Indonesia
NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Menembus Benteng Gemilang

Di lantai atas gedung pencakar langit PT Gemilang Utama, pendar lampu gantung kristal memantulkan kemewahan yang dingin. Seorang wanita berusia akhir empat puluhan berdiri di balik jendela kaca besar yang menjulang tinggi, memandangi hamparan pemandangan ibu kota di bawah sana dengan kedua tangan bertaut anggun di belakang punggung.

Wanita itu mengenakan blazer sutra berwarna abu-abu gelap dengan potongan sangat presisi. Tat rambutnya di sanggul rapi tanpa sehelai pun cela, memancarkan aura dominan elegan sekaligus dingin tak tersentuh.

Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal, berdiri sebuah papan nama berbahan kuningan mengkilap yang terukir rapi.

SABRINA KUSUMA - DIREKTUR OPERASIONAL & KEUANGAN.

Tok! Tok!

Ketukan pintu memecahkan keheningan ruangan kantor yang megah itu.

"Masuk," sahut Sabrina singkat tanpa membalikkan badan.

Seorang pria muda berpakaian kemeja rapi yang merupakan asisten pribadinya melangkah masuk dengan memegang sebuah tablet digital.

"Selamat pagi, Bu Sabrina. Saya ingin menyampaikan berkas laporan harian sekaligus mengonfirmasi jadwal untuk lusa," kata sang asisten.

Sabrina memutar tubuhnya perlahan, menatap sang asisten dengan pandangan mata yang selalu menuntut kesempurnaan.

"Jadwal apa?" tanya Sabrina.

"Lusa tim pendamping legal eksternal dan auditor independen akan mulai masuk ke divisi kita, Bu. Mereka akan melakukan pengawasan dan audit data sekunder untuk merapikan berkas-berkas lamaran kerja lama serta dokumen legalitas lima tahun terakhir. Jajaran direksi pusat sudah menyetujui akses terbatas untuk mereka," jelas asisten itu seraya draft jadwal di layar tablet.

Sabrina mengerutkan dahinya tipis, sebuah ketegangan yang sangat halus berkelabat sejenak di mata tajamnya sebelum akhirnya kembali datar.

"Pastikan seluruh dokumen penting di lantai lima dan arsip tertutup sudah di pindahkan ke brankas utama. Jangan biarkan orang-orang eksternal itu berkeliaran di luar area kerja yang ditentukan. Saya tidak suka ada orang asing mencampuri data perusahaan ini," perintah Sabrina dengan suara tenang namun tegas.

"Baik, Bu Sabrina. Segera saya instruksikan ke divisi keamanan," jawab sang asisten seraya membungkuk hormat lalu melangkah keluar.

Sepeninggal asistennya, Sabrina berjalan mendekati meja kerjanya. Jemarinya yang lentur dengan cat kuku merah marun mengelus pelan pinggiran meja kayu itu.

Matanya menatap lurus ke sebuah foto lama yang tersimpan rapat di balik laci terkunci rapat, sebuah foto tua seorang anak perempuan kecil yang terpisah puluhan tahun lalu dari ingatan masa lalunya.

Lusa harinya, hujan gerimis mengguyur halaman depan kompleks PT Gemilang Utama. Sebuah mobil van hitam terparkir rapi di area sudut parkir pengunjung, berjarak sekitar lima puluh meter dari lobby utama gedung.

Di dalam kabin belakang van yang penuh dengan deretan monitor, laptop berkecepatan tinggi dan kabel-kabel jaringan, Zora duduk dengan kacamata hitam yang terangkat ke atas dahi. Jemarinya menari dengan sangat lincah di atas tiga papan ketik sekaligus, sementara satu earphone nirkabel terpasang di telinga kirinya.

"Sistem penerima sinyal audio dan kamera tersembunyi kalian sudah online, kan. Kamera di kancing kemeja lu jernih banget, Rhe. Suara Mas Rayven juga masuk. Happy hunting guys!" ujar Zora melalui mikrofon kecil di bajunya.

Di luar mobil, Rhea dan Rayven berdiri berdampingan di bawah satu payung hitam yang sama. Rhea mengenakan setelan blazer hitam dengan rambut diikat ekor kuda rapi, sementara Rayven tampak gagah dengan setelan jas abu-abu dan ID card legal external audit yang tergantung di dadanya.

Rhea menatap gedung tinggi berarsitektur kaki di hadapannya dengan dada yang berdegup kencang. "Gue masih nggak nyangka kita beneran bisa masuk ke sini, Ven."

Rayven menoleh, menatap Rhea dengan tatapan menenangkan seraya menggenggam gagang payung lebih erat.

"Ingat rencana kita. Kita hanya punya waktu dua hari untuk memeriksa sistem data karyawan dan arsip fisik. Fokus kita adalah menemukan riwayat. pergantian nama, dokumen identitas lama, atau jejak berkas wanita berusia empat puluh tahunan yang masuk tiga puluh tahun lalu," jelas Rayven.

"Siap, aku mengerti," balas Rhea mantap.

Keduanya melangkah mantap menembus pintu kaca otomatis. Suasana di loby begitu megah, hiruk pikuk karyawan berseragam lalu lalang dengan kartu Identitas di dada masing-masing.

Setelah melewati pemeriksaan ketat di meja resepsionis dan security gate, seorang staf HRD menyambut Rhea dan Rayven, menuntun mereka menuju ke ruangan kaca transparan di lantai empat khusus audit dokumen.

"Kalian bisa bekerja di ruangan ini. Seluruh berkas fisik lima tahun terakhir dan data digital tingkat dia sudah diunggah ke komputer ini. Jika buruh bantuan, hubungi saya di ekstensi 104," terang staf HRD itu ramah.

"Terima kasih banyak," sahut Rayven sopan.

Begitu pintu ruangan tertutup dan mereka ditinggalkan berdua, Rayven langsung menempelkan sebuah alat pemancar sinyal kini buatan Zora di bawah meja komputer.

"Sip! Akses jaringan berhasil dipotong. Gue udah masuk ke server data sekunder mereka. Sekarang gue lagi coba menembus enkripsi folder riwayat hidup pegawai lama," suara Zora berseru gembira di dalam earphone Rhea dan Rayven.

Rhea menyalakan monitor komputer dan mulai membuka satu per satu berkas digital karyawan. Foto demi foto, nama demi nama berkelabat di layar.

"Sudah banget, Rayven. Ada lebih dari tiga ratus karyawan wanita di sini. Apalagi kalau Amara memalsukan nama dan tahun masuknya, kita sama sekali gak punya titik acuan," bisik Rhea.

"Cari pola yang janggal. Orang yang mengubah identitas biasanya membiarkan satu detail kecil yang tetap sama, bisa jadi tanggal lahir, riwayat pendidikan awal, atau layar belakang kota asal," gumam Rayven di dekat telinga Rhea.

Sementara Rhea dan Rayven sibuk menyaring data di layar, langkah kaki berhak tinggi mendadak berderap mendekati ruangan kaca tempat mereka bekerja.

Sosok wanita berpenampilan angkuh dengan blazer abu-abu gelap melangkah melewati koridor luar. Langkah kakinya terhenti di depan dinding kaca transparan.

Wanita itu, Sabrina Kusuma, memalingkan wajahnya menatap dingin ke dalam ruangan tempat Rhea dan Rayven berada.

Pada detik yang sama, Rhea yang sedang menggeser mouse tiba-tiba merasa tergerak untuk mendongakkan kepala. Pandangan matanya menembus kaca bening, dan bertabrakan lurus dengan sepasang mata tajam milik Sabrina.

Di dalam earphone, suara Zora yang panik mendadak memecah keheningan.

"Rhea, Mas Rayven. Gila! gue baru aja nemu berkas rahasia yang terkunci enkripsi ganda. Ada nama direktur operasional mereka yang masuk tiga pulih tahun dengan identitas tanpa nama ayah dan ibu... namanya Sabrina Kusuma."

Mata Rhea membelalak lebar, tatapannya masih terkunci pada sosok wanita di balik kaca yang kini menyunggingkan senyuman tipis yang teramat dingin seraya melangkah mendekati pintu ruangan audit.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!