Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Bekal yang Malang
🌸🌸🌸
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan like dan komen ya
Setelah masak di dapur selesai aku kembali menaiki tangga menuju lantai dua, tempat keberadaan kamar aku dan kak Revan, walau didalamnya sering kami merasakan kecanggungan tapi dengan seiring waktu, aku yakin rumah tanggaku dan kak Revan akan menunjukkan kemajuan.
Aku adalah wanitanya, istrinya dan semua tanggung jawab ayah sudah beralih penuh pada kak Revan. Kak Revan berhak atasku.
Bagaimana dengan kekasih kak Revan?
Semoga Tuhan memberi jalan yang tebaik.
Apa aku berharap lebih atas pernikahan ini, memang. Aku sudah menaruh hati pada Kak Revan sejak dulu. Lantas apa aku akan menyerah begitu saja, pernikahan ini baru seumur jagung. Dan aku berjuang untuk pernikahan ini.
Aku mengetuk pintu kamar pelan, dan langsung memasukinya karena pintu kamar sedikit terbuka. Kak Revan sedang bersiap, tampak buru-buru merapikan berkas memasukan berkas kerjanya yang sudah aku rapikan semalam.
"Kak...sarapan dulu di bawah.." ujarku pelan, dengan tangan yang memeluk kotak bekal yang masih terasa hangat.
Kak Revan mendesis pelan, kala melihat beberapa lembar kertas berjatuhan saat ia masukan kedalam tas kerjanya.
"Kalau begitu ini bekal untuk makan siang, ada paru goreng dan sambal kentang. Kata ibu, kak Revan suka makan ini..."
Hening, pria itu makin mengerutkan alisnya. Kembali memasukan lembar kertas yang berceceran dilantai.
"Kak, biar aku saja yang bereskan. Kak Revan cepat pakai sepatu saja."
Pria itu bangkit dan duduk di sofa sambil menenteng sepatunya, aku berjongkok dan mulai merapikan lembar demi lembar kertas kemudian aku masukan kedalam tas kerja kak Revan. Selesai, berbarengan dengan kak Revan yang selesai memakai sepatunya.
Saat hendak menyimpan tas itu di atas meja, aku melihat satu notifikasi pesan masuk pada ponsel ka Revan.
Tidak ada nama, hanya ada tanda love merah untuk menamai kontak itu. Mungkin kekasih kak Revan.
Aku sempat membaja sekilas pesan pada layar itu.
Sayang, nanti siang jangan lupa untuk jemput aku. Semangat kerjanya ya...
Begitulah isi pesannya. Terkesan manis sekali, aku jadi membayangkan bagaimana hangatnya hubungan mereka, dan aku harus hadir sebagai figuran diantara hubungan sehangat itu.
Tapi mengapa mereka tidak memutuskan untuk menikah saja.
Apa kak Revan terhalang restu dari Bu Rahayu?.
Bohong sekali jika aku tidak merasa sakit hati, perih kini yang aku rasakan.
"Aku akan sarapan di rumah sakit.." suara bariton itu mampu membuyarkan lamunanku.
Kak Revan cepat mengambil ponselnya dan tas kerjanya yang terletak di atas meja.
"Kalau begitu, ini kak bekal untuk makan siang.." aku sambil memeluk tas bekal untuk diberikan pada kak Revan. Senyum tipis kuberikan padanya, walau kak Revan selalu menampakkan ekspresi wajahnya yang datar.
"Tidak usah, lain kali tidak usah menyiapkan bekal makan siang untukku. Karena aku selalu makan siang di luar.."
Bersama sang kekasih, tambahku dalam hati.
Aku hanya mengangguk samar, dengan mata yang tertuju pada kotak bekal dalam pangkuanku.
"Makan saja makanan itu, saya berangkat..."
Punggung tegap itu hilang dibalik pintu kamar, aku hanya mematung dengan sorot mata yang semakin sendu, perlahan memandangi kotak bekal sambil melangkah menuju sofa. Membuka kembali kotak bekal yang telah aku siapkan dengan sepenuh hati untuk kak Revan.
Ternyata pria itu selalu makan siang bareng dengan kekasih hatinya, cintanya serta semangat hidupnya.
Perlahan aku menyuapkan nasi dengan paru sapi goreng kedalam mulut, disertai dengan lelehan air mata yang mulai mengalir di pipi. Sarapan pagi, dengan lelehan air mata ini sangat terlihat menyedihkan sekali pada pantulan cermin lemari.
🌸🌸🌸
Pukul sepuluh pagi, aku sudah sampai di lembaga pendidikan yang jaraknya tidak jauh dari rumah.
Setelah drama menangis sambil memakan bekal yang ditolak kak Revan, tidak lama kemudian aku mendapat panggilan interview di SDN Citra Harapan. Semoga saja rezeki ku untuk menjadi guru honorer di sini.
Aku melangkah dengan penuh percaya diri, memakai pakaian rapi berupa kemeja batik dipadukan dengan rok hitam, serta hijab berwarna hitam. Berkas yang sudah tersusun rapi didalam map aku peluk erat, se erat harapan untuk bisa diterima menjadi tenaga pengajar disekolah ini.
"Bu Alya, yang sudah mengirimkan berkas lamaran via online ya?"
"iya, Bu saya Alya."
"Silahkan Bu, Bu Aisyah, selaku kepala sekolah SDN Citra Harapan sudah menunggu di ruangannya."
Interview berjalan lancar, Bu Aisyah selaku kepala sekolah terlihat ramah sekali. Aku juga menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Bu Aisyah dengan baik, lancar tanpa hambatan.
"Baik Bu Alya, setelah saya melakukan penilaian dari semua berkas yang ibu kirimkan dan melihat dari hasil interview hari ini. Saya menerima Bu Alya untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah kami."
Seketika binar di mataku menyala, walau masih honorer, setidaknya aku sudah memiliki pekerjaan yang baik.
"Terimakasih Bu..."
"Bahkan Bu Alya untuk sementara waktu ini, saya tempatkan menjadi wali kelas satu, untuk menggantikan salah satu guru yang sedang cuti."
"Wah...terimakasih Bu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Karena ibu sudah mempercayakan amanah yang besar pada saya."
Setelah itu, aku memutuskan untuk langsung pulang saja. Berjalan dibawah terik matahari menuju jalan umum untuk menaiki angkot, yang menuju jalan pulang.
Berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang tak kunjung datang. Asap dan bisingnya kendaraan sangat tidak membuat nyaman.
Sorot mataku kembali pada jalanan, memperhatikan satu persatu mobil yang melintas, dan mobil hitam dengan kaca yang sedikit terbuka itu sepertinya aku kenal.
Pria itu tampak mengenakan kaca mata hitam, sedang berbicara manis dengan menampilkan deretan gigi yang rapi dan bersih. Itu adalah mobil kak Revan, dan di sebelahnya, seorang wanita bergelayut manja dibahunya. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi aku yakin pasti wanita itu sangat cantik. Terlihat dari rambutnya yang sangat terawat dan berkilau indah.
Mobil ka Revan melewatiku begitu saja, dengan jarak yang sangat dekat aku bisa melihat jelas wajah kak Revan.
Tidak mungkin kak Revan tidak melihatku yang sedang berdiri di pinggir jalan seperti ini.
Siapa juga yang akan peduli dengan wanita yang sangat malang seperti ini, berdiri di pinggir jalan, dihiasi oleh asap kendaraan dengan menenteng tas lusuh kesayangannya.
Jika dibandingkan, mungkin aku ini hanyalah butiran debu, yang tidak akan siapapun yang akan mempedulikannya.
"Hai...cantik.."
Tiba-tiba saja seorang pria aneh mencolek dagu ku, membuatku bergidik ngeri. Pria itu terus menatapku, matanya bergerak dari atas kebawah begitu saja, mulutnya menampilkan deretan gigi.
"Mau kemana sayang, mari abang antar pulang. Angkutan umum jas segini jarang lewat."
Deg pria itu langsung mencengkram erat pergelangan tanganku. membuatku semakin panik tak karuan. Aku berontak sedikit saja cengkraman tangannya semakin kuat.
"Tolong....tolong.."
Seketika pinggir jalan riuh dengan orang-orang yang menolongku. Pria itu memang agak sedikit problematik. Kejadian tadi membuatku sedikit trauma.
Bersambung..