Senja Rinjani seorang mahasiswi pekerja keras harus menelan kekecewaan ketika Kevin yang telah tiga tahun bersamanya ternyata berselingkuh dengan pemilik Cafe tempat dia bekerja
Takdir mempertemukan Rinjani dengan Aditya Erlangga, laki laki yang menarik diri dari hal hal yang berkaitan dengan wanita karena traumanya yang mendalam
Bagaimana mereka pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Khayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan
Aditya POV
Terbangun dengan Rinjani di dekapan, selama beberapa detik aku terkejut, dan teringat bahwa saat ini hubungan ku dengan Rinjani sudah ada peningkatan.
Aku menciumi rambutnya yang wangi floral, sepertinya kami menikmati malam bersama, meski hanya berpelukan, setidaknya ini melebihi ekspektasi ku. Dia sangat nyaman berada diperlukan ini, apakah dulu kami sering melakukan hal romantis seperti ini?seandainya saja aku mengingatnya.
Kalau saja Kevin tidak menceritakan pengkhianatan yang dilakukannya, mungkin aku masih berprasangka buruk pada gadis ini, dari semua hal yang diceritakan Kevin tentang Rinjani, aku yakin dia jujur, semoga saja ingatan ku segera kembali.
Jadi selama ini kami menjalani hubungan ini secara diam-diam, mengapa aku menurutinya?apakah aku begitu mencintainya?, apa yang begitu istimewa dari gadis ini selain keistimewaan yang diceritakan Kevin?banyak sekali pertanyaan mengenai Rinjani dan hubungan ini.
Aku memandangi wajahnya yang sedang tertidur pulas, ah... dia memang gadis yang sederhana tapi manis, dan sejauh ini yang aku sukai dari dia adalah penurut dan tak banyak menuntut, sangat berbeda dengan Natalie yang tak mau diatur oleh siapapun, tidak ada yang mirip antara mereka berdua.
Ku lihat bibir nya yang merah, dan memberanikan diri menciumnya, hanya sekedar ingin mengecup saja tidak lebih, tapi setelah bibir ini menyentuhnya, aku seperti ketagihan dan tak mau lepas. Aku menggeser posisi dengan perlahan, kini bisa dengan bebas menciumnya.
Aku mulai menarik bibir bawahnya, sebenernya aku takut Rinjani akan marah karena diam-diam menciumnya, sebaiknya segera ku sudahi ciuman ini, mungkin saja dia tak nyaman.
Ketika aku ingin melepaskan bibirnya, tiba-tiba dia mengalungkan tangannya nya ke leher ku, matanya masih terpejam, mungkin malu. Baiklah tak apa, jika dengan menutup mata dia lebih nyaman.
Kini ciuman tidak hanya dari satu pihak saja, kami sama-sama menikmati dan detak jantung kami berdetak kencang. Ini bukan pengalaman pertama ku, tapi sepertinya sudah lama aku tak menyentuh bibir seorang wanita.
Suara penyatuan bibir kami terdengar jelas, membuat adrenalin ku naik turun, syaraf-syaraf ikut menegang. Kenapa bisa senikmat ini berciuman dengannya, kini tangan ku mulai tak terkontrol.
Aku memberanikan diri meraba bagian dadanya, setelahnya melepaskan tautan bibir kami dan menciumi bagian dadanya dari luar, seraya tangan ini meremas-remas gunung kembar miliknya. Terdengar desahan tak beraturan dari mulutnya dengan mata yang masih terpejam.
"engh....akh...mas....", desahannya semakin membuat semangat, aku menyingkap dasternya dan meraba bagian mahkotanya, dari luar underwear nya, ternyata sudah basah, sepertinya dia sudah siap menyerahkan segalanya saat ini, aku tersenyum senang karena tau ini adalah pengalaman pertama baginya.
Aku memainkan mahkotanya dengan gesekan jari dari luar underwear nya mulai dari perlahan lalu mempercepat ritme, seraya menciumi dada bagian luar, dia menggelinjang hebat mencapai klimaksnya. Aku menyudahi aksi ku dan raut mukanya terlihat kecewa.
"Buka mata kamu sayang,,," ucap ku, dia membuka mata,dan langsung bersembunyi di dalam pelukan ku
"Aku malu mas," jawabnya
" Gak apa-apa sayang, ga usah malu, tapi maaf Aku tak bisa melakukan nya sekarang, apa kamu kecewa?," pertanyaan bodoh yang aku lontarkan, melihat ekspresinya terlihat jelas kecewa.
" Iya mas gak apa-apa, kita masih punya banyak waktu, lagian mas Aditya juga masih sakit," jawabnya, syukurlah dia mengerti apa yang aku maksud, dengan kondisi ku yang sekarang, aku tak bebas melakukannya dan sejujurnya hati ini juga belum sepenuhnya siap, tapi dengan pengalaman tadi, setidaknya kami sudah saling nyaman.
" Aku akan bersiap-siap," ucap ku
"nanti Sekalian aja mas, kita beli kado untuk cucunya pak Syukur," ucap Rinjani
"Boleh, semalam aku sudah meminta pak Budi membelikan kursi roda, kita akan lebih leluasa bergerak kalo aku pakai kursi roda untuk keliling mall,"
"baik, aku akan menyiapkan baju untuk mas,", Rinjani bergegas bangun dari tempat tidur
****
Author POV
Kevin terbangun ketika mendengar suara bel, langkahnya gontai karena masih belum sepenuhnya sadar, semalam dia menghabiskan waktu di cafe bersama Bagas dan Nisa.
Kevin mengintip dari door view, untuk mengetahui siapa yang datang, karena dia baru beberapa hari tinggal di Apartemen, mustahil jika temannya datang, bahkan dia belum mengabari teman-temanya kalo saat ini ada di Yogyakarta.
"Clara?," ucap Kevin dalam hati, seraya membuka pintu, bertanya-tanya tau dari mana Clara tau dia saat ini berada di Yogyakarta, tepatnya di Apartemennya.
"hai Vin," sapa Rara dengan senyuman iklan pasta gigi
"masuk Ra, tau dari mana aku di Yogyakarta?," tanya Kevin
" Ada deeh," jawab Clara dengan genit
Clara terus menempel pada Kevin saat di London, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mendekatinya, meskipun Kevin secara terang-terangan menganggapnya tidak lebih dari teman.
Kevin tidak bisa mengabaikan Clara karena orang tua mereka bersahabat, sejauh ini sikap dan tindakan Clara masih wajar-wajar saja. Kevin juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Clara mengenai perpisahannya dengan Rinjani, karena dia juga salah.
" anterin aku yuk beli kado untuk mamah,besok beliau ulang tahun," ucap Clara
" oke aku mandi dulu," jawab Kevin, dia mengiyakan ajakan Clara, lagipula hari ini dia tidak ada kegiatan apa-apa.
"Okeh aku tunggu," Clara berbunga-bunga, ketika Kevin menerima ajakannya, dia sangat berusaha mendapatkan hatinya, meskipun Clara tau, Rinjani belum bergeser hari hati Kevin.
****
Rinjani dan Aditya memasuki sebuah mall mewah dan terbesar di Yogyakarta, meski harus mendorong kursi roda, dia tetap bahagia, bisa jalan-jalan dengan Aditya, kegiatan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
"kita ke butik dulu," ucap Aditya, Rinjani hanya mengangguk, mendorong kursi roda menuju lift dan menekan nomer tiga. Mereka menuju butik yang mempunya gerai paling luas di lantai tersebut, tentu saja karena Mall itu milik Erlangga Group.
Di pintu masuk Butik, seorang wanita dengan name tag bertuliskan Supervisor menyambut mereka dengan ramah
"Selamat datang pak, Bu..silahkan," Sapa wanita yang bernama Yola
" Apakabar pak Aditya? semalam ibu Julia memberitahu saya bahwa pak Aditya beserta isteri akan datang, Ada yang bisa saya bantu pak?," ucap Yola dengan ramah
" Temani istri saya memilih baju yang dia perlukan," jawab Aditya
" Baik pak," Yola memberikan isyarat kepada beberapa karyawan, dan mereka dengan sigap mendekat
" Aku enggak pandai memilih baju, minta tolong masukannya yah mba," Rinjani berusaha menjaga wibawa Aditya di hadapan karyawan ibunya, Aditya tersenyum dengan sikap Rinjani, tak banyak yang bisa dilakukannya, hanya bisa memberikan komentar mengenai baju yang dicoba oleh isterinya dari kursi rodanya.
Setelah dua jam memilih dan mencoba, Rinjani memilih 25 baju yang dibungkus dalam beberapa paper bag,
"mas ini kebanyakan ga?," bisik Rinjani dengan menunduk
"kurang?," jawab Aditya dengan tertawa
"iiih....au ah...," Rinjani berdecak kesal, sesaat kemudian dia tersenyum bahagia
" Minta tolong Antar semua baju itu ke rumah ku ya," pinta Aditya pada Yola
"Baik pak, akan segera kami antar" jawab Yola,
"Terimakasih," ucap Aditya,
"Sama - sama pak," jawab Yola,
"Terimakasih ya mba," Rinjani menyalami beberapa karyawan yang membantunya, sambil berbisik ,
" ini ada tips, terimakasih yah sudah membantu, bagi rata yah buat temen-temen yang lain," ucap Rinjani
" Terimakasih banyak Bu, " Karyawan itu senang sekali dengan uang tips yang diberikan Rinjani
Setelah itu mereka keluar dari butik menuju toko perlengkapan bayi,
" Mas tadi aku ngasih tips buat mereka, ga apa-apa kan?," Tanya Rinjani sembari berjalan mendorong kursi roda,
"Berapa?,"tanya Aditya
"500 ribu mas, kebanyakan yah?soalnya biar bisa dibagi sama karyawan yang lain," jawab Rinjani, takut kalo Aditya marah,
" sedikit amat ngasihnya," Aditya meledek Rinjani
"sedikit?itu bagi ku banyak mas," Rinjani membalas ledekan Aditya
Aditya tersenyum bahagia, satu hal lagi yang dia ketahui hari ini, isterinya seorang yang sangat peduli.