Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sisa Nasi Kemarin
Tetesan air hujan sisa semalam jatuh teratur dari selah atap seng yang berkarat, menimpa ember plastik kusam di sudut kamar dengan bunyi monoton yang mengganggu. Dirga (25 tahun) membuka matanya perlahan, menatap langit-langit rumah kayu peninggalan orang tuanya yang makin lapuk dan dimakan usia. Kayu-kayu dinding tempat tinggalnya telah menghitam, beberapa celahnya cukup lebar untuk membiarkan angin malam menusuk hingga ke tulang. Tepat hari ini, genap satu tahun sejak kepergian ibunya untuk selamanya, menyusul sang ayah yang telah lebih dahulu berpulang saat Dirga masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dirga bangkit dari tempat tidur tipisnya, melangkah perlahan menuju meja dapur yang hampir meroboh. Di sana, di bawah tudung saji yang sedikit terkoyak, terdapat piring seng berisi sisa nasi kemarin yang telah mengeras dan dingin. Tanpa mengeluh, ia mengambil sendok kayu, mengunyah nasi itu perlahan dalam keheningan pagi yang sunyi. Hanya ini gizi yang dimilikinya sebelum menempuh hari yang panjang. Sebagai seorang pekerja pembersih ruangan di sebuah kantor investasi pada pagi hari dan pengemudi ojek daring hingga larut malam, stamina adalah satu-satunya modal yang tersisa. Namun, seluruh keringat dan lelah yang ia kumpulkan setiap bulan nyaris tidak pernah menyisa di dompetnya sendiri. Semuanya bermuara pada satu nama, Eri.
Suara ketukan halus pada pintu dapur kayu yang condong mengejutkan Dirga dari lamunannya. Bi Sumi, tetangga sebelah rumah yang sudah menganggap Dirga seperti anak sendiri, berdiri di ambang pintu membawa sebuah rantang kecil.
"Dirga, kamu sudah bangun, Nak?" sapa Bi Sumi lembut.
"Sudah, Bi. Mari masuk. Maaf, rumahnya masih berantakan," jawab Dirga seraya menggeser sebuah kursi kayu tua yang salah satu kakinya diganjal batu bata.
"Bi Sumi cuma sebentar. Ini, Bi Sumi bawakan sedikit tumis kangkung untuk lauk pagi. Kamu jangan cuma makan nasi keras begitu," ujar wanita paruh baya itu seraya meletakkan mangkuk di meja. Pandangan Bi Sumi menyapu sekeliling ruangan yang memprihatinkan, lalu tertuju pada wajah lelah Dirga. "Kamu itu kerja dari pagi sampai malam, Nak. Tapi kenapa atap rumah yang bocor ini tidak pernah kamu perbaiki? Badanmu makin kurus."
Dirga tersenyum tipis, mencoba mengalihkan tatapan mata Bi Sumi yang penuh rasa iba. "Uangnya belum cukup, Bi. Banyak kebutuhan lain yang harus saya selesaikan."
Bi Sumi menghela napas panjang. Ia mengusap bahu Dirga yang tegap namun tampak memikul beban berat. "Kamu selalu bilang begitu. Jangan sampai kamu mengabaikan kesehatanmu sendiri demi orang lain, Dirga. Bi Sumi tahu kamu anak yang berbakti, tapi kamu juga harus menyayangi dirimu sendiri."
"Saya mengerti, Bi. Terima kasih banyak atas perhatian dan makanannya," balas Dirga dengan sopan.
Setelah Bi Sumi berpamitan, Dirga bergegas membersihkan diri dan mengenakan seragam pembersih ruangan yang berwarna biru pudar. Kainnya sudah mulai menipis di bagian siku, tetapi masih sangat bersih dan rapi karena selalu ia cuci setiap malam. Saat ia meraih helm hitam kusamnya dan hendak melangkah keluar pintu, ponsel pintar berlayar retak di saku celananya bergetar hebat. Nama Eri terpampang di layar.
Dirga menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Selamat pagi, Eri."
"Kamu baru bangun? Jam berapa ini?" suara wanita di ujung telepon langsung terdengar melengking tanpa nada keramahan sama sekali.
"Saya sudah bersiap berangkat kerja, Eri. Ada apa menelpon pagi-pagi sekali?" tanya Dirga lembut, berusaha mengimbangi emosi kekasihnya.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya nanti malam kamu harus belikan aku tas merek Luxe yang warna merah maroon!" potong Eri cepat tanpa memedulikan pertanyaan Dirga.
Dirga menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak. "Tas? Eri, bulan ini saya baru saja menransfer seluruh gaji saya dan hasil ojek minggu lalu ke rekeningmu. Tabungan saya benar-benar kosong sekarang."
"Lalu kamu mau aku datang ke acara reuni teman-teman kuliahku nanti malam dengan tangan kosong, begitu?" pekik Eri di seluler, suaranya dipenuhi ketidaksenangan yang nyata. "Kamu tahu sendiri, kan, semua temanku membawa barang-barang mewah dari pasangan mereka! Kamu mau membuatku mempermalukan diri sendiri di depan mereka?"
"Eri, tolong mengertilah keadaan saya," ujar Dirga seraya mengusap wajahnya yang terasa panas. "Sisa uang di rekening saya saat ini bahkan tidak cukup untuk membeli bensin selama tiga hari ke depan. Harga tas yang kamu minta itu pasti mencapai jutaan rupiah. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa jam?"
"Itu urusanmu, Dirga! Bukan urusanku!" sergah Eri dingin. "Kamu pikir aku mau berpacaran dengan seorang petugas pembersih dan tukang ojek kalau bukan karena kamu menjanjikan akan menuruti semua kemauanku? Kalau kamu tidak sanggup membahagiakan aku dengan hal sepele seperti ini, untuk apa kita berhubungan?"
"Tolong jangan bicara seperti itu," sela Dirga dengan nada memohon. "Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, Eri. Setiap sen yang saya hasilkan dari pagi sampai malam selalu saya serahkan kepadamu. Apakah itu belum cukup membuktikan keseriusan saya?"
"Keseriusan tidak bisa dipakai untuk membeli harga diri di depan teman-temanku!" jawab Eri tajam. "Dengar baik-baik, Dirga. Kalau nanti sore kamu tidak datang membawa tas merah itu ke tempat kerjaku, hubungan kita selesai! Jangan pernah hubungi aku lagi dan jangan pernah menampakkan mukamu di depanku!"
"Eri, tunggu dulu! Tolong dengarkan saya—"
Bip.
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Dirga terpaku di depan pintu rumah kayunya yang lapuk. Layar ponselnya perlahan memadam, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat dan penuh keputusasaan. Angin pagi yang dingin berembus melewati celah-celah kayu dinding, menyapu tubuhnya yang gemetar.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah gang sempit depan rumahnya. Rian, sahabat dekatnya sejak dibangku sekolah dasar yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek daring, muncul dengan wajah cemas.
"Dirga! Kamu masih di rumah? Ini sudah hampir jam tujuh, kamu bisa terlambat masuk shift pagi!" seru Rian menatap sahabatnya yang berdiri mematung.
Dirga perlahan menatap Rian, matanya terlihat samar dan hampa. "Rian..."
"Kamu kenapa, Dirga? Wajahmu pucat sekali," Rian mendekat dan memegang bahu Dirga. "Ada masalah apa lagi? Apakah soal Eri?"
Dirga menarik napas panjang, mencoba menahan sesak yang bergulat di dadanya. "Eri meminta dibelikan tas merek mahal untuk acaranya nanti malam, Rian. Dia mengancam akan memutuskan hubungan kami jika saya tidak membelikannya sore ini."
Mata Rian terbelalak lebar. "Apa? Tas mahal? Kamu sedang bercanda, kan? Uang dari mana, Dirga? Gaji OB mu baru turun minggu lalu dan langsung kamu transfer semuanya ke dia! Kamu bahkan tidak menyisakan uang makanmu sendiri sampai harus berutang di warung!"
"Saya tidak tahu, Rian. Saya benar-benar tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi," bisik Dirga parau.
Rian memegang kedua bahu Dirga dan mengguncangnya pelan. "Buka matamu, Dirga! Wanita itu hanya memanfaatkanmu! Kamu menguras seluruh tenagamu dari subuh sampai larut malam, merusak kesehatanmu, membiarkan rumah orang tuamu yang bocor ini makin hancur, hanya demi menuruti gengsi wanita yang tidak pernah menghargaimu!"
"Kamu tidak mengerti, Rian," sahut Dirga perlahan, menatap lurus ke arah jalanan tanah di depan rumahnya. "Eri adalah satu-satunya alasan saya bertahan setelah ibu meninggal. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk membahagiakannya, apa pun taruhannya."
"Tapi ini tidak masuk akal!" tegas Rian dengan nada suara yang makin tinggi karena emosi. "Cinta tidak seperti ini, Dirga! Cinta tidak menuntut seseorang untuk mengorbankan kehormatan dan kelangsungan hidupnya sendiri! Kamu itu manusia, bukan mesin pencetak uang untuk dia!"
"Saya harus mendapatkan tas itu sore ini, Rian," ujar Dirga tegas, mengabaikan seluruh peringatan sahabatnya. Matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam. "Kalau saya harus meminjam uang kasbon di kantor atau menguras sisa tabungan darurat yang tersisa sedikit, akan saya lakukan."
Rian menggelengkan kepalanya seraya menatap Dirga dengan pandangan tidak percaya dan penuh rasa kasihan. "Kamu sudah gila, Dirga. Kamu benar-benar sudah buta karena cinta. Kalau kamu terus seperti ini, kamu sendiri yang akan hancur."
"Biar saya yang menanggung risikonya, Rian," balas Dirga pelan. Ia merapikan jaketnya dan mengenakan helm hitamnya yang sudah pudar. "Saya harus berangkat sekarang sebelum terlambat."
Tanpa menunggu balasan dari Rian, Dirga melangkah menuju sepeda motor tua peninggalan almarhum ayahnya. Suara mesin motor meraung kasar saat diengkol berkali-kali sebelum akhirnya menyala. Di atas kendaraan roda dua yang rapuh itu, Dirga memacu kendaraannya menembus dinginnya udara pagi kota, membawa beban berat di pundaknya dan keputusasaan yang makin menghimpit dadanya. Dengung ancaman Eri terus bergema di kepalanya, memburu setiap detik langkah yang harus ia tempuh hari ini.