Indonesia
NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JERITAN HATI DI TEPI TELAGA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 34: Jeritan Hati di Tepi Telaga

Matahari makin meninggi, memancarkan terik yang membakar kulit. Namun, di sepanjang perjalanan berkeliling desa, Jaka sama sekali tak merasakan panas. Hawa dingin yang janggal dan merinding justru terus memancar dari tubuh Dea yang memeluk pinggangnya kaku dari belakang, bagaikan mendekap sebongkah es bernapas.

Jaka menghentikan motornya di tepi telaga tua batas desa—tempat sepi yang dikelilingi pepohonan rindang dan jarang dilalui warga. Ia turun dari motor seraya mengibaskan jaketnya, lalu mendaratkan duduk di atas beton pembatas jalan dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.

"Gimana, Dea? Kamu senang, kan, jalan-jalan sama aku?" panggil Jaka penuh nada kesombongan, menepuk tempat kosong di sampingnya. "Sekarang semua teman-temanku sudah tahu kalau kamu itu milikku!"

Dea melangkah kaku mendekat, bergerak menyerupai manekin tanpa engsel. Gaun merahnya melambai pelan disapu angin telaga yang mendadak terasa menusuk tulang. Tanpa mengedipkan mata, ia mendudukkan dirinya tepat di sebelah Jaka. Jemarinya yang pucat dan dingin merayap kaku, kembali menggenggam erat pergelangan tangan Jaka.

"Aku senang... asal bersamamu," sahut Dea datar, suaranya terdengar monoton seperti bisikan kosong tanpa nyawa.

Namun, bersamaan dengan terucapnya kata-kata manis itu, sebulir air mata bening kembali meleleh perlahan dari sudut matanya, membasahi pipinya yang kian memar kehitaman. Bibirnya yang mengatup rapat bergetar halus—sebuah pertanda bahwa di balik tubuh kaku yang kini dikendalikan pelet laknat tersebut, jiwa asli Dea tengah menangis histeris, menjerit meminta pertolongan di dalam kegelapan pikiran yang terkurung.

"Jaka! Tolong aku! Ini bukan aku... ada sesuatu yang mengendalikan tubuhku! Aku mohon, Jaka... hentikan semua ini!" jerit Dea histeris di dalam kedalaman benaknya. Namun, jeritan pilu itu terkunci rapat di balik bibirnya yang membisu, tak mampu menembus udara nyata.

Jaka yang sama sekali tak menyadari jeritan batin sang gadis hanya terkekeh puas. Ia mengusap rambut Dea dengan jemarinya yang kasar.

"Karena sekarang semua orang sudah tahu kamu milikku, mending kita pulang dulu saja. Aku masih ada urusan sebentar. Aku antar kamu pulang, ya?" tawar Jaka seraya beranjak berdiri dan menepuk debu di celananya.

Dea tak menyahut dengan suara. Wajahnya tetap polos tanpa ekspresi, hanya kepala kaku itu yang terangguk pelan tanda setuju. Tanpa buang waktu, Jaka kembali memacu sepeda motornya, menembus terik siang untuk mengantarkan Dea kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Dea, kedatangan mereka disambut oleh Ibu Nengsih yang kala itu tengah menyiram tanaman bunga di halaman. Ketika deru sepeda motor Jaka perlahan memasuki pekarangan, seberkas rasa lega seketika menyelinap di benak Ibu Nengsih melihat putri semata wayangnya telah kembali.

"Eh... Neng! Kamu dari mana saja?" tanya Ibu Nengsih seraya bergegas menghampiri mereka, meletakkan teko penyiram tanaman di atas tanah.

Jaka dengan cekatan mematikan mesin motornya, lalu melangkah maju menyalami tangan Ibu Nengsih. "Kami habis keliling desa saja, Bu," sahut Jaka, memasang raut wajah sesopan mungkin.

"Aduh, Jang! Terima kasih banyak, ya, sudah mengantarkan anak Ibu. Ibu tadi khawatir sekali sama Dea, takutnya dia malah pergi ke mana-mana. Ya sudah, yuk kita masuk dulu Jang, Neng... tidak baik ngobrol sambil berdiri begini," ajak Ibu Nengsih hangat, sama sekali tak menaruh curiga pada pemuda di hadapannya.

"Tidak usah, Bu! Saya mau lanjut jalan lagi saja, masih ada urusan sebentar," potong Jaka cepat seraya tersenyum canggung.

"Ya sudah kalau begitu... sekali lagi Ibu terima kasih banyak ya, Jang!" sahut Ibu Nengsih seraya merangkul bahu kaku Dea untuk diajak masuk ke rumah.

Jaka pun kembali menyalakan mesin sepeda motornya, lalu memutar arah meninggalkan kediaman Dea dengan seulas senyum puas yang terukir samar di bibirnya.

Setibanya di ruang tengah, mereka duduk berdampingan di atas sofa kayu. "Neng, itu ya yang namanya Jaka? Kelihatannya orangnya baik, sopan, terus ganteng juga. Kamu lagi pacaran sama dia atau bagaimana?" tanya Ibu Nengsih penasaran, menatap lekat wajah putrinya.

Namun, pertanyaan hangat dari sang ibu sama sekali tak dihiraukan oleh Dea. Gadis itu hanya mengukir senyum simpul yang kaku, lalu tiba-tiba beranjak dari duduknya tanpa mengucap sepatah kata pun. Dengan langkah dingin menyerupai boneka, ia berjalan lurus kembali menuju kamarnya.

"Anak zaman sekarang... kalau ditanya orang tua bukannya menjawab, malah main pergi begitu saja," gumam Ibu Nengsih seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, menganggap tingkah aneh putrinya itu hanyalah sekadar rasa malu khas remaja yang sedang jatuh cinta.

Sementara di sisi lain, Jaka baru saja tiba di rumahnya. Langkah kakinya yang semula bersemangat mendadak terhenti ketika mendapati sang ibu sedang membongkar lemari kamar dengan raut wajah panik. Ibu Lasmi baru saja menyadari bahwa cincin emas peninggalan almarhum suaminya telah lenyap dari tempat penyimpanan.

"Ibu lagi cari apa, sih? Kok lemarinya diubrak-abrik begitu?" tanya Jaka penasaran seraya bersandar di ambang pintu.

"Ibu lagi cari cincin peninggalan bapak kamu, Jak! Kok bisa tidak ada, ya?!" sahut Ibu Lasmi panik, tangannya terus mengaduk-aduk isi kotak perhiasan.

Mendengar kata "cincin", Jaka seketika tersentak kaget. Jantungnya berpacu kencang dan napasnya mendadak memburu.

"Aduh, bahaya ini! Ibu mulai curiga cincinnya hilang. Bisa tamat riwayatku kalau sampai Ibu tahu aku yang mengambilnya buat mahar ritual!" gumam Jaka dalam hati, ketakutan setengah mati.

"Memangnya Ibu taruh di mana? Ibu lupa menaruh kali! Coba cari yang teliti dulu," elak Jaka dengan wajah tanpa dosa, berusaha menutupi kepanikannya.

"Iya, ini Ibu sedang cari. Soalnya mau Ibu pakai ke acara pernikahan sore ini. Kamu bantu cari, Jak!" perintah sang ibu gelisah.

Takut rahasianya terbongkar, Jaka terpaksa pura-pura ikut membungkuk dan mengaduk pakaian di lemari.

"Apa jangan-jangan ada yang mengambil, ya? Kotaknya ada, tapi cincinnya hilang!" gerutu Ibu Lasmi curiga.

"Ibu mau menuduh Jaka yang mengambil cincin itu?!" potong Jaka cepat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi rasa salahnya.

"Bukan begitu, Nak! Dengarkan Ibu dulu—"

"Ah, Ibu ini! Anak sendiri malah dicurigai! Sudah, ah, Ibu cari saja sendiri. Jaka malas membantu kalau begini caranya!" potong Jaka sengit seraya memutar badan dan melangkah pergi meninggalkan ibunya yang tertegun di dalam kamar.

Ibu Lasmi hanya bisa melongo dan mematung melihat perangai anak tunggalnya yang mendadak emosional. Ia mengelus dadanya yang terasa sesak, menatap kepergian Jaka dengan dahi berkerut heran.

"Kenapa anak itu? Aneh banget! Ditanya baik-baik malah marah-marah sendiri," gerutu Ibu Lasmi gelisah seraya menghela napas panjang. "Aduh... ke mana lagi cincin itu? Giliran mau dipakai sore ini, malah hilang tidak karuan!" lanjutnya sembari kembali mengacak-acak isi lemari dengan perasaan makin campur aduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!