Hanasta... libatkan aku dalam setiap luka dan duka yang kau dapatkan. Aku selalu ada untukmu. Bahkan jika takdir memisahkan kita seribu kali, maka seribu kali pula aku akan memilih untuk kembali padamu.
Dan tak peduli berapa kali aku dilahirkan, jika itu bukan untuk mencintaimu... maka aku akan menolak kehidupan itu. Karena yang aku inginkan hanyalah dirimu, Hanasta.
Not: Cerita ini murni dari hasil pemikiran author sendiri, untuk latar belakang tempat, nama tokoh, alur cerita, dan lainnya sudah di setting sebaik mungkin. Bila ada kesamaan... itu tidaklah di sengaja maupun ada unsur kesengajaan, terimakasih. Di larang plagiarisme.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 060, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASTAFARI 34: [Asking for an explanation]
Kepergian Cassia bersama keluarganya tentu di saksikan oleh Issac dari kejauhan, ada keinginan yang sangat besar untuknya menghentikan kepergian Cassia. Namun untuk ketenangan dan kesembuhan Cassia, ia takkan menghentikan langkah kaki keluarga Atheris itu.
"Hanya sebentar, aku pasti akan menjemputnya segera mungkin dan membawanya kembali ke sisiku."
"Cepatlah kembali, Cassia..."
Aku pasti akan selalu merindukanmu. Dan mencintaimu sampai kapanpun.
*****
Kereta kuda berlambang keluarga Atheris itu berguncang lembut di atas jalanan berbatu, memecah keheningan hutan berkabut yang menyelimuti sore itu. Di dalamnya, Cassia duduk diam di pojok bangku berlapis beludru merah marun, tangan bersarung nya itu menggenggam erat jendela kecil yang buram oleh embun. Pandangannya menerobos tirai kain renda tipis, menatap ke luar seolah mencari sesuatu.
Perpisahan dengan Issac tak datang dengan jeritan atau pertumpahan air mata. Itu adalah perpisahan yang tenang, tapi menyakitkan. Seperti daun gugur yang jatuh tanpa suara, tapi meninggalkan pohon yang meranggas.
Cassia memejamkan mata. Di balik kelopak itu, wajah Issac menari dalam kenangan, cara pria itu menyebut namanya, sentuhan jarinya yang selalu berhenti di tulang pipinya, dan bisikan "Aku akan menunggumu kembali, Cassia." Terus menggema di kepalanya.
Ia tak tahu apakah akan kembali. Tapi saat ini, ia hanya ingin sampai di rumah. Tempat di mana ia bisa merapikan hatinya yang hancur, dalam diam, dalam kekuatan, dalam luka yang ia bungkus dengan lapisan emas harga diri. Kereta yang ia duduki saat ini pun terus melaju, membawa dirinya menuju tanah kelahirannya. Dan di antara gemuruh roda dan desir angin, hatinya berbisik terus menyebut nama "Issac...".
"Putriku... apa kau baik-baik saja hmm?" tanya Carissa menggenggam lembut jemari sang putri yang telah lama tak ia lihat.
Perasaan sesak sejak tadi menyelimuti hati wanita tua itu, melihat kondisi putrinya yang memperihatinkan, membuat dirinya ingin menangis. Dahulu... saat kepergian putrinya menuju Archduchy, raut wajah putrinya terus menampilkan kebahagiaan, tapi saat ini. Saat pergi meninggalkan Archduchy menuju Duchy Atheris, sangat berbeda dari apa yang ia harapkan.
"Aku baik-baik saja Ibu... jangan khawatir."
"Apa kau tidak senang kembali ke Duchy? Jika seperti itu, kau bisa--"
"Aku senang Ibu, sangat senang bisa kembali ke Duchy untuk sementara waktu." balas Cassia cepat, dengan wajah yang berpaling tanpa memandang lawan bicaranya.
Carissa tahu bahwa putrinya berbohong, namun ia tidak bisa berkata lagi, sebab ia tak ingin membuat putrinya semakin bersedih jika ia terus mengungkit atau bertanya tentang perasaan Cassia saat ini.
Aku berharap bahwa putriku selalu berada di dalam perlindungan siapapun...
Hari demi hari silih berganti. Menit dan detik terus berjalan, tanggal dan bulan terus berganti bagai angin yang tak pernah berhenti berhembus. Tanpa terasa, sudah 2 tahun berjalan semenjak hari itu, hari ketika Cassia pergi meninggalkan Archduchy.
Sudah cukup baginya untuk mengobati setiap luka yang ia dapatkan, dan sudah cukup baginya untuk meninggalkan Archduchy begitu lama. Iapun kembali, dengan sendirinya tanpa sang suami yang setiap bulan selalu datang untuk menjemputnya, mengajaknya pulang bersama, namun kedatangannya itu selalu di tolak oleh Cassia. Tapi kali ini Cassia pulang dengan sendirinya tanpa mengabari siapapun.
"Yang Mulia, apakah Anda yakin ingin mengganti kamar tidur Anda?" tanya pelayan pribadi Cassia, yang dibawa langsung olehnya dari Duchy.
"Ya, tolong ya Terra."
"Yang Mulia, sebenernya saya sudah menyiapkan kamar tidur Anda sesuai yang Anda minta. Namun Kepala pelayan--"
Lagi, dan lagi. Kepala pelayan Leilah mencampuri urusannya, sebenarnya mengapa ia sangat tidak tahu diri? Bertingkah layaknya ia adalah Nyonya rumah kediaman ini. Cassia pada akhirnya pergi menuju kamar tidurnya yang sudah disiapkan oleh Terra pelayanannya, tak perduli apakah Leilah akan melarangnya nanti atau tidak. Toh seharusnya, pelayan itu harus mematuhinya karena ia adalah Archduchess disini.
Tepat setelah sampai di depan pintu kamar barunya, ia disaksikan pemandangan yang sangat tak terduga. Dimana Leilah beserta dua pelayan yang selalu mengikutinya berada di depan pintu kamar barunya itu, bahkan yang lebih tak terduga lagi adalah keberadaan Issac yang kian tengah menatapnya dalam.
"Apa kau lagi-lagi menentang keputusan ku?! Aku ini Archduchess. Kau hanya Kepala pelayan yang kurang ajar karena tidak menuruti permintaan majikan mu, sampai kapan kau akan liar seperti ini?!" marah Cassia, tak memperdulikan keberadaan Issac yang berada tepat disebelah nya saat ini.
"Terra," panggilnya pada Terra. "Bawakan aku cambuk yang sering ia gunakan untuk menghukum ku." titahnya, berhasil membuat Issac terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.
Cambuk yang biasa digunakan untuknya? Apa maksudnya... Issac pun menatap Kepala pelayan Leilah untuk meminta penjelasan, namun pelayan tersebut tidak berani menatap wajahnya. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh Cassia itu benar, dan ia tidak berani mengelak untuk membela dirinya saat ini.
Terra kembali dengan membawa cambuk yang sering Leilah gunakan padanya, kemudian ia menarik tangan pelayan tersebut untuk ikut dengannya. Serta meminta dua pelayan yang senantiasa berada disisi Leilah, segera ia mengikuti langkah kakinya. Cassia membawa Kepala pelayan tersebut kedalam kamarnya yang lama, kemudian ia mendorong pelayan tersebut hingga tersungkur dilantai.
Tarikan demi tarikan, cambukan tersebut berhasil melukai tubuh Leilah dengan keras. Jeritan penuh kesakitan yang Leilah keluarkan terdengar begitu menyakitkan, siapapun yang mendengarnya dibuat merinding. Namun tak ada satupun dari mereka yang menyaksikan itu berniat untuk menghentikan tingkah Cassia.
"Ampuni saya Yang Mulia! Tolong ampuni saya..."
Cassia mencengkram erat pipi Leilah, kemudian berkata. "Pernahkah kau mengampuni ku ketika aku meminta mu untuk berhenti mencambuk tubuhku?! Dan pernahkah kau mendengar permintaan ku yang menyuruhmu untuk berhenti?!" ujarnya penuh kemarahan.
"Maafkan saya Yang Mulia, saya mohon ampuni saya..." lirih Leilah menangis dengan penuh permohonan.
"Aku hanya membalas apa yang pernah kau lakukan padaku," katanya itu dengan amarah yang semakin memburu. "Terra, cambuk ia sebanyak lima puluh kali, jangan berikan jeda. Jika kau tidak sanggup, suruh pelayan lain untuk melanjutkannya. Namun suruh ia untuk memulainya dari awal." ujarnya, memberikan cambuk tersebut pada Terra.
Terra menerimanya, kemudian mulai menghitung diiringi cambuk yang berhasil mengenai tubuh Leilah. Dua pelayan milik Leilah itu, mereka juga mendapatkan bagian mereka atas perintah Cassia. Dan Cassia yang merasa bahwa dirinya akan hilang kendali lagi, segera pergi dari kamar lamanya. Melewati Issac begitu saja tanpa berkata-kata.
Tentu kepergian Cassia itu langsung diikuti oleh Issac, pria bergelar Archduke itu bahkan tak berniat untuk menghentikan perintah sang Archduchess. Walaupun ia belum mengerti apa yang telah terjadi, namun ia tak berniat untuk menghentikannya. Justru ia meminta kaki tangannya untuk mengawasi mereka yang berada di dalam kamar lama Cassia.
"Cassia..." panggil Issac.
"Sebaiknya Anda tidak mengejar saya Yang Mulia Archduke. Pergilah dan lakukan pekerjaan Anda, saya tahu Anda sangat sibuk." usirnya dengan langkah yang ia percepat.
Yang Mulia?
Issac menarik pergelangan tangannya lembut, kemudian menghadap pada wajah Cassia yang tidak berniat menatap wajahnya sama sekali. "Jelaskan padaku apa yang terjadi... padamu." pintanya memohon.
"Anda tidak perlu meminta penjelasan, karena semua hal yang terjadi pada saya itu karena perintah Anda Yang Mulia. Jangan bertingkah seolah Anda tidak mengetahui segala hal, tidak. Lebih tepatnya jangan bertingkah seolah-olah Anda orang bodoh!"
"Cassia... aku benar-benar tidak tahu apapun, tolong jelaskan padaku tentang segala hal yang terjadi."
"Yang Mulia Archduke Issac De Theodore. Saya sudah mengatakan nya bukan? Mengatakan bahwa tidak perlu ada penjelasan apapun terkait yang telah terjadi, karena pada dasarnya semua itu berawal dari Anda dan karena Anda. Jangan berpura-pura melupakan segala hal yang telah Anda lakukan! Atau saya semakin membenci Anda." katanya, kemudian pergi meninggalkan Issac begitu saja, dan menarik tangannya secara kasar agar terlepas dari genggaman tangan Issac.
Degghhh
Hatiku sakit sekali, mendengar mu memanggilku dengan formal seperti itu. Kau bahkan tidak berniat untuk memanggil namaku saja, mengapa kau harus memanggilku dengan gelar Archduke.
"Cassia..." lirihnya memanggil, walaupun sadar bahwa panggilnya tak dapat didengar oleh siapapun. Namun ia tetap memanggilnya dalam kesunyian yang ada.
"Yang Mulia Archduke!"
"Dexter, cari cari tahu segalanya. Segala hal yang tak pernah aku ketahui, cari semuanya sedetail mungkin. Jangan biarkan satu informasi kecil terlewat begitu saja." Issac memerintahkan kaki tangannya untuk segera mencari tahu segala hal yang tak pernah ia ketahui, ia yakin bahwa segala hal telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
Dan alasan mengapa Cassia begitu membencinya, mungkin ada keterkaitannya dengan segala hal tersebut. Ia bersumpah tidak akan mengampuni siapapun jika dugaannya benar.
"Baik, Yang Mulia."
Cassia... jika memang aku telah menyakitimu, aku mohon tolong maafkan aku. Dan biarkan aku menebus segalanya.
*****