Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pipi yang Memerah
"Lho, cepat sekali? Perasaan baru tiga puluh menit yang lalu kamu pergi. Masa sudah kembali pulang?" tanya Marlina heran saat mendengar pintu utama terbuka dan melihat Syafiya masuk melangkah tergesa-gesa dengan kepala menunduk dalam.
Marlina meletakkan cangkir tehnya, bermaksud menghampiri cucunya. Namun, tatapan Marlina langsung tertuju pada wajah Syafiya yang tampak memerah memar di satu sisi.
"Sayang, kenapa dengan wajahmu itu?!" pekik Marlina panik, langsung memegang kedua pundak Syafiya dan memaksa gadis itu mendongak.
Syafiya menggigit bibirnya rapat-rapat, berusaha menahan tangis yang sudah merekah di dada. Elvano yang masih terisak kecil di gendongannya makin diusap-usap pelan.
"N-nggak apa-apa, Mom..." cicit Syafiya lirih, matanya berkaca-kaca menatap lantai. "Syafiya cuma... cuma jatuh tadi di depan."
"Jatuh tidak mungkin meninggalkan bekas telapak tangan setebal ini, Syafiya!" bentak Marlina dengan suara gemetar bercampur cemas dan amarah. "Jujur sama Mommy! Siapa yang berani menamparmu sampai memar begini?!"
Air mata yang sejak tadi ditahan Syafiya akhirnya tumpah menetes membasahi pipinya yang memar.
"S-sekretarisnya Kak Zeffan, Mom... Bu Maya."
Marlina tersentak kaku, matanya membelalak tak percaya. "Sekretaris Zeffan?! Kenapa dia berani menampar anak Mommy?!"
"Dia... dia tidak tahu kalau Syafiya disuruh datang sama Kak Zeffan," bisik Syafiya serak, dadanya naik-turun menahan rasa malu dan trauma yang masih tersisa. "Nama Syafiya tidak ada di jadwal... Terus Bu Maya pikir Syafiya wanita pengganggu yang mau memeras Kak Zeffan pakai bayi..."
"Astagfirullahaladzim..." rintih Marlina, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat. Rasa bersalah dan kemarahan membakar dadanya seketika. "Dia mendorongmu? Dia membentakmu di depan orang banyak?!"
"Syafiya diseret security keluar lobi, Mom..." tangis Syafiya pecah, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elvano. "Syafiya cuma takut Elvano kenapa-napa... makanya Syafiya langsung minta supir bawa pulang ke sini..."
Marlina merengkuh tubuh Syafiya dan Elvano sekaligus ke dalam pelukannya yang hangat, meremas jemari anak angkatnya itu penuh keprihatinan.
"Kurang ajar!" desis Marlina dengan suara dingin menahan amarah yang meledak. "Berani-beraninya wanita gatal itu menyentuh anak kandung rumah ini! Biar Mommy sendiri yang menelepon Zeffan sekarang!"
Marlina dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Zeffan. Jemarinya gemetar hebat menahan amarah yang meledak di dadanya.
Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung terhubung.
"Halo, ada apa, Mommy?" tanya Zeffan dari seberang telepon dengan nada santai dan datar, terdengar latar suara ketukan papan ketik di ruang kerjanya. "Syafiya dan Elvano sudah sampai di kantor, kan?"
"Zeffan! Kamu di mana sekarang?!" bentak Marlina dengan suara melengking penuh emosi, tak sanggup lagi menahan amarahnya.
Di seberang sana, gerakan jemari Zeffan terhenti. Suaranya seketika mengeras dan berubah dingin. "Aku di ruang kerja. Ada apa, Mom? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?"
"Kamu tanya ada apa?!" tangis Marlina pecah bercampur geram, menatap Syafiya yang masih tersedu-sedu mengompres pipinya di sofa. "Kamu yang menyuruh Syafiya datang ke kantormu membawa Elvano, kan?! Tapi apa yang terjadi di sana, Zeffan?!"
"Maksud Mommy apa?" desis Zeffan, alisnya bertaut tajam di ruang kerjanya. Rasa tidak enak seketika merayapi dadanya. "Syafiya belum naik ke ruanganku. Dia masih di jalan?"
"Dia sudah kembali ke rumah!" pangkas Marlina tegas dengan nada gemetar. "Anakmu diseret security di lobi kantormu! Dan sekretaris kurang ajarmu itu—Maya—berani-beraninya menampar wajah Syafiya sampai memar di depan semua orang!"
BRAK!
Suara hantaman keras terdengar dari seberang telepon. Zeffan mendadak berdiri, membanting pena mewahnya ke atas meja kaca hingga retak. Aura membunuh seketika menguar memenuhi ruang kerjanya.
"Apa Mommy bilang...?" suara Zeffan berubah teramat pelan, berat, dan sarat akan bahaya yang membekukan darah. "Maya... menampar Syafiya?"
"Pipi Syafiya memerah bekas telapak tangan, Zeffan! Elvano menangis histeris karena ketakutan!" teriak Marlina hysteris menumpahkan segalanya. "Wanita itu mengatai Syafiya cewek gatal tidak tahu diri dan menuduhnya membawa anak haram! Kamu lihat bagaimana kamu memperlakukan adikmu sampai orang lain berani merendahkannya seperti ini?!"
Zeffan tidak membalas ucapan ibunya. Napasnya terdengar berat dan memburu di balik telepon.
"Zeffan! Kamu dengar Mommy tidak?!"
"Suruh Syafiya tunggu di rumah," pangkas Zeffan dingin tanpa ekspresi, suaranya begitu datar namun sanggup menyebarkan rasa teror terselubung. "Aku akan selesaikan ini sekarang juga."
"Zeffan! Zeffan!" teriak Marlina memanggil putranya dengan suara melengking panik, namun sambungan telepon itu mendadak terputus. Pria itu sudah mematikannya sepihak.
"Astagfirullahaladzim..." gumam Marlina dengan wajah pucat pasi, menurunkan ponsel dari telinganya dengan tangan gemetar. Ia tahu betul arti dari suara dingin Zeffan tadi. Pria itu sedang dalam puncak amarahnya.
Syafiya yang menyaksikan itu makin ketakutan. Ia memeluk Elvano erat-erat sambil mengompres pipinya yang bengkak menggunakan kain hangat.
"M-Mommy... Kak Zeffan bilang apa?" cicit Syafiya terengah-engah, air mata baru kembali menetes dari sudut matanya. "Kak Zeffan tidak akan berbuat nekat, kan, Mom?"
"Mommy tidak tahu, Syafiya..." bisik Marlina pasrah seraya duduk di samping anak angkatnya dan merengkuh bahunya. "Zeffan sudah gelap mata. Mommy cuma takut dia makin hilang kendali."
"Ini semua salah Syafiya, Mom..." tangis Syafiya makin pecah, tubuhnya berguncang hebat di sofa. "Harusnya Syafiya tadi langsung pulang saja saat dilarang masuk... Harusnya Syafiya tidak usah membalas ucapan Bu Maya... Biar Kak Zeffan tidak makin marah..."
"Tidak, Syafiya! Jangan pernah menyalahkan dirimu!" pangkas Marlina tegas seraya mengusap air mata di pipi Syafiya yang tak memar. "Kamu tidak salah apa-apa! Zeffan yang menyuruhmu datang, dan sekretaris berengsek itu yang sudah bertindak melampaui batas!"
"Tapi Syafiya takut, Mom..." adu Syafiya dengan bibir gemetar hebat. "Syafiya takut Kak Zeffan datang ke sini lalu mengamuk... Syafiya tidak mau ada keributan lagi di rumah ini..."
"Dengar Mommy, Sayang," bisik Marlina penuh penekanan seraya menggenggam kedua tangan Syafiya. "Sekarang kamu naik ke kamar bersama Elvano. Kunci pintunya rapat-rapat. Biar Mommy yang hadapi Zeffan kalau dia pulang nanti, paham?"