FOLLOW DULU, BARU BACA
"Aku sayang kamu, Ra!"kata laki-laki itu, yang menatap gadis didepannya sendu.
"Sayang kata kamu? Bukannya kamu, sayang Dinar? Kemana kamu yang dulu?"ujar gadis itu,
"Maafin aku Ra, kita mulai dari awal ya?"seru laki-laki itu yang bernama Aksa,
"Aku gabisa Sa, dulu aku yang berjuang tapi dia yang mendapatkan! Dulu aku mati-matian mempertahankan, tapi kamu? Enggak menghiraukan. Emang bener ya cinta, bisa buat orang buta! Ternyata dulu, aku bodoh banget ya! Aku suka sama cowok, yang nyatanya gamau menghargai perjuangan aku selama ini, inget ya. Aku gak benci sama kamu, aku pergi dulu Sa! Jaga diri kamu baik-baik, dan yang terakhir jangan cari aku lagi sa,"jelas Qiana perlahan meninggalkan Aksa,
"Maafin gue, gue emang cowok bodoh! Gue buang berlian, demi sebuah batu kerikil. gue sayang lo Ra!"ujar Aksa seraya menatap punggung Qiana yang semakin menjauh, dari hadapannya.
•••
Tentang sebuah perjuangan, yang tidak pernah di hargai sama sekali. Memperjuangkan seseorang, yang tak mencintai kita. Tentu saja sakit, akan ada masanya kita akan lelah dengan semua ini.
Akankah Qiana, akan terus-terusan memperjuangkan Aksa?
Atau, dia memilih pergi?
Begitupun dengan Aksa, apakah dia lekas sadar dengan perjuangan Qiana Atau, dia akan berbalik arah. Dan memperjuangkan Qiana?
Bukan hanya kisah cinta mereka yang akan menemani kalian, tetapi juga dengan yang lainnya.
Start : 29 Maret 2020
Pengen tau? Ikuti terus kisahnya,
DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA, SIAPKAN HATI KALIAN!
BAPER? SEDIH? GREGET? BAKALAN JADI SATU:)
Mohon maaf, jika ada kesamaan nama tokoh,alur, dll. Ini murni, pemikiran saya sendiri. Plagiat, dilarang mendekat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilaaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Dewa Wirasanjaya
Lepaskan seseorang yang menyakitimu, pertahanakan seseorang yang mencintaimu.
Happy reading!
•••
B
au obat-obatan menyeruak, sehingga membuat gadis itu terbangun. Ya, dia Qiana. Qiana dibawa ke ruang UKS, setelah Qiana bangun. Pandangan Qiana masih buram,
"Ra, lo gapapa kan?"tanya Nayla khawatir.
Qiana belum bisa menjawabnya, dia terus-terusan memegang kepalanya. Hingga kejadian tadi, berputar kembali di kepalanya.
"Raa, lo gapapa kan? Ada yang sakit?"tanya Nayla lagi.
Ah iya, Nayla bertanya. Qiana pun segera menjawab pertanyaan Nayla, "Aku gapapa Nay, cuma kepala aku pusing doang! Ntar juga sembuh kok, ayo ke kelas!"jawab Qiana.
Apa kata Qiana? Ke kelas? Hanya dia saja yang bersikap seperti itu, dan membuat Nayla menghembuskan nafasnya gusar.
"Haduh, Hyra! Gini banget sih lu, baru bangun udah minta ke kelas? Ga salah? Apa jangan-jangan otak lo, bermasalah?"heran Nayla. "Enak aja, enggaklah! Aku baik-baik aja,"sahut Qiana.
Pintu UKS terbuka, datang Delan dan sebuah kantong plastik berwarna hitam. Dan juga bubur kesukaan Qiana,
"Nih makan,"kata Delan seraya menyodorkan bubur yang sudah di taruh di dalam mangkok.
"Cie, udah makan aja Ra!"goda Nayla.
Qiana pun mengambil mangkuk, yang berisi bubur itu lalu memakannya. Setelah habis, Qiana pun menaruhnya di nakas.
"Kalo kondisi lu, belum fit! Gausah kerja kak,"ujar Delan.
Hah? Kak? Bingung Nayla, kenapa Delan memanggil Qiana dengan sebutan kak. Kenapa dia juga tahu, kalo Qiana kerja? Ada apa ini sebenarnya?
"Kak? Lo adeknya Qiana?"tebak Nayla. Delan pun mengangguk,
"Maaf Nay,"ujar Qiana seraya menunduk. Nayla pun memegang dagu Qiana, "gausah nunduk, gue ga akan marah! Lu pasti punya alasan, kenapa nutupin ini semua!"
Qiana pun bernafas lega, Qiana kira Nayla akan marah. Dan tidak mau, menjadi temannya lagi.
"Tapi emang bener Ra, kalo gak kondisinya gak memungkinkan! Jangan berangkat kerja, mending istirahat di rumah!"cicit Nayla.
Qiana menerima semua pendapat mereka, bukannya Qiana tak mau beristirahat. Dengan pekerjaan dia kini, Qiana bisa membayar uang SPP sekolah. Dan tidak merepotkan mamahnya, beda dengan Delan. Dia masih menerima uang dari mamahnya, tapi Qiana tidak. Sangat tidak adil bukan? Tapi, Qiana tidak pernah menyalahkan Delan sekalipun.
"Makasih ya, udah mau khawatir! Tapi, aku beneran gapapa! Pekerjaan ini sangat penting buat aku,"jelas Qiana.
Mereka pun mengerti, apalagi Delan. Mengapa mamahnya, sangat tidak adil kepada Qiana? Apa salah Qiana sebenarnya?
"Yaudah deh kak, tapi lu pulang sama gue! Gada penolakan,"kata Delan.
Qiana menggelengkan kepalanya, "enggak, aku gama--"sahut Qiana tercekat, ucapan Nayla.
"Pulang sama Delan, atau enggak kerja?"ancam Nayla. Qiana pun mengangguk kesal, kenapa harus mainnya ancaman? Dia kan tidak bisa memilih,
"Ish, ga asik! Mainnya ngancem,"Rajuk Qiana. Mereka semua terkekeh, melihat tingkah Qiana.
***
Suara bel pulang sekolah sudah berbunyi, Delan menghampiri Qiana yang berada di UKS. Untuk mengajaknya pulang, namun saat Delan sudah sampai. Qiana masih pulas dalam tidurnya, ingin membangunkan namun dia tak tega.
15 menit Delan menunggu, akhirnya Qiana pun terbangun.
"Udah jam pulang ya?"tanya Qiana. Delan mengangguk, dia pun membantu Qiana untuk membereskan barang-barangnya.
Setelah keluar dari UKS, Qiana tampak heran kenapa sepi sekali? Yang tersisa, hanya siswa-siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
"Kok udah sepi sih dek?"tanya Qiana lagi. "Udah pulang dari 15 menit yang lalu,"jawab Delan.
"Apaaa? Berati kamu, nungguin aku 15 menit yang lalu?"pekik Qiana.
Delan pun mendengus kesal, kenapa Qiana harus berteriak? Memang dia sangat banyak tanya, dia meninggalkan Qiana. Dan menuju ke arah parkiran motor,
"Lah kok? Aku ditinggal sih!"kesal Qiana.
Qiana pun menghampiri Delan, baru saja dia ingin mendumel. Tapi tidak jadi, karena terlihat jelas wajah Delan yang terlihat lelah.
Qiana memakai helm yang diberikan Delan, dia akhirnya naik ke motor Delan. Delan pun menyalahkan mesin motornya, dan berlalu dari area sekolah.
Di kejauhan, ada seseorang yang memantau mereka berdua.
Ga ada bedanya, sama-sama murahan.
***
Malam pun tiba, Qiana sudah memasak makanan untuk mamahnya. Setelah selesai, Qiana pun pamit ke Delan. Jika dia akan berangkat kerja,
Qiana berangkat menggunakan sepeda, sepeda pemberian ayahnya dulu. Beberapa menit perjalanan, akhirnya Qiana pun sampai pada tempat kerjanya. Oh iya, Qiana tidak berangkat setiap hari. Tapi dalam satu bulan, Qiana hanya berangkat 20x.
Sang pemilik cafe, sangat memberikan toleransi kepada Qiana. Dikarenakan, Qiana juga seorang pelajar.
Qiana bekerja sebagai waiters. Seperti sekarang ini, Qiana datang ke setiap meja pelanggan. Untuk menanyakan, apa yang mereka pesan.
Satu pria tampan, selalu memperhatikan gerak-gerik Qiana sedari tadi. Saat Qiana sampai di mejanya, pandangan pria itu semakin intens. Dia memandang Qiana, mulai dari mata, hidung, bibir, dan wajah baby face yang dimiliki seorang Qiana Almahyra,
Qiana yang merasa risih pun akhirnya, menawarkan list makanan kepada pria yang ada di depannya.
"Mau pesan apa kak?"tanya Qiana ramah.
Orang itu tidak menjawab pertanyaan Qiana, malahan dia memberikan namanya.
"Dewa Wirasanjaya,"jawab Dewa seraya mengulurkan tangannya,
Qiana yang merasa tidak enak pun, membalas uluran tangan tersebut.
"Qiana,"jelasnya. "Hampir sempurna,"gumam Dewa.
Qiana sebenernya mendengar perkataan Dewa, tapi dia bersikap biasa saja.
"Jadinya pesan apa kak? Saya, mau ke meja yang lain!"tanya Qiana sekali lagi. Dewa pun membalas "orange jus,"
"Udah itu aja? Baik, tunggu ya kak!"ujar Qiana. Dewa pun mengangguk, Qiana pun berlalu ke meja yang lainnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Qiana kembali mengantarkan pesanan Dewa ke mejanya.
"Selamat menikmati,"kata Qiana berlalu. Namun, pergelangan tangan Qiana di tahan oleh Dewa.
"Sini aja dong, temenin gue!"pinta Dewa. Qiana tidak menggubris perkataan Dewa, dia berusaha melepaskan. Namun cengkraman Dewa, semakin kencang. Dan membuat Qiana meringis kesakitan,
Saat itu juga, dari pintu masuk datang Fajar. Fajar menghampiri Dewa, dengan tatapan tajam.
"Lepasin dia,"ujar Fajar dingin. Dewa pun melepaskan tangan Qiana, lalu Dewa beralih ke Fajar. Dia mencengkeram kerah baju Fajar,
Qiana menggigit bibirnya, dia sangat takut. Jika mereka membuat keributan, dan Qiana akan di pecat dari pekerjaannya.
Untung saja, manager Cafe keluar.
"Fajar? Eh, ada apa-apaan ini?!"kata manager Cafe tersebut,
Fajar pun menggiring Dewa, untuk keluar dari cafe. Terjadi perkelahian, antara Fajar dan Dewa.
"Hyra? Ini ada apa?"tanya manager yang bernama Damara. Qiana pun menjawab dengan bibir bergetar, "Maaf bu, ini salah saya!"
Fajar masuk dengan kondisi lebam,
"Ya Allah Fajar,"pekik Damara.
Para pengunjung sempat heboh, atas kejadian tadi. Tapi untungnya, para waiters yang lainnya bisa menenangkan.
Qiana diajak ke ruangan manager, bersama Fajar.
"Ini ada apa, sebenarnya?"tanya Damara lagi. Fajar pun menjawab, "Maaf Tante, Hyra temen fajar! Tadi fajar liat, cowok itu gak sopan sama Hyra!"jawab Fajar.
Damara pun menghembuskan nafasnya,
"Maaf bu, ini salah saya! Saya janji, gak akan ngulangin lagi! Tapi, jangan pecat saya bu,"tutur Qiana.
Damara pun tersenyum lalu mengangguk, disini Qiana tidak salah. Yang salah hanya pengunjung, yang tidak sopan.
"Ini bukan salah kamu nak, memang dia saja yang kurang ajar! Kamu tenang aja, saya gak akan pecat kamu kok! Mendingan kamu pulang, dianter Fajar! Sepeda kamu, biar orang suruhan saya yang ngantar! Wajah kamu pucat, besok lagi kalau emang enggak enak badan! Gausah berangkat ya,"jelas Damara.
Qiana pun mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih. Setelah itu, Qiana keluar bersama Fajar.
"Maaf,"ujar Qiana. Fajar pun tersenyum simpul, "besok lagi, hati-hati!"
Mereka berdua pun berlalu, Fajar tidak mengantarkan Qiana sampai rumahnya. Fajar hanya mengantar Qiana, sampai depan gang. Itu kemauan Qiana, Fajar pun tak bisa menolaknya.
Oh jadi rumahnya, di daerah sini- kata seseorang seraya bersmirk.
•••From Qiana•••
Halo gengs, kembali lagi hihi.
Gimana sama part ini?
Kalian tim siapa?
#QianaDewa
#QianaAksa
Or
#QianaFajar?
Jangan lupa votement!
Mau lanjut kapan?
Share terus ya, jangan lupa masukin reading list. Kalo kalian suka💙
See you next part....
Pemalang, 19 April 2020
Nabila Sefi Oktaviani.
kan di wp kaka udh gak up lagi
greget banget gue sama aksa & dinra