Indonesia
NovelToon NovelToon
Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Menyamar Sebagai Pria, Aku Hamil Anak Musuh!

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Identitas Tersembunyi / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.

Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.

Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.

Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 ~ Perlu Banyak Bicara

Evan menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan kacamata yang membingkai wajahnya, berusaha menyembunyikan tangan yang sedikit gemetar, menyembunyikan betapa gugupnya ia saat ini.

"Ya."

"Bagus..." Senyum Eliza terasa tajam, menusuk. "Tiga tahun di luar negeri, ternyata setelah pulang kau sudah punya anak. Tapi... aneh, aku tidak pernah mendengar kabar soal pernikahanmu. Atau jangan-jangan anak ini..."

Damian diam di tempatnya. Matanya tak lepas dari wajah Evan. Ia menunggu, menatap lekat-lekat, seakan ingin membaca setiap kebenaran di balik kata-kata yang akan diucapkan.

"Pernikahan kami memang dirahasiakan," jawab Evan, suaranya tenang namun tegang. "Lagipula istriku tidak suka terlihat mencolok di depan banyak orang."

Eliza tertawa kecil, nada bicaranya penuh cemoohan. "Oh ya? Atau... jangan-jangan kau malu? Karena wajah istrimu tidak cukup cantik untuk dipamerkan?"

Tangan Evan mengepal erat di sisi tubuhnya. Kukunya hampir menancap ke telapak tangan, menahan rasa kesal yang membakar dadanya.

"Tapi aku tetap bahagia untukmu," ucapnya pelan namun mantap. "Dulu aku sempat berpikir jika kau bukan pria normal. Tapi sekarang aku percaya."

Eliza tersenyum puas, lalu berbalik dan menggandeng lengan Damian erat, seakan menegaskan kepemilikannya.

"Kau tahu... aku dan Damian juga akan segera menikah. Jangan lupa datang ke pernikahan kami."

Evan menelan ludah, perihnya menjalar ke seluruh dada. "T-tentu."

Damian mengepal tangannya begitu kuat hingga urat di pergelangannya menonjol. Ia menatap Evan lekat-lekat, yakin sepenuhnya pria itu sedang menutupi sesuatu. dan kemungkinan besar Evan memang tau tentang wanita asing yang malam itu tidur dengannya.

"Hmm... aku belum memberi ucapan selamat padamu," Eliza meraih gelas berisi whisky dari meja, lalu mengulurkannya. "Anggap saja ini sebagai ucapan selamat yang tulus... dariku dan Damian."

Gelas itu terulur tepat di hadapan Evan, menunggu diambil.

"Maaf... aku tidak minum di depan anak kecil," ucap Evan pelan namun tegas, menolak mengulurkan tangan. Ia tak ingin kehilangan kendali diri di tempat sepenting ini, di depan banyak orang, apalagi di hadapan mereka.

Namun tiba-tiba suara Damian terdengar rendah, berat, mendominasi seluruh ruang di antara mereka.

"Kau takut?"

Tatapannya lurus menembus kacamata itu, menatap tepat ke mata Evan. Tak ada keraguan, tak ada bercanda.

Evan terdiam sesaat. "Tidak sama sekali... tapi..."

"Kalau begitu, hargai pemberian calon istriku."" potong Damian, suaranya tak meninggi namun menekan begitu kuat.

Deg.

Jantung Evan seakan berhenti berdetak.

Calon istriku.

Tiga kata itu diucapkan begitu tenang, begitu pasti, seakan menikam dada Evan tepat di tempat yang paling rentan. Ia menatap Damian, mencari sedikit pun tanda keraguan atau kepura-puraan di wajah pria itu. Namun tak ada. Tatapannya tetap tajam, menunggu.

Lagipula jika Evan kehilangan kendalinya malam ini karena sebuah minuman... Itu akan mempermudah Damian untuk mengorek informasi darinya. Malam ini juga Damian harus mendapatkannya.

Evan menelan ludah yang terasa pahit. Perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengulurkan tangannya.

"Tuan Evan," panggil Bi Lusi pelan mendekat. "Izinkan saya yang menggendong Tuan Muda."

Evan segera menyerahkan Axel dengan hati-hati, tangannya masih sedikit gemetar. "Bawa Axel kembali, Bi. Nanti aku menyusul."

"Baik, Tuan."

Bi Lusi mengangguk paham, lalu berjalan menjauh membawa Axel yang sesekali menoleh ke belakang ke arahnya.

Begitu sosok mereka hilang di keramaian, Damian langsung meraih satu gelas whisky dari meja, lalu mengulurkannya ke arah Evan.

"Ayo, Evan... kita bersulang."

Suaranya tenang, namun tatapannya tajam, tak berpaling sedetik pun dari wajah Evan.

Evan menatap gelas yang terulur di hadapannya. Cairan keemasan itu berkilau di bawah cahaya lampu, terlihat tenang, padahal di sekelilingnya, semuanya sedang bergemuruh.

Tangannya terulur perlahan, jemarinya menyentuh kaca dingin itu. Ia meraihnya, namun jarinya sedikit gemetar.

Damian mengangkat gelasnya lebih tinggi sedikit, sudut bibirnya terangkat samar, bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang terasa tajam dan menyakitkan.

Ting! Gelas mereka beradu.

Evan segera menenggak minuman itu hingga habis, dengan cepat. Ia tak ingin berlama-lama berada di tempat itu.

Damian memperhatikan setiap tegukan yang masuk ke leher Evan. Sementara ia sendiri hanya meminumnya sedikit. Malam ini Damian tidak boleh hilang kendali, karena ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki.

Namun saat gelas itu tandas, Damian langsung memberinya gelas lain yang sudah terisi penuh.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hingga entah sudah berapa gelas yang ia minum, kepala Evan mulai terasa begitu pening. Pandangannya kabur, kakinya terasa berat, dan setiap napas yang diambil terasa memutarkan seluruh ruangan di sekelilingnya.

"Damian... aku mulai merasa dingin di sini. Mungkin karena gaunku basah..."

Damian langsung menoleh ke arah wanita itu.

"Kalau begitu, aku akan menyuruh Haris mengantarmu pulang. Aku masih ada di sini sebentar lagi sampai acara selesai."

Eliza mengangguk patuh. "Hm... baiklah."

Damian mengangkat tangan, memberi isyarat kepada seseorang di kejauhan. Tak lama, Haris berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakangnya.

"Antarkan Eliza pulang," perintah Damian rendah namun tegas. "Pastikan dia sampai dengan selamat."

"Baik, Tuan."

"Mari, Nona."

Eliza mengangguk, lalu berjalan dengan anggun di belakang Haris menjauh.

Begitu mereka hilang dari pandangan, tatapan Damian seketika kembali tertuju pada Evan. Pria itu tampak memegangi kepalanya, kakinya tak lagi kokoh berdiri.

"D-Damian... aku harus pergi sekarang..." ucap Evan pelan, tatapannya mulai membayang di balik kacamata.

Kepalanya terasa begitu berat, seakan tak sanggup menopangnya sendiri. Bahkan kini tubuhnya terasa hangat luar biasa, seolah ada api yang menyala dari dalam.

"Kenapa buru-buru... kita masih perlu bicara soal banyak hal, Evan."

"Aku... sstthh..." Evan menelan ludah dengan susah payah. "Tiba-tiba aku merasa agak kurang enak badan."

"Kalau begitu..." Damian melangkah mendekat, meraih tangan Evan dan memapahnya perlahan. "Aku yang akan mengantarmu pulang."

Ia menuntun Evan melangkah keluar dari ruangan itu, menjauh dari keramaian, menuju tempat yang lebih sepi.

Damian bawa Evan ke basement. Membawanya ke mobilnya. Kebetulan Damian memang datang bersama Eliza, namun Haris membawa mobil sendiri yang saat ini digunakan untuk mengantar wanita itu.

Begitu memasukkan tubuh lemah Evan ke dalam kursi mobil, ia segera menutup pintu dengan hati-hati namun cepat, lalu berjalan cepat menuju kursi kemudi.

Mesin menyala, mobil langsung melaju cepat membelah jalanan malam yang sepi. Cahaya lampu jalanan berkelap-kelip melewati kaca, membuat pandangan Evan semakin kabur.

Damian melonggarkan dasi yang mencekik lehernya, wajahnya tampak tegang dan penuh kemarahan yang tertahan.

"Evan! Katakan padaku... siapa anak kecil itu sebenarnya! Kenapa wajahnya sangat mirip denganku!"

❤️

1
Ellya Sari
lanjut thor💪
Ellya Sari
bagus
Murnia Nia
lanjut lagi thor aku kirim vote nih
Murnia Nia
lanjut thor lagi seru nih
Ellya Sari
jangan lama2 up-nya ya thor🙏.seru ceritanya
lexxa
aww,,, sukaaaa bngtttttttttt
Rahmatillah
up nya jangan lama lama dong thor 😐😐😐
Ellya Sari
up thor
Zhao_Xena: mungkin yang ini akan libur agak lama kak..😁😁. tapi sambil menunggu, bisa banget untuk mengikuti karya baru author lohh... judulnya
"Desah Cinta Berbalut Dendam." terimakasih /Pray/
total 1 replies
Raraa
AYO THOR, CERITA NYA DI LANJUTIN LAGI...SEMANGAT YAA AUTHORR💪💪💪😍😍😍
Raraa
SERU BANGET. DARI BANYAK NYA NOVEL YG AKU BACA, INI SIH NOVEL YG PALING THE BEST 😘😘😘🙌🙌
AYO DI BACA, INI NOV YG PALING SERU DI NOVELTOON😀😀😀😀😀
Raraa
lanjut thor
Annida Annida
lanjut tor
Zhao_Xena: langsung klik saja ke karyanya kak...🤗🤗
total 1 replies
ina
nasib evan perempuan, kalau benar² pria .. hahahhaa🤣
You `ka
ayo ikutin Damian... semoga kali ini damian tau siapa evan
You `ka
ternyata Arlos dalangnya. dia nggak sadar karena perbuatannya Evelyn hamil dan harus pergi ke London...
You `ka
iya .. Daddy Axel sangat tampan 🤣🤣
gemess sama Axel
You `ka
sebenarnya Tuan Harley gengsi untuk mengakuinya kalau dia tidak rela jauh dari Axel
Zhao_Xena: mana iya, lagi...🤣🤣
total 1 replies
You `ka
yakin kamu Damian.. kalau tau nanti Evan ternyata putra Harley dan wanita yang bersama kamu dikapal.. gimana reaksinya..😆😆
You `ka
opa maluu....ucukk.. ucukk.. gamesnya sama Axel..😆😆
You `ka
jantungan nggak tuh Tuan Harley..🤣🤣🤣
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!