Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Gerobak Mang Ujang adalah lambang dari segala hal yang ditakuti oleh ahli gizi, namun dipuja oleh dompet pelajar. Kepulan asap dari wajan raksasa yang minyaknya sudah berwarna kecokelatan berpadu dengan aroma gurih bumbu kacang yang kental, menciptakan atmosfer yang memaksa hidung siapa pun.
Bagi siswa-siswi SMA Harapan Warga, gerobak batagor Mang Ujang adalah oase surgawi di tengah penatnya jam pelajaran. Namun, bagi seorang pewaris takhta sindikat dunia bawah tanah yang lidahnya hanya pernah mengecap kaviar beluga dan steak wagyu A5 buatan chef bintang Michelin, gerobak ini tampak seperti arena uji nyali.
Alea menyeret Arka hingga berhenti tepat di depan panci kukusan yang penyok.
"Mang Ujang! Batagor porsi kuli dua, bumbu dipisah! Yang satu buat bos ini, piringnya tolong dilap pakai tisu bersih, jangan pake lap meja yang dari pagi belum dibilas ya, Mang!"
Mang Ujang, pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di leher, mengangguk hormat melihat aura intimidasi Arka yang seolah salah tempat di depan gerobaknya.
Dalam hitungan menit, dua piring plastik berwarna hijau pudar yang tepiannya sudah gompal mendarat di atas meja kayu panjang.
Mata sekelam obsidian milik Arka terpaku pada ember merah tempat cuci piring. Otaknya yang terbiasa mengkalkulasi arah lintasan peluru dan titik kelemahan musuh, kini mendadak beralih menghitung perkiraan jumlah koloni bakteri E. coli dan potensi wabah disentri di dalam air kobokan tersebut.
Ia menatap ngeri piring plastik hijau yang baru saja diangkat dari ember, dilap seadanya dengan kain serbet dekil, lalu diisi dengan potongan batagor panas.
Alea meletakkan satu piring penuh batagor yang tenggelam dalam lautan bumbu kacang kental dan kecap manis tepat di depan Arka. Gadis itu lalu duduk di sebelahnya, mematahkan sumpit bambu murahan dengan bunyi krek yang memuaskan.
"Makan, Bos. Jangan cuma di liatin doang, batagornya nggak bakal gigit kok," seru Alea setelah menelan suapan pertamanya dengan nikmat.
Arka melirik piring di depannya, lalu menatap Alea dengan alis terangkat.
"Lo yakin piring itu steril dari kontaminasi bakteri mematikan?" suara bariton Arka mengudara dengan nada datar yang sarat akan penilaian skeptis.
Alea menghentikan kunyahannya. Ia menelan paksa makanannya, lalu memutar bola matanya malas. Gadis itu menuding Arka menggunakan ujung sumpitnya.
"Dengerin ya, Tuan Muda yang terlahir dari rahim kemewahan," ucap Alea dengan nada sok bijak bak dosen imunologi gadungan.
"Lambung anak sekolah negeri, apalagi kasta pekerja kayak gue, itu udah di-upgrade otomatis dari sananya. Antibodi kita tuh udah setara tentara bayaran elite. Kalau kuman atau bakteri dari ember Mang Ujang masuk ke perut gue, kumannya yang bakal kena mental."
Arka ngangkat sebelah alisnya makin tinggi. Seumur hidup, baru kali ini dia diyakinkan sama teori medis paling ngawur di dunia.
"Tentara bayaran elite," gumamnya pelan, ngulangin istilah konyol itu.
"Definisi yang sangat kreatif buat ngedeskripsiin keracunan makanan massal."
"Itu namanya adaptasi evolusioner, Bos!" sanggah Alea tak terima, kembali melahap makanannya.
"Makanya, sekali-kali turun ke jalanan biar tahu rasanya hidup menantang maut lewat jalur kuliner lokal."
Melihat Arka masih menimbang-nimbang garpu plastiknya, insting bisnis Alea mendadak berputar cepat. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, menatap pemuda itu dengan tatapan berbinar layaknya tenaga penjual yang melihat peluang.
"Eh, Bos Arka," panggil Alea dengan nada sok akrab, menopang dagunya menggunakan tangan kiri.
"Berhubung lo ini murid baru di sini, gue mau nawarin ekspansi bisnis nih."
Arka menaruh garpu plastiknya perlahan, menunggu kelanjutan kalimat dari Alea.
"Sebagai klien VIP gue hari ini, gue punya penawaran jasa ekstra," lanjut Alea menggebu-gebu.
"Gue nggak cuma nerima jasa tour guide sekolah. Gue ini freelancer serba bisa. Lo butuh joki absen? Bisa. Butuh joki rangkuman pelajaran sejarah yang tebalnya kayak kitab dosa? Gue jagonya. Terus… kalau lo ada tugas presentasi yang ribet, gue juga buka jasa desain slide pakai Canva atau Desygner. Lo tinggal terima beres, layout-nya dijamin estetik, rapi, dan presentasi lo bakal auto dapet A. Daripada jari-jari mulus lo itu capek ngetik, mending duit lo yang bekerja. Gimana? Harga kawan, deh, diskon sepuluh persen buat pesanan pertama, pembayarannya bisa cash atau transfer ke DANA gue!"
Arka menatap lekat wajah Alea yang dipenuhi semangat mencari cuan itu.
"Lo ini hidup buat bernapas, atau untuk ngumpulin duit recehan sih?" tanya Arka sedatar tembok, nada suaranya mengandung hiburan yang samar namun pekat.
"Dua-duanya!" sahut Alea tanpa ragu sedikit pun.
"Napas itu gratis, tapi beli beras sama bayar token listrik kontrakan butuh uang, Bos! Kalau gue nggak kerja keras begini, gue mau makan apa? Makan harapan palsu pemerintah?!"
"Harapan palsu terdengar kurang ngenyangin," balas Arka tenang, nada suaranya nyaris sarkastis.
"Maka dari itu lo pakai jasa gue, biar gue bisa beli beras karungan!" seru Alea mendesak, sambil mengibaskan garpunya di udara.
"Jadi gimana? Deal? Mau ambil paket joki tugas mingguan atau bulanan?"
Sebelum Arka sempat merespons tawaran bisnis yang sangat tidak masuk akal itu, sebuah kekacauan mendadak terjadi di belakang mereka.
Dari arah lapangan basket, seorang siswa bertubuh gempal bernama Rico, perundung yang terkenal hobi memalak, berjalan mundur sambil tertawa keras bersama teman-temannya. Ia sama sekali tidak memperhatikan jalan hingga tubuh besarnya menabrak punggung Alea dengan hantaman yang cukup keras.
Keseimbangan Alea oleng seketika. Sumpit di tangannya terlempar, dan piring batagornya nyaris meluncur jatuh ke pangkuannya.
Dalam sepersekian detik, sebelum piring itu tumpah dan sebelum Rico menyadari siapa yang ia tabrak, tangan kiri Arka melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa.
Tangannya tidak repot-repot menangkap piring Alea, melainkan mencengkeram pergelangan tangan Rico dengan cengkeraman baja yang mematikan.
Krak!
Bunyi tulang yang bergesekan terdengar pelan namun memuakkan. Cengkeraman Arka begitu kuat hingga seketika menghentikan aliran darah di tangan Rico.
Rico menoleh dengan niat ingin melontarkan makian kasar, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan saat ia melihat siapa yang menahannya.
Sorot mata Arka telah berubah drastis. Bukan lagi tatapan datar yang dingin, melainkan tatapan kosong, gelap, dan brutal dari seorang eksekutor tanpa ampun. Hawa dingin seketika membekukan udara di radius dua meter di sekitar meja mereka.
Jari-jari Arka bersiap mematahkan pergelangan tangan Rico dalam satu gerakan fatal.
"Siapa yang—" suara Rico tercekat, wajahnya langsung memucat pasi saat melihat sorot mata pembunuh di hadapannya.
Namun, ketegangan horor yang mencekam itu mendadak dihancurkan berkeping-keping oleh teriakan melengking dari arah bawah.
"Woy! Sumpit gue terbang, jir!!" teriak Alea histeris, sepenuhnya buta terhadap aura mematikan yang menguar dari kliennya.
Gadis itu menepuk-nepuk kemeja seragamnya dengan panik sambil melototi lantai.
"Heh, Rico! Kalau jalan tuh pakai mata dong! Jangan pakai dengkul! Lihat nih, cipratan bumbu kacangnya kena sepatu kanvas gue! Lo tau nggak nyuci sepatu putih begini susahnya minta ampun?! Harus disikat pakai pasta gigi, tau?!"
Arka mengerjap. Fokusnya mendadak teralihkan. Insting membunuhnya yang sudah berada di ujung tanduk ditarik paksa kembali ke bumi oleh omelan tentang cara membersihkan sepatu dengan pasta sikat gigi.
Pemuda itu menatap Alea yang sedang berjongkok meratapi sepatunya dengan raut wajah paling tragis sedunia. Ia kemudian melirik Rico yang kini gemetar hebat, menahan sakit sekaligus teror di pergelangan tangannya.
"Lepas… lepasin, jir…" Rico merintih kesakitan, napasnya tersengal-sengal ketakutan.
Dengan hela napas pelan yang sarat kepasrahan, Arka melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan pemuda itu lari terbirit-birit menembus kerumunan tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Arka kembali bersandar pada bangku kayunya. Di dunia bawah tanah tempatnya berasal, amarah hanya bisa dibayar dengan darah dan nyawa. Namun di kantin kumuh ini, iblis di dalam diri sang pewaris justru mereda seketika.
Gadis ini, pikir Arka, benar-benar unik.
Seringai tipis yang menawan sekaligus berbahaya perlahan terukir di sudut bibirnya yang dingin.
"Alea," panggil Arka pelan, suaranya kembali tenang dan dalam.
Alea mendongak dari posisinya yang berjongkok, wajahnya masih bersungut-sungut kesal.
"Apa lagi sih, Bos? Lo mau nambah batagor? Beli sendiri gih, argo lagi gue pause sementara!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂