Indonesia
NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagas Melihat Laras di TV

Sinar matahari pagi yang tajam menusuk celah dinding papan kontrakan, memaksa mata Bagas terbuka. Ia segera bangkit, merasakan nyeri di punggungnya setelah semalaman tidur di lantai beralas tikar tipis yang dingin. Suasana kontrakan itu terasa lebih pengap dari biasanya karena tumpukan barang yang tersisa berserakan tidak beraturan.

Ibu Melati masih mendengkur halus di pojok, sementara Siska tampak melamun dengan mata sembab menatap tumpukan kardus kosong. Bagas menghela napas panjang, mencoba menata pikirannya yang semrawut. Hari ini, ia tidak punya pilihan lain selain keluar dan mencari pekerjaan apa pun agar mereka bisa bertahan hidup.

Bagas melangkah keluar dari kamar, berniat mencari udara segar di lorong gang yang sempit. Namun, baru saja ia memegang gagang pintu, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mulut gang. Beberapa orang pria berpakaian safari rapi turun dari mobil tersebut, menarik perhatian warga sekitar yang mulai berbisik-bisik.

"Apakah ini tempat tinggal keluarga Pak Bagas?" tanya salah satu pria dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Bagas terpaku di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk. Ia menelan ludah, berusaha menegakkan punggung meski kakinya terasa sangat lemas. Pria berjas itu melangkah maju, memegang sebuah dokumen legal dengan logo firma hukum ternama yang sangat familiar bagi Bagas.

"Ya, saya Bagas. Ada urusan apa lagi kalian kemari? Bukankah tadi malam sudah cukup?" tanya Bagas dengan suara yang berusaha ia buat setegas mungkin.

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai meremehkan. Ia menyerahkan map tersebut kepada Bagas tanpa basa-basi sama sekali.

"Kami datang bukan untuk menyita, Pak Bagas. Kami datang untuk memberikan pemberitahuan resmi mengenai pengosongan paksa sisa aset yang masih tersangkut dalam perkara hukum," ucap pria itu dengan tenang.

Ibu Melati yang mendengar keributan di luar segera berlari keluar dengan wajah panik. Ia hampir tersandung kakinya sendiri saat melihat pria-pria berjas itu memenuhi lorong sempit tersebut.

"Siapa kalian lagi? Mau apa kalian datang ke tempat kumuh ini?" teriak Ibu Melati dengan suara melengking penuh kecurigaan.

Siska menyusul di belakang ibunya, ia memegang ponselnya dengan erat seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung. Matanya membelalak melihat orang-orang yang tampak jauh lebih berwibawa dibanding penagih utang semalam.

"Kami adalah utusan dari kantor hukum yang mewakili hak atas aset yang masih Anda kuasai," jawab pria itu sambil menatap tajam ke arah mereka bertiga.

Bagas gemetar saat membuka map tersebut dan membaca baris demi baris isi surat itu. Kertas itu berisi perintah untuk segera menyerahkan sisa dokumen asli yang selama ini mereka sembunyikan.

"Ini tidak masuk akal! Semua sudah habis! Apa lagi yang kalian inginkan dari kami?" desak Bagas dengan nada yang mulai meninggi.

Pria itu menghela napas, ia tampak sudah terbiasa menghadapi teriakan orang-orang yang putus asa. Ia menunjuk ke arah tas selempang yang selalu dibawa Ibu Melati ke mana-mana.

"Sertifikat tanah cadangan dan surat kuasa bank yang Anda simpan di dalam tas itu adalah hak milik yang harus segera dikembalikan hari ini," tegas pria tersebut.

Ibu Melati memeluk tasnya dengan erat, wajahnya berubah pucat pasi seketika. Ia menggelengkan kepala dengan panik, matanya menatap liar ke sekeliling lorong yang mulai dipenuhi oleh tetangga kontrakan.

"Tidak! Ini milik saya! Ini satu-satunya jaminan hidup saya di masa depan!" seru Ibu Melati dengan suara yang memilukan.

Siska ikut berteriak, suaranya terdengar pecah karena menahan tangis yang meluap. Ia mencoba membela ibunya dengan cara menyerang kredibilitas orang-orang di depannya.

"Kalian penipu! Laras pasti yang menyuruh kalian, kan? Dia ingin kita mati kelaparan, dia ingin kita benar-benar hancur!" tuding Siska dengan jari gemetar.

Pria itu tidak sedikit pun terpengaruh oleh tuduhan Siska, ia hanya menatap mereka dengan sorot mata dingin yang tidak terbantahkan. Ia memberi isyarat kepada rekannya untuk tetap berjaga di posisi masing-masing agar tidak ada yang melarikan diri.

"Ibu Laras tidak punya waktu untuk drama semacam ini. Kami hanya menjalankan tugas hukum berdasarkan putusan pengadilan yang sudah inkrah," jawab pria itu dengan nada datar.

Bagas merasa dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia menatap wajah ibunya yang ketakutan dan adiknya yang sedang menangis, lalu ia menatap pria-pria di depannya yang tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka cari.

"Bu, berikan saja dokumen itu. Kita sudah tidak punya jalan keluar lagi," bisik Bagas dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Ibu Melati menatap putranya dengan tatapan tidak percaya, matanya memerah karena amarah dan rasa tidak terima. Ia merasa dikhianati oleh anaknya sendiri yang kini tampak menyerah tanpa perlawanan.

"Kamu mau kita benar-benar menjadi gelandangan, Bagas? Kamu anak tidak tahu diuntung!" maki Ibu Melati sambil mencengkeram tasnya lebih kuat.

Bagas tidak membalas makian itu, ia hanya menunduk dalam-dalam. Baginya, setiap detik yang berlalu adalah siksaan batin yang terus menggerogoti sisa harga dirinya.

"Kalau Ibu tidak memberikannya secara sukarela, kami terpaksa harus melibatkan pihak kepolisian untuk melakukan penggeledahan paksa," ancam pria itu dengan nada final.

Suasana lorong menjadi sangat mencekam, hanya terdengar suara napas terengah-engah dari Ibu Melati. Tetangga sekitar yang menonton hanya bisa berbisik, tidak ada satu pun yang berani membantu keluarga yang selama ini dikenal angkuh itu.

Siska akhirnya terduduk lemas di tanah yang berdebu, ia tidak lagi memiliki energi untuk mempertahankan harga dirinya. Ia menutup wajah dengan tangannya, membiarkan air mata mengalir bebas membasahi pipinya yang kotor.

"Berikan saja, Bu. Sudah tidak ada gunanya lagi bertahan," rintih Siska di antara isak tangisnya yang mulai mereda.

Ibu Melati gemetar hebat, ia membuka kunci tasnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dengan berat hati, ia menyerahkan map biru yang berisi dokumen-dokumen itu kepada pria berjas tersebut.

Pria itu menerima map tersebut, memeriksa isinya dengan teliti di depan mereka. Setelah merasa cukup, ia menganggukkan kepala kepada rekan-rekannya sebagai tanda bahwa tugas mereka sudah selesai.

"Terima kasih atas kerja samanya. Mulai hari ini, Anda tidak lagi memiliki hak atas apa pun yang tertulis dalam dokumen ini," ucap pria itu sebelum berbalik pergi.

Mobil sedan hitam itu perlahan menjauh dari gang, meninggalkan Bagas dan keluarganya dalam keheningan yang menyesakkan. Bagas tetap berdiri mematung di pintu kontrakan, menatap jalanan yang kini tampak kosong dan hampa.

Ibu Melati masih duduk di tanah, meratapi nasibnya yang benar-benar sudah habis tak bersisa. Tidak ada lagi yang bisa mereka jual, tidak ada lagi akses ke kekayaan yang dulu mereka banggakan.

Siska bangkit berdiri dengan susah payah, ia masuk ke dalam kontrakan tanpa menoleh lagi ke arah kakaknya. Pintu kayu yang reot itu ia tutup dengan kasar, meninggalkan Bagas sendirian di luar.

Bagas menghela napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat di dadanya. Ia tahu bahwa mulai detik ini, hidup mereka benar-benar berada di titik paling bawah dari segalanya.

Ia tidak punya rencana untuk esok, tidak punya rencana untuk makan siang, bahkan tidak punya tempat untuk mengadu. Bagas hanya bisa berdiri di sana, menatap langit kota yang mendung, menunggu kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir.

Malam itu, di dalam kontrakan sempit, mereka bertiga terjebak dalam kehampaan yang nyata. Tidak ada lagi percakapan, tidak ada lagi rencana masa depan, yang ada hanyalah keheningan yang mencekam di antara dinding-dinding lembap yang terus menekan jiwa mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!