Indonesia
NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Tamu yang Tidak Diundang

Dua hari berlalu sejak Pak Haris mulai beberapa kali membelaku. Meski hanya dalam hal-hal kecil, aku merasakan ada perubahan. Beliau tidak lagi langsung menyalahkan ku.

Namun, Bu Mirna justru terlihat semakin sering memperhatikanku. Tatapannya seolah berkata bahwa aku sedang merebut sesuatu yang menjadi miliknya.

---

Sabtu pagi. Aku sedang mengepel ruang tamu ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

"Tok... tok... tok..."

Bu Mirna buru-buru membuka pintu. "Eh, Santi!"

"Ih, Mirna."

"Masuk, masuk."

Aku menghentikan pekerjaanku sejenak. Ternyata yang datang adalah adik kandung Bu Mirna. Di belakangnya ada seorang perempuan sekitar usia lima puluh tahun yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Ini Fitri." Bu Mirna menunjuk ke arahku.

Aku segera menghampiri mereka. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Aku mencium tangan Bu Santi dan tamu yang bersamanya.

"Ini Bu Erna. Teman arisan Mama."

"Oh, salam kenal, Bu."

"Iya."

Bu Erna hanya tersenyum tipis sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah. Tatapan itu membuatku sedikit tidak nyaman.

---

Aku kembali ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak lama kemudian, kudengar Bu Mirna mulai bercerita.

"Namanya juga menantu. Harus sabar ngajarin."

"Iya ya." Sahut Bu Erna.

"Ada saja tingkahnya."

Aku masih berusaha berpikir positif. Mungkin mereka hanya mengobrol biasa.

Namun beberapa menit kemudian...

"...kadang saya capek sendiri. Semua harus saya awasi."

Tanganku yang sedang menuang teh perlahan berhenti. Lagi.

Beliau kembali membangun cerita.

Aku membawa nampan berisi teh dan camilan ke ruang tamu.

"Silakan, Bu."

"Terima kasih."

Bu Erna menerima cangkirnya. Lalu menatapku sambil tersenyum.

"Fitri kerja ya?"

"Iya, Bu."

"Kalau pulang kerja masih sempat masak?"

"Alhamdulillah masih."

"Wah..."Bu Erna mengangguk pelan.

"Pantes Bu Mirna bilang kamu sering kecapekan."

Aku langsung menoleh kepada Bu Mirna. Beliau hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

"Iya bu."

"Namanya juga anak muda. Kadang dipaksa kerja terus."

Aku tahu. Kalimat itu sengaja dibuat agar terdengar seolah beliau sedang membelaku. Padahal kenyataannya...Beliaulah yang paling sering menambah pekerjaanku.

---

Siang harinya. Mas Viyan pulang lebih cepat karena pekerjaannya selesai lebih awal.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Mas Viyan tersenyum melihat para tamu.

"Wah, Tante Santi."

"Iya."

"Kamu makin kurus."

Mereka tertawa bersama. Tak lama kemudian Bu Erna berkata,

"Yan."

"Iya, Bu?"

"Istrimu hebat ya."

Mas Viyan tersenyum bangga. "Alhamdulillah."

"Tapi....jangan terlalu dimanja juga."

Aku mengernyit. "Maksudnya, Bu?"

"Perempuan kalau terlalu diberi kebebasan bekerja...lama-lama lupa rumah."

Mas Viyan tetap tersenyum sopan. "Selama ini Fitri bisa membagi waktu kok tan."

Bu Mirna langsung menyela. "Ya...Kadang masih belajar."

Aku menatap suamiku. Mas Viyan mulai memahami maksud ibunya. Beliau memilih diam.

---

Setelah makan siang, Bu Santi mengajakku ke dapur.

"Fitri."

"Iya, Tante?"

"Kamu capek ya?"

Aku tersenyum. "Namanya juga rumah tangga."

Beliau mengangguk pelan. "Lelah itu wajar. Tapi jangan dipendam semuanya."

Aku sedikit terkejut. "Maksud Tante?"

Bu Santi menghela napas. "Tante kenal kakak Tante.Dia memang keras. Tapi..Tante juga percaya enggak mungkin semua salahmu."

Aku terdiam.

Ini pertama kalinya ada keluarga Bu Mirna yang berbicara seperti itu.

"Tante sering dengar cerita.Tapi setelah lihat sendiri....rasanya berbeda."

Mataku mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Tante. Tapi aku masih ingin mempertahankan rumah tanggaku."

Bu Santi mengusap bahuku pelan. "Pertahankan. Asalkan jangan sampai kehilangan dirimu sendiri."

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

---

Menjelang sore, para tamu pun berpamitan. Setelah mobil mereka menghilang dari depan rumah, Bu Mirna langsung menoleh kepadaku.

"Kamu tadi ngomong apa sama Tante Santi di dapur?"

Aku sedikit terkejut. "Enggak ngomong apa-apa, Ma."

"Jangan bohong."

"Benar, Ma. Cuma ngobrol biasa."

Bu Mirna menatapku tajam.

"Fitri.Kalau kamu mulai mengadu ke keluargaku....Mama enggak akan tinggal diam."

Aku menarik napas panjang. "Saya tidak pernah mengadu, Ma. Saya hanya menjawab saat diajak bicara."

"Halah. Kamu pikir Mama enggak tahu akalmu?" Ucap mertuaku.

Beliau berlalu begitu saja menuju kamar.

Aku memejamkan mata.

Aku sadar...Semakin banyak orang yang mulai melihat kenyataan. Dan itu membuat Bu Mirna semakin merasa posisinya terancam. Di balik pintu kamar, tanpa sepengetahuanku, Bu Mirna mengambil ponselnya.

Beliau menghubungi Dinda.

"Dinda."

"Iya, Ma?"

"Mulai sekarang kita enggak bisa pakai cara lama."

"Maksud Mama?"

"Kita harus bikin Viyan benar-benar kecewa sama Fitri."

"Caranya?"

Bu Mirna tersenyum tipis.

"Minggu depan.....Mama sudah punya rencana."

Rencana yang bukan lagi sekadar fitnah kepada tetangga. Melainkan sesuatu yang akan mengguncang kepercayaan antara suami dan istri.

Dan jika rencana itu berhasil...

Retakan pertama dalam rumah tangga Fitri dan Viyan akan mulai terlihat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!