Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : PEMBAYARAN YANG DISEMBUNYIKAN CROWN TOWER

Kalau Chen ingin tahu siapa yang membawa kotak itu, suruh dia bertanya kepada Shen Mo mengapa Crown Tower pernah membayar Hengda.

Shen Mo membaca pesan tersebut dua kali.

Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja.

Selama beberapa saat, ia hanya mendengarkan hujan yang masih mengetuk kaca jendela. Di layar komputer, jadwal pertemuan pemasok pukul sembilan pagi tetap terbuka.

Nama Sun Qiao tercantum sebagai salah satu peserta.

Shen Mo mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Tiga.

“Ke ruanganku. Sekarang.”

Lima menit kemudian, Tiga masuk dengan langkah cepat.

“Ada masalah, Tuan?”

Shen Mo menyerahkan ponselnya.

“Baca.”

Tiga memperhatikan foto kotak besi dan empat pesan yang menyertainya. Ketika sampai pada kalimat terakhir, dahinya berkerut.

“Pengirimnya tahu soal Chen.”

“Bukan cuma itu. Dia tahu kami menemukan foto lama.”

Tiga mengangguk perlahan.

“Informasi itu baru dibicarakan di ruangan ini.”

“Dan dikirimkan kepadamu.”

Tiga mengangkat kepala.

Shen Mo menatapnya tanpa berkedip.

“Aku tidak menuduhmu. Aku sedang menghitung siapa saja yang mengetahui informasi tersebut.”

“Ada petugas pemeriksa arsip yang menerima foto dari tim saya. Mereka hanya diminta mencocokkan identitas laki-laki itu.”

“Berapa orang?”

“Dua orang yang menangani berkasnya. Saya akan periksa siapa lagi yang mendapat akses.”

“Lakukan. Tapi jangan langsung menuduh mereka membocorkan informasi.”

“Baik, Tuan.”

Shen Mo menunjuk foto kotak besi.

“Menurutmu ini asli?”

“Belum bisa dipastikan. Kotaknya mirip dengan yang terlihat dalam foto Chen, tetapi kita belum memiliki bukti bahwa itu benda yang sama.”

“Dan kuitansinya?”

“Cap Hengda terlihat. Detail lain terlalu kecil.”

Shen Mo menarik kursi.

“Pengirimnya ingin aku bereaksi.”

“Mungkin ingin memancing Anda keluar.”

“Atau membuat Chen tidak mempercayaiku.”

Tiga terdiam.

Shen Mo membuka kembali pesan terakhir.

Ada sesuatu yang mengganggunya sejak pertama kali membaca kalimat itu.

Bukan ancamannya.

Melainkan nama Crown Tower.

Tiga tahun lalu, ketika perang distrik barat berakhir, Crown Tower memang mengambil alih beberapa kontrak logistik dari perusahaan yang sebelumnya beroperasi di kawasan tersebut. Banyak dokumen lama masuk melalui proses penggabungan usaha.

Shen Mo tidak pernah memeriksa setiap kuitansi.

Ia mempercayakan pekerjaan itu kepada bagian keuangan.

Sekarang keputusan tersebut terasa seperti kesalahan yang harus ia bayar.

“Cari semua pembayaran kepada Hengda,” katanya.

“Dari rekening utama?”

“Dari seluruh entitas yang pada saat itu sudah berada di bawah Crown Tower. Pisahkan transaksi langsung, pembayaran melalui perantara, dan kewajiban yang diwarisi dari perusahaan yang diambil alih.”

Tiga mencatat.

“Rentang waktunya?”

“Lima tahun terakhir. Kalau ada transaksi lebih lama yang terkait, tarik juga.”

“Baik.”

“Dan jangan sentuh rekening aktif hanya berdasarkan nama perusahaan yang mirip. Aku tidak mau operasional berhenti karena kita salah membaca arsip.”

Tiga mengangguk.

Ia hendak keluar ketika Shen Mo memanggilnya lagi.

“Bagaimana keamanan Chen?”

“Dua pengawal di luar kamar. Koridor dipantau. Tidak ada orang asing yang masuk ke lantai tamu.”

“Pastikan jadwalnya besok tidak dibagikan ke luar tim yang bertanggung jawab.”

“Dimengerti.”

Setelah Tiga pergi, Shen Mo kembali memandangi foto kotak besi.

Ia pernah menghadapi ancaman pembunuhan, penculikan, bahkan pengkhianatan dari orang yang dibesarkannya sendiri.

Namun kali ini seseorang memilih menyerang melalui seorang anak.

Dan orang itu tampaknya tahu persis bagian mana yang akan membuat Shen Mo kehilangan ketenangan.

Pukul tujuh pagi, Chen sudah duduk di meja makan.

Ia mengenakan kemeja putih di balik jaket hitam. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Di hadapannya ada semangkuk bubur yang belum disentuh.

Shen Mo masuk sambil berbicara singkat melalui alat komunikasi.

“Tidak ada perubahan jadwal. Aku akan turun setelah menerima laporan keamanan.”

Ia memutus sambungan.

Chen mengangkat wajah.

“Kau tidak tidur?”

“Tidur.”

“Berapa lama?”

“Cukup.”

Chen memandang lingkaran samar di bawah mata pria itu.

“Bohong.”

Shen Mo menarik kursi.

“Kau ingin membahas pekerjaanku atau sarapanmu?”

Chen mengambil sendok.

“Aku bisa melakukan keduanya.”

Shen Mo menuangkan teh hangat ke cangkirnya.

“Kau siap untuk hari pertama?”

“Kalau orang-orang di lantai keuangan tidak memperlakukanku seperti pajangan.”

“Mereka akan diberi tahu tugasmu.”

“Aku lebih suka mereka melihat hasil kerjaku.”

“Itu juga perlu waktu.”

Chen mengangguk.

Ia makan beberapa suap sebelum bertanya, “Ada kabar tentang pria di foto?”

Shen Mo meletakkan cangkir.

“Belum ada identifikasi yang pasti.”

“Bagaimana dengan kotak Ibu?”

“Kami masih mencarinya.”

Chen menatapnya lebih lama.

“Ada sesuatu yang tidak kau katakan?”

Shen Mo tidak segera menjawab.

Ia bisa saja menyembunyikan pesan semalam. Menganggapnya ancaman biasa, lalu menyuruh tim keamanan menangani semuanya.

Tetapi Chen sudah terlalu sering menemukan sendiri potongan kebenaran yang disembunyikan orang dewasa.

“Ada seseorang yang mengirim foto kotak mirip milik ibumu,” kata Shen Mo.

Sendok Chen berhenti.

“Kapan?”

“Semalam.”

“Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena aku ingin memastikan apakah fotonya asli.”

“Sudah?”

“Belum.”

Chen menaruh sendok.

“Aku mau lihat.”

“Setelah sarapan.”

“Shen Mo.”

“Chen.”

Mereka saling menatap.

Akhirnya Chen mengambil dua suap bubur lagi dengan wajah kesal.

Shen Mo hampir tersenyum, tetapi mengurungkannya.

Setelah Chen selesai, ia memperlihatkan foto tersebut.

Chen mengambil ponsel dengan kedua tangan.

Matanya langsung tertuju pada kotak biru.

“Penguncinya rusak.”

“Kau ingat bentuk pengunci yang lama?”

“Sedikit. Ada goresan dekat sudutnya.”

Ia memperbesar gambar.

“Di sini juga ada goresan.”

“Bisa jadi kotak yang sama. Tapi kita belum tahu.”

Chen menggulir pesan berikutnya.

Wajahnya berubah ketika membaca kalimat terakhir.

Crown Tower pernah membayar Hengda.

Ia menatap Shen Mo.

“Benar?”

“Itu sedang diperiksa.”

“Kau tidak tahu?”

“Tidak tentang pembayaran yang dimaksud pengirim ini.”

“Tapi perusahaanmu yang membayar?”

“Belum terbukti. Kalau memang ada pembayaran, kita juga harus tahu siapa yang menyetujuinya dan untuk keperluan apa.”

Chen menunduk kembali.

Beberapa detik berlalu.

“Kalau ternyata benar,” katanya, “kau akan memberitahuku?”

“Ya.”

“Walaupun itu membuat Crown Tower terlihat buruk?”

Shen Mo menarik napas.

“Kalau ada kesalahan yang dilakukan perusahaanku, menyembunyikannya tidak akan memperbaiki apa pun.”

Chen mengembalikan ponsel.

“Aku akan menunggu hasilnya.”

Shen Mo mengangguk.

Namun ia tahu kepercayaan itu tidak diberikan tanpa batas.

Lantai keuangan Crown Tower lebih ramai daripada yang Chen bayangkan.

Pegawai berlalu-lalang membawa dokumen. Layar komputer menampilkan angka, grafik, dan daftar transaksi. Beberapa orang berhenti berbicara ketika melihat bocah sepuluh tahun berjalan di samping Shen Mo.

Chen mendengar bisikan.

“Itu anak yang jadi penasihat khusus?”

“Serius?”

“Memangnya dia bisa membaca laporan keuangan?”

Chen berpura-pura tidak mendengar.

Shen Mo membawanya ke sebuah ruangan kecil di sisi area audit.

Di dalamnya terdapat meja kerja, komputer, dan rak dokumen.

“Ini tempatmu,” kata Shen Mo.

Chen memandang sekeliling.

“Tidak terlalu buruk.”

“Terima kasih atas penilaiannya.”

“Komputernya bisa mengakses apa?”

“Laporan yang sudah disetujui untuk pemeriksaan internal. Tidak ada akses mengubah transaksi atau menyetujui pembayaran.”

“Bagus.”

Shen Mo mengangkat alis.

“Kau tidak protes?”

“Kalau aku bisa mengubah data asli, bagaimana orang tahu hasil pemeriksaanku tidak mengubah buktinya?”

Shen Mo menatap Chen sebentar.

“Benar.”

Seorang perempuan berkacamata mengetuk pintu.

“Tuan Shen.”

“Masuk, Lin Mei.”

Perempuan itu membungkuk singkat.

Lin Mei adalah manajer audit internal. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, dengan rambut diikat rapi dan wajah yang tampak lelah.

“Ini Chen,” kata Shen Mo. “Dia akan membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian dalam laporan yang sudah disiapkan timmu.”

Lin Mei memandang Chen.

“Selamat pagi.”

“Pagi.”

“Kau pernah menggunakan lembar kerja keuangan?”

“Pernah.”

“Baik. Kita mulai dari laporan sederhana dulu.”

Chen mengangguk.

Shen Mo merasa cukup puas.

Setidaknya Lin Mei tidak berbicara kepadanya seperti sedang menghibur anak kecil.

Sebelum pergi, Shen Mo menepuk bahu Chen.

“Jangan meninggalkan lantai ini tanpa memberi tahu Lin Mei atau pengawalmu.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan mendekati ruang rapat pemasok.”

Chen menoleh.

“Ada rapat?”

“Ya.”

“Dengan siapa?”

“Beberapa perusahaan rekanan.”

Chen memperhatikan wajah Shen Mo.

“Kau sedang menyembunyikan sesuatu lagi?”

“Sedang menangani penyelidikan yang bukan tugasmu.”

Chen mendengus.

“Itu jawaban yang berbeda.”

“Memang.”

Shen Mo meninggalkan ruangan.

Chen menatap pintu beberapa saat sebelum duduk di depan komputer.

Lin Mei meletakkan sebuah map di mejanya.

“Ini laporan rekonsiliasi pembayaran kuartal lalu. Coba cari transaksi yang memiliki nomor referensi ganda.”

Chen membuka halaman pertama.

“Kalau aku menemukan sesuatu?”

“Catat nomor baris dan alasannya. Jangan mengubah file sumber.”

Chen mengangguk.

Pekerjaan itu tidak terdengar menarik.

Tetapi setidaknya ia tahu harus mulai dari mana.

Pukul sembilan lewat sepuluh, rapat pemasok dimulai.

Sun Qiao datang mengenakan setelan abu-abu gelap dan membawa tas dokumen hitam.

Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun. Rambutnya tersisir rapi. Ia tersenyum kepada resepsionis sebelum menunjukkan kartu identitas.

Di ruang pengawasan, Shen Mo memperhatikan rekaman kamera bersama Tiga.

“Itu Sun Qiao?”

“Ya, Tuan. Identitasnya cocok dengan dokumen penyewaan gedung lama Hengda.”

“Dia tahu sedang diperiksa?”

“Sejauh yang kami ketahui, belum.”

Shen Mo menatap layar.

Sun Qiao tampak tenang.

Terlalu sedikit untuk dijadikan kesimpulan.

“Siapa yang hadir dalam rapat?”

Tiga menyerahkan daftar peserta.

“Wang tidak datang. Kantornya mengirim wakil.”

Shen Mo mengangkat kepala.

“Alasannya?”

“Dilaporkan sakit sejak pagi.”

Shen Mo memandang daftar itu lagi.

“Sudah diverifikasi?”

“Tim sedang memeriksa melalui jalur internal.”

“Jangan biarkan orang menyimpulkan dia melarikan diri hanya karena tidak hadir.”

“Baik, Tuan.”

Di layar, Sun Qiao memasuki ruang rapat.

Shen Mo menunggu sampai pintu tertutup sebelum berbicara lagi.

“Ada hasil pemeriksaan pembayaran Hengda?”

Tiga membuka tablet.

“Ada satu transaksi lama yang perlu Anda lihat.”

Ia menyerahkan layar.

Shen Mo membaca baris pertama.

Empat tahun lalu, salah satu anak usaha Crown Tower mencatat pembayaran kepada sebuah perusahaan jasa administrasi.

Perusahaan itu kemudian meneruskan sebagian dana kepada Biro Penagihan Hengda.

Jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan nilai kontrak Crown Tower.

Namun tanggalnya membuat Shen Mo berhenti membaca.

Pembayaran tersebut dilakukan dua hari sebelum ibu Chen mencabut pengaduannya.

“Siapa yang menyetujui transaksi awal?”

Tiga menunjuk kolom otorisasi.

“Dokumen menunjukkan persetujuan dari bagian keuangan anak usaha. Ada tanda tangan pejabat yang saat itu menjabat sebagai direktur operasional.”

“Namanya?”

“Wang.”

Shen Mo terdiam.

Tiga melanjutkan, “Tetapi kami belum mengetahui tujuan pembayaran itu. Keterangan transaksinya hanya menyebut biaya penyelesaian administrasi.”

Shen Mo memperbesar dokumen.

Di bagian lampiran terdapat nomor kontrak.

Ia mengenali format penomorannya.

“Ini bukan kontrak pengiriman barang.”

“Benar, Tuan.”

“Lalu kontrak apa?”

“Kami sedang mencari dokumen induknya.”

Shen Mo memandang tanggal pembayaran sekali lagi.

Dua hari sebelum pencabutan pengaduan.

Satu hari kemudian, ibu Chen pindah rumah.

Rangkaian waktu itu tidak membuktikan keterlibatan Wang dalam ancaman terhadap ibu Chen.

Namun sekarang ada alasan kuat untuk memeriksanya.

“Amankan salinan dokumen itu,” kata Shen Mo. “Dan cari tahu apakah biaya tersebut berkaitan dengan penyelesaian sengketa atau penagihan.”

Tiga mengangguk.

Ponselnya bergetar.

Ia membaca pesan masuk, lalu menatap Shen Mo.

“Ada kabar dari pemeriksaan arsip.”

“Apa?”

“Dokumen induk yang kita cari tercatat pernah dipindahkan dari penyimpanan fisik ke arsip digital.”

“Bagus. Ambil salinannya.”

“Masalahnya, file digital tersebut tidak ada di lokasi yang tercantum.”

Shen Mo mengerutkan kening.

“Hilang?”

“Belum tentu. Bisa dipindahkan atau salah indeks. Kami sedang memeriksa riwayat aksesnya.”

Shen Mo memijat pangkal hidung.

“Siapa pengguna terakhir yang membuka berkas itu?”

Tiga melihat layar.

Lalu wajahnya berubah.

“Tuan...”

“Siapa?”

“Lin Mei.”

Shen Mo menurunkan tangan.

“Manajer audit?”

“Ya.”

Untuk sesaat, ia hanya menatap nama tersebut.

Lin Mei sedang bersama Chen.

Di ruangan kecil lantai keuangan.

Shen Mo langsung menghubungi pengawal.

“Periksa posisi Chen. Jangan membuat keributan.”

Jawaban datang beberapa detik kemudian.

“Tuan Muda Chen masih berada di ruang audit.”

“Lin Mei?”

“Masih bersamanya.”

Shen Mo mengembuskan napas.

“Baik. Tetap di posisi.”

Tiga menatapnya.

“Apakah kita perlu membawa Lin Mei untuk diperiksa?”

“Belum. Dia manajer audit. Mengakses arsip keuangan bisa jadi bagian dari pekerjaannya.”

Shen Mo berdiri.

“Aku akan menemuinya sendiri.”

Di ruang audit, Chen sedang membandingkan dua lembar laporan ketika Lin Mei menerima panggilan.

Perempuan itu melirik layar ponselnya.

Ekspresinya berubah sedikit.

“Maaf, Chen. Aku harus keluar sebentar.”

Chen mengangguk tanpa mengangkat kepala.

Lin Mei berjalan ke pintu, tetapi berhenti sebelum membukanya.

“Chen.”

“Ya?”

“Kalau kau menemukan nomor referensi yang dimulai dengan kode HD, jangan langsung memasukkannya ke daftar kesalahan.”

Chen mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Beberapa kode lama menggunakan sistem penomoran berbeda. Aku akan menjelaskannya nanti.”

“Baik.”

Lin Mei keluar.

Chen kembali ke layar.

Ia memeriksa baris berikutnya.

Lalu berhenti.

Di antara puluhan transaksi, ada satu nomor referensi yang berbeda dari lainnya.

HD-0417.

Chen mengingat pesan yang dikirim kepada Shen Mo.

Hengda.

Ia tahu dua huruf yang sama belum tentu berarti perusahaan yang sama. Lin Mei bahkan sudah memperingatkan bahwa kode lama bisa memiliki arti berbeda.

Namun rasa ingin tahunya terusik.

Chen membuka keterangan transaksi yang memang tersedia dalam laporan audit.

Penyesuaian biaya penyelesaian.

Tidak ada nama penerima akhir.

Ia mencatat nomor baris dan kode referensinya pada lembar pemeriksaan.

Kemudian membuka daftar transaksi terkait yang disediakan Lin Mei.

Ada tiga pembayaran dengan kode awal serupa.

Dua di antaranya memiliki dokumen pendukung.

Satu tidak.

Chen menatap baris terakhir.

Tanggalnya empat tahun lalu.

Sama dengan masa ketika ibunya membuat pengaduan.

Ia meraih buku catatan.

Belum sempat menulis, pintu ruangan terbuka.

Lin Mei masuk.

Wajahnya tampak lebih pucat daripada tadi.

“Kau sudah sampai mana?”

Chen menunjuk layar.

“Aku menemukan transaksi yang lampirannya tidak muncul.”

Lin Mei mendekat.

Begitu melihat kode HD-0417, langkahnya terhenti.

“Siapa yang menyuruhmu membuka itu?”

Chen mengerutkan kening.

“Kau yang memberiku laporan ini.”

Lin Mei menatap layar.

Kemudian ia menutup pintu perlahan.

“Chen, dengarkan aku.”

Nada suaranya membuat Chen menegakkan punggung.

“Apa?”

“Jangan membuka file lain yang berkaitan dengan kode itu.”

“Kenapa?”

Lin Mei melirik pintu.

“Karena ada orang yang sedang menunggu siapa pun yang mencarinya.”

Chen terdiam.

“Apa maksudmu?”

Lin Mei menarik kursi, tetapi tidak duduk.

“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan.”

“Kalau begitu, panggil Shen Mo.”

“Aku sudah mencoba.”

Chen meraih ponselnya.

Lin Mei tidak mencegah.

Justru itu yang membuat Chen semakin waspada.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Lin Mei menatap bocah itu dengan mata lelah.

“Aku pernah memeriksa pembayaran yang sama empat tahun lalu.”

Chen menahan napas.

“Lalu?”

“Setelah itu, seorang perempuan datang menemuiku.”

“Siapa?”

Lin Mei tidak langsung menjawab.

Ia membuka laci mejanya dan mengambil amplop putih yang sudah kusut.

“Perempuan itu menitipkan sesuatu. Dia bilang aku hanya boleh menyerahkannya kalau suatu hari ada orang yang kembali menanyakan transaksi tersebut.”

Chen memandang amplop itu.

Di bagian depannya tertulis satu nama.

CHEN.

Tulisan tangannya sangat dikenalnya.

Itu tulisan ibunya.

Chen berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

Lin Mei menatapnya dengan sedih.

“Ibumu memberikannya sendiri.”

Chen mengulurkan tangan.

Namun sebelum jarinya menyentuh amplop, terdengar ketukan di pintu.

Tiga kali.

Lin Mei langsung menegang.

Dari luar, suara seorang laki-laki terdengar sopan.

“Nona Lin, saya Sun Qiao. Kita perlu membicarakan berkas lama yang Anda simpan.”

Chen memandang pintu.

Lin Mei perlahan menarik kembali amplop itu.

Lalu berbisik dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

“Jangan sampai dia tahu ibumu meninggalkan surat ini untukmu.”

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!