Frischa, Anjela, Reni, Vhia, Irlan, Cherly, Elisa adalah tujuh sahabat di masa kuliah semester awal sampai menyelesaikan perkuliahan. Persahabatan mereka begitu harmonis, dan banyak teman-teman kampus mereka menjuluki mereka Genk Kompak. Ketujuh sahabat itupun memiliki kekasihnya masing-masing.
Tetapi seiring berjalannya waktu disaat mereka semua sudah bekerja, ada sebuah konflik yang harus membuat mereka terpecah dan saling bermusuhan. Mereka semua memusuhi Frischa. Dengan segala tuduhan dan fitnah yang di lontarkan kepada Frischa, bahkan keluarga Frischa pun tidak mempercayai Frischa. Bahkan sang kekasih pun tega mengkhianati Frischa.
Akankah Frischa membalaskan perbuatan para sahabatnya ataukah persahabatan mereka kembali seperti sedia kala? Dan apakah hubungan percintaannya dengan sang kekasih berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha_Agatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Reni dan Anjela
Tiga bulan berlalu dan kini kehamilan Frischa sudah menginjak bulan ke lima. Tidak ada lagi morning sickness atau Couvade Syndrome yang di alami oleh Frischa maupun Bastian.
Bastian sudah mulai kembali bekerja dan Frischa pun sudah mulai membuka kembali les privat untuk anak-anak.
"Sayang, boleh tidak mas ke kantor polisi untuk mengurus masalah Reni dan teman-temannya." Tanya Bastian ketika sedang sarapan bersama.
"Aku ikut ya mas." Ucap Frischa.
"Kamu yakin sayang?" Tanya Bastian memastikan.
"Iya mas. Aku yakin. Boleh ya kalau aku ikut."
"Ya sudah, kamu selesaikan sarapannya setelah itu siap-siap ya."
"Oke mas."
Setelah menyelesaikan sarapan dan bersiap-siap, Bastian dan Frischa pun bergegas untuk ke kantor polisi bersama.
"Mas, seandainya kalau aku mencabut tuntutan itu boleh tidak ya?" Ucap Frischa.
"Maksudmu bagaimana sayang?" Bastian bingung dengan ucapan Frischa.
"Jujur mas, aku pengen melepaskan mereka semua. 8 bulan mereka mendekam di penjara sudah menjadi pelajaran berharga untuk mereka. Apalagi sekarang aku sedang hamil, aku hanya ingin semuanya baik-baik saja mas." Tutur Frischa.
"Mas paham maksudmu sayang. Tapi kita harus konsultasi dulu sama pengacara ya."
Lima belas menit menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai di kantor polisi.
Bastian pun meminta ijin kepada petugas untuk bertemu dengan Reni dan teman-temannya. Setelah diijinkan Bastian dan Frischa di arahkan untuk menuju ke ruangan besuk.
Tak lama kemudian muncullah Reni dan Anjela.
"Cha..."
"Cha, maafkan kami berdua. Kami sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal padamu. Dan mungkin maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahan kami itu." Tutur Reni lirih sambil memeluk Frischa dengan terisak.
"Cha, masih pantaskah aku disebut sahabatmu? Masih pantaskah aku mendapatkan maafmu. Aku bodoh Cha, sangat bodoh." Anjela pun ikut terisak dalam pelukan Frischa.
"Ren..Ela..ayo kita duduk. Kalian berdua tetap akan menjadi temanku, ya walaupun mungkin ke depannya kita tidak akan sedekat dulu. Tetapi aku bahagia kalau kalian sudah menyesali perbuatan kalian." Ucap Frischa.
"Aku paham, Cha. Mungkin ini hukuman untuk kami berdua. Tetapi kami berdua tulus meminta maaf padamu." Ucap Anjela sesegukan.
"Ela.. sudah ya. Semuanya sudah terjadi. Dan yang sekarang perlu kita lakukan adalah menata masa depan kita." Ucap Frischa dengan tersenyum.
"Cha, kamu hamil" Tanya Reni ketika melihat perut Frischa yang membuncit.
"Hehehe, iya Ren. Aku sudah menikah 6 bulan yang lalu dengan Bastian. Dan sekarang aku hamil 5 bulan." Ucap Frischa.
"Selamat ya, Cha. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Aku doakan semoga kamu bahagia selalu." Ucap Reni tulus.
"Makasih ya, Ren."
"Oh ya, Ren. Lena mana ya?" Tanya Frischa penasaran.
"Le-Lena di rumah sakit jiwa, Cha." Ucap Reni dengan tertunduk.
"Rumah sakit jiwa?" Tanya Frischa dan Bastian hampir bersamaan.
"Iya, Cha. Lena stres karena dia keguguran dan yang lebih mengejutkan itu adalah ternyata anak yang dia kandung bukan anaknya Evan, Cha. Makanya Lena stres ketika keguguran, Evan langsung meminta orang tuanya untuk mengurus perceraian mereka." Reni pun menjelaskan tentang keadaan Lena.
"Ya Tuhan." Ucap Frischa.
"Itulah yang membuat kami berdua menyesal, Cha. Aku malu melakukan hal itu padamu. Demi membela sepupuku yang jalang itu, aku harus mengkhianati sahabat terbaikku dan merencanakan hal yang memalukan itu." Ucap Reni penuh penyesalan.
"Sudahlah, Ren. Semuanya sudah berlalu, dan aku tidak mau terlalu lama menyimpan dendam pada kalian semua."
"Kedatanganku dan suamiku juga untuk mencabut laporan itu. Sudah cukup hukuman untuk kalian." Lanjut Frischa.
Setelah mengatakan maksud kedatangan mereka, terlihat raut wajah haru dan bahagia dari Reni dan Anjela.
Reni dan Anjela sudah benar-benar menyesali perbuatan mereka terhadap Frischa. Apalagi Reni yang benar-benar malu, hanya karena membela sepupunya yang penipu itu dia tega mengkhianati sahabat yang begitu baik.
Karena jam kunjungan sudah selesai, Frischa dan Bastian pun pamit untuk pulang. Dan Bastian pun sudah menghubungi pengacara untuk mengurus pencabutan laporan untuk Reni dan teman-temannya di kantor polisi.
*Bersambung..
Bab selanjutnya sedang di review yah🙏🙏