Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam
Amri mengubah posisi duduknya menghadap kepada sang istri. Kedua tangannya terulur untuk memegang bahu Aminah.
“Katakan padaku, kalian kenapa?” tanyanya lembut penuh ketegasan. Tatapannya dalam mengisyaratkan sedang tidak ingin dibantah.
“Aku cuma kasih nasihat ke Olivia kalau makan harus menunggu suaminya. Jangan makan duluan sedangkan Vino masih tertidur pulas begitu,” jelas Aminah dengan wajah murung.
Amri mengangguk seraya ber-oh ria. Ia mulai paham dengan masalah yang terjadi.
“Olivia dengarkan bundamu. Kalau suamimu sedang tidur, siapkan makanan untuknya. Bangunkan untuk makan bersama. Jangan ditinggil,” ujar Amri seraya memandang lekat putrinya yang menampilkan wajah cemberut.
“Ayah pasti belain bunda,” sahut Olivia tidak terima.
“Kan, Yah. Dia memang begitu. Dibilangin pasti begitu. Itu jadinya punya suami yang enggak jelas asal-usul keluarganya karena dia selalu membantah ucapan orang tua.” Aminah menjawab ucapan Olivia dengan wajah yang merah padam. Ia geram dengan tingkah polah putri bungsunya itu.
“Pagi-pagi Bunda udah marah-marah. Malu sama tetangga,” tegur Amri.
“Belain terus anakmu itu, Ya. Bunda capek.” Aminah berdiri, mendorong kursi ke belakang lalu beranjak pergi meninggalkan Amri yang melongo melihat responnya dan Olivia yang menunduk dengan rasa bersalah.
“Sudah, bundamu memang begitu. Karakternya, ‘kan, banyak yang nurun ke kamu,” kekeh Amri mencoba mencairkan suasana yang terlanjur menegang.
Bukannya tertawa, Olivia malah menitikkan air mata. Cepat-cepat ia menghapus bulir bening itu dengan punggung tangan agar tidak ketahuan oleh ayahnya.
“Sudah jangan menangis. Kamu sudah menjadi seorang istri, harus bisa lebih kuat, tegar dan tegas. Masalah ke depan akan lebih terjal dan rumit. Apa lagi saat nanti kamu menghadapi keluarga suamimu. Ayah tidak mau siapa pun menyakiti putri Ayah. Kamu tahu itu, ‘kan?” Amri menatap lekat kepada putrinya.
Sejujurnya, Amri juga sedikit tidak rela melepas Olivia kepada Vino. Namun, apa hendak dikata. Mungkin inilah jalan takdir yang harus ditempuh anak bungsunya. Ia juga tahu, Tuhan pasti lebih mengetahui seberapa kuat hamba-Nya mampu menghadapi ujian itu. Amri yakin Olivia mampu melaluinya.
“Biar Ayah bicara sama bundamu. Sekarang kamu kembali ke kamar.” Amri berdiri, mengelus pucuk kepala Olivia lembut lalu melangkah pergi.
Olivia mengangguk pelan, lantas kembali masuk ke kamar memeriksa apakah Vino sudah bangun atau belum dari tidurnya.
Kamar itu telah kosong. Selimut di atas ranjang telah terlipat rapi, tersusun di atas bantal yang juga telah dirapikan. Seprai yang menutupi kasur pun telah rapi.
Olivia mengelum senyum. Ternyata Vino tidak segan-segan untuk merapikan kamar tidur yang telah mereka tempati. Salah satu kelebihan lelaki itu yang tampak di matanya.
Olivia berjalan ke lemari, mengambilkan pakaian yang akan digunakan Vino. Bunyi gemercik air di dalam kamar mandi sudah membuktikan jika lelaki itu tengah mandi pagi.
Olivia menunggu Vino dengan duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus pakaian yang telah disiapkan. Beberapa menit berikutnya, seorang lelaki yang dtunggu itu akhirnya datang juga. Berdiri di hadapannya hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuh. Perut rata Vino tercetak jelas.
“Baju,” ucao Vino membuyarkan lamunan Olivia.
Wanita itu cepat-cepat mengambilkan kaus beserta celana pendenknya, menyerahkan kepada Vini yang telah menunggu. Sesekali matanya melirik ke arah dada bidang yang tampak putih dihiasi bulu-bulu halusnya. Tanpa sadar Olivia menelan ludah dengan susah payah. wajahnya pun seketika memanas.
‘Apa yang aku pikirkan, sih?’ gerutunya dalam hati. Bisa-bisanya dirinya berpikir macam-macam. Sedangkan lelaki di hadapan tampak santai mengenakan pakaian. Sepertinya Vino memang sengaja melakukannya.
“A-yo makan. Sudah siang ini,” ajak Olivia dengan gugup. Lantas bergegas berdiri lalu melangkah lebih dahulu meninggalkan Vino yang enyisir rambut.
Sesampainya di ruang makan, Olivia langsung mengambil piring dan menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. sedangkan Vino tampak duduk dengan santai di kursi seraya menunggu Olivia menyiapkan sarapan untuknya.
“Ciee, pengantin baru.”
Olivia dan Vino menoleh kepada hanifah yang tersenyum meledek mereka.
“Apaan, sih, Mbak,” desis Olivia malu.
“Mbak mau pamit pulang. Hati-hati di rumah. Jangan ribut terus sama bunda. Akur-akur juga sama suami.” Hanifah mengulurkan tangan yang langsung disambut Olivia dan mencium punggung tangan sang kakak.
“Lho, ini pengantin baru satunya keramas satunya enggak. Enggak kompak bener,” celetuk Laila, kakak sulung Olivia.
Tangan Olivia kontang memegang rambutnya, masih lembab. Lantas pandangannya tertuju kepada lelaki yang duduk di sebarangnya tengah menikmati sarapan.
Tampaknya Vino tidak acuh pada ledekan mengenai rambutnya yang kering.
“Mmm, itu ... anu, Mbak.” Olivia gelabakan, berulang kali memberi kode kepada Vino tetapi sia-sia. Sebab lelaki itu masih saja tertunduk menghadap piringnya dengan khusyuk.
“Sudah-sudah. Jangan diledekin. Kali aja rambut Vino udah kering duluan.” Hanifah menyela. Lantas segera berpamitan kepada pengantin baru itu.
Vino menyahuti ala kadarnya. Ia juga cenderung malas untuk sekadar berbasa-basi.
Begitu Hanifah keluar, Laila pun menyusul. Jalan mereka searah, kedua keluarga itu juga pergi menggunakan satu mobil milik Hanifah.
Beberapa tetangga yang membantu di rumah berangsur pemit satu persatu, di tangan mereka menenteng bungkusan plastik yang berisi nasi beserta lauk pauknya. Bukan hanya sisa makanan pesta kemarin yang dihangatkan, mereka juga membawa masakan yang baru dibuat pagi tadi. Sudah menjadi kebiasaan setelah acara para tetangga akan membawa bungkusan makanan untuk oleh-oleh di rumah masing-masing.
Rumah itu akhirnya sepi. Bersisa empat orang saja. Si pengantin baru tampaknya sedang tidak ingin jalan-jalan keluar, rasa pegal di badan ditambah Vino yang berjalan dengan tertatih mengurungkan niat keduanya untuk berkeliling kampung pagi itu. Padahal, rencananya mereka ingin lari pagi.
Jangankan lari pagi, lari siang sudah tidaklah mungkin. Kegagalan di malam pertama menjadi salah satu penyebab kemalasan Vino melakukan aktivitas hari itu.
Setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring beserta gelasnya, Olivia masuk kekamar untuk melihat keadaan Vino.
Sesampainya di kamar, Olivia mendapati Vino tengah duduk besandar pada kepala ranjang dengan kedua tangan memegang ponsel. Sesekali kening lelaki itu berkerut seperti memikirkan sesuatu yang berat.
“Ada apa?” tanya Olivia penasaran. Ia menyusul Vino ke ranjang lalu duduk di samping suaminya.
“Ngubungin Papa, enggak dijawab,” jawab Vino pelan dengan mata masih menatap lekat pada layar ponsel. Tangannya sibuk menekan ikon hijau, mencoba menghubungi seseorang di seberang sana.
Pada panggilan ke lima, barulah mendapat jawaban dari orang yang dituju.
“Halo, Pa. Di mana, kok, telepon aku enggak dijawab-jawab?” cecar Vino begitu mendengar suara sang papa.
“Lagi di rumah, hp tadi di kamar. Papa tinggal mandi,” jelas lelaki paruh baya itu.
Vino mendesah lega, lalu memperkenalkan Olivia kepada papanya. Memberikan ponsel itu kepada wanita yang duduk di sampingnya dengan kaku.
“Ini, Papa mau ngomong,” ujarnya pelan.
Olivia menyambut ponsel dengan perasaan ragu.