Nanda seorang anak yatim piatu yang ditinggal kedua orangtuanya sejak kecil, setelah lulus kuliah dia datang ke Jakarta untuk mencari keberadaan seseorang yang selama ini telah banyak membantunya. Di masa pencarian itu, Nanda melewati banyak masa suka dan duka, Nanda juga dipaksa harus menelan kenyataan pahit tentang banyak rahasia yang akhirnya terkuak. Rahasia tentang apa dan siapa? ikuti kisahnya di BIANGLALA PUTIH
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Teman Rasa Kakak
"Duh Nanda... Kamu gimana sih? Kok bisa-bisanya nulis nama Yayasan di judul akta beda banget sama nama yang seharusnya... di sini kan udah jelas T nya juga dobel... ATT bukan At."
Mona sudah terdengar ngomel-ngomel di pagi hari.
"Iya ini juga NIK ada yang kurang ada yang kebalik." Bela ikut misuh-misuh.
Nanda yang jadi sasaran Omelan kedua gadis itu hanya diam seribu bahasa. Apa yang bisa Nanda lakukan, sebagai anak magang yang datang dari daerah dan hampir tidak punya apapun yang bisa dibanggakan, Nanda jelas tidak punya keberanian untuk bersikap lebih berani.
Buat Nanda, bisa magang di kantor Ibu Dewi saja itu sudah keberuntungan tersendiri, yang itu juga tidak akan bisa terjadi secara kebetulan jika Nanda tidak ditolong Rina, keponakan Ibu Dewi yang semasa kuliah berteman baik dengan Nanda di Purwokerto.
"Benerin lagi nih." Mona mendekati meja Nanda sambil melempar dua map yayasan yang sebelumnya dikerjakan Nanda.
"Tapi mba... hari ini aku harus mulai siapin laporan bulanan dulu." Lirih Nanda.
"Halah... itu mah bisa nanti, kerjain ini dulu lebih penting, laporan bulanan dikerjain besok-besok juga masih sempet, lagian kerjaan ngga ada duitnya ngapain sih dibela-belain banget, kamu tuh jadi karyawan ngga ngotak banget."
Mona mulai kasar.
"Hei Mon, keterlaluan kamu, laporan bulanan ngga ada duitnya tapi itu tugas Nanda dari Bu Dewi!" Bang Radit jadi kesal mendengar Omelan Mona, bersamaan dengan itu Rio terlihat masuk ke dalam ruangan kantor.
"Lagian kayak kerjaan kamu bener saja, nyiapin berkas buat dibawa ke BPN saja kamu masih selalu ada yang salah, padahal sudah empat tahun kamu kerja di sini, kamu juga tuh Bella!" Bang Radit balik mengomel dari mejanya.
"Kok aku dibawa-bawa." Bela misuh-misuh.
"Ada apa nih, pagi-pagi ribut?" Rio terdengar menyela.
"Itu Mona, dari kemarin memperbudak Nanda ngerjain ini itu, cuma perkara Nanda berangkat bonceng Niko saja sampai jadi ada pembullian dari kemarin." Bang Radit ambil suara karena jadi kesal melihat kelakuan Mona mengganggu ketenangan kantor.
"Eh Bang Radit, maksudnya apa aku ngebully Nanda gara-gara Niko!"
Mona tidak terima, ia merasa direndahkan dengan mengesankan seolah ia yang jauh lebih cantik dan penampilannya super menarik malah kalah dengan Nanda yang kumal, jelek, dan udik menurut Mona.
"Halah... cewek kalau udah rempong karena cemburu bener-bener ngga tertolong." Umpat Bang Radit.
Rio mendekati meja Nanda dan melihat map milik yayasan.
"Ini kerjaan kamu kan harusnya?" Tanya Rio mengangkat dua map itu dan mengarahkannya di depan wajah Mona.
"Ya Nanda yang disuruh ngerjain" Bang Radit bersuara lagi, Rio menatap tajam ke arah Mona.
"Mon... udah berapa kali aku bilang, kamu tuh sama saja karyawan disini, ngga usah sok kayak yang kasih gajian kita, lagian kalo mau sok bikin kantor sendiri sana! Ngaca Lah jadi orang, belagu jadi karyawan, jadi bos baru belagu."
Rio ganti melempar dua map yayasan itu ke meja Mona. Gadis itu wajahnya memerah. Matanya berkaca-kaca menatap Rio dengan kesal tapi tak mampu lagi membalas kalimat Rio yang tajam.
"Kamu juga Nan, jangan iya-iya saja kalau disuruh. Posisimu juga sama disini karyawan, kamu bukan budak, tau nggak!"
Nanda tertunduk, satu titik bening jatuh dari sudut matanya. Ia tahu ia yang salah, terlalu lemah hingga mau saja di perlakukan tidak seharusnya.
"Kerjain tugas masing-masing, kalau mau bantuan, minta dengan baik. Masih belum kapok kejadian yang menimpa Ratih? Bukannya itu gara-gara kamu juga Mon?" Kata Rio sewot lalu duduk di tempatnya.
Mona diam seribu bahasa mendengar kata-kata Rio, ia tak berani mengatakan apapun untuk membantah. Ia ingat Ratih karyawan magang tahun lalu yang akhirnya mengundurkan diri karena tidak tahan diganggu Mona dan Bella hanya karena Bu Dewi mulai terlihat lebih memperhatikannya.
Tak lama berselang Ibu Dewi terlihat memasuki ruangan. Untunglah keributan sudah berakhir. Mona sudah kembali ke tempatnya dan memilih mengerjakan tugasnya sendiri.
"Nanda, tolong bawa semua berkas yang sudah kamu kerjakan ke ruangan saya, biar saya tandatangani."
Kata Ibu Dewi sambil melenggang menuju ruangannya. Nanda pun segera menyiapkan beberapa berkas yang sudah selesai dan langsung membawanya ke ruangan Ibu Dewi.
**-------**
Ruangan Ibu Dewi tidak seberapa besar. Hanya satu set meja kerja, satu set sofa untuk menerima klien, rak buku yang diisi beberapa judul buku tentang hukum berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dan satu tanaman Palem berukuran sedang di pojok ruangan dekat jendela.
"Bagaimana Nanda, ada kendala selama kerja disini?" Tanya Ibu Dewi begitu Nanda menyerahkan berkas di atas meja Ibu Dewi.
Nanda cepat menggeleng.
"Saya sangat bersyukur bisa bergabung di kantor Ibu Dewi." Kata Nanda pula, tampak Ibu Dewi tersenyum.
"Syukurlah, Rina kemarin sore menelfon saya dari Kuala Lumpur menanyakan kabarmu."
"Ohh... iya Bu. Belakangan nomor Rina tidak bisa dihubungi, sudah hampir satu bulan." Kata Nanda.
"Dia sempat kehilangan hp waktu ke Thailand katanya. Oke, nanti saya berikan yang baru."
Lalu Ibu Dewi memberikan nomor keponakan kesayangannya pada Nanda.
"Baik-baik kerja disini, saya menerimamu karena Rina terus memohon. Saya percaya dia tidak akan salah memilih teman, jadi saya harap kamu jangan mengecewakan Rina dan saya, oke."
Pesan Ibu Dewi bijak. Nanda mengangguk mengerti.
"Kamu boleh keluar, nanti setelah semua selesai saya koreksi dan tandatangani kamu akan saya panggil lagi, dan jangan lupa setiap bulan mulai tanggal 25 kamu sudah harus menyiapkan laporan bulanan, supaya begitu akhir bulan kamu tidak terlalu kerepotan."
"Iya Bu."
Nanda kemudian keluar dari ruangan Ibu Dewi. Dan buru-buru mengirim pesan pada Rina.
**-----------**
Berbeda dengan hari sebelumnya yang terpaksa harus lembur, hari ini Nanda pulang seperti biasa.
"Aku anterin aja Nan, sekalian aku ada perlu ke Pasar Minggu." Kata Rio saat keluar dari kantor.
"Mau ke pasar?" Tanya Nanda.
"Iya, ada yang mau aku beli."
"Ooh..." Nanda mantuk-mantuk, lalu menerima helm dari tangan Rio.
"Tas kamu mana? ngga bawa tas?" Tanya Rio pada Nanda yang akan naik ke boncengan.
"Ooh... tas aku basah jadi aku cuci sekalian. Aku bawa dompet doang nih."
Nanda memperlihatkan dompet berukuran agak besar yang bisa untuk wadah hp juga. Rio nyengir melihatnya, antara takjub dan kasihan.
"Besok gimana? Jadi kan ke Menteng sama Niko?" Tanya Rio setelah Nanda akhirnya duduk dibelakangnya.
"Iya, tadi udah chat katanya mau jemput jam delapan pagi."
"Ehem..." Rio berdehem sedikit menggoda, lalu melajukan motornya.
"Apa ehem ehem?"
"Ngga apa, cuma gatel aja kerongkongan." Sahut Rio sekenanya, Nanda memanyunkan bibirnya tidak percaya.
"Niko tuh cowok baik lagi Nan. Kalo soal tampan meskipun lebih tampan aku, tapi dia dari jaman sekolah emang udah banyak banget yang naksir." Cerita Rio saat diperjalanan, Rio membawa motornya cukup santai hingga bisa banyak ngobrol dengan Nanda.
"Tampan kayak Lele... Hahhaha..." Nanda tertawa.
"Sialan." Rio misuh-misuh.
Lalu...
"Ni kalau ya... kalau Niko beneran suka sama kamu, ngga apa terima aja, aku yang jamin dia baik, seriusan deh."
"Apaan sih Rio ini, dari kemarin bahas Niko melulu."
Nanda pura-pura protes, padahal hatinya sekarang mulai berbunga-bunga setiap kali mendengar Rio membahas soal Niko.
"Eh ini aku serius tau Nan, aku tuh bisa ngerasain banget bedanya Niko memperlakukan kamu sama cewe lain, dia tuh bukan tipe cowok yang gampang baik sama cewe, dia bukan tipe yang pinter gombal, apalagi sejak dua tahun lalu, bisa dibilang dia dingin banget sama cewek."
"Mungkin dia cuma simpati aja sama Nanda." Kata Nanda lagi.
"Simpati apa XL?"
"Iiikh serius juga." Nanda menabok bahu Rio lagi.
"Lagian mana ada cowok simpati pake bilang kamu spesial, kamu tuh lugu apa culun?"
Rio kemudian terbahak, membuat Nanda kesal tapi sekaligus senang.
Tanpa disadari, wajah Nanda terlihat memerah. Ada rasa yang sungguh berbeda disalah satu sudut hatinya. Rasa yang membuat dadanya seperti berdebar lebih cepat dari biasanya, yang seolah berdesir tanpa tau sebabnya.
Rio menghentikan motornya di depan sebuah rumah kontrakan sederhana di mana Nanda tinggal, Nanda buru-buru turun dari boncengannya, melepas helm dan memberikannya pada Rio.
"Sori besok ngga bisa ikut nganter, Eva baru balik dari Rumah Sakit tadi pagi, besok sampai Minggu aku udah janji mau nemenin dia di rumah." Kata Rio.
Nanda mengangguk mengerti.
"Salam buat mba Eva."
"Oke, ntar disampein."
"Pamit yah Nan."
"Iya, makasih tumpangannya." Nanda melambaikan tangan.
Rio berlalu menjauh, Nanda memasuki rumah kontrakannya dan segera bersiap mencuci baju-baju kotornya agar esok hari ia tidak perlu mencuci dulu sebelum pergi.
**-----------**