Bolak balik jatuh cinta pada seorang wanita dewasa, sudah menjadi hal biasa bagi Reno Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fithria sulaeman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan panggil 'Mbak!'
"Ren, mau ikut gak?" tanya Rio saat jam pulang sudah tiba. Anak anak-- ah, maksudku para siswa dan siswi lainnya, sudah mulai berhamburan keluar dari ruangan kelas.
"Kemana?" balasku yang tak mengiyakan dan tak menolaknya terlebih dahulu. Karena aku ingin tahu, ke mana sekarang Rio akan mengajakku.
"Ketemuan dong, sama Raisa. Katanya, Raisa mau ngajak kak Rena juga. Ya ... setelah kejadian itu, siapa tahu aja bukan, dia kecantol sama Elu!"
"Si-alan Lu! Emang lu pikir gua umpan? Terus, dia ikannya gitu?!" balasku sambil menjitak kepalanya. Namun, belum juga kena, Rio sudah terlebih dahulu kabur dari hadapanku. Membuat tanganku tak jadi menjitak kepalanya.
"Kalau mau ikut, ikutin gua," katanya sedikit mengeraskan suara.
"Cih! Kayak dia bawa motor aja," kataku mencibir.
Rio tiba tiba saja berbalik badan, menatapku intens. "Buruan bro! Lama amat jalannya!"
Keningku berkerut. "Kapan gua bilang mau ikut?"
"Ya elah! Tinggal ikut aja, Napa sih? Apa susahnya coba? Lagian kan di sana ada Rena. Gak kasian apa, bayangin dia jadi nyamuk di antara gua sama Raisa?"
"Kenapa musti gua kasian. Emang Rena siapa gua?" balasku dengan mata yang menatap lekat ke arahnya.
"Ya ... kali aja, mau di jadiin pacar. Atau kalau gak pacar, temen Deket deh. Lu kan suka sama yang lebih dewasa. Nah Rena itu kan lebih dewasa dari kita umurnya. Cocok tuh, sesuai sama kriterianya elu!"ujar Rio sambil cengengesan.
Kepalaku geleng geleng mendengar ucapan konyol darinya. Rio tau sekali, kalau aku memang menyukai seorang wanita dewasa.
"Udah ayo!" Tangannya melambai, memintaku untuk berjalan lebih cepat menghampirinya.
Mau tak mau, aku mempercepat langkah kakiku. Hingga akhirnya kami berjalan beriringan.
Rio merangkul pundakku. Tapi, dengan segera aku menepisnya.
"Ya elah! Cuma gitu doang, juga!" ujar Rio sedikit menggerutu.
"Gua masih normal buat di rangkul kayak gitu. Emang Lu pikir, gua ini cowok apaan? Sorry ya, Ri. Gua gak suka cowok. Gua sukanya cewek tulen. Bukan yang jadi jadian pula. Mending lu jauh jauh deh!" Aku menyuruhnya menjauh sedikit, agar jangan terlalu dekat denganku.
"Ape sih?! Lu kira gua gak normal apa? Gua juga normal keles! Kalau gua gak normal, gak mungkin gua ngajak Raisa jadian. Dasar jamet Lu!"
Hem. Rio rupanya tak terima, hingga ia membalas ucapanku tak kalah nyaring.
***
"Di sini, lu ketemuan sama Raisa?" tanya Rio saat kami sudah tiba di sebuah tempat makan lesehan.
Suasananya cukup ramai. Banyak remaja yang datang ke sini. Tak jarang juga, beberapa orang dewasa, juga ada di sini. Menikmati makan sambil melihat ke kolam ikan yang tepat berada di depan.
Tenang kurasakan. Tempat makannya nyaman. Rio ternyata pandai memilih tempat makan.
"Nah itu." Rio bersuara. Ia menunjuk ke arah dua orang wanita yang sedang duduk menikmati es teh manis di masing masing tangan mereka. Tatapan Raisa bertemu dengan Rio. Hingga sebelah tangannya melambai, menyuruh Rio dan aku untuk menghampiri ke arahnya.
Ku lirik wanita di samping Raisa. Ia masih betah menyeruput es di tangannya sambil memandang ke arah kolam. Melihat ikan ikan yang sepertinya juga sedang kelaparan, karena ada beberapa orang yang sedang memberi mereka makan.
Suara gemericik air dari kolam, nyatanya mampu membuat wanita itu betah berlama lama untuk menatap ke sana. Tanpa memedulikan, saat ini di sebelahnya sudah ada aku dan Rio.
"Udah lama ya, Ra?" tanya Rio pada gadis manis yang masih belum ku ketahui, apakah sudah jadi pacarnya Rio apa belum.
Gadis itu menggeleng pelan, "enggak kok--"
"Enggak apaan? Udah dari tadi kok! Setengah jam mungkin, kita nungguin." Wanita di samping Rena menyambar ucapan Raisa secara tiba tiba. membuat Riasa langsung meringis mendengarnya.
Tak lama, Raisa memasang wajah penuh dengan senyuman. Menangkupkan kedua tangan di depan, meminta maaf melalui ekspresi wajahnya, mengenai ucapan Rena barusan.
Sungguh aku tak menyangka, dia bisa bicara dan memotong ucapan Raisa secara tiba tiba. Padahal yang ku tahu barusan, ia masih asyik memandangi ikan di kolam. Taunya, telinganya ternyata terpasang dengan baik. Mendengarkan dengan saksama, apa yang Rio tanyakan pada Raisa. Padahal kutahu juga, Rio hanya sekedar berbasa basi saja.
"Wah, udah lama ternyata. Maafin ya, Kak. Ini semua gara gara Reno nih. Kita jadi terlambat datang ke sini," ujar Rio yang tak di sangka malah menyalahkan aku atas keterlambatan Kami datang ke sini.
Mataku melotot tajam ke arahnya. Berharap dia takut dan merasa bersalah karena telah menjadikan aku sebagai kambing hitam di sini. Namun nyatanya, jangankan untuk melihat wajahku yang sedang menempelkan ekspresi protes, melirikku saja dia tidak.
Benar benar si Rio ini. Udah di anterin datang ke sini, sekarang malah menyalahkan aku lagi.
Kurang asem memang!
"Lain kali, kalau ada janji mau ketemuan sama orang tuh, harus tahu waktu. Jam berapa janjiannya? Maka, kalian harus sampai sesuai jam yang udah di tentukan. Bukan malah seenaknya aja datang sesuka hati. Pegel tau nungguinnya," ujar Rena lagi.
Aku agak heran. Kemarin, dia baru aja ku tolong. Sikapnya juga udah sedikit lebih manis. Tapi sekarang, mulut macannya kembali mengeluarkan kata kata mutiara yang bikin bulu kuduk berdiri. Bukan karena takut. Tapi, lebih kepada kesal dan jengkel.
Hah! Merasa tak berguna aku menolongnya kemarin.
"Jangan galak galak dong Mbak! Lagian, suruh siapa juga pakai ikut segala. Gak ada yang nyuruh kan?" balasku dengan mata yang menatap lekat ke arahnya.
"Kata siapa gak ada yang ajak? Aku loh, di ajak sama Raisa." Dia membalas ucapanku rupanya.
Suaranya agak sewot terdengar.
"Lah, suruh siapa mau?" balasku dengan bertanya sambil memojokkannya.
"Tentu aja aku mau. Dia ini kan gadis. Lulus es-em-a aja belum. Udah mau main ketemuan ketemuan segala. Tentu aja aku panik. Ku temani lah Raisa. Lagian, kalah Raisa kenapa kenapa gara gara kalian, emangnya kalian mau tanggung jawab gitu?"
Loh! Kok jadi ke sana? Dia ini bicara apa sih? Aku bingung mendengarnya.
"Dengerin ya, mbak Rena yang gak cantik cantik amat!" ujarku, dia melotot.
"Enak aja, panggil aku dengan sebutan mbak mbak segala. Aku masih belum terlalu tua ya, buat di panggil dengan sebutan mbak!" Dia nyolot kali ini. Wajahnya sewot, matanya melotot.
Hiiih! Ngeri kali aku lihatnya. Tubuhku sampai merinding di buatnya.
Dan, ucapannya yang barusan, juga sukses membuatku ingat pada seseorang. Seorang wanita yang juga tak mau di panggil dengan sebutan mbak. Sama seperti Rena.