"Di balik setiap helai kain wol yang membosankan, tersimpan rahasia yang membara."
Di bawah gemerlap lampu neon klub malam terpanas di Rusia, Oliver Ruppel adalah ratu yang tak tersentuh. Putri dari dinasti Ruppel yang terpandang ini menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. gadis penurut yang kuno di depan orang tuanya, dan jiwa bebas yang liar di balik pintu tertutup. Namun, di tengah pergaulan bebas sahabat-sahabatnya, Oliver menyimpan satu hal yang paling berharga, kesuciannya. Dia menolak menyerah pada cinta murahan, hingga suatu sore yang bersalju, dia melihatnya.
George Johnson. Pria sempurna dengan kekayaan yang tak habis tujuh turunan, namun memiliki tatapan mata yang mampu mencairkan es Rusia. Saat Oliver melihat George mengelus seekor anak anjing terlantar dengan penuh kasih di lampu merah, dia tahu pria itulah rumah yang selama ini dia cari. Tapi George bukanlah pria yang bisa dipikat dengan gaun pendek atau pesta pora.
Langsung Saja Baca Dear 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Dilampu Merah
Sore itu, udara St. Petersburg yang biasanya beku terasa sedikit lebih hangat oleh tawa riuh dari mobil convertible mewah milik Masha.
Oliver berada di sana, duduk di kursi penumpang dengan penampilan yang akan membuat dosen kampusnya terkena serangan jantung.
Oliver mengenakan celana cargo hitam longgar dengan banyak saku dan sebuah crop top putih ketat yang memamerkan perut ratanya yang kencang. Kulitnya yang mulus terpapar angin sore, dan rambut pirangnya berkibar bebas tanpa pita beludru yang mengekangnya. Tidak ada kacamata, tidak ada kesan kuno. Yang ada hanyalah Oliver Ruppel yang liar, cantik, dan penuh energi.
"Lihat pria di sebelah sana! Ooh la la!" teriak Masha sambil bersiul menggoda seorang pria di trotoar.
Oliver tertawa lepas. Dia bersandar di pintu mobil, ikut menoleh dan melemparkan senyum nakal saat teman-temannya mulai menggoda setiap pria tampan yang mereka lewati.
"Masha, kau akan membuat kita ditangkap karena pelecehan!" seru Oliver di sela tawanya yang merdu.
Tepat di lampu merah, sebuah motor balap besar berwarna hitam legam berhenti tepat di samping mobil mereka. Pengendaranya mengenakan racing suit kulit hitam dengan helm full face yang gelap. Sosok itu tampak misterius, gagah, dan sangat maskulin.
Oliver tidak tahu bahwa di balik kaca helm itu, sepasang mata biru yang tajam sedang menatapnya tanpa berkedip.
George Johnson memperhatikan gadis di atas mobil itu. Dia mengenali tawa itu, tawa yang terasa sangat jujur dan lepas. Saat matanya turun ke arah perut rata Oliver dan cara gadis itu bergerak dengan penuh percaya diri, George merasa dadanya bergemuruh. Ini bukan gadis kutu buku yang menjatuhkan buku di perpustakaan. Ini juga bukan gadis formal yang menatapnya di taman.
Ini adalah sesuatu yang... meledak-ledak.
Lampu berubah hijau. George tidak langsung melesat. Dia menjaga jarak di belakang mobil Masha, mengikuti mereka dalam diam. Motornya meraung pelan, seolah sedang mengintai mangsa.
Mobil itu berhenti di depan sebuah kafe modern yang sedang tren di pusat kota. George menepikan motornya agak jauh, tetap di atas kendaraannya tanpa membuka helm.
Dia melihat Oliver turun dari mobil dengan gerakan yang luwes. Oliver tampak berbincang seru dengan teman-temannya yang berpakaian minim, memberikan high-five pada Katya, dan sesekali mengibaskan rambutnya yang tertiup angin. Wajahnya bersinar, bukan karena riasan, tapi karena kebahagiaan yang nyata.
Apakah itu Oliver yang sebenarnya? batin George.
Pikirannya berperang. Di satu sisi, pemandangan Oliver yang bebas dan dikelilingi teman-teman "liar" mengingatkannya pada dunia malam yang ia benci, dunia yang penuh kepura-puraan seperti Anita. Tapi di sisi lain, George tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa tawa Oliver sore itu tidak terdengar seperti desahan palsu Anita. Tawa itu terdengar murni.
George mencengkeram stang motornya. Dia merasa dikhianati oleh matanya sendiri karena merasa tertarik pada versi Oliver yang paling ia takuti, wanita yang mencintai kebebasan tanpa batas.
Oliver dan teman-temannya masuk ke dalam kafe. Di dalam, suasana sangat ramai. Oliver duduk di dekat jendela, memesan espresso ganda untuk meredakan pening di kepalanya.
"Aku merasa seperti sedang diawasi," bisik Oliver pada Masha sambil melirik ke arah jalanan.
"Mungkin itu penggemar rahasiamu," goda Masha.
Tiba-tiba, pintu kafe berdenting. Seorang pria masuk dengan jaket kulit di lengannya. Rambutnya sedikit berantakan karena bekas helm, dan langkah kakinya terdengar tegas di lantai kayu. Seluruh kafe seolah terdiam saat pria itu berjalan lurus menuju meja Oliver.
Oliver tersedak kopinya saat melihat siapa yang berdiri di depannya. George Johnson.
George tidak menunjukkan ekspresi ramah. Dia meletakkan kunci motornya di atas meja Oliver dengan suara klak yang keras, menarik perhatian semua orang termasuk teman-teman Oliver yang mulai berbisik histeris.
George menatap perut Oliver yang terbuka, lalu naik ke matanya yang kini membelalak.
"Jadi," suara George terdengar rendah dan berbahaya. "Siapa yang kau bohongi sekarang, Oliver? Mahasiswa di kampus, atau pria-pria di jalanan?"
Oliver tertegun. Dia menyadari bahwa pria bermotor tadi adalah George. Topengnya hancur berkeping-keping di depan teman-temannya, dan lebih buruk lagi, di depan pria yang ingin ia miliki hatinya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍😍
. rasanya semakin penasaran sama sama,kisah cinta mereka,aku baca tidak loncat,serius sampai akhir 😊🙂