagi, aku nggak mau cuma bisa lari dan sembunyi. Aku pengen bisa lawan balik, minimal buat kasih waktu sampai bantuan datang."

Lyn menoleh ke arah Vanesa, matanya berbinar penuh kekaguman. "Terus... aku juga pengen belajar hal-hal kayak yang Bunda lakuin. Waktu itu Bunda bisa lacak lokasiku, meretas CCTV, semuanya cepat banget. Itu keren banget, Bunda."

Vanesa mengangkat alis, sedikit terkejut. "Maksud kamu, belajar IT kayak Bunda?"

"Iya!" Lyn mengangguk semangat. "Aku pengen bisa kayak gitu juga. Nggak cuma mengandalkan fisik doang, tapi juga otak buat cari informasi, melindungi diri lewat teknologi."

Elea menatap putrinya dengan campuran rasa bangga dan geli. "Kamu ini beneran mikirin semuanya, ya."

"Habisnya aku ngerasa, kalau aku bisa dua-duanya, bela diri sama IT, aku bakal jauh lebih siap ngadepin apa pun ke depannya," jawab Lyn mantap.

Vanesa tersenyum lebar, jelas senang dengan permintaan itu. "Wah, kalau soal itu, Bunda dengan senang hati ngajarin kamu, deh. Lumayan, ada yang mau diwariskan skill Bunda."

"Serius, Bunda?" mata Lyn berbinar semakin cerah.

"Serius," Vanesa mengangguk mantap. "Tapi inget, ilmu ini nggak boleh disalahgunakan, ya. Bunda ajarin buat melindungi diri, bukan buat jahilin orang atau hack akun mantan."

Lyn tertawa kecil. "Nggak lah, Bunda!"

Lucas tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Menurut Opa, itu permintaan yang wajar, Nak. Belajar bela diri bukan berarti kamu harus terjun ke dunia yang sama seperti Ibu dan Bundamu dulu."

Elea menatap ayah mertuanya sejenak, lalu kembali menatap Lyn yang menunggu jawaban dengan penuh harap.

"Baiklah, kalau itu juga bagian dari rencana kamu, Ibu izinkan. Tapi sekali lagi, semua ini setelah kamu benar-benar pulih total."

"Siap, Bu!" Lyn mengangguk penuh semangat, untuk pertama kalinya sejak insiden itu, matanya benar-benar bersinar penuh harapan akan masa depan yang ia bayangkan sendiri.

1
Anne Rukpaida
smgat lyn, balas perbuatan mreka satu persatu 🔥
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!