Kisah seorang perempuan yang memilih antara lelaki pilihan Orang tua atau pilihan dari Allah. Jalan manakah yang ia pilih?
Kisah ini hanyalah fiksi belaka. Sebagian nama tempat benar dan nama tokoh hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hastinar Halimudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebaran Idul Fitri di Rumah
“Kayaknya saya tidak mau lanjutkan lagi eee… soalnya saya tidak mau kuliah sambil tinggal di rumahnya orang. Saya tidak enak sama Mamanya Rayna” Aufa sangat hati-hati berbicara meskipun ia tahu kalau hati bapaknya kecewa mendengar jawabannya.
“kenapa? Padahalkan bapak sudah berharap kamu bisa kuliah di sana. Apalagi mereka Mamanya Rayna mau tanggung kuliahmu sampai selesai.” Bapak berusaha membujuk anak perempuannya itu agar tetap mau kuliah ikut Mama Rayna di Kendari.
“Saya tidak mau kuliah kalau tinggal di rumahnya orang, bapak. Saya tidak enak sama mereka.” Aufa tetap yakin sama keputusannya.
“ soalnya masa saya kuliah baru mereka Mamanya Rayna yang memasak, mencuci? Apalagi pas saya pulang makanan sudah ada di atas meja. Saya tidak enak eee..” alasan Aufa membuat bapaknya merasa heran.
“kenapa memangnya? Padahalkan kamu tidak sengaja toh? Lagian kan kamu bisa kerja kalau sudah pulang dari kuliah toh” Bapak Aufa masih mencari cara agar anaknya itu tetap kuliah.
“Saya mau kuliah, tapi tahun depan saja dulu. Ikut Rian nanti katanya dia mau uruskan saya masuk Bidikmisi toh?” Aufa berusaha meyakinkan Bapaknya agar tidak memaksanya ikut Mama Rayna di Kendari.
Hari semakin larut, sedangkan Aufa dan bapaknya masih bergelut dengan buras dan lapa-lapa untuk menu lebaran Idul Fitri besok hari.
Malam ini tanda-tanda bapak akan begadang sampai subuh, karena untuk memasak Buras dan Lapa-lapa membutuhkan waktu berjam-jam agar bisa matang dengan sempurna.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga berurusan dengan membuat makanan lebaran yang lumayan menguras tenaga ini” Aufa berdiri merenggangkan otot-otonya, pinggang dan tangannya terasa kaku, kedua kakinya mati rasa karena duduk sampai dua jam.
Selesai membersihkan bekas-bekas daun pisang, daun kelapa dan abu-abu nasi yang berantakan di lantai, Aufa pun bergegas ke kamarnya untuk segera tidur.
Mamanya yang sejak tadi tertidur dan adik-adiknya juga sudah pulang dari keliling pawai takbiran.
Orang-orang sudah tertidur, suara takbiran pun tidak kedengaran lagi akan dilanjutkan esok hari setelah shalat subuh.
Sedangkan bapak masih berhadapan dengan satu panci besar yang berisikan buras dan lapa-lapa, panci besar itu dimasak di atas tungku kayu bakar.
Setiap menit Bapak memastikan kalau kayunya tidak habis agar apinya tidak mati, jangan sampai buras dan lapa-lapanya tidak matang sempurna.
Malam itu Bapak tidak sendiri, ia ditemani oleh anak laki-lakinya, Gafur.
Mereka berdua bergantian melihat kayunya agar api tidak mati. Selain mereka berdua, ada juga tetangga-tetangga mereka yang begadang untuk memasak buras dan lapa-lapanya.
Bahkan ada juga beberapa dari tetangga mereka yang bakar-bakar ayam untuk dimasak opor atau dimasak gulai sesuai selera masing-masing. Hanya Gafur dan bapaknya yang tidak pernah bakar-bakar ayam ketika lebaran. Bukan tidak mau, kurangnya ekonomi lah yang membuat mereka tidak bisa menyiapkan menu daging itu ketika lebaran tiba.
...***
...
“Allahhu akbar.. Allahhu akbar.. Laa illah haillah.. Wallahu akbar” Setelah shalat subuh, masjid-masjid mengumandangkan takbir di mana-mana.
Pagi itu Aufa dan keluarganya bersiap-siap untuk mandi agar tidak terlambat ke lapangan untuk shalat.
Pagi hari itu cuaca sangat bagus, tidak ada hujan atau gerimis sama sekali, sangat cocok untuk para warga melaksanakan shalat di lapangan.
Jarak lapangan dengan rumah Aufa tidak begitu jauh, hanya kurang dari 1 kilometer sudah sampai. Mereka tidak perlu memakai kendaraan agar sampai di lapangan.
Bapak dan kelima adik-adik Aufa telah selesai mandi, mereka sudah siap-siap untuk berangkat. Sisa Aufa dan mamanya yang belum mandi.
“Kamu duluan sudah, Fa. Soalnya Mama mau siapkan air panas kasih masuk di termos biar tidak dingin”
Mama Aufa sebelum subuh sudah bangun, mencuci piring, membersihkan seluruh rumah dari ruang tamu, ruang tengah dan dapur.
Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh perempuan baya itu menyapu halaman rumah mereka. Saat Aufa membuka matanya, ia mendengar suara sapu lidi di samping kamarnya.
Mama Aufa memang sangat rajin, beliau terbiasa melakukan pekerjaan rumah sejak beliau kecil dulu. Mama yang hanya lulusan SD dan menikah saat ia sudah baligh.
Perempuan berlesung pipi itu menikah di usianya masih sangat muda, sekitar 13 tahun dengan bapak sekitar 29 tahun.
“Mama mau pergi shalat Idul Fitri kah tidak ini?” Aufa sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke lapangan.
“duluan saja, tapi kayaknya Mama nggak pergi, soalnya Mama lagi datang bulan tidak shalat” perempuan paruh baya itu melanjutkan pekerjaannya.
Beliau adalah sosok ibu yang Aufa sayangi, perjuangan dan kesabarannya mengatasi sikap ketujuh anak-anaknya membuat Aufa kagum sama perempuan yang melahirkannya itu.
Di lapangan, warga memadati lapangan. Tidak hanya dari desa mereka yang melaksanakan shalat di lapangan tersebut, ada warga dari Awainulu, Takimpo dan sebagian dari Desa Laburunci.
Suasana yang sangat ramai membuat Aufa bahagia melihatnya. Ada senyuman di bibirnya, matanya bekaca-kaca dengan pemandangan seperti ini.
Seperti biasa, Aufa memperhatikan orang-orang disekelilingnya, di kiri kanan belakang dan di depannya, mereka semua memakai pakaian baru, mukenah baru, sandal dan sepatu baru, bahkan sajadah mereka pun baru-baru.
Sedangkan Aufa jarang mengenakan barang baru, masih ada pakaian tahun-tahun sebelumnya yang masih kelihatan baru saja sudah membuatnya bersyukur.
Lebaran tahun ini Aufa tidak bisa lagi jalan-jalan seperti tahun-tahun sebelumnya bersama teman-temannya. ia memilih di rumah saja tanpa pergi silaturahmi di rumah-rumah teman dan guru-gurunya yang berada di satu kampung dengannya.
Kring..kring..kriiing.. suara hp Aufa berdering dari dalam kamarnya. Aufa malas-malasan untuk melihatnya.
“Fa, lihat dulu siapa yang telfon” Bapaknya mengingatkannya agar anaknya itu tidak berlarut-larut dalam kebingungan.
“Sabar dulu.. Mau salam-salaman dulu toh sama kalian” Aufa dan yang lainnya tidak langsung melakukan kegiatan lainnya sebelum berjabat tangan bersama.
Dimulai dari Aufa yang berjabat tangan dan meminta maaf kepada bapaknya, Gafur yang berjabat tangan dengan Mamanya. Sedangkan keempat adiknya mengantri di belakang kakak-kakanya untuk bergantian berjabat tangan.
Sudah menjadi kebiasaan mereka saat pulang dari masjid atau lapangan shalat Idul Fitri, Idul Adha untuk berjabat tangan dan meminta maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tua mereka.
Selesai itu diakhiri berjabat tangan dan meminta maaf antara kakak adik, saling maaf memaafkan.
Selesai berjabat tangan, Mamanya menyiapkan minuman dan kue-kue di ruang tengah.
Kue-kue dan minuman manis itu mereka dapatkan dari orang-orang yang baik hati, THR dari orang-orang kaya. Selain itu, bapak mendapatkan THR dari beberapa anak tetangganya yang semasa kecilnya dapat banyak bantuan dari bapak Aufa, sebagai bentuk terima kasih mereka terhadap beliau.
Kring… kring.. kriing.. suara hp Aufa lagi-lagi berbunyi, Aufa mengangkatnya saat panggilan yang ketiga
“Halo.. bagaimana itu?” Sapa Aufa saat melihat ada nomor baru yang masuk.
“Fa, ini saya Dea. Yang waktu itu ambil nomormu pas ujian di kampus UMK itu loh” suara dari seseorang bernama Dea.
“oh, Dea. Bagaimana?” Aufa mencoba mengingat-ingatnya sebentar lalu bertanya lagi
“Sudah ada pengumuman kah?”
“Iya. Alhamdulillah namamu sama namaku lulus. Nama-nama ditempel di dinding pengumuman di kampus. Dekat dengan gedung ujian kita waktu itu” Kabar bahagia itu tidak direspon oleh Aufa.
“Oh iya. Alhamdulillah. Terima kasih ya sudah mau kasih tahu saya”
Aufa mematikan teleponnya tapi kabar kelulusannya itu tidak ia kasih tahu orang tuanya.
“Dari siapa, Fa?” Mamanya bertanya sambil menyiapkan daun sirih, pinang, beberapa buah rokok dan beberapa perlengkapan untuk ditempatkan di kuburan-kuburan keluarganya yang meninggal.
“Mama mau pergi berziarah sama siapa?” Aufa mengabaikan pertanyaan Mamanya tadi, malah memberikan pertanyaan lain agar otang tuanya tidak tahu bahwa ada kabar tentang kuliahnya.
/Frown//Frown/
hahhaa.
menyemangati diri sendiri nggak apa2 kan. wkwkwk