Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
***
Layar raksasa di ruang rapat utama Elard Corporation memancarkan warna merah menyala—grafik harga saham perusahaan yang merosot tajam selama tiga minggu berturut-turut. Di ujung meja oval, Kakek Hendra duduk kaku di atas kursi rodanya, didampingi Ayah Bramantyo yang wajahnya sepucat kertas.
Di hadapan mereka, puluhan direktur senior dan perwakilan investor asing saling bersahut-sahutan dengan nada suara tinggi.
"Proyek konsorsium energi di Eropa dibatalkan secara sepihak! Investor asing menolak berurusan dengan Elard Group jika bukan Kenzo yang memimpin perundingan!" seru seorang direktur keuangan dengan raut wajah panik. "Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan sejak pengunduran diri Kenzo, kita sudah kehilangan tiga belas persen nilai kapitalisasi pasar! Ini bencana terbesar dalam sejarah dinasti kita, Tuan Besar!"
Kakek Hendra menghantamkan tongkat peraknya ke lantai, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawa kaku yang kian mengikis. "Tutup mulut kalian! Elard Corp tidak bergantung pada satu orang saja! Kita memiliki ratusan manajer dan direksi!"
"Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kejeniusan strategi dan jaringan networking internasional seperti Kenzo!" potong salah satu pemegang saham utama tanpa rasa takut. "Jika Tuan Besar tidak segera menurunkan gengsi dan membawa Kenzo kembali ke kursi CEO, dewan komisaris akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa untuk mencabut hak veto keluarga Anda!"
Ruang rapat megah itu berubah menjadi arena percekcokan yang riuh. Kakek Hendra membeku di tempatnya, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah dan rasa malu yang mencekik. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, fondasi kejayaan Elard Group berguncang hebat hanya karena seorang pria muda yang memilih pergi demi melindungi wanita yang dicintainya.
Sementara krisis hebat mengguncang gedung pencakar langit Elard Corp, sebuah sedan hitam mewah ber-kaca gelap meluncur pelan melintasi kawasan pemukiman pinggiran kota yang tenang. Mobil itu akhirnya menepi di bawah rindangnya pohon asam, beberapa meter di depan rumah mungil berpagar kayu cokelat.
Di dalam mobil, Nyonya Helena duduk kaku di jok belakang. Gaun mewahnya dan perhiasan berlian yang melingkari lehernya terasa begitu berat, bertolak belakang dengan kehampaan mendalam yang menggerogoti dadanya selama beberapa minggu terakhir. Mansion Elard yang dingin bagaikan makam megah kini terasa makin menyiksa tanpa kehadiran putranya.
Dengan jemari yang bergetar pelan, Helena menggeser sedikit gorden tipis di kaca jendela mobil, mengintai ke arah pekarangan rumah mungil tersebut.
Di sana, di bawah pijar hangat matahari pagi, pemandangan yang belum pernah Helena lihat seumur hidupnya terhampar jelas.
Kenzo—putra tunggalnya yang sejak kecil dibentuk menjadi pria dingin, kaku, dan tak pernah tersenyum di dalam mansion—kini berdiri di pekarangan rumah dengan celemek kain hijau terikat di pinggangnya. Pria tegap itu sedang tertawa tulus, sebuah suara tawa yang begitu renyah dan lepas. Pipi mancungnya ternoda bintik-bintik putih tepung terigu, sementara jemarinya dengan telaten mengusap lembut pipi Alana yang juga belepotan tepung.
Alana yang mengenakan gaun terusan longgar dengan perut membuncit melingkar sempurna di usia kandungan 28 minggu, tertawa kecil seraya menepuk dada Kenzo. Tak jauh dari mereka, dua orang pengemudi ojek online sedang dibantu oleh Kenzo menata dus-dus kue ke dalam tas pengantar. Kenzo bahkan membungkuk sopan, menyalami para kurir itu dengan keramahan hangat yang memancarkan kebahagiaan murni.
Setetes air mata panas menetes menembus riasan tebal di pipi Nyonya Helena.
Wanita paruh baya itu menutupi mulutnya dengan jemari yang bergetar hebat. Dadanya sesak oleh rasa penyesalan yang membakar jiwa. Selama belasan tahun, ia membiarkan putranya disiksa oleh aturan kaku Kakek Hendra, membiarkan jiwa Kenzo dikeringkan oleh ambisi dinasti, dan menganggap bahwa kekayaan serta posisi CEO adalah satu-satunya kebahagiaan bagi anak kandungnya.
Namun pagi ini, di depan rumah kayu yang sederhana itu, Helena menyadari betapa salahnya ia selama ini. Seluruh triliunan rupiah dan nama besar Elard Corp tak pernah sanggup membeli satu pun ukiran senyuman tulus yang kini terukir di wajah Kenzo.
"Nyonya... Tuan Kenzo baru saja naik ke dalam mobilnya dan pergi mengantarkan pesanan kue," bisik sang supir pribadi dari jok depan.
Helena menyapu air matanya cepat-cepat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Tunggu di sini. Jangan ikuti aku."
Alana baru saja hendak melangkah masuk ke dalam rumah setelah mengemas sisa loyang di dapur, ketika suara ketukan perlahan bergema di pagar kayu depan.
Alana memutar badannya pelan, satu tangannya menyangga pinggang belakang untuk menahan beban perutnya yang kian membesar di usia 28 minggu. Saat matanya menangkap sosok wanita paruh baya bermantel sutra mahal yang berdiri ragu di balik pagar kayu, langkah Alana terhenti sejenak.
"Mamah...?" bisik Alana pelan.
"Alana..." suara Helena bergetar parau, menatap wanita muda di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Alana tidak menunjukkan kepanikan atau rasa takut. Ia berdiri tegap dengan anggun, menyunggingkan senyuman kaku yang formalistis namun amat sopan.
"Silakan masuk, Mah," ujar Alana tenang, menunjuk kursi kayu sederhana di teras depan. "Mas Kenzo sedang pergi mengantarkan pesanan kue ke komplek sebelah. Jika Mamah ingin bertemu dengannya, mungkin Mamah perlu menunggu sebentar."
Helena melangkah mendekati teras, namun ia menolak untuk duduk. Matanya terpaku pada perut Alana yang membuncit halus di balik gaun bahagianya.
"Mamah tidak kemari untuk berdebat dengan Kenzo, Alana," bisik Helena, suaranya pecah oleh kepiluan yang menumpuk. Dari dalam tas kulit mewahnya, Helena mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih dan sebuah kartu kredit berkode khusus. Ia meletakkannya di atas meja kayu teras dengan tangan gemetar.
Alana melirik amplop dan kartu kredit itu, lalu kembali menatap wajah ibu mertuanya dengan iris mata yang jernih. "Apa maksud dari semua ini, Mah?"
"Itu... itu dana pribadi milik Mamah sendiri, Alana. Bukan uang Elard Corporation atau uang Kakek Hendra," pangkas Helena terburu-buru, matanya berkaca-kaca menatap Alana penuh permohonan. "Di dalamnya ada uang tunai ratusan juta dan kartu tanpa batas limit. Kandunganmu sudah memasuki trimester ketiga... kamu butuh dokter spesialis terbaik, fasilitas rumah sakit VIP untuk persalinan nanti, dan perawatan medis kelas atas untuk cucu perempuanku. Tolong... ambil uang ini."
Helena maju satu langkah, mencoba meraih jemari Alana. "Mamah mohon, Alana... Jangan siksa dirimu dan anakmu di rumah kecil ini. Kamu tidak perlu berdiri berjam-jam membuat kue hanya demi mencari biaya melahirkan. Biarkan Mamah menjalankan peranku sebagai seorang ibu dan nenek untuk ana kalian..."
Alana secara perlahan menarik jemari tangannya mundur, menghindari sentuhan Helena. Ia menatap amplop tebal dan kartu kredit bernilai fantastis itu tanpa ada sedikit pun binar ketamakan di matanya.
Alana menghela napas panjang, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang amat dingin, tenang, dan jernih.
"Terima kasih atas perhatiannya Mah," ujar Alana dengan nada suara yang sangat teratur, bagaikan embun pagi yang membeku. "Tapi mohon maaf... saya tidak bisa menerima satu sen pun dari uang ini."
Helena tersentak kaku, matanya membelalak kaget. "Alana! Kenapa?! Ini uang pribadi Mama! Kenzo adalah anakku, dan bayi di dalam rahimmu itu adalah cucu kandungku!"
Alana merapikan lipatan gaunnya, menatap Helena lurus tanpa kedipan ragu.
"Karena kebahagiaan dan harga diri keluarga kecil kami... tidak lagi bisa dibeli atau dinilai dengan uang Keluarga Elard, Mah," sahut Alana dengan nada tegas yang memecah keheningan teras.
Helena membeku, kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Saat saya dan Mas Kenzo tinggal di Mansion Elard dulu, kami dikelilingi oleh triliunan rupiah, fasilitas megah, dan pakaian-pakaian mahal," lanjut Alana pelan, jemari tangannya mengelus lembut perutnya sendiri. "Tapi di dalam istana itu, suami saya disiksa jiwanya, dipaksa menjadi monster tanpa perasaan, dan saya diperlakukan bagaikan wadah rahim belian. Di rumah megah itu, Mas Kenzo tidak pernah tersenyum. Tidak pernah sekali pun."
Alana mendekatkan langkahnya satu tingkat, menatap Helena dengan kejujuran batin yang teramat dalam.
"Sekarang, lihatlah anak Mamah," bisik Alana. "Di rumah mungil ini, Mas Kenzo bangun pagi dengan senyuman. Dia belajar mengocok adonan kue meski tangannya belepotan tepung, dia bangga mengantarkan kue pesanan tetangga, dan dia tertawa lepas tanpa ada ketakutan akan cambukan atau tuntutan saham. Uang yang kami gunakan untuk membeli baju bayi pertama kami nanti adalah uang dari hasil keringat murni kami berdua... uang yang halal dan penuh kasih sayang."
Air mata Helena menetes makin deras, tubuhnya berguncang menahan rasa malu dan rasa bersalah yang amat dalam di hadapan menantunya.
"Alana... Mamah... Mamah hanya ingin membantumu..." isak Helena terputus-putus.
"Jika Mamah memang tulus ingin membantu kami..." potong Alana lembut namun sangat dingin, meraih amplop putih dan kartu kredit di meja lalu menyerahkannya kembali ke jemari Helena. "...maka tolong biarkan kami hidup tenang. Hentikan semua ancaman dari Kakek Hendra, dan jangan pernah lagi membawa bayangan kemewahan Elard yang menyiksa ke dalam rumah mungil kami."
Alana membungkuk sopan secara formalistis. "Permisi, Mah. Saya harus kembali ke dapur untuk merawat adonan kue saya."
Tanpa menunggu balasan dari Helena yang berdiri membeku dan hancur oleh rasa malu, Alana berbalik perlahan, melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kayu utama secara rapat.
Di luar teras, Nyonya Helena berdiri mematung di bawah pijar matahari pagi. Amplop tebal di tangannya terasa begitu berat dan tak bernilai. Sambil menangis sesenggukan, sang Nyonya Besar Elard melangkah mundur terseok-seok meninggalkan pekarangan rumah mungil itu, menyadari dengan amat menyakitkan bahwa keangkuhan dinastinya telah kalah mutlak oleh ketulusan cinta anak dan menantunya.
Satu jam kemudian, deru mobil pribadi Kenzo terdengar memasuki pekarangan.
Kenzo melangkah masuk ke dalam rumah membawa beberapa dus kosong dan tas belanjaan berisi bahan baku mentega murni yang baru dibelinya. Wajah tampannya berseri-seri, senyuman hangat langsung terukir saat matanya mendapati Alana sedang duduk menyangga perutnya di sofa ruang tengah.
"Alana! Semua kue pesanan komplek sebelah sudah laku keras!" seru Kenzo gembira, meletakkan tas belanjaannya lalu bergegas menghampiri istrinya. Pria itu berlutut di samping sofa, menyapu dahi Alana dengan telapak tangannya yang hangat. "Eh? Kenapa wajahmu sedikit pucat, Sayang? Apa kamu terlalu lelah?"
Alana menatap wajah suaminya yang penuh binar kebahagiaan murni. Ia menyunggingkan senyuman paling manis yang pernah Kenzo lihat, mengusap pipi suaminya dengan penuh kasih.
"Saya tidak apa-apa, Mas... Cuma sedikit kangen sama Asisten Koki saya," goda Alana pelan.
Kenzo terkekeh renyah, merangkul pinggang Alana dengan amat protektif lalu menempelkan telapak tangannya di atas perut istrinya yang kini merespons dengan sundulan aktif dari dalam rahim.
Bersambung...
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣