Indonesia
NovelToon NovelToon
Kupinang Senja

Kupinang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Angst / Chicklit
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ai

Menyingkap tabir takdir perihal pertemuan dan perpisahan. Leora menerima takdirnya bahwa hidupnya tetap indah meskipun Dimas memutuskan mengakhiri semuanya. Bersama kenangan lama yang tak pernah mau menghilang dari isi kepalanya, berjalan bersama rasa yang tak mau enyah meskipun ia telah berusaha melupakan hingga ia sekarat sendiri dalam bayangan harapan yang pernah ia buat bersama pria yang sekarang hanyalah sumber laranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Hell of Hope

..."Harapan itu membunuh, bahkan yang sebaik malaikat pun terkadang tak diijinkan mengecap gagap gempita."...

......................

Harusnya, harusnya setelah mengatakan hal sekasar itu, Leora menyaksikan Dimas pergi dari sana dengan air muka yang memerah padam, entah untuk menahan malu atau untuk memendam amarah karena merasa sedang dipermainkan. Harusnya begitu, tetapi yang sekarang Leora saksikan sendiri tanpa langkahnya menjauh pun sorot obsidiannya yang masih betah memandang tajam pada Dimas yang juga tak merubah posisi pun merubah arah pandangnya.

Dua sorot yang saling menyelam, mencari entah apa yang dicari, hingga keduanya mencipta senyum misterius dan diakhiri sebuah guliran bola mata jengah tanda mereka memang sudah menduganya.

Leora tidak berniat sekalipun menghilang dari ruangannya, atau pergi meninggalkan Dimas dengan kekuasaannya yang melekat dalam diri pria itu. Leora berhak disana dan yang seharusnya pergi adalah Dimas. Leora sudah memberi isyarat kasar untuk membuat Dimas keluar dan menyuruhnya membawa makanannya sekalian, tetapi Dimas masih bersikeras disana meski tanpa kata yang terdengar mengudara.

"Aku mencoba mencintaimu hingga aku benar-benar mencintaimu. Memaklumi segala jarak hingga aku hampir gila sendiri menyetujui hubungan tanpa pertemuan seperti ini. Kau membujuk agar aku mau menerimanya hingga kau sendiri yang menghancurkannya."

"Kurasa kau tidak perlu datang lagi kemari dan uruslah hidupmu yang indah itu. Jangan pedulikan aku karena aku bukan lagi bagian dari hidupmu," ujar Leora tanpa merendahkan Dimas.

Leora mengatakan bahwa ia mencintai Dimas, itu benar. Tetapi cinta yang benar harusnya tidak membawanya pada luka yang sepedih itu. Kehadirannya tergantikan hanya karena sebuah jarak sialan.

"Kau tetap masih berpikir aku sungguhan bermain dibelakangmu?" tanya Dimas sesaat setelah menarik napas dalam-dalam. Mengembuskannya cepat sembari memutar tungkai meraih sebuah potret yang ada diatas meja kerja Leora dimana dua orang saling menggenggam terpotret disana.

Tersenyum sinis lalu dengan santainya Leora meraih bingkai kecil itu dari tangan Dimas. Tak ada gunanya menggunakan hal semacam itu untuk mengingatkannya pada hubunganya. Leora tak butuh hal semacam itu, yang Leora butuhkan adalah pengakuan atas alasan yang mendasari bagaimana Dimas memilih mengakhiri hubungan.

"Potret ini hanya akan berakhir menjadi kenangan. Jangan berpikir aku masih memajangnya karena aku masih mengharapkanmu. Aku hanya lupa tidak membuang sampah pagi tadi..." ucap Leora dengan sirat pongah puasnya.

Leora bukan gadis yang bisanya hanya menangis, merenung, apalagi sampai gila. Itu bukan Leora sekali. Leora sadar bahwa di dunia ini masih ada setengah dari 7 milyar manusia bumi dan jelas bukan hanya Dimas yang paling sempurna. Karena daripada meratapi hubungan yang telah berakhir, Leora berpikir akan lebih baik jika menjadikannya sebuah perjalanan. Percuma menyesali waktu yang telah berlalu, itu hanya akan membuat diri menjadi menyedihkan di hadapan semesta.

"Bisakah aku menikmati waktu istirahatku yang sebentar ini? Klien-ku akan kemari setengah jam lagi..." ujar Leora, tidak berniat mengusir pun jika Dimas mau pergi dengan sukarela dari ruangan Leora. Sungguhan Leora hanya tak ingin berbicara lebih banyak, karena semakin dirinya terpancing maka semakin sarkas pula kalimat yang terlontar.

Dimas memandang dengan bosan, sedangkan Leora tak peduli. Lagipula apa sekarang gunanya Dimas mendatanginya? Hanya untuk mengantar makanan lalu menjelaskan bahwa semuanya hanya salah paham? Heran! Leora sampai menggelengkan kepalanya pelan sambil berpikir sejenak; kenapa Dimas tak pernah pintar kendati sedang menempuh pendidikan master-nya di luar negeri?

Ah, lupa! Kehidupan percintaan, loyalitas, serta penanganan rasa bosan saat berpacaran tapi jarak jauh, mana ada diajarkan di dunia perkuliahan!

"Aku menghargai keputusanmu, Leora sayang. Tapi jangan terkejut saat bukan aku yang akan membuatmu menerimaku kembali." Dimas kembali dengan pendominasian yang mutlak. Semudah itu Dimas merubah ekspresinya dan membuat Leora hampir saja kehilangan pertahanannya.

"Aku sudah meminta maaf padamu, padahal kau tahu maafku ini mahal sekali. Kupikir kau akan memaafkanku seperti biasanya, tapi semenjak kau naik jabatan kau menjadi sedikit sombong ya?" ujar Dimas lagi.

Leora hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya, aura Dimas terlalu kuat untuknya. Hingga akan mengudarakan umpatan saja bibirnya menjadi kaku dan membeku. Tetapi, sesaat setelah kata itu terdengar, Leora bisa melihat Dimas memutar badan dan berjalan menjauh. Menghampiri pintu keluar, lalu sebelum Dimas menghilang dibaliknya, Leora sempat mengucap satu kalimat pendek yang kembali membuat Dimas menoleh kearahnya dan menyeringai tajam disalah satu sudut bibirnya.

"Ayahku tak akan termakan omongan manismu, tuan Sagara!"

......................

Jam istirahat sudah berlalu, membuat Leora yang tadinya sedang bersandar sambil memejam pun langsung sigap menegakkan badannya saat sebuah dering ponsel berhasil mengagetkannya. Telepon dari seseorang yang memang sedang Leora tunggu.

"Datanglah sebelum jam 2 siang, aku akan rapat setelah jam 3."

Leora kembali mematikan sambungan teleponnya. Dari klien yang pagi tadi sudah memberinya sebuah pekerjaan. Leora memang sedang tidak mood bekerja, tapi setidaknya sekarang Leora memiliki kesibukan selain memikirkan bagaimana Dimas tadi masih mengancamnya. Bukan mengancam, hanya memperingati dan itu terdengar seperti ancaman ditelinga Leora.

Leora membuka berkas yang memang sudah masuk ke kantor firma semenjak pria itu pertama kali mengajukannya, hingga akhirnya Leora melihat bahwa itu adalah kasus berkas perceraian.

Leora tidak terkejut dengan gugatan dan tuntutan, apalagi kasus seperti ini adalah kasus yang paling lumrah terjadi di Indonesia, tetapi Leora terkejut karena umur pernikahannya yang sudah kelewat lama. Entah bagaimana ceritanya orang bisa semudah ini mengantarkan dokumen perceraian pada firma hukum. Mereka bukankah menikah karena saling mencintai? Kenapa malah berakhir kembali menjadi perseorangan dengan merusak psikis buah cinta mereka sendiri? Apa mereka tidak berpikir akan merusak kebahagiaan anak mereka? Setelah mereka benar-benar berpisah secara hukum negara?

Disela-sela pikiran Leora beterbangan dalam dugaan, disaat yang sama itulah pintunya diketuk dari luar sebanyak tiga kali. Leora pun langsung paham siapa itu saat orang itu sungguhan masuk kedalam ruangan sembari memakai pakaian formalnya. Jas hitam lengkap dengan dasinya dan sepatu fantofel yang mengkilap, khas sekali seorang CEO yang bertanggung jawab.

Leora langsung bangkit dari kursinya, bersalaman untuk menjadi lebih akrab dan lebih mudah menjalin komunikasi. Leora menyuruh klien-nya duduk disofa dan dirinya juga duduk disofa yang ada dihadapannya. Leora memang tak pernah ingin membuat klien-nya kecewa, bahkan hanya perkara sebesar sofa pun Leora meminta pada perusahaan agar membelikannya yang empuk sekali, kualitas nomor satu.

"Bisa kita mulai?" tanya Leora setelah dirinya sempat membuatkan dua cangkir teh hangat herbal untuk tamunya dan juga dirinya. Leora bertanya seperti itu agar pria itu segera mempersiapkan dirinya.

Sembari membuka-buka berkas yang ada, Leora mulai menyusun sedikitnya lima pertanyaan dasar setelah melihat pria itu mengangguk. Artinya pria itu sudah siap untuk dicecar oleh Leora.

"Berkasmu menyatakan bahwa kau yang menggugat istrimu?" tanya Leora, sorot matanya yang tegas membuat Leora terlihat semakin mengerikan dalam artian sangat berwibawa sekali dan elegan. Pertanyaan itu mengalun dengan penuh keyakinan yang mengacu akan sebuah jawaban yang nantinya akan menjadi kunci semuanya.

"Benar," sahut pria itu begitu yakin.

"Alasan?" tanya Leora, singkat tapi membutuhkan banyak penjelasan dari orang yang ditanyainya.

"Dia terlalu baik," sahut pria itu.

Leora yang tadinya sedang membuka kertasnya lagi pun mendadak mendongak guna membingkai sosok dihadapannya. Jawabannya sangat rancu dan aneh. Terdengar seperti sebuah film klasik tahun '90an, tapi Leora sadar juga dirinya tidak sedang bermain drama musikal. Bukankah semua ini menjadi aneh saat pria itu mengatakan alasannya?

Menghentikan pergerakan jemarinya pada kertas bertumpuk itu, Leora lalu menyingkirkan berkasnya dengan cara mendorongnya ke sisi kanan mejanya setelah menutupnya. Membiarkan jemarinya saling menaut dan pandangannya menatap lurus kedepan. Mencoba membaca situasi dan air muka pria itu hingga Leora mengudarakan tanya untuk kali ketiga.

"Bisa jelaskan padaku lebih rinci?" pinta Leora, tapi setelahnya pria itu hanya menunduk sebentar. Leora selaku pengacaranya jelas tidak bisa menghakimi langsung, Leora tetap menunggu sampai pria itu siap mengatakam apa yang memang sebenarnya terjadi.

"Aku ingin dia bahagia tanpa aku. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya dan kuharap kau bisa membuatku memiliki hak asuh atas anakku," adu pria itu, sebagian adalah alasan yang lebih rancu, sebagian lagi adalah harapan bahwa Leora akan bisa membuat pria itu mengantongi hak asuh atas anaknya sendiri.

"Kau melakukan apa? Perselingkuhan? Hanya orang yang bersalah yang mampu mengatakan hal semulia itu, tuan Dion Petter," ujar Leora dengan khasnya.

Berkarir dalam dunia hukum membuat Leora mengerti bahwa ketegasan adalah kunci agar semuanya tegak. Tak ada pertanyaan yang menggiring, juga bertele-tele. Khas seorang Leora Daymion adalah saat dia mulai bertanya dan pertanyaannya yang selalu menuju pada sebuah kejelasan. Dan mungkin karena alasan itulah, Dion Petter memutuskan memilih Leora sebagai kuasa hukumnya.

Sempat tersenyum sedikit diujung bibir, segaris senyum miris yang bercampur aduk dengan tatap yang berpendar gelisah. Leora tahu betul bahwa pertanyaannya terlalu menohok, tetapi Leora malas berbasa-basi jika itu adalah kebenaran.

"Ada alasan yang sulit dijelaskan, tapi kuharap aku akan mendapatkan penanganan hukum, bukan penanganan psikologis," ujar Dion sampai pada akhirnya membuat Leora kembali memutar isi kepalanya. Tak ada yang sulit selama jalurnya benar, kecuali satu fakta adalah; mencari keadilan sama saja mencari sebatang jarum kecil didalam tumpukan jerami.

"Tak ada yang sulit selama kau menaruh rasa percayamu padaku," ucap Leora, trik membangun sebuah kepercayaan adalah dengan membuat diri menjadi terkesan terbuka dengan segala pernyataan.

"Sudah bertahun-tahun hingga hari ini. Aku mengkhianatinya dengan alasan tak masuk akal." Dion mulai bisa membuka kata, menceritakan dari awal apa permasalahannya.

"Hari itu dimulai saat aku melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, bersama seorang manajer yang tak lain adalah teman SMP ku.

Seorang wanita yang tadinya aku hanya memandangnya teman satu kantor. Tetapi entah bagaimana saat hampa kembali menyambangi, istriku terlalu percaya padaku hingga aku berpikir untuk bermain-main dengan rasa percayanya. Aku menjalin hubungan dengan manajer wanita itu, dia belum bersuami," jelas Dion panjang sekali. Sungguhan Leora berhasil membuat Dion terbuka untuk kasus yang akan Leora tangani. Ini bagus dan setidaknya akan membuat lebih jelas didepan hakim.

"Lalu, kenapa kau merasa begitu bersalah sampai ingin berpisah? Istrimu mungkin saja akan memaafkanmu, dia mencintaimu." Leora memberikan saran, tapi salah, ini saran psikologis dan Dion tidak membutuhkannya. Dion sudah mengatakannya sejak awal.

"Beri aku saran hukum, nona pengacara. Aku tahu, aku merasa bersalah karena langkah pengkhianatanku sudah terlalu jauh," Dion mulai emosional dan Leora bisa melihat jelas dari air muka pria itu yang mulai tak benar.

"Sejauh apa? Sejauh apa kau masuk kedalam kehidupan selingkuhanmu? Berkencan di hotel? Seperti itu?" tanya Leora, langkah paling masuk akal diranah perselingkuhan adalah saat mereka memutuskan melakukan hal yang harusnya tidak dilakukan.

"Lebih dari itu." Dion memainkan jemari tangannya dengan gelisah. Kelopaknya memejam, menahan kegelisahan yang ada.

"Selingkuhanmu meminta pertanggung jawabanmu?"

"Lebih jauh. Bahkan ada anak yang lahir di luar ikatan, putriku."

Leora seketika menyeringai, ini adalah kasus paling sering terjadi dikota tempatnya berpijak sekarang.

[]

1
Elizadevi
hai iyaa salam kenal juga. terimkasih
Anonim
alurnya keren pembelajarannya dapet, petuah tersembunyinya banyak. good job for author
Anonim
good job teros kak
Anonim
alurnya keren pembelajarannya dapet, petuah tersembunyinya banyak. good job for author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!