Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Cinta Bersemi di Gudang Kantor
Kehancuran di ruang rapat komisaris rupanya belum sepenuhnya memuaskan dahaga keadilan atas segala rasa sakit yang pernah diukir Rendy dan Siska. Meski proses hukum dan pemecatan resmi sedang diproses oleh tim independen Aditya Group, Rendy dan Siska masih berkeliaran di area gedung kantor untuk merapikan barang-barang pribadi mereka sebelum pengawalan kepolisian datang menjemput.
Namun, keputusasaan dan kehancuran reputasi rupanya tidak membuat dua manusia itu sadar. Di balik kepanikan yang menghimpit, rasa frustrasi yang meledak justru memicu naluri paling liar di antara mereka.
Di lantai dasar, jauh dari jangkauan area eksekutif, terdapat sebuah gudang arsip lama yang sudah jarang dimasuki karyawan. Tempat itu remang-remang, berdebu, dan dikelilingi oleh jajaran rak besi setinggi tiga meter yang sarat akan tumpukan berkas usang.
Pintu kayu tebal gudang itu terdorong kasar.
Rendy menyeret lengan Siska masuk ke dalam kegelapan gudang tersebut, lalu membanting pintunya hingga tertutup rapat. Napas Rendy terengah-engah, wajahnya yang tadi pucat pasi kini memerah oleh perpaduan rasa marah, takut, dan gairah yang terdistorsi oleh keputusasaan.
"Rend! Sakit!" ringis Siska seraya menghempaskan pegangan tangan Rendy. Siska menyandarkan punggungnya di salah satu rak besi tua, menatap Rendy dengan mata sembab yang dipenuhi kebencian. "Kamu gila ya?! Mau dibawa ke mana lagi aku?! Semua orang di kantor ini sudah tahu kita dipecat!"
Rendy melangkah makin mendekat, menghimpit tubuh Siska di antara dua rak besi yang sempit. Tatapan mata Rendy tampak liar dan kacau.
"Tahu?" terkekeh Rendy dingin, suaranya serak dan agak gemetar. "Mereka cuma tahu kita kalah di rapat, Siska... Tapi mereka tidak tahu kalau kita sudah tidak punya apa-apa lagi! Harta, posisi, nama baik... Alya mengambil semuanya dari kita!"
Siska meremas kerah kemeja Rendy, menangis histeris seraya memukul dada pria itu. "Ini semua gara-gara kamu, Rendy! Kamu yang dituduh punya hak veto, kamu yang janji bisa lindungi aku! Tapi apa?! Kamu berlutut kayak anjing di depan Alya dan Kai Aditya!"
"Diam kamu, Siska!" gertak Rendy, mencengkeram kedua bahu Siska dengan kuat, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dadanya.
Aroma parfum vanila Siska yang masih tersisa di antara kelembapan gudang tua itu mendadak menyengat indera penciuman Rendy. Di tengah kekacauan hidupnya yang hancur berantakan, benteng keperintisan moral Rendy benar-benar runtuh. Kehilangan segalanya membuat Rendy mencari pelarian paling instan untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki kendali atas sesuatu—dan Siska adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk dilampiaskannya.
"Rend... lepas..." bisik Siska, meski rontaannya perlahan melemah saat merasakan hembusan napas panas Rendy di lehernya.
"Kita sudah hancur, Siska," bisik Rendy tepat di depan bibir Siska, matanya berkilat oleh kegilaan gairah yang gelap. "Kalau begitu... biarkan kita hancur sekalian. Kamu yang membuatku ada di posisi ini, jadi kamu harus melayaniku sampai akhir..."
Tanpa menunggu balasan, Rendy menundukkan wajahnya dan menyambar bibir Siska secara kasar.
Siska sempat menolak dan memukul dada Rendy, tetapi dalam keputusasaan yang sama, wanita itu akhirnya menyerah pada arus kegilaan yang sama. Siska melingkarkan kedua tangannya di leher Rendy, membalas ciuman panas itu dengan desahan berbau kepasrahan dan gairah yang liar.
Di antara tumpukan arsip berdebu dan jajaran rak besi tua, Rendy meremas pinggang Siska, mengangkat tubuh wanita itu hingga terduduk di atas salah satu meja kayu usang. Gesekan pakaian formal mereka, helaan napas berburu, serta bisikan-bisikan gairah terlarang kembali bergema di dalam kegelapan gudang.
Mereka saling melampiaskan rasa frustrasi, ketakutan, dan hasrat yang tak terkendali, melupakan fakta bahwa di atas salah satu sudut rak besi setinggi tiga meter di pojok ruangan... sebuah kamera CCTV pengawas fasilitas gudang—kamera mutakhir berteknologi tinggi dengan mikrofon kondensor sensitif—sedang merekam setiap detik gelombang suara dan gerakan mereka dengan sangat jernih.
Sementara itu, di dalam ruang kontrol keamanan utama gedung pusat, Alya berdiri anggun bersama Kai Aditya.
Petugas operator keamanan gedung yang duduk di hadapan deretan monitor raksasa menatap layar nomor 14 dengan wajah serba salah dan memerah canggung. Di layar monitor tersebut, sudut kamera memang tertutup oleh bagian atas rak besi tua setinggi dua meteran yang menumpuk berkas—sehingga gambarnya hanya memperlihatkan rak dan plafon gudang.
Namun, audio yang tertangkap oleh mikrofon CCTV itu... teramat sangat jernih.
Suara gesekan kain, erangan rendah Rendy, desahan manja Siska yang memanggil nama Rendy bertubi-tubi, serta bisikan-bisikan pengkhianatan yang vulgar memenuhi speaker ruang kontrol dengan begitu sempurna.
Kai menyandarkan tangannya di bahu kursi operator, matanya berkilat dingin seraya menyunggingkan senyum miring yang teramat tajam.
"Mereka benar-benar tidak punya rasa malu," tutur Kai rendah, menoleh ke arah Alya di sampingnya. "Bahkan di saat-saat terakhir sebelum dibawa ke kantor polisi, mereka masih sempat-sempatnya melakukan hal semenjijikkan ini di gudang kantor."
Alya menatap layar monitor itu tanpa rasa terluka sedikit pun. Wajah cantiknya justru memancarkan ketenangan yang dingin dan penuh kepastian.
"Orang yang sudah busuk dari dalam tidak akan pernah bisa mencium kebusukannya sendiri, Kai," kata Alya pelan, suaranya halus bagaikan sutra.
Alya melangkah mendekati meja operator. Ia mengambil flashdisk enkripsi yang baru saja mengunduh data rekaman dari kamera gudang tersebut.
"Pak Operator," panggil Alya halus. "Tolong potong bagian videonya. Cukup ambil berkas suaranya saja dari detik awal mereka masuk sampai selesai. Dan pastikan klip audio itu bersih dari background noise."
"B-baik, Bu Alya," jawab operator sigap, jemarinya menari di atas keyboard untuk memotong berkas sesuai perintah sang Direktur Utama.
Dalam hitungan menit, berkas audio berdurasi beberapa menit itu selesai diekstrak. Alya menghubungkan flashdisk itu ke ponsel pintarnya.
"Kamu mau mengunggahnya ke mana, Alya?" tanya Kai dengan binar mata penuh minat dan kekaguman.
Alya mendongak, menyunggingkan sebuah senyuman pembalasan yang teramat memikat dan penuh kecerdasan.
"Forum internal karyawan perusahaan," jawab Alya santai. "Tempat di mana seluruh staf, manajer, hingga petugas kebersihan bertukar informasi sehari-hari."
Alya membuka aplikasi portal intranet karyawan yang diakses oleh ribuan staf di seluruh cabang. Tanpa menampilkan gambar visual sedikit pun—hanya berupa berkas audio black screen dengan indikator gelombang suara—Alya mengetik sebuah kalimat pendek di kolom deskripsi postingan anonim administrator:
"Cinta bersemi di gudang kantor. Dengarkan baik-baik bagaimana dua ekor pengkhianat mengukir janji suci di antara tumpukan berkas usang."
Klik.
Alya memencet tombol publish.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi postingan tersebut untuk meledak bagaikan bom hidrogen di seluruh penjuru gedung kantor pusat dan cabang-cabang daerah.
Di kubikel-kubikel kerja lantai 5, 8, hingga lantai 12, suasana kerja yang tadinya sunyi seketika berubah menjadi geger luar biasa. Ribuan karyawan menghentikan pekerjaan mereka, menempelkan headset atau mengeraskan volume ponsel mereka untuk mendengarkan berkas audio yang diunggah di forum internal.
Suara erangan dan bisikan panas di dalam rekaman audio itu bergema di telinga setiap karyawan:
“...Rend... pelan-pelan, Rend... kalau ada yang dengar bagaimana?...”
“...Biar saja, Siska! Biar seluruh kantor ini tahu kalau kamu cuma milikku!... Alya tidak ada apa-apanya dibanding kamu!...”
“...Ah... Rendy sayang... janji ya, setelah ini kamu tetap kasih aku uang... kita kabur berdua...”
Meskipun dalam rekaman audio itu tidak ada gambar visual sama sekali karena kameranya terhalang rak berkas setinggi dua meter, semua orang di gedung itu—dari jajaran staf paling bawah hingga manajer senior—SANGAT MENGENALI suara itu!
Suara wibawa Rendy yang sok berkuasa dan nada manja Siska yang mendesah-desah itu terlalu familier di telinga para karyawan.
Kehebohan tak terbendung pecah di seluruh sudut kantor.
"ANJIR! Ini suara Pak Rendy sama Siska?!" jerit seorang staf wanita di divisi keuangan seraya menutup mulutnya dengan mata membelalak horor.
"Demi apa?! Mereka bercinta di gudang lantai dasar?!" timpal kawan seruangannya, menatap layar monitor forum dengan histeris. "Gila! Nametag mereka kan masih nempel pas mereka masuk tadi pagi! Pantesan aja tadi pas rapat komisaris heboh soal pemecatan!"
"Suaranya jernih banget lagi! 'Rendy sayang... janji ya kamu tetap kasih aku uang...' Hahaha! Murah banget njir!" cibir staf pria di divisi IT seraya tertawa terbahak-bahak bersama rekan-rekannya.
"Gudang kantor dong! Tempat berdebu gitu dipakai buat maksiat! Benar-benar nggak tahu malu!" komentar ratusan karyawan di kolom forum yang bergerak secepat kilat.
Kolom komentar forum intranet mendadak disebu ribuan tanggapan bernada celaan, ejekan, tawa penghinaan, dan sumpah serapah untuk Rendy dan Siska. Reputasi, martabat, dan kebanggaan yang selama ini dijaga Rendy sebagai seorang eksekutif hancur meleleh menjadi lelucon paling menjijikkan dan murahan di mata seluruh bawahannya sendiri.
Sementara itu, di dalam gudang arsip yang masih remang-remang...
Rendy sedang merapikan kemejanya yang kusut dengan napas yang masih tersengah, sementara Siska sedang membetulkan posisi gaun dan riasan wajahnya yang agak berantakan di depan cermin kecil dari tasnya.
"Kita harus keluar lewat pintu belakang garasi, Ka," kata Rendy seraya menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya yang agak gemetar. "Mobilku masih ada di parkiran VIP. Kita ambil barang-barang seadanya, lalu—"
Denting! Denting! Denting!
Ponsel Rendy dan ponsel Siska di atas meja kayu mendadak berdering dan bergetar tanpa henti.
Notifikasi pesan, panggilan telepon dari rekan-rekan kerja, serta pop-up pemberitahuan aplikasi intranet kantor masuk secara bertubi-tubi bagaikan deretan tembakan mesin.
Rendy mengernyitkan dahi, merasa aneh. Ia menyambar ponselnya.
Siska juga mengambil ponselnya dari dalam tas.
Detik berikutnya, ketika mata mereka membaca judul postingan utama di forum internal karyawan perusahaan:
[Cinta Bersemi di Gudang Kantor - Audio Exclusiv]
Wajah Rendy dan Siska seketika berubah menjadi seputih kertas.
Dengan jemari yang gemetar hebat oleh firasat buruk yang mematikan, Rendy menekan tombol play pada berkas audio di layar ponselnya.
Suara desahan Siska dan ucapan-ucapan liar Rendy yang memaki Alya serta menyebutkan nama satu sama lain di dalam gudang beberapa menit lalu... kini melantun jernih, menggelegar dari pengeras suara ponsel mereka sendiri.
“...Rendy sayang... janji ya, setelah ini kamu tetap kasih aku uang... kita kabur berdua...”
“...Biar saja, Siska! Biar seluruh kantor ini tahu kalau kamu cuma milikku!...”
Siska membelalak horor. Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh berkeping-keping ke lantai dingin gudang.
"T-TIDAK! TIDAK BOLEH!" jerit Siska histeris, memegangi kepalanya dengan kedua tangan, tangisannya pecah oleh rasa malu dan kehancuran martabat yang teramat luar biasa. "SUARA KITA! RENDY, SUARA KITA DISEBARKAN DI FORUM KANTOR!"
Rendy membatu bagaikan patung es. Seluruh darah di dalam tubuhnya serasa mendadak menguap. Pria itu menatap layar ponselnya yang kini dipenuhi oleh puluhan ribu komentar celaan dari para bawahannya sendiri:
’Wakil Direktur Utama kok kelakuannya kayak hewan di gudang berdebu?’ ’Siska suara desahannya murahan banget, jijik dengernya!’ ’Ibu Alya terlalu sempurna buat pria pembawa sampah kayak Rendy!’
"Aaaarrghhh!" jerit Rendy frustrasi, melemparkan ponselnya ke dinding hingga hancur berantakan. Rendy meremas rambutnya sendiri, tersungkur di lantai gudang seraya menangis histeris. Hukuman penjara atau kehilangan harta bahkan tidak sesakit rasa malu yang menghancurkan seluruh harga dirinya sebagai seorang pria di depan ribuan karyawannya sendiri.
Brak!
Pintu gudang kayu tebal itu mendadak didobrak dari luar hingga terbuka lebar.
Cahaya terang dari koridor luar menerobos masuk, menerangi kegelapan gudang tua yang berdebu tersebut.
Di ambang pintu, berdiri empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap, didampingi oleh tim pengawal pribadi dari Aditya Group.
Seorang perwira polisi melangkah masuk dengan raut wajah dingin dan tegas, mengeluarkan surat perintah penangkapan dari dalam map kulitnya.
"Saudara Rendy dan Saudari Siska," tegas sang perwira polisi, suaranya menggelegar di dalam gudang. "Atas laporan resmi kepolisian terkait tindak pidana pemalsuan dokumen korporasi, penggelapan jabatan, dan manipulasi laporan keuangan dari Aditya Group dan pihak direksi utama, Anda berdua resmi kami tahan!"
Dua orang petugas polisi melangkah maju, memiting kedua lengan Rendy yang masih tersungkur di lantai, lalu memasangkan borgol besi dingin di kedua pergelangan tangannya.
Klek!
"Lepaskan aku! Lepas!" jerit Rendy berontak, namun tenaganya tak ada artinya di hadapan para petugas.
Siska juga langsung disergap oleh petugas wanita, kedua tangannya diborgol ke belakang saat ia menangis dan menjerit histeris meminta ampun.
Rendy dan Siska diseret keluar dari dalam gudang tua tersebut.
Saat mereka diseret menyusuri lorong utama menuju pintu keluar gedung, pemandangan yang menyambut mereka adalah hukuman sosial paling mengerikan.
Ratusan karyawan dari berbagai lantai telah berkumpul di sepanjang lorong dan koridor. Mereka berdiri bersedekap dada, memandangi Rendy dan Siska yang terborgol dengan tatapan penuh cemoohan, tawa hinaan, dan rekaman kamera ponsel yang terus menyorot wajah pucat kedua penjahat tersebut.
"Lihat tuh! Pasangan gudang sudah mau dibawa ke bui!" cibir salah seorang karyawan bersuara keras, disambut gelak tawa riuh dari ratusan staf lainnya.
"Muka tembok banget! Sudah korupsi, bercinta pula di gudang!" timpal yang lain seraya merekam wajah Rendy yang menunduk dalam-dalam oleh rasa malu yang tak tertahankan.
Di ujung pintu kaca utama gedung, Alya berdiri tegap.
Ia mengenakan kaca mata hitamnya yang elegan, didampingi oleh Kai Aditya yang merengkuh pinggangnya secara protektif dan hangat. Alya menatap Rendy dan Siska yang diseret melewati hadapannya dengan pandangan yang teramat dingin, kaku, dan tanpa belas kasihan.
Rendy menghentikan langkahnya sejenak saat berada di depan Alya. Mata Rendy yang sembab dan memerah menatap Alya untuk yang terakhir kalinya.
"Al..." bisik Rendy tersedu-sedu, suaranya hancur total. "Maafkan aku... Al... tolong maafkan aku..."
Alya perlahan melepaskan kaca mata hitamnya. Manik matanya yang jernih menatap Rendy dengan senyuman pembalasan paling sempurna yang pernah terukir di wajahnya.
"Selamat menikmati sisa hidupmu di dalam sel, Rendy," tutur Alya pelan, suaranya begitu halus namun tegas. "Di sana... kamu punya banyak waktu untuk meratapi setiap pilihan busuk yang pernah kamu buat."
Tanpa memberi celah bagi Rendy untuk menjawab, petugas polisi menarik kasar tubuh Rendy dan Siska keluar dari gedung, memasukkan mereka ke dalam mobil tahanan yang sirinenya sudah meraung-raung di area pelataran.
Mobil tahanan itu melaju pergi, membawa Rendy dan Siska menuju kegelapan penjara dan akhir dari seluruh eksistensi mereka.
Alya menghembuskan napas panjang. Beban berat masa lalu, trauma kecelakaan, dan bayang-bayang pengkhianatan yang selama ini mengikat jiwanya... kini telah menguap sepenuhnya dibawa hembusan angin sore Jakarta.
Kai Aditya menoleh, menatap Alya dengan pancaran rasa cinta dan kekaguman yang tak terbatas. Kai mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Alya dengan amat erat dan hangat.
"Semuanya sudah selesai, Alya," bisik Kai lembut di samping telinga Alya. "Masa lalumu yang kelam sudah hancur. Sekarang... saatnya kamu menikmati kebebasan dan kebahagiaanmu."
Alya mendongak, menatap wajah tampan Kai Aditya—pria yang tidak pernah meragukannya, pria yang selalu melindunginya dan menghormati setiap keputusannya. Alya menyunggingkan senyum manis yang paling tulus dari dasar hatinya.
"Iya, Kai," jawab Alya mantap, merapatkan tubuhnya di samping Kai seraya melangkah menuju mobil mewah yang sudah menunggu mereka. "Mari kita mulai lembaran baru kita."