Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Saya bilang... Jadi orang itu jangan sombong, angkuh, sama galak, Mas! Bukan malah nambah teman, banyak musuh yang ada," oceh Aisha.

"Lihat tadi, pasti kamu juga bentak mereka yang menabrak kamu tadi kan? atau jangan-jangan kamu pecat mereka tanpa alasan?"

Zavran yang kepalanya masih pening dan tubuhnya ngilu di sana-sini hanya bisa menatap Aisha tajam dari atas ranjang. Ingin rasanya ia berdiri dan membalas, tapi menggerakkan bahu sedikit saja rasanya seperti remuk.

"Terserah kamu mau mikir apa tentang saya. Karena kamu sudah bantu saya..." bisik Zavran , "saya akan menahan diri untuk tidak membalas ucapan kamu itu."

"Bagus," sahut Aisha santai, menepuk tangannya sekali dengan raut puas.

"Dan satu lagi ya, tolong kurangi ngomel-ngomelnya. Kamu lumayan ganteng, tapi mulutnya lebih nyinyir dari ibu-ibu kompleks!"

"Kamu bukan orang lokal sini, kan?" selidik Zavran.

"Emang kenapa?"

"Nggak apa-apa. Aneh aja, kok ada orang dengan penampilan seanggun kamu tapi omongannya..." Ledek Zavran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Gaya bicara saya sesuai dengan orang yang bicara sama saya. Anda ramah saya juga akan ramah.Siapa juga yang akan ramah berhadapan dengan laki-laki seperti anda!" Balas Aisha.

Ingin sekali rasanya Zavran membalas omongan pedas gadis di hadapannya ini, tapi bibirnya terasa terlalu kaku dan badannya sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

Tiba-tiba, mata Aisha tak sengaja melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

"Astagfirullah! Waktu istirahat sudah habis!" jerit Aisha panik. "Aduh, mati aku! Aku harus balik ke kantor sekarang juga!"

Aisha buru-buru menyambar tasnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Zavran yang terbaring sendirian di ranjang. Rasa tidak teganya mendadak muncul.

"Saya tidak tega meninggalkan kamu sendirian di sini. Coba kamu telepon teman atau keluarga dulu biar ada yang nungguin," tutur Aisha cemas.

Zavran menaikkan sebelah alisnya yang tidak tertutup perban. " Izin aja sekali ini. Bilang ke atasan kamu, kamu ada urusan darurat."

"Enak saja! Saya tidak mau ya bolos kerja cuma gara-gara nungguin orang galak kayak kamu!" sergah Aisha cepat sambil menggeleng kencang.

Zavran memicingkan mata, curiga. "Kamu kerja di mana memangnya?"

"Mau tahu aja! Tidak akan saya kasih tahu! Nanti kalau kamu tahu kantor saya, kamu malah makin bertingkah dan mendatangi saya lagi!"

"Percaya diri sekali kamu," cibir Zavran pelan.

"Biarin!" Aisha mengobrak-abrik tasnya lalu mengeluarkan ponsel  milik Zavran yang tadi diserahkan oleh perawat.

"Nih, ponsel kamu! Mending hubungi dulu kerabat atau temannya sekarang."

Zavran menerima ponselnya dengan tangan gemetar. Namun, begitu matanya menatap layar ponsel mahal itu, bentuknya sudah melengkung dan kacanya retak seribu akibat kejadian  tadi.

"Rusak," ujar Zavran singkat sambil menatap layarnya yang gulita.

"Aduh... ya sudah, sebutkan nomor telepon teman atau anggota keluarga, biar saya yang teleponkan pakai HP saya!" desak Aisha panik.

"Saya tidak hafal satu pun nomor mereka."

Aisha menepuk dahinya keras-keras. "Astagfirullahaladzim! Zaman sekarang kok tidak hafal nomor telepon satu pun?! Terus kamu kerja di mana sebenarnya? Biar saya telepon kantornya!"

Zavran seketika bungkam. Posisinya sebagai eksekutif penting membuatnya enggan membeberkan identitas pekerjaan kepada gadis yang baru dikenal ini.

"Saya... cuma pekerja biasa. Tidak punya kontak kantor yang bisa dihubungi," jawab Zavran berbohong datar.

"Hah?! Pekerja biasa tapi gaya dan omongannya kayak pemilik saham terbesar se-Edinburgh! Terus solusinya bagaimana ini?!"

Karena sudah tidak ada solusi lain dan jam kantor makin mendesak, Aisha akhirnya berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar.

"Hei! Cewek galak! Kamu mau ke mana?!" panggil Zavran dengan suara melengking, panik saat melihat Aisha hendak meninggalkannya. "Jangan pergi dulu! Hei!"

Aisha tidak memedulikan panggilannya. Ia memutar gagang pintu dan melangkah keluar begitu saja, menghilang di balik pintu ruang perawatan.

Zavran bersandar pada bantalnya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan napas terengah-engah karena emosi.

"Dasar cewek tidak punya perasaan!" gerutu Zavran meluapkan kekesalannya pada ruangan yang sepi.

"Memang semua cewek sama aja! Ngakunya penolong, tapi pas lihat orang susah langsung main tinggal pergi begitu saja! Awas kamu ya kalau ketemu lagi!"

Mata Zavran menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan raut wajah gusar. Ia meratapi nasibnya yang malang, sudah babak belur dipukuli penjahat, ditinggal sendirian di rumah sakit pula.

Namun, baru lima menit Zavran mengomel sendirian dan menyumpah-nyumpahi nasibnya, bunyi gagang pintu yang diputar mendadak terdengar kembali.

Klek.

Pintu terbuka. Sosok Aisha  kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Di tangannya, ia memegang kantong plastik berisi dua botol air mineral dan segelas teh hangat yang baru ia beli dari kantin RS.

"K-kamu?!" pekik Zavran kaget. "Bukannya kamu tadi sudah pergi?!"

"Siapa yang bilang saya pergi?"

"Lah! Tadi kamu jalan keluar begitu saja, tidak menjawab panggilan saya!" protes Zavran.

"Saya pikir kamu sudah balik ke kantor dan ninggalin saya sendirian di sini!"

"Saya keluar cuma mau telepon teman!"

"Telepon teman? Buat apa?"

"Ya buat MINTA IZIN lah!" semprot Aisha, memandangi wajah Zavran yang tampak melongo tanpa dosa.

Zavran berkedip berkali-kali. "Kamu... izin bolos kerja?"

"Bukan bolos, Pak! Izin terlambat!" koreksi Aisha cepat.

"Lagian siapa suruh kamu tidak hafal nomor telepon orang rumah, terus HP pakai acara penyok segala?! Kalau saya balik ke kantor sekarang, terus kamu mendadak mati sendirian di sini karena kehabisan napas, nanti malah saya yang dipanggil polisi karena dituduh penelantaran korban!"

"Mulut kamu itu benar-benar tidak ada saringannya ya," cibir Zavran pelan. "Masa mendoakan orang mati."

"Ya habisnya kamu bikin pusing!" cerocos Aisha lagi, menarik kursi di samping ranjang dan duduk dengan muka cemberut.

"Saya ini rugi banyak tahu! Gara-gara nolongin kamu, baju saya berantakan dan penuh noda, terus sekarang saya harus mempertaruhkan reputasi saya sebagai pegawai teladan di kantor!"

"Nanti saya ganti rugi," sahut Zavran datar. "Baju kamu sama biaya ganti rugi waktu kamu... sebutkan saja berapa nominalnya."

"Halah, gaya bicaranya sok kaya lagi ! Sudah, diam saja! Mending kamu itu istirahat, minum teh hangat ini biar tidak pucat kayak mayat hidup!"

Zavran menatap gelas teh hangat di atas meja nakas, lalu beralih menatap Aisha yang sedang cemberut sambil membetulkan posisi jilbabnya yang miring.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!