Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.

Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.

Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.

Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.

Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Setelah mendapat penanganan dari petugas medis klub, Ethan akhirnya mulai sadar meski pandangannya masih kabur. Ia membuka mata perlahan, lalu mengernyit ketika melihat Selena berdiri di hadapannya dengan wajah masam.

"Selena ...?" gumamnya.

"Iya, ini aku. Sekarang bangun. Kita pulang."

Ethan menatapnya beberapa saat seolah berusaha memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar Selena. Bibirnya bergerak membentuk senyum tipis.

"Kamu datang?"

Selena mendengus. "Menurutmu aku datang ke sini buat apa? Jalan-jalan jam tiga pagi?"

Ethan terkekeh pelan, tetapi tawanya segera berubah menjadi erangan ketika ia mencoba bangkit. Tubuhnya limbung dan hampir kembali jatuh ke sofa.

"Ya ampun!" Selena buru-buru meraih lengannya. "Bisa nggak, sih, kamu berdiri dengan benar?"

"Aku bisa ..." jawab Ethan dengan suara pelo.

"Bisa apanya? Berdiri saja hampir jatuh!"

Selena menyampirkan lengan Ethan ke bahunya, lalu berusaha membantunya berdiri. Namun, tubuh laki-laki itu terasa berat, membuatnya harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menopangnya.

"Ethan, berat badanmu itu buat apa, sih? Kenapa harus aku yang repot-repot begini?"

Ethan tidak menjawab. Kepalanya justru terkulai ke arah Selena, membuat perempuan itu spontan menjauhkan wajahnya.

"Hei! Jangan bersandar sembarangan!"

"Hmm ... berisik."

Selena melotot. "Apa katamu? Berani sekali kamu bilang aku berisik setelah membuatku keluar rumah tengah malam begini!"

Ethan hanya menggumam tidak jelas.

Dengan susah payah, Selena membawanya melewati pintu keluar klub. Beberapa kali langkah Ethan goyah hingga Selena harus berhenti untuk mengatur posisi tubuhnya.

"Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku biarkan teman-temanmu yang mengurusmu!" gerutunya.

Namun, begitu sampai di area parkir, Ethan kembali kehilangan keseimbangan. Selena segera menahan tubuhnya sebelum mereka berdua terjatuh.

"Ethan! Bisa diam sebentar saja nggak?"

Laki-laki itu membuka mata setengah, lalu menatap wajah Selena dari jarak dekat.

"Kamu marah sama aku?"

Selena terdiam sesaat, kemudian mendengus kesal.

"Menurutmu?"

Ethan menunduk. Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa. Sikapnya yang mendadak diam membuat Selena sedikit heran, tetapi ia tidak berniat menanyakan lebih jauh.

"Sudah, jangan banyak tingkah. Sebentar lagi sampai mobil."

Dengan sisa kesabarannya, Selena kembali memapah Ethan menuju mobil. Begitu tiba di samping pintu penumpang, ia berusaha mendudukkannya dengan benar.

"Masuk. Hati-hati kepalamu."

Ethan menurut, meski gerakannya lamban. Setelah memastikan laki-laki itu duduk dengan aman, Selena menutup pintu dan mengitari mobil menuju kursi pengemudi.

Ia duduk di balik kemudi, mengembuskan napas panjang, lalu melirik Ethan yang kini menyandarkan kepala dengan mata terpejam.

"Benar-benar gila. Gara-gara kamu, hidupku berantakan."

Selena menyalakan mesin mobil. Sebelum mulai berkendara, ia kembali melirik Ethan untuk memastikan kondisinya.

"Jangan muntah di mobilku," ancamnya.

Ethan tidak menjawab. Selena menggeleng, lalu mulai menjalankan mobil meninggalkan klub malam. Sepanjang perjalanan, ia terus menggerutu pelan, sementara Ethan duduk setengah sadar di sampingnya, sesekali menyebut nama Selena dengan suara lirih.

Sepanjang perjalanan, Selena beberapa kali melirik Ethan yang duduk dengan kepala bersandar pada jok. Awalnya, laki-laki itu hanya bergumam tidak jelas. Namun, beberapa menit kemudian, ia mulai bergerak gelisah.

"Selena ..." panggilnya lirih.

Selena tetap fokus menyetir tanpa menjawab.

"Aku minta maaf."

Kening Selena berkerut. Ia melirik Ethan sekilas, tetapi laki-laki itu masih memejamkan mata. Napasnya terdengar berat, sementara sudut matanya mulai basah.

"Aku salah, Selena. Aku benar-benar salah."

Selena terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Ethan, bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun.

"Aku nggak seharusnya melakukan itu sama kamu," lanjut Ethan dengan suara bergetar. "Aku bodoh ... aku benar-benar bodoh."

Air mata mulai mengalir di pipinya. Ethan mengusap wajahnya dengan gerakan lemah, tetapi air matanya justru semakin deras.

"Aku mencintaimu, Selena. Aku benar-benar mencintaimu."

Tangan Selena yang memegang kemudi mengencang.

"Ethan, sudah. Diam dan tidur saja."

"Aku mencintaimu ..." Ethan menggeleng pelan. "Kenapa kamu nggak mau percaya sama aku? Aku cuma ingin kamu tetap di sisiku."

Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, lalu menangis seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu sendirian.

"Aku menyesal, Selena. Seandainya aku bisa mengulang semuanya, aku nggak akan menyakitimu. Aku nggak akan membiarkan semuanya jadi seperti ini."

Selena tidak menjawab. Ia terus menatap jalan di hadapannya, tetapi kata-kata Ethan membuat pikirannya kembali pada masa lalu mereka. Dulu, Ethan pernah menjadi seseorang yang begitu dekat dengannya. Ada masa ketika Selena percaya bahwa laki-laki itu akan selalu berada di sisinya. Namun, kepercayaan itu sudah hancur karena pilihan Ethan sendiri.

Dan sekarang, laki-laki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu menangis di sampingnya, memohon maaf dalam keadaan bahkan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Selena menggigit bibir bawahnya. Ada rasa sesak yang muncul di dadanya, sesuatu yang berusaha ia tekan sejak lama. Bagaimanapun, ia pernah menyayangi Ethan. Namun, rasa sayang itu tidak menghapus luka yang ditinggalkan laki-laki tersebut.

"Ethan ..." panggilnya pelan.

Laki-laki itu menoleh dengan mata sembap. "Selena, jangan tinggalkan aku."

Kalimat itu membuat Selena kehilangan kata-kata. Beberapa detik kemudian, ia menyalakan lampu sein dan memarkirkan mobil di tepi jalan yang aman. Mesin masih menyala ketika ia menoleh ke arah Ethan.

Ethan terus menangis, sesekali menyebut namanya di sela-sela isak.

"Aku mencintaimu, Selena. Jangan benci aku ... kumohon."

Selena menatapnya lama. Untuk sesaat, ia ingin mengulurkan tangan dan mengusap air mata di pipi Ethan, seperti yang pernah dilakukannya dahulu. Namun, tangannya berhenti sebelum sempat bergerak. Ia tidak bisa kembali menjadi perempuan yang dulu.

"Ethan, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" tanyanya lirih.

Ethan tidak menjawab. Ia hanya menatap Selena dengan pandangan sayu.

"Bukan karena kamu sekarang menangis atau meminta maaf. Tapi karena kamu baru mengatakan semua ini setelah semuanya terlambat."

Bibir Selena bergetar tipis. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kesedihan yang tidak ingin diperlihatkannya.

"Aku juga pernah mencintaimu," lanjutnya pelan. "Tapi kamu sendiri yang menghancurkan semuanya."

Ethan kembali menangis mendengar perkataannya. "Maafkan aku ..."

Selena memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia tidak tahu apakah Ethan akan mengingat percakapan ini ketika sadar nanti. Mungkin laki-laki itu bahkan tidak akan mengingat satu pun perkataannya malam ini.

Namun, bagi Selena, semua luka itu nyata. Dan ia tidak bisa terus berpura-pura bahwa permintaan maaf akan membuat semuanya kembali seperti semula.

"Sudah, Ethan. Diamlah agar aku bisa fokus menyetir."

Ia kembali menghadap ke depan, menunggu sampai tangisan Ethan mereda sebelum melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil yang sunyi itu, Selena membiarkan air matanya jatuh satu per satu tanpa suara.

Malam itu, mereka menangis untuk alasan yang berbeda. Ethan menangisi sesuatu yang telah hilang karena kesalahannya sendiri, sementara Selena menangisi kenangan tentang seseorang yang pernah ia cintai, tetapi kini tidak lagi bisa ia percayai.

1
Allea
selena bodoh🤭
Dessy C: iya kak 🤭 pemeran utama versi oon kak 🙈
total 1 replies
Allea
selena kurang tangguhlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!