Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai terbiasa
"Dia akan di hukum berat kan pa? Dia sudah buat dua orang hampir meninggal" tanya Kaivalya yang sudah menceritakan apa yang terjadi pada Sagara.
"Papa dan Zaki akan pastikan dia di hukum berat, komplotannya juga, kata Ilham, mereka itu memang sering melakukan pencurian, dulu hanya sebatas mencuri perhiasan majikannya di tempat kerja mereka yang lama, tapi melihat keluarga Sastra Wijaya yang hanya berjumlah tiga orang, mereka jadi punya niat untuk menguasai harta itu" jawab Sagara
"Tapi ko mereka bisa di terima di tempat yang sama?" Tanya Kaivalya
"Yang pertama masuk Kerja itu Mumun, lalu teman temannya yang lain dia rekomendasikan karena hasil kerjanya bagus, Anthony percaya pada Mumun jadi dia juga menerima Meri untuk mengasuh Dean" jawab Sagara yang sudah mencari tahu semuanya.
"Ayo sarapan, nanti kamu bisa menjenguk Dean dan berikan hadiah mainan itu untuknya" ajak Safira
Dean sudah mulai membaik, tapi dia tidak mengingat Kaivalya ataupun yang lain, dia hanya ingat punya mama dan papa baru saat dalam alam bawah sadarnya dan tidak mengingat wajah Kaivalya. Dan hari ini rencananya dia akan menjenguk Dean bersama Zeeshan yang di panggil Dean dengan sebutan papa karena dia tiba-tiba mengingat Zeeshan yang merupakan anak Zaki saat Zeeshan memberikan permen untuk Dean, Mustafa, Cantika dan Aariz karena mereka juga bisa melihat keberadaan Dean selama enam hari Dean terus mengikuti Kaivalya.
Mereka turun ke ruang makan untuk sarapan, ternyata di sana sudah ada Hamka yang akan mengantarkan Zeeshan dan Haira karena dia hari itu akan masuk agak siang sekalian meeting di dekat Smith university.
"Kak Hamka kenapa bawa tamu ke sini?" tanya Kaivalya melempar sosok sundel bolong yang mengikuti Hamka dengan garam khusus yang di berikan nenek Sutinah pada Kaivalya.
Blash.
"Hhhrrrrr"
Suara geraman terdengar di ruang makan rumah Sagara, membuat semua yang duduk di meja makan merinding. Mereka menatap Kaivalya yang sekarang sepertinya sudah terbiasa dengan indra keenam miliknya yang bisa melihat hantu.
"Sudah mulai berani ya adik manja kak Altair ini, tidak takut hantu lagi?" tanya Altair
"Iya bang, tapi kalau Kunti yang di depan gerbang rumah Opa Opa Hendra Kai masih takut, wajahnya hanya sebelah" jawab Kaivalya membuat semuanya saling tatap.
"Kamu buat kak Hamka takut saja, nanti kalau sosok yang ikutin kak Hamka datang lagi bagaimana?" tanya Hamka dan Sagara terkekeh karena sosok sundel bolong itu adalah sosok yang tinggal di halaman rumah Hamka, bahkan Hamka juga mengetahui itu.
"Kai sudah lempar dengan garam nenek Sutinah, harusnya sudah hilang sundel bolong nya" jawab Kaivalya menaik turunkan alisnya.
"Sundel bolong? Jangan jangan itu Sundel bolong yang di rumah Hamka, beberapa bulan lalu kan bang Gafi dan kak Ola melakukan pengusiran setan dan juga rukiyah pada tetangga Hamka" ucap Andromeda
"Mungkin juga, soalnya kemarin lusa Hamka habis dari rumah tetangga Hamka Om, pantas pundak Hamka rasanya berat" jawab Hamka dan kali ini Sagara menjewer telinganya karena Hamka benar benar berpura pura tidak tahu tentang sundel bolong itu.
"Dia ikut kak Mian karena tuannya sudah kalah mungkin" ucap Kaivalya
Mereka kembali sarapan dengan tenang, Hamka ke sana juga karena dia penasaran dengan sosok Dean yang malah memanggil Zeeshan papa sekarang karena Zeeshan yang baru berusia delapan belas tahun menelepon Hamka dan mengatakan kalau dia punya anak angkat bernama Dean.
"Shan juga bisa melihat hantu setelah memakan buah itu kan?" tanya Kaivalya
"Iya, sepertinya buah itu tidak cocok untuknya, dia malah tengil sekali menantang semua jin yang dia lihat" jawab Hamka
"Berbeda sekali dengan Kaivalya ya" ledek Altair membuat Kaivalya mendelik kesal.
Selesai sarapan Kaivalya, Mustafa dan Hamka langsung pamit karena Kaivalya dan Mustafa akan ke kampus, tapi Kaivalya sudah membawa hadiah untuk Dean karena dia akan langsung ke rumah sakit menjenguk Dean setelah pulang kuliah. Sementara Hamka langsung ke rumah Zaki untuk menjemput Zeeshan bersama Haira putrinya.
"Ini mainan untuk Dean?" tanya Aariz
"Iya, sebelum ke rumah Deni nanti kita mampir ke rumah sakit ya" jawab Kaivalya
"Iya, kita juga katanya kumpul langsung saja di rumah Deni" jawab Aariz
"Aku juga sudah buatkan kue untuk Dean" ucap Cantika
"Kue kamu pasti rasanya asin bukan manis, aku yakin" ucap Kaivalya
"Yang ini di jamin manis, aku sudah tulis di toples mana gula mana garam, nggak akan tertukar lagi dan pastinya ingin resep Tante Safira asli" jawab Cantika
"Nggak yakin gue" bisik Mustafa
"Iya, meskipun Cantika ini teliti, tapi saat gugup dia suka salah pegang, dulu saja pernah di minta ambil minum sama kak Zaheer dia malah ambil galon, gugup dia karena naksir kak Zaheer" bisik Arthayasa
"Sayang kak Zaheer sudah punya calon istri sekarang dari kampung Mahoni" jawab Aariz terkekeh.
"Sini aku tes rasa dulu, takutnya anak Zeeshan keracunan setelah makan kue dari kamu" ucap Kaivalya
"Ini enak ko, iya kan Mustafa, Shafeea?" tanya Cantika
"Belum coba, kan waktu kamu tawarin, kuenya malah kamu masukkan ke dalam paper bag" jawab Shafeea
"Iya kah? Ko aku nggak ingat ya" gumam Cantika mengernyitkan alisnya
"Kamu itu mirip Tante Chantal, polos polos pelupa" ledek Arthayasa segera membuka toples kue itu dan memberikannya pada Kaivalya.
Satu gigitan tak ada masalah, memang rasanya manis, tapi saat di kunyah, kue itu sedikit keras dan sulit di telan. Kaivalya tanpa basa basi langsung memuntahkan kue itu, mengambil satu dan memasukkannya ke dalam mulut Cantika yang juga kesulitan mengunyah kue itu.
"Aws.. Ini keras banget" keluh Cantika
"Dan kamu mau kasih kue batu ini ke Dean, giginya bisa rontok nanti" ketus Kaivalya
"Tapi ini sudah sesuai resep ko" jawab Cantika
"Kamu pasti ada salah memasukkan tepung, lain kali kalau buat apa apa itu minta di temani Tante Ola atau Oma Safira juga supaya masakan kamu tidak gagal" ucap Mustafa
"Dasar, nggak bakat masak tuh mendingan diam saja, bakat kamu itu cuma buat mukulin orang sama debat" cibir Kaivalya
"Aku bisa masak juga, lihat saja nanti" gerutu Cantika cemberut.
"Kalau cemberut begitu mirip Tante Araya tapi pas garang mirip sekali Om Adhikari" ucap Aariz
"Lo naksir perempuan setengah cantik itu?" tanya Kaivalya meledek
"Dia itu cantik Kaivalya Rajasa Danendra, Lo aja yang belum nyadar, bahkan Lyra yang mirip ibunya juga mengakui itu, wajah Cantika itu perpaduan Smith dan Khairi" jawab Aariz
"Biasa aja menurut gue, mirip ibu kantin" sinis Kaivalya
Setelah dosen datang, semuanya segera duduk di bangku mereka masing masing, mainan untuk Dean terus di tatap Kaivalya dengan senyuman manis karena dia senang akan bertemu dengan anak yang sekarang sudah mencuri perhatiannya itu dengan panggilan papa yang terdengar imut, meskipun sekarang ada dua orang yang di panggil papa oleh Dean.
"Sstt.. Kai" bisik seorang anak kecil yang