Indonesia
NovelToon NovelToon
Four Paths Of Love

Four Paths Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Masalah Pertumbuhan / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Cinta Murni
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: LilleMoone

Sebagai gadis yang tidak terlalu gemar bersosialisasi, Luna Cassiopeia memiliki tujuan utama untuk masa abu-putihnya. Belajar, bermain bersama sahabat-sahabatnya, Gea Therresia Lucille, Alicia Anastasia serta Jennyta Bella Maharani, kemudian lulus.

Namun nampaknya keinginannya yang sederhana tidak dapat berjalan dengan mulus saat takdir terus menerus mempertemukan dan melibatkannya dengan tetangga barunya yang diberi predikat Pangeran Galatia yang baru karena paras pun karena kecerdasannya, Astra Binantara Putra. Pun yang dikenal sebagai Kulkas Berjalan karena sikap acuh tak acuh dan kepribadian dinginnya, namun punya pesona yang membuatnya memiliki ribuan pengagum.

Menghadapi Astra dan hubungannya bersama sahabat-sahabatnya, Luna merasa bahwa masa abu-putihnya tidak akan sesederhana itu hanya untuk belajar dan lulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ATOTFS 35: Joanna Juga Mau

Itu sudah hampir jam 10 malam ketika Joanna akhirnya menginjakkan kakinya ke rumah. Setelah hampir setengah hari menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, Joanna merasa lelah bukan main, namun setelah melalui kegiatan yang sama secara berulang sejak ia masih kecil hingga sekarang, Joanna tidak memiliki ekspresi lelah atau tanda-tanda perubahan suasana hati diwajahnya yang senantiasa tenang.

"Bagaimana lesnya hari ini, nak?"

Mayra bertanya kepada sang putri. Joanna menganggukkan kepalanya dengan tenang dan membalas, "Seperti biasanya ma. Guru bilang aku sudah banyak memahami materi yang setingkat kelas tiga."

Mendengar apa yang disampaikan oleh sang putri membuat Mayra sedikit mengerutkan kening dan berucap. "Kelas tiga?"

Wanita itu menghela napas panjang. "Belajarlah lebih giat. Mama akan memberitahu guru agar mulai memberimu materi perkuliahan sejak dini sehingga kamu tidak akan terkejut dimasa depan. Ingat Anna. Kamu harus belajar dengan rajin, berkuliah di universitas bergengsi dan dapatkan gelar profesor dimasa depan."

Joanna tersenyum dan mengangguk menanggapi harapan sang mama. Sudah biasa bagi Joanna untuk mendengar kata-kata seperti itu terlontar dari sang mama atau sang papa. Harapan tinggi mereka tentang menjadikan Joanna sebagai akses mereka untuk mencapai mimpi masa muda mereka yang berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu. Mereka ingin Joanna putri mereka, sempurna. Menginginkan Joanna mengambil apa yang tidak bisa mereka ambil dimasa lalu, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan Joanna.

Melihat putrinya yang patuh membuat suasana hati Mayra kembali baik. "Sudah malam, kembalilah ke kamarmu, belajarlah selama beberapa waktu, dan jika sudah selesai, kamu bisa bermain ponsel selama sepuluh menit dan kemudian tidur."

"Baik, ma."

Setelahnya, Joanna pergi ke kamarnya. Ia mengganti pakaiannya menjadi set pakaian tidur berwarna gelap, menarik meja belajarnya, duduk dan menyalakan lampu. Tatapan mata dibalik kacamatanya menyorot pada rangkaian kata demi kata dan angka demi angka yang ada di atas meja. Pena yang ia pegang ia genggam sedikit lebih kuat, sesaat setelah ia merasa pening dan pedih dimatanya.

Menggunakan obat tetes mata untuk membantu matanya menjadi lebih nyaman, Joanna hendak lanjut membaca ketika cairan kemerahan menitik ke atas buku, membentuk bulatan kecil.

Menyentuh hidungnya, Joanna melihat darah merembes dari lubang hidungnya. Buru-buru Joanna mengambil tissue dan menyumpal hidungnya dengan tissue tersebut. Joanna memijit pelipisnya dan memejamkan matanya.

Joanna sangat lelah dan ingin beristirahat, namun dia tahu dirinya tidak bisa.

Joanna membuka matanya lagi, menunduk untuk lanjut membaca materi yang ada dihadapannya sembari mencatat pokok-pokok penting yang akan Joanna ingat-ingat. Setengah jam kemudian, Joanna menutup buku, mematikan lampu belajarnya dan segera berbaring di tempat tidur. Ia membuka sandi ponselnya dan melihat pesan-pesan dari sahabat-sahabatnya di grup.

Joanna membuka pesan itu dan menemukan sosok Ivana berfoto dengan latar belakang pantai yang indah dan tersenyum sangat cerah.

[Vana pergi sama siapa?]

[Sama tante Dila, Vie. Kebetulan aku lagi bosen terus diajak bareng deh ke pantai. Asik banget pokoknya!]

[Uwah, mau!]

[Ayo kapan-kapan ke pantai bareng.]

Joanna menatap foto itu untuk waktu yang sangat lama dan bergumam, "Aku juga mau."

Ia mau. Joanna ingin bisa berpergian ke pantai, berpiknik sederhana dan menikmati waktunya untuk bersantai tanpa harus memikirkan apapun. Joanna juga ingin bisa seperti teman-temannya yang meski dipaksa orangtua mereka belajar, namun mereka juga dibebaskan untuk melakukan kegiatan yang mereka suka dalam hidup mereka.

Joanna tersenyum dan merespon di dalam grup chat yang sudah ramai itu ketika namanya di mention. Menghela napas samar, Joanna meletakkan ponselnya setelah sepuluh menit berlalu, bergelung selimut dan tidur untuk menunggu hari melelahkannya yang seperti biasanya.

...***...

Melangkah turun dari mobil pribadinya, Joanna menutup pintu belakang tanpa kata dan berjalan melewati gerbang SMA Galatia. Beberapa orang yang ada disekitarnya menatapnya sebelum menoleh kembali.

Dengan statusnya yang merupakan siswi cerdas yang meraih peringkat kedua di penerimaan siswa setelah Ares, Joanna tentu juga terkenal. Tak hanya disana, parasnya yang menawan, cantik dan anggun selayaknya bangsawan membuat orang tak bisa untuk tidak memandang kearah Joanna jika mereka berpapasan dengannya.

"Joa!"

Suara itu membuat Joanna menyunggingkan senyuman dan menoleh. Sebuah rangkulan hangat langsung diberikan oleh Evie yang pada saat itu juga baru sampai di SMA Galatia.

"Tumben berangkat agak siangan?" tanya Joanna.

Pasalnya setahu Joanna, sejak sekolah dasar hingga sekarang, Evie selalu berangkat pagi sekali dan menyempatkan dirinya untuk belajar di pagi hari sebelum pelajaran dimulai. Tidak biasanya gadis itu berangkat lebih dari jam setengah enam yang tentu saja membuat Joanna heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi.

Evie menunjuk kantung matanya dan berkata, "Semalam aku begadang dan akhirnya bangun kesiangan deh."

Melihat kantung mata Evie yang memang sedikit menggembung, Joanna menaikkan sebelah alisnya. "Kok bisa sampai begadang? Belajar?"

"Bisa dibilang begitu." Jawab Evie.

"Aku tahu kamu suka belajar, tapi kamu juga harus belajar sesuai dengan batas tubuh kamu. Kalau sudah mengantuk, ya tidur, lanjut besok lagi. Kamu bisa sakit kalau belajar berlebihan." Tutur Joanna sembari menghela napas.

Kendati berkata seperti itu, Joanna merasa sedikit miris kepada dirinya sendiri. Dia bisa menasihati orang lain untuk belajar secara tidak berlebihan, namun dia tidak bisa mengentikan dirinya untuk harus belajar secara berlebihan, bahkan hingga mimisan.

Evie tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Joanna tersenyum juga dan kemudian mengajak Evie untuk masuk bersama, tanpa menyadari kebohongan yang dibuat oleh Evie.

Gadis itu memang bisa disebut belajar, namun apa yang dipelajarinya bukanlah materi pelajaran sekolah, melainkan tentang bagaimana dia harus melayani Asher-pria yang mengalami kecelakaan itu-dan apa saja yang biasanya Asher lakukan dan butuhkan. Melalui Daniel, hal-hal itu dijelaskan secara rinci dan hampir seperti sebuah daftar yang panjang dan detail.

Evie tidak memiliki niat untuk memberitahu temannya. Seperti bagaimana dia menyembunyikan semua masalahnya, Evie tidak ingin mereka turut memikirkan semua masalahnya dan merasa kasihan kepadanya. Evie hanya ingin sahabat-sahabatnya bergabung bersamanya disaat dia bahagia, namun tidak ingin mereka turut dalam kesedihan dan kesusahannya.

Joanna disisi lain mengalihkan tatapannya sekilas dan tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuat alisnya sedikit terangkat.

"Ivana sama ... Ares ?"

Joanna sedikit terkejut melihat keduanya dan dia sedikit menerka-nerka, sejak kapan Ivana bisa mengenal Ares dan bagaimana mereka bisa dekat dan bahkan mengobrol. Bukan rahasia lagi jika Joanna juga tahu bahwa Ares bahkan hanya menjawab guru dengan beberapa patah kata, tidak pernah berbicara pada teman sekelas jika bukan karena masalah pelajaran dan terlihat sangat antisosial. Namun dimata Joanna, baik Ares dan Ivana nampak mengobrol samar dengan ekspresi yang terlihat santai diwajah mereka.

"Kenapa Joa? Kok bengong?" tanya Evie begitu menyadari bahwa Joanna nampak tengah memperhatikan sesuatu. Evie mencoba mengikuti, namun dia tidak melihat sesuatu yang aneh yang bisa membuatnya terdiam seperti Joanna.

Joanna menggelengkan kepalanya. "Gapapa. Yuk lanjut."

Joanna menjawab dan berpikir bahwa dengan siapapun Ivana dekat, selama itu bukan orang yang buruk dan memiliki sikap buruk, itu bukan hal yang harus Joanna ikut campuri.

Evie mengangguk mengiyakan dan kembali berjalan. Ketika keduanya hendak berbelok, tanpa sengaja Joanna menabrak seseorang hingga membuat kacamata yang dikenakannya terjatuh.

"Auch!" ringisnya sembari memegang hidungnya yang samar memerah.

"Kau gapapa?"

1
anggita
bunga🌹 buat thor
Akun Mati: /Heart/ buat kak Anggita /Applaud/
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like saja. smoga lancar jaya.
Akun Mati: Aminn, makasih banyak kak. Makin makin makin sukses terus buat novel kakak jugaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!