Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Tak Terduga

Hantaman itu membuat Freya kehilangan sisa keseimbangannya. Ia terpental ke depan, siap mencium lantai marmer yang keras.

Namun, refleks seorang Victor Thorne bekerja seribu kali lebih cepat daripada pikiran sadarnya. Begitu merasakan hantaman tubuh lembut yang menubruk dadanya, kedua tangan kokoh Victor secara instan bergerak menyambar. Tangan kanannya melingkar kuat dan cepat di pinggang ramping Freya, sementara tangan kirinya menahan bahu gadis itu agar tidak jatuh tersungkur. Victor menarik tubuh Freya ke dalam dekapan dadanya dalam satu gerakan mulus yang penuh penguasaan.

"Hei, pelan-pelan—kalau jalan pakai mata, bukan pakai—"

Victor memulai kalimatnya dengan suara bariton yang berat, dingin, dan sarat akan nada teguran. Sebagai seorang pria yang sangat menghargai ruang pribadi (*personal space*) dan membenci sentuhan fisik sembarangan dari orang asing, reaksi normal Victor seharusnya adalah mendorong gadis ceroboh ini menjauh dengan kasar, lalu memberinya tatapan tajam yang membuat nyali orang ciut dalam sedetik.

Tapi kalimat itu menggantung di udara, terputus begitu saja di ujung lidahnya.

Sebab, begitu Victor menundukkan wajahnya untuk melihat siapa sosok yang baru saja menabraknya, seluruh kalimat protesnya mendadak lenyap ditelan udara.

Freya, yang merasa bumi di bawah kakinya berputar hebat, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja mendarat di pelukan pria paling berbahaya dan berpengaruh di Amsterdam. Dalam kabut alkohol yang menguasai otaknya, Freya hanya merasakan satu hal: kehangatan dan kekokohan yang tiba-tiba muncul di tengah dunianya yang runtuh. Mengandalkan insting bertahan hidup yang tersisa, Freya tidak berusaha melepaskan diri. Sebaliknya, ia justru merapatkan tubuhnya ke dada Victor, melingkarkan kedua lengannya erat-erat ke leher sang konglomerat, dan membenamkan wajah manisnya ke lekukan leher pria itu.

"Tolong... jangan biarkan mereka mendekat... kepalaku sakit..." bisik Freya parau, diiringi isak tangis kecil yang sarat akan keputusasaan murni.

Napas hangat Freya yang beraroma alkohol manis bercampur aroma tubuhnya yang khas menerpa kulit leher Victor secara langsung melalui sela-sela kemeja hitam yang terbuka. Sengatan itu begitu nyata, begitu mentah, dan langsung menjalar ke seluruh saraf tubuh Victor seperti aliran listrik bertegangan tinggi.

Victor terpaku di tempatnya. Untuk sepersekian detik, detak jam dunia seolah berhenti. Suara dentuman musik deep house dari lantai dansa di kejauhan terdengar samar, tenggelam oleh suara debaran jantungnya sendiri yang mendadak menggila di balik tulang rusuknya.

Ia menunduk, mengamati gadis di dalam pelukannya dengan tatapan yang berubah total dari dingin menjadi menyala-nyala. Di bawah temaram lampu koridor yang tembus dari lampu kelab, Victor bisa melihat dengan jelas detail wajah Freya: kulit putih bersih tanpa cela yang memerah di bagian pipi, bulu mata lentik yang basah oleh keringat halus, bibir mungil berwarna merah natural yang sedikit terbuka mengeluarkan desahan napas lelah, serta helaian rambut hitam kecoklatan yang berantakan membingkai wajah manisnya.

Tidak ada polesan makeup tebal ala wanita sosialita kelas atas yang biasa mendekatinya. Tidak ada aroma parfum artifisial yang menusuk hidung. Yang ada hanyalah kepolosan murni, kerapuhan yang memanggil jiwa protektifnya, dan pesona alami yang menghantam ego maskulin Victor telak di bagian paling rentan.

Gairah yang selama ini tertidur pulas akibat kejenuhan hidup mendadak tersulut menjadi api yang membakar hebat. Rahang tegas Victor mengeras, dan cengkeraman tangannya di pinggang ramping Freya semakin mengerat, tanpa sadar menarik tubuh gadis itu semakin melekat pada tubuh atletisnya.

"Siapa kau..." bisik Victor rendah, suaranya berubah serak, sarat akan ketertarikan yang tidak bisa ia bendung lagi.

Mendengar bisikan itu, Freya perlahan mendongakkan kepalanya. Ia mengerjap-ngerjap sayu, berusaha memfokuskan penglihatannya untuk melihat wajah pria yang telah menyelamatkannya dari kejatuhan. Dalam jarak yang begitu dekat—hanya berjarak beberapa sentimeter—mata sayu Freya beradu pandang langsung dengan sepasang mata kelam Victor yang tajam bagai elang. Di dalam mata Victor, Freya melihat bayangan dirinya yang tampak rapuh, sementara di dalam mata Freya, Victor melihat sebuah kepasrahan tanpa syarat.

"Aku... aku tidak tahu..." jawab Freya dengan suara bergetar lemah, napasnya tersengal di dekat bibir Victor. "Aku pusing sekali... bawa aku pergi dari sini... kumohon..."

Permohonan lugu itu bertindak sebagai pukulan telak terakhir. Sisi dominan, posesif, dan protektif dalam diri Victor Thorne langsung mengambil alih kendali penuh atas dirinya. Pria itu tidak peduli lagi pada sisa malamnya, tidak peduli pada urusan bisnis esok hari, dan sama sekali tidak peduli siapa gadis ini sebenarnya. Insting instingtifnya hanya meneriakkan satu perintah: bawa dia pergi, miliki dia, lindungi dia.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Victor mengubah posisi rangkulannya. Tangan kanannya melingkar mantap di pinggang Freya, mengangkat tubuh ringan gadis itu setengah membopong agar tidak perlu bersusah payah berjalan dengan kaki yang sudah lemas. Tangan kirinya merangkul bahu Freya dengan erat, melindungi tubuh mungil itu dari tatapan ingin tahu pengunjung lain yang kebetulan melintas di sekitar koridor.

"Tuan Thorne? Anda butuh bantuan untuk memanggilkan kendaraan privat?" sapa kepala pelayan The Velvet Club yang mendadak muncul dari balik tirai beludru, tampak terkejut melihat bos besar mereka membopong seorang gadis asing dalam kondisi setengah sadar.

Victor menoleh sekilas. Sorot mata kelamnya memancarkan dingin yang langsung membuat sang kepala pelayan meneguk ludah ketakutan.

"Kosongkan jalur keluar menuju basement VIP sekarang juga. Dan pastikan tidak ada satupun mata yang melihat ke arah sini, atau lisensi klub ini akan dicabut besok pagi," perintah Victor dengan suara bariton yang rendah, mutlak, dan tidak membukakan ruang sekecil apa pun untuk perdebatan.

"Baik, Tuan! Segera saya laksanakan!" jawab kepala pelayan itu panik sambil membungkuk dalam-dalam, buru-buru berbalik arah untuk memastikan jalur steril bagi sang konglomerat.

Victor tidak menunggu lama. Dengan langkah kaki lebar yang tegap dan terukur, ia membawa Freya menerobos koridor khusus yang langsung menuju lift privat menuju lantai bawah tanah tempat mobil-mobil mewah diparkir.

Udara malam kota Amsterdam yang dingin dan basah oleh sisa embun langsung menyambut kulit mereka begitu pintu lift terbuka lebar di area basement yang sunyi dan remang-remang. Freya sedikit menggigil dalam dekapan Victor, kepalanya bersandar lemah di dada bidang pria itu. Victor merasakannya; ia langsung mempererat dekapan mantel tubuhnya, melindungi Freya dari terpaan angin malam seolah gadis itu adalah harta paling berharga yang baru saja ia temukan di tengah reruntuhan.

Victor membuka pintu mobil sedan sport mewah berwarna hitam matte miliknya menggunakan sensor remote di tangan kirinya. Dengan sangat hati-hati, ia mendudukkan Freya di kursi penumpang depan. Gadis itu langsung merosot lemas, menyandarkan kepalanya ke sandaran jok kulit hitam dengan mata terpejam rapat, bibirnya masih bergumam pelan menyebut nama ibunya dalam igauan yang tidak karuan.

Victor membungkuk sejenak untuk memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Freya, memastikan bahwa gadis itu duduk dengan aman. Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat Victor kembali mencium aroma vanila dan keringat tipis dari kulit Freya—sebuah aroma candu yang langsung mengacaukan akal sehatnya. Victor menelan ludah dengan susah payah, menutup pintu mobil dengan bunyi gedebuk berat yang elegan dan kedap suara.

Ia berjalan cepat memutari kap mobil, membuka pintu kemudi, lalu melompat masuk ke dalam kokpit kendaraannya. Dalam hitungan detik, tombol start engine ditekan. Mesin V12 twin-turbo berkapasitas besar di balik kap depan meraung rendah, menggema di seluruh sudut basement yang sepi.

Victor memasukkan gigi persneling dengan gerakan tangan yang tegas dan penuh amarah tertahan. Mobil sport hitam itu melesat mulus keluar dari area parkir The Velvet Club, membelah jalanan basah kota Amsterdam yang mulai lengang di bawah naungan lampu jalanan kekuningan. Ia tidak menuju rumah utamanya di pusat kota. Tidak pula menuju kediaman keluarga Thorne di mana Nyonya Valen mungkin sedang menunggu.

Victor mengarahkan kemudinya menuju satu tempat paling privat yang ia miliki. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!