Indonesia
NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta

Siang itu, Sagara baru saja menyelesaikan laporan tugasnya di markas. Dengan setelan jas hitam yang rapi, rambut tertata sempurna, dan wajah dingin khasnya, kapten pasukan khusus itu melangkah keluar dari ruangan dengan niat segera menjemput Zea.

Baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba menghadangnya. Soraya muncul dengan senyum manis yang sengaja ia tunjukkan kepada pria yang selama ini menarik perhatiannya.

“Kapten Sagara, tunggu sebentar!” seru Soraya sambil berusaha meraih tangan pria itu.

Sagara dengan sigap menghindar, membuat tangan Soraya hanya menyentuh udara kosong. Senyum di wajah perempuan berseragam militer itu seketika menghilang, digantikan tatapan kesal yang berusaha ia sembunyikan.

“Kenapa, sih, Kapten? Saya cuma ingin bicara sebentar,” keluh Soraya.

“Kalau ada yang ingin disampaikan, katakan saja,” jawab Sagara datar. Ia sama sekali tidak berniat berlama-lama karena masih memiliki tugas yang harus diselesaikan.

Soraya menarik napas, lalu menatap Sagara dengan serius. “Saya ingin Kapten berhenti menjadi pengawal pribadi Gubernur Zea.”

Langkah Sagara terhenti sesaat. Ia menoleh, menatap Soraya seolah ingin memastikan bahwa perempuan itu benar-benar baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Maaf, Lettu Soraya. Bisa ulangi perkataan Anda?” tanyanya dingin.

Soraya mengangkat dagu, berusaha mempertahankan keberaniannya di hadapan pria tersebut. “Kapten tidak harus terus-menerus menjaga perempuan itu, bukan? Dia hanya seorang gubernur, bukan berarti dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Itu bukan keputusan Anda,” jawab Sagara singkat.

Soraya mengembuskan napas kesal karena Sagara bahkan tidak terlihat tertarik mendengarkan pendapatnya. Namun, ia belum menyerah dan kembali melanjutkan perkataannya dengan nada merendahkan.

“Kapten terlalu percaya kepadanya. Kita tidak pernah tahu seperti apa seseorang di balik citra baik yang ditampilkan di depan publik, apalagi seorang gubernur. Saya yakin dia juga punya sisi gelap yang sengaja disembunyikan.”

Sagara diam, membiarkan Soraya melanjutkan perkataannya. Akan tetapi, sorot matanya perlahan berubah semakin dingin ketika perempuan itu mulai membawa-bawa nama Zea dengan cara yang tidak pantas.

“Lihat saja, dia bisa menjadi gubernur karena modal tampang dan orang dalam, bukan karena benar-benar punya kemampuan,” lanjut Soraya. “Banyak orang yang lebih pantas menduduki jabatan itu, tetapi justru dia yang terpilih. Kapten seharusnya bisa berpikir lebih jernih daripada terus membela perempuan seperti itu.”

Suasana di antara mereka mendadak terasa berbeda. Sagara yang sejak tadi hanya menjawab seperlunya kini menatap Soraya dengan ekspresi begitu dingin hingga perempuan itu tanpa sadar menelan ludah.

“Saya tidak menyangka seorang Letnan Satu bisa berbicara seperti itu,” ujar Sagara tegas. “Anda boleh memiliki pendapat pribadi tentang seseorang, tetapi jangan merasa berhak merendahkan orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.”

Soraya tertegun mendengar teguran tersebut. “Saya hanya mengatakan apa yang banyak orang bicarakan di luar sana, Kapten!”

“Hoaks tetaplah hoaks meskipun banyak orang mempercayainya,” balas Sagara tanpa ragu. “Saya jauh lebih mengenal Gubernur Zea daripada Anda, dan saya tidak akan menilai beliau hanya berdasarkan omongan orang lain.”

Soraya mengepalkan tangannya di sisi tubuh. “Kapten benar-benar membelanya?”

“Saya menjalankan tugas saya, Lettu. Saya menjaga seseorang yang dipercayakan kepada saya, bukan ikut menyebarkan kabar yang belum terbukti kebenarannya.” Sagara merapikan ujung jasnya sebelum kembali melangkah, seolah percakapan mereka sudah selesai.

“Kapten!” panggil Soraya dengan suara tertahan.

Sagara tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan meninggalkan Soraya yang berdiri dengan wajah memerah karena marah dan malu.

Perempuan itu menatap punggung Sagara hingga pria tersebut menghilang di balik pintu. Kedua tangannya mengepal kuat, sementara pikirannya dipenuhi rasa kesal karena Sagara justru semakin membela Zea.

“Baiklah, Kapten Sagara,” gumam Soraya dengan tatapan tajam. “Kita lihat saja sampai kapan kau akan terus membelanya. Aku akan membuatmu berpaling darinya dan merebutmu, apa pun caranya!”

Sagara langsung meninggalkan markas setelah memastikan tidak ada lagi urusan yang perlu diselesaikan. Ia melirik jam tangannya, mengingat bahwa malam ini Zea harus menghadiri sebuah pesta untuk menerima penghargaan atas kinerjanya sebagai gubernur.

Sebagai pengawal pribadi, ia bertanggung jawab memastikan Zea tiba di lokasi dengan aman. Karena itu, ia segera menuju mansion milik Kakek Sultan untuk menjemput perempuan yang belakangan ini selalu berhasil menguji kesabarannya.

Setibanya di mansion, Sagara mendapati Kakek Sultan dan Althaf sedang bersantai di ruang keluarga. Kedua pria itu tampak berbincang santai sambil menikmati minuman hangat, tetapi begitu melihat kedatangan Sagara, mereka langsung memanggilnya.

“Sagara, kemarilah sebentar. Ada yang ingin Kakek dan Om bicarakan denganmu,” ujar Althaf.

Sagara menghampiri mereka, lalu berdiri tegak dengan sikap hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Duduklah dulu, Kapten. Kita hanya ingin membicarakan sesuatu,” kata Kakek Sultan sambil menunjuk sofa di hadapannya.

Sagara menurut dan duduk dengan punggung tegak. Ia memperhatikan kedua pria itu secara bergantian, menyadari dari raut wajah mereka bahwa pembicaraan kali ini bukan sekadar basa-basi.

Malam harinya, Zea sedang bersiap di kamarnya. Ia mengenakan gaun pesta elegan dengan potongan anggun, dipadukan hijab berwarna senada yang membuat penampilannya terlihat menawan tanpa kehilangan kesan berwibawa sebagai seorang gubernur.

Setelah merapikan ujung hijabnya di depan cermin, Zea mengambil tas kecil yang sudah disiapkan di atas meja. Ia melirik jam dinding, lalu mengerutkan kening ketika menyadari Sagara belum juga muncul.

“Ke mana, sih, Kapten es batu itu? Katanya mau menjemputku,” gumam Zea sambil melirik pintu kamar.

Ia berjalan keluar dan menuruni tangga dengan hati-hati agar gaunnya tidak terinjak. Begitu sampai di ruang tengah, ia kembali melihat ke arah pintu utama, tetapi sosok Sagara masih belum terlihat.

“Jangan-jangan dia lupa kalau malam ini ada acara,” gerutunya. “Kalau sampai aku terlambat gara-gara dia, habis sudah!”

Belum sempat Zea mengeluarkan keluhan berikutnya, Sagara akhirnya muncul dari arah lorong dengan setelan jas hitam yang rapi. Penampilannya terlihat begitu gagah dan tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu membuatnya terburu-buru.

Zea langsung menghampirinya dengan alis terangkat. “Kau dari mana saja? Aku sudah menunggu cukup lama, tahu!”

Sagara menatap Zea sekilas sebelum menjawab dengan nada datar, “Saya baru saja dari toilet, Bu.”

Zea berkedip, lalu memandangnya dari ujung kepala hingga kaki. “Toilet? Lama sekali. Memangnya kau sedang membangun rumah di dalam sana?”

Sagara memejamkan mata sebentar, menahan keinginan untuk menghela napas panjang. “Tidak, Bu. Saya hanya menggunakan toilet seperti orang pada umumnya.”

“Ya, aku juga tahu! Memangnya aku bilang kau bukan manusia?” balas Zea spontan.

Sagara memilih diam. Ia sudah cukup mengenal pola percakapan seperti ini untuk mengetahui bahwa membalas setiap perkataan Zea hanya akan membuat perjalanan mereka semakin panjang.

Zea akhirnya mengibaskan tangan, seolah memutuskan untuk mengakhiri perdebatan kecil tersebut. “Sudahlah, ayo berangkat! Jangan lupa kita harus menjemput Intan juga. Dia pasti sudah berdandan cantik dan menunggu kita.”

“Baik, Bu. Mobil sudah siap di depan,” jawab Sagara.

Zea mengangguk puas, kemudian berjalan menuju pintu utama.

Tak lama kemudian, Sagara duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Mobil itu meninggalkan mansion Kakek Sultan menuju rumah Intan, sementara Zea sibuk memeriksa penampilannya melalui kamera ponsel.

1
mama_im
takdir mulai berbicara 🤣🤣🤣
mama_im
duh ribet ya 😅😅😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Zea selalu ada aja jawabannya buat lawannya kicep 😉😅😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Lisa dah nikah blm trus Karel mana kok gak ada ceritanya 🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kayaknya itu nenek nya Sagara deh 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa wanita tua itu adalah mamanya Sagara 🤔🤔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
sok Zea samaan sama Sagara sama" dingin dan acuh trus kita liat Sagara akan tahan gak kl kamu acuh dan dingin ke Sagara 😏😏
ryuka
lanjuutttthooorrr
ryuka
yeeeeeyyy ditemuin sma zheeeaaaa 😍😍😍😍😍
cilla
dan aku yakin zea bahkan sudah tau tapi diam aja dia kan manusia yg sulit di tebak kek emaknya🤣🤣🤣😍😍🤭 sagara jujur aja sama zea
Tiara Bella
makasih thor up nya banyak....love you/Kiss//Kiss//Kiss/
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
Mei Mei
jangan Mako pusing Sagara pergi ko pasar aj cari bajabu biar otak mu encer berpikir jalan keluar gimn caranya, sebaiknya km cerita aja ke Zea dan keluarga Zea tentang masalah mu biar Zea dan keluarga nya bisa membantu km Sagara,,
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh jadi keluarga sagara dii jdiin sandra apalah itu namanya ancaman yaa nehh smacam itu suapaya sagara melakukan pembunuhan terhadap zea ya
wehhh piye iki jal
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahh ini dia
sat set tnpa drama keren
KLO kek gini rasanya negara ini akan damai2 saja
tp kbnykan pada komen dlu sblm tau faktanya
alahhh mboh lah mumet AQ
AQ ora tau melu2 komen ini itu JD tak tau lah
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
gimna g di jaga orang udah jatuh cintrong duluan weeeekkkkk🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Mama Hasby
zeaa...zeaa...🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
rayuan maut zea bilang tampan
mempan 🤣🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhh sama2 mengumi tp kenapa pada gengsi sih gessss tobat2

kiro2 piye yoooo
Suci Dava
Jangan2 msh ada hubungan nya dgn masa lalu orangtuanya Zea
ryuka
adduuhhh kapteeennn.. siapa yg di sandera??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!