Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Rahasia : "Maafkan Aku"

Istri Rahasia : "Maafkan Aku"

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Selingkuh / Poligami / Suami Tak Berguna / Penyesalan Suami
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almeer

Hubungan yang berawal dari selingkuh tanpa kata membuat Adnan nekat menikahi Nanda. Adnan yang ternyata seorang pria plin plan, sempat mengambil keputusan bodoh yang membuatnya mendulang karma. Adnan yang tak mampu menyingkirkan Nanda dari hati dan pikirannya, akhirnya menyadari bahwa hanya Nanda yang sanggup menerimanya tanpa syarat. Seolah gayung bersambut, takdir menjawab semua harapan Adnan dengan memberinya kesempatan kedua. Mampukah Adnan berubah dan memperbaiki kesalahannya dimasa lalu terhadap Nanda? Inilah kisah percintaan dua insan yang begitu panas, melelahkan dan menguras mental. (Tokoh wanita disini di-setting bikin kesel karena terlalu naif dan tidak sat set. Harap kesabarannya membaca karya saya ini ya. Nanti Nanda nya juga bertindak kok! Orang introvert dan baik hati kebanyakan seperti ini didunia nyata. Mohon maklum ya. Terima kasih)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almeer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sore Itu

Aku tergesa-gesa keluar dari locker. Si Irwansyah gadungan ini menghubungiku berkali-kali. Sengaja tidak aku angkat karena dilocker sedang ramai orang. Bagaimana kalau yang lain dengar? Bertambah lagi permasalahan percintaan tidak bermanfaat ini. Baru saja selesai finger print pulang, dia sudah berdiri dibelakangku.

"Astaghfirullahaladzim!"tas yang kupegang sampai jatuh. Dia mengambilkannya untukku dan tertawa.

"Kenapa sih kaget terus sama saya?"

Kututup mulutnya "Jangan keras-keras!"

Dia mengangguk, lalu kulepaskan tanganku.

"Maaf udah lancang,"ujarku pelan.

"Wangi ya tanganmu. Mau gandengan?"godanya dan tentu saja kusambut dengan tatapan sebal.

Aku berjalan kearah parkiran motor dan dia mengikutiku dibelakang. Setelah kulihat situasi kanan kiri depan belakang aman, aku membalikkan badanku.

"Ada waktu? Saya ingin tanya sesuatu,"ucapku

"Tumben amat kamu minta waktu saya,"responnya dengan wajah seperti orang mengejek.

"Ya sudah. Saya izin kirim pesan ke kamu. Tolong balas,"aku membalikkan badan dan berjalan kembali.

Ia mengejarku "Becanda becanda. Serius amat sih jadi orang. Coba santai sedikit."

Aku menoleh dan melengos. Seperti biasa tidak kuhiraukan.

"Mau kemana kamu? Tungguin! Saya keluarin motor dulu. Bentaran doang,"dia setengah berteriak.

"Saya buru-buru mau kejar angkot,"jawabku.

"Udah, bareng! Cepetan sini,"dan seenaknya dia menyeret tanganku.

Dia memasang masker kain yang biasa dipakai orang untuk touring, menyalakan mesin motor KBR nya, membukakan pijakan kaki motor untukku dan menyuruhku cepat naik. Kalau sudah begini, mau mengelak bagaimana lagi. Aku menghela nafas. Sudah pasrah. Bingung bagaimana menolak manusia satu ini. Entah dia bodoh tidak mengerti bahasa menolak. Atau memang sengaja menjadi bodoh.

Dari basement menuju pos depan, dia memberi klakson kepada para security dan orang-orang yang dia temui.

"Bareng lagi? Pepet teruuuuusssss Bro!!"sorakan tidak bermutu membuat telingaku tidak nyaman.

Sebaliknya, dia menikmati semua itu. Aku sudah cemberut duduk dibelakang. Untung saja pakai masker.

Kali ini dia memacu kendaraannya pelan. Bahkan agak pelan seperti orang berkeliling ditaman. Dia membuka kaca helmnya.

"Suka bakso gak?"tanyanya.

"Enggak!"

"Jangan galak-galak atuh. Makan mie ayam kamu bisa?"tanyanya lagi.

"Bisa."

"Hayu berhenti didepan sana. Kamu gak sempat makan siang kan tadi?"

Aku terkejut. Dia tahu darimana? Cenayangkah ini orang?

*****

Kami berhenti diwarung bakso dan mie ayam. Dia menyebutkan bakso yang ia mau dan memintaku memesankan untuknya. Kemudian dia mempersilakanku duduk didepannya. Sesaat kami terdiam, dan dia juga sibuk dengan handphone nya. Sementara aku memperhatikan pemandangan dibelakang warung mie ayam tersebut. Kebetulan jalanan yang dia pilih untuk rute pulang selalu lewat perkampungan.

Makanan kami akhirnya diantarkan. Aku memilih menyantap makananku. Jujur saja, aku memang sudah sangat lapar.

"Mau tanya apa kamu tadi?"dia membuka pembicaraan.

Kuhabiskan mie ayamku sesegera mungkin.

"Widih dididih...buru-buru amat. Santai aja,"ucapnya.

"Kenapa tadi kamu diam saja saya dihujani pertanyaan aneh-aneh sama Trihas, Lanny, Zeyna, Alita, Pak Bayu......."

"Disebut semua satu-satu,"potongnya dan lagi-lagi tertawa.

"Apa sih sedikit-sedikit tertawa,"sahutku ketus.

"Ya artinya kamu bikin saya seneng. Saya jarang-jarang begini sama orang. Apalagi cewek,"ungkapnya membuatku cukup terkejut.

"Hah? Maksud kamu?"tanyaku dengan nada heran.

"Saya itu galak sama orang. Kejam. Dari nada ngomong saya udah keliatan. Cara bicara saya. Saya rasa kamu tahu dan ngerti,"lanjutnya dengan gaya bicaranya yang yaaahh ku akui, memang angkuh.

"Jangan mengambil kesimpulan sepihak. Saya kan gak kenal kamu,"sambungku

"Udah keliatan. Kamu berhati-hati ke saya."

"Bukan hanya kamu. Hampir semua cowok saya gituin,"aku masih tidak mau kalah.

"Saya merhatiin kamu dari awal. Ke cowok lain kamu begitu. Ke saya gak terlalu. Artinya kamu merasa aman bersama saya. Gak waspada kayak ke yang lain,"terangnya membuatku terdiam dan berpikir.

Apakah benar begitu? Aku sama sekali tidak menyadarinya.

"Saya ngajakin kamu pulang bareng terus, karena saya bilang tadi kan, saya merhatiin kamu dari awal. Bisa dibilang saya ngetes kamu. Saya itu selalu dikejar-kejar wanita. Dari saya kecil. Udah lelah saya. Ketemu kamu. Kamu sama sekali gak melirik saya. Bahkan gak menatap saya. Gak berusaha deketin saya, ngejar-ngejar saya. Kamu gak tertarik sama saya. Diajakin pulang bareng dan makan kayak gini, muka kamu masih ketekuk. Ekspresi datar. Respon dingin dan judes. Udah bisa dipastikan kamu cewek baik-baik,"dia menjelaskan panjang lebar dengan nada bicara yang terkesan lembut.

Entah kenapa aku tetap saja su'udzon berpikir bahwa mengataiku dengan cara halus.

"Nanti kecewa udah tahu aslinya saya,"ungkapku.

"Kamu anggap saya orang biasa ya?"dia terkekeh.

"Memang superman?"timpalku asal.

"Saya bukannya gak mau belain kamu. Saya juga kesel kenapa kamu yang dicecar. Harusnya ngomong ke saya mereka semua. Tapi pada gak berani. Ya jelaslah. Jadinya ke kamu. Tahu gak? Orang sehotel manggil saya Boss. Tapi saya salut. Kamu menanggapi mereka dengan tenang, santai dan cuek banget. Kalah telak dah mereka. Mangkanya saya ketawa. Kamu hebat membuat mereka tidak bisa berkata-kata. Sorry ya saya biarin kamu. Saya malah nonton,"lanjutnya menjelaskan, promosi diri, dan juga meminta maaf.

Kalau sudah begini, ya mau bagaimana. Dia melanjutkan makan bakso nya. Juga menawariku jika ingin makan gorengan yang ada dimeja.

"Kamu mau? Ambil aja. Jangan malu-malu."

"Makasih. Sudah cukup mie ayam saja,"tolakku sopan.

"Hmm...saya boleh tanya sesuatu?"tiba-tiba dia berkata dengan nada sangat berhati-hati.

Aku mengangguk.

"Berapa umurmu?"

"23"

"Oh! Saya 26."

"Saya panggil Mas kalau gitu,"sahutku.

"Wah jangan. Panggil nama aja,"pintanya.

Aku terdiam, berpikir dan akhirnya ku ungkapkan.

"Maaf, memang namanya siapa?"tanyaku.

Dia langsung berhenti makan bakso, menatapku keheranan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Abang tukang bakso sampai ikut tertawa dan berkomentar.

"Duuhh masa muda. Seru sekali pacarannya. Yang langgeng to mas,"selorohnya.

"Cewek langka Bang. Mangkanya saya seneng,"dia menjawab seenaknya.

Aku sedikit melotot tapi dia tidak menghiraukannya.

"Mbak e ayu. Cantik. Manis. Semoga sampai nikah yo Mas,"sambung Abang Tukang Bakso dan dia seenaknya meng-aamiin-kan. Aku akhirnya pasrah dan berpura-pura tuli.

"Sorry sorry. Udah berapa lama kamu kerja di Hotel Yuki?"

"Mau 3 bulan."

"Selama itu belum tahu nama saya? Kita selalu shift bareng lho! Gak merhatiin name tag saya yang di dada?"

"Untuk apa saya merhatiin dada kamu?"aku kembali menjawab asal.

"Oh iya maaf, dada saya gak menarik. Gak ada di diri saya yang menarik. Kurang ganteng saya bagi kamu,"dia berceloteh tidak karuan sambil menahan tawa.

"Baru kali ini orang bertanya nama, dijawabnya sampai sejauh perjalanan ke Afrika,"aku bicara sendiri pelan, dan rupanya dia dengar.

"Hahaha..iyaa iyaa. Oke, nama saya Adnan. Adnan Syahputra,"dia mengulurkan tangannya padaku.

Ku sambut dengan wajah masih heran.

"Perasaan saya gak bertanya nama lengkap."

"Makanya saya kasih tahu karena saya juga ingin tanya nama lengkapmu."

"Buat apa?"

"Buat di ingatlah! Nama lengkapmu?"

"Nanda Angela Putrianne"

"Nama yang unik dan bagus."

"Terima kasih,"jawabku datar.

"Eh iya. Ngomong-ngomong, kamu tahu no handphone saya dari siapa?"sambungku mumpung ingat.

"Kan ada disystem. Di phone book. Saya simpan. Kamu juga simpan no saya ya. Namain sini didepan saya,"dia mengisyaratkan tangannya agar aku mengeluarkan handphone dan menyimpan contact nya.

Setelah dia melihatku menyimpan dengan nama Adnan, dia tersenyum puas.

"Angkat ya kalau saya telp. Balas juga pesan saya. Tapi kalau kamu mau hubungi saya diluar jam kerja, misalkan saya lama balas, saya lagi sibuk,"dia memberitahuku.

"Saya pebisnis diluar. Kerja ngisi waktu aja. Iseng-iseng. Temen-temen bisnis saya waktunya kebanyakan sore atau malam. Kalau saya giliran shift 2, pagi saya tidur. Pulang kerja sampai habis Subuh, saya bisnis diluar,"dia bercerita dengan semangat dan tentu saja penuh kesombongan. Seolah ingin menegaskan bahwa dia anak orang kaya raya dan juga pebisnis kaya.

Aku hanya menanggapi dengan Oh saja. Sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan. Yang terlalu duniawi itu, sejak kecil aku menyikapinya dengan biasa saja. Masa kecilku sangatlah keras dan pahit. Meskipun orangtuaku orang berada dan sangat berkecukupan.

Tiba-tiba terlintas dibenakku menanyakan hal yang sangat konyol. Aku sempat ragu-ragu tapi akhirnya kulontarkan juga pertanyaan itu.

"Maaf, bukan bermaksud meragukan. Benar namanya Adnan?"

"Iya. Mau saya kasih lihat KTP saya?"candaannya selalu diluar dugaan.

"Tidak perlu! Eh, tapi kenapa orang panggil kamu Irwansyah?".

Dia kembali tertawa.

"Itu julukan yang dikasih orang-orang hotel. Wajah saya kan ganteng kayak Irwansyah. Coba kamu perhatiin dong!"dia memasang ekspresi yang membuatku bergidik.

Orang ini seumur hidupnya mungkin karena selalu dipuja, dianggap superior, jadinya seperti ini. Aku tetap dengan wajah datar dan merespon Oh.

"Yuk bakso saya udah habis. Saya antar kamu pulang. Tapi temenin saya JJS bentar ya,"pintanya.

"JJS?"

"Jalan-jalan santai. Istilah anak-anak SCTV."

"Gak nonton sinetron. Gak tertarik artis,"jawabku tegas.

Dia menatapku heran, dan tertulis jelas diwajahnya bertanya 'Biasanya cewek suka begitu'. Seolah tahu dia penasaran, kusambung kalimatku.

"Saya tidak melakukan dan tidak menyukai hal yang biasa dilakukan cewek pada umumnya. Menurut saya banyak yang tidak bermanfaat."

Dia mengangguk-angguk. Tersenyum menatapku lekat-lekat. Bukannya risih, aku membalas dengan menatapnya penuh tanda tanya.

"Tapi mau ya nemenin saya JJS? Biar kamu tahu juga jalanan disini,"dia kembali bertanya.

Aku tidak punya pilihan lain selain meng-iya-kan. Sepanjang jalan kuperhatikan angkot sangat jarang. Kalau aku tolak, aku bisa kesulitan pulang. Mau tidak mau mengikuti rute dia.

Pada saat membayar, lagi-lagi dia terkejut. Aku sudah membayar makananku sendiri. Abang Bakso bukannya mengerti kalau artinya kami bukan pacaran, malah memuji aku pacar mandiri dan mencintai dengan tulus. Si cowok kegirangan dibilang beruntung. Kepalaku semakin sakit saja dengan kegilaan mereka. Ku pinta dia segera naik motor, agar bisa menyelesaikan JJS nya dan aku bisa pulang.

*****

Diatas motor sambil JJS, dia tetap berusaha mengajakku ngobrol.

"Terima kasih udah nemenin saya. Saya senang bersama kamu."

"Oh, iya. Baguslah kalau gitu."responku singkat.

"Besok masuk pagi kan? Bareng lagi sama saya. Tungguin saya kayak tadi berangkat."

"Maaf, saya gak mau kena gosip!"

"Gak ada yang berani sama saya!"tegasnya lagi dengan sombong dan sangat percaya diri.

"Enggak. Makasih. Saya sendiri aja,"aku masih berusaha menolak.

"Udah saya tungguin besok. Atau kamu tungguin saya,"nadanya sedikit keras dan membentak.

Aku hanya diam. Untuk apa dijawab? Buang energi. Meski aku sampai sekarang tidak mengerti dengan sikapnya, aku tidak mau menyimpulkan dia punya perasaan kepadaku. Aku merasakan keanehan darinya sejak awal dia menyapaku. Seperti aura orang yang banyak menyembunyikan sesuatu. Karena tidak mau su'udzon, kutepis pemikiran tersebut.

Selama JJS sampai akhirnya dia mengantarku ke kosan, dia membawa motornya dengan sangat santai. Bercerita tentang bisnis-bisnisnya dan teman-temannya yang berbranding orang hebat semua. Padahal aku hanya merespon Oh saja. Tapi dia tidak kapok berceloteh.

*****

Akhirnyaaaa......akhirnyaaaa aku sampai juga didepan kosan. Setelah mengucapkan terima kasih, dia menarik tanganku.

"Tungguin saya ya. Jangan berangkat duluan besok pagi,"dia mengingatkan lagi.

"Kalau mau nelp atau sms, maaf misal gak keangkat atau saya lama balas. Tapi pasti saya balas / saya angkat kalau situasinya bisa,"sambungnya.

Kutatap matanya. Meskipun keheranan, aku memilih mengangguk. Karena kalau aku tolak, takut dia gak pulang. Dia pun pamit. Tersenyum sebelum menaikkan maskernya dan pulang.

*****

Aku memasuki kamar kosanku dan merebahkan punggungku. Sebentar lagi mau maghrib. Aku belum mandi. Ketika hendak mengambil handuk, handphoneku berbunyi.

Sms masuk dari Adnan.

'Terima kasih hari ini udah nemenin saya. Kamu kalau ada apa-apa, bilang ke saya. Cerita ke saya juga boleh. Besok tungguin saya ya'

Meskipun aku masih bingung dan heran dengan sikapnya, kupilih balas singkat.

' Iya sama-sama '

Aku segera mandi, bersiap maghrib, dan menyelesaikan tumpukkan pakaian yang belum disetrika. Aku ingin segera tidur karena masih lelah dengan jumping. Selama melakukan kegiatan lainnya, aku kadang kepikiran sama Adnan. Orang itu penuh dengan aura misterius. Banyak hal yang dia sembunyikan. Sama hal nya denganku. Tapi auranya begitu kuat. Sedikit banyaknya dari obrolan sore ini bersamanya, aku bisa menyadari bahwa dia benar orang kaya. Dia tidak suka di injak dan diremehkan. Tapi dia memang sombong dan angkuh. Gayanya seperti merendahkan orang. Nada bicaranya keras, suaranya keras dan lantang, dengan logat betawi campur sunda.

Anehnya, dia memelankan suaranya ketika berbicara denganku. Nadanya juga tidak keras dan terkesan lembut. Aku masih menepis dugaan bahwa dia memiliki perasaan terhadapku. Jujur saja, jika itu benar, aku takut mendapat perlakuan tidak enak dari para cewek.

*****

Selama hampir 3 bulan aku bekerja disana, aku bisa melihat situasinya dengan jelas bahwa yang dikatakan Adnan bukanlah kebohongan. Hampir semua cewek dihotel ini mengejar-ngejarnya. Ah, buat apa juga aku peduli. Jangan sampai terlibat dan terseret. Aku ingin bekerja dengan tenang.

Kuselesaikan setrikaanku sesegera mungkin agar bisa cepat tidur. Besok terakhir bekerja sebelum akhirnya aku libur. Aku ingin menghabiskan liburku dengan leyeh-leyeh dikosan.

1
sarinah najwa
hubungan toxic...😤
Cookies
hidup dg laki ky gini, hadeuhh ke laut aja, makan ati.
LBH baik pisah aja
Cookies
menarik
sarinah najwa
langsung skip
Gals: Makasih udah baca yaaa 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Srie Wahyuni
tinggalin aja adnan , gemesh aq tuch
Gals: Terima kasih yaaa udah baca dan mendukung karya saya. Maaf yaaa si Adnan nyebelin. Hehehh. Tapi awalnya memang di-setting begitu. Menguras mental tokoh Nanda yang kalem dan baik hati. Ujian pernikahan untuk Nanda. Akhirnya nanti diluar dugaan kok! Semoga mengikuti sampai akhir. Makasiihh sekali lagi dukungannya 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
sarinah najwa
mode istri bego bin tolol😡 katanya cerdas tapi giliran sama laki laki bucin tingkat keracunan
Gals: Hehe. Makasih udah ngikutin ceritanya. Iyaaa, karena di-setting-nya begitu dulu di awal. Sesuai deskripsi, menguras mental. Ujian pernikahan Nanda bertubi-tubi. Nanti ada eksekusinya kok! Ikuti terus ceritanya yaaa... Makasih banyaaakkk 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Alif Aprilianda
pengen tabok mulut manis Adnan....
Gals: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!