Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Kehidupan
Beberapa jam berlalu.
Kafe kecil itu tetap tenang.
Emma sudah menunggu cukup lama di meja paling sudut.
Topi lebar menutupi sebagian wajahnya, sementara kacamata hitam membuat orang-orang tidak mudah mengenalinya.
Sebatang rokok berada di antara jemarinya.
Asap tipis mengambang di atas meja.
Emma memang perokok aktif.
Berbeda jauh dengan Ella yang selalu menjaga kesehatan, makanan, bahkan jam tidurnya.
Pintu kafe terbuka.
Seorang wanita dengan pakaian sederhana masuk.
Ella.
Tatapannya langsung menyapu ruangan.
Begitu menemukan Emma, ia berhenti sesaat.
Emma mengangkat tangannya.
"Di sini."
Ella berjalan mendekat.
Mereka saling menatap.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sapaan berlebihan.
Hanya keheningan beberapa detik.
Ini baru kedua kalinya mereka bertemu secara langsung sejak pertukaran mereka dimulai.
Sebagian besar komunikasi selama beberapa minggu terakhir hanya dilakukan melalui ponsel.
Ella akhirnya duduk.
Emma mematikan rokoknya.
"Kita punya banyak yang harus dibicarakan."
Ella mengangguk.
"Besok rapat pertama dan aku takut membuat kesalahan karena ini proyek besarmu."
"Aku yang akan mengambil alih."
Ella menatapnya.
"Seperti yang sudah kita bicarakan?"
"Ya."
Emma bersandar.
"Proyek ini sudah lama kutunggu jauh sebelum kita bertemu."
Nada suaranya berubah lebih serius.
"Dan lawanku tetap Roman. Aku akan membuat pria angkuh itu jauh dibawah ku."
Ella diam.
Ia sudah tahu seberapa besar ambisi Emma dalam pekerjaan.
Bagi Emma, persaingan bukan sesuatu yang harus dihindari.
Justru itu yang membuatnya hidup.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil kesempatan ini dariku," lanjut Emma.
Ella hanya mendengarkan.
Kemudian Emma melanjutkan.
"Selama seminggu ini aku kembali menjadi diriku lagi."
Ia menunjuk Ella.
"Dan kau kembali ke Alexander Manor."
Ella menunduk.
Ada sesuatu yang terasa berat mendengar kalimat itu.
Namun ia tidak mengatakannya.
Emma justru mulai memikirkan masalah lain.
"Kita punya masalah baru yaitu dengan gaya rambut."
Ella mengangkat wajah.
"Rambut?"
Emma memperhatikan rambut Ella yang panjang dan bergelombang.
Kemudian ia menyentuh rambutnya sendiri yang hanya sebahu dan pirang.
"Kalau kau kembali ke mansion dengan rambut seperti itu, Ralph akan curiga."
Ella terdiam.
"Benar."
"Aku akan ke salon."
Emma sudah mengambil ponselnya.
"Extension. Warna dan teksturnya dibuat sama seperti rambutmu."
Ella mengangguk pelan.
"Kita harus terlihat sama persis."
"Setidaknya dari luar."
Emma kembali menyandarkan tubuhnya.
"Setelah itu tidak akan ada masalah."
Ella masih diam.
Emma memperhatikannya beberapa detik.
"Kau ingin mengatakan sesuatu."
Ella tersentak kecil.
"Apa?"
"Sejak tadi kau diam."
Emma menatap tajam.
"Biasanya kau lebih banyak bicara."
Ella tersenyum kecil.
Kemudian pandangannya turun ke meja.
"Emma..."
"Hm?"
Ella menarik napas.
"Menurutmu..."
Ia berhenti cukup lama.
"Apakah kita akan bertukar seperti ini selamanya?"
Emma terdiam.
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mereka bicarakan.
Ella menatap cangkir di depannya.
Ia tidak mengatakan alasan sebenarnya.
Ia tidak mengatakan bahwa ia mulai merasa nyaman di New York.
Ia tidak mengatakan bahwa ia mulai menyukai keberadaan Roman di dekatnya.
Ia juga tidak mengatakan bahwa kembali ke Alexander Manor membuat dadanya terasa sesak.
Sebaliknya, ia memilih alasan yang lebih aman.
"Aku baru sekali bertemu Ayah."
Emma menatapnya.
"Jujur aku belum puas."
Ella tersenyum tipis.
"Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Apakah kau masih akan memberi ku kesempatan untuk menjadi dirimu setelah pekerjaan mu itu?"
Emma tidak langsung menjawab.
Kemudian senyumnya muncul.
"Kalau begitu, kita akan lanjutkan lagi."
Ella mengangkat wajah.
"Kau tidak keberatan?"
"Tentu tidak."
Emma justru terlihat senang.
"Aku juga mulai nyaman menjadi Ella."
Ella tertawa kecil.
"Benarkah?"
"Sepertinya."
Emma mengangkat bahu.
"Ralph menyebalkan, tapi kehidupannya tidak buruk. Aku mulai menyukai kehidupan bangsawan."
Ella menahan senyum.
Emma kemudian berkata santai,
"Kalau begitu kita tidak perlu menentukan kapan harus berhenti."
Mereka saling memandang.
Untuk sesaat, tidak ada yang menyadari betapa ironisnya percakapan itu.
Mereka sama-sama ingin mempertahankan kehidupan saudari mereka.
Emma mulai menyukai kehidupannya sebagai Ella.
Ella mulai menyukai kehidupannya sebagai Emma.
Dan keduanya menyimpan alasan masing-masing.
Tidak ada yang benar-benar jujur.
Bukan karena mereka tidak saling percaya.
Melainkan karena masing-masing masih takut mengakui bahwa kehidupan yang awalnya hanya sebuah pertukaran...
perlahan mulai terasa seperti kehidupan mereka sendiri.
Pertemuan Emma dan Ella sudah berlangsung cukup lama.
Mereka masih duduk di meja sudut, berbicara dengan suara rendah agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.
Tidak jauh dari sana, seorang pria masih duduk di tempatnya sejak beberapa waktu lalu.
Laptopnya terbuka.
Jarinya sesekali bergerak di atas papan ketik.
Dari luar, ia tampak seperti seseorang yang sedang bekerja sambil menikmati kopi.
Padahal sejak Emma meninggalkan kediaman Alexander, pria itulah yang mengikuti pergerakannya.
Ralph sudah memerintahkannya untuk mengawasi Emma.
Dan kini ia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah Ralph bayangkan sebelumnya.
Sebuah kamera kecil yang tersembunyi di balik laptop terus merekam meja di sudut ruangan.
Pria itu sesekali melirik layar.
Kemudian mengirimkan rekaman tersebut kepada Ralph.
Di ruang kerjanya, Ralph sudah cukup lama memperhatikan layar.
Awalnya ia hanya melihat Emma.
Wanita itu duduk santai sambil mengisap rokok.
Sekali lagi.
Kemudian beberapa menit kemudian.
Lagi.
Ralph tidak perlu berpikir lama.
Ella tidak pernah melakukan itu.
Bahkan selama bertahun-tahun menikah, ia tidak pernah melihat istrinya merokok.
Ralph menyandarkan tubuhnya.
Tatapannya menjadi semakin serius.
Ia sudah tahu.
Wanita yang berada di rumahnya bukan Ella.
Namun ia masih belum mengetahui siapa sebenarnya wanita itu.
Sampai wanita kedua muncul.
Pintu kafe terbuka.
Ella datang.
Ralph langsung memperhatikan perubahan pada wanita yang baru saja masuk itu.
Cara berjalan.
Cara menoleh mencari seseorang.
Cara menarik kursi.
Cara duduk.
Semuanya terasa familiar.
Terlalu familiar.
Ralph menatap layar cukup lama.
Kemudian matanya berpindah kepada wanita yang selama ini tinggal di rumahnya.
Dua wajah.
Sama persis.
Tetapi dua kepribadian yang sangat berbeda.
Ralph tersenyum tipis.
"Jadi..."
Ia akhirnya mengerti.
Selama ini bukan perubahan kepribadian.
Bukan pula perubahan yang tiba-tiba terjadi pada istrinya.
Ada orang lain.
Seorang wanita yang wajahnya sama persis dengan Ella.
Dan wanita itu telah tinggal di rumahnya selama berminggu-minggu.
Ralph memperhatikan keduanya.
Emma tampak lebih dominan dalam percakapan.
Ella lebih banyak mendengarkan.
Sesekali Ella tersenyum.
Emma bahkan terlihat santai seolah tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya.
Ralph mencoba mendengar percakapan mereka melalui rekaman.
Namun suara dari meja itu terlalu samar.
Ia tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Tidak tahu bagaimana mereka bisa memiliki wajah yang sama.
Tidak tahu sejak kapan pertukaran itu dimulai.
Tetapi satu hal sudah pasti.
Mereka saling mengenal.
Dan mereka sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.
Ralph menatap layar tanpa berkedip.
Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya.
Bukan senyum marah.
Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan teka-teki yang selama ini ia cari.
"Jadi kalian berdua sedang bermain denganku."
Ia bersandar di kursinya.
Selama ini ia mengira hanya dirinya yang memperhatikan perubahan itu.
Ternyata wanita yang tinggal bersamanya memang sedang menyamar.
Dan wanita yang baru datang ke kafe adalah Ella yang sebenarnya.
Ralph mengusap dagunya.
Ia bisa saja langsung datang.
Bisa saja menghentikan semuanya.
Namun ia tidak melakukannya.
Belum.
Ia ingin tahu lebih banyak.
Siapa wanita itu?
Kenapa ia bersedia mengambil tempat Ella?
Dan mengapa Ella sendiri bersedia membiarkannya?
Ralph menatap dua wanita di layar.
Untuk pertama kalinya, ia melihat pernikahannya dari sudut yang berbeda.
Sebuah permainan sedang berlangsung.
Dan tanpa sepengetahuan kedua wanita itu...
Ralph sudah menemukan pintu masuk ke dalam permainan tersebut.
Ia hanya perlu menunggu.
Menunggu sampai mereka sendiri melakukan kesalahan.
Karena sekarang Ralph tidak ingin sekadar membongkar penyamaran itu.
Ia ingin mengetahui seluruh cerita di baliknya.