Kisah masa kecil anak laki-laki dan perempuan bernama Gilang dan Andin. Mereka adalah sepasang sahabat kecil. Mereka sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar.
Orang tua Gilang adalah seorang pegawai negeri sipil dan orang tua Andin adalah seorang petani. Meski mereka berasal dari status sosial yang berbeda, orang tua mereka tidak pernah melarang untuk berteman.
Suatu ketika, saat Gilang dan Andin lulus kelas 6 Sekolah Dasar. Orang tua Gilang dipindah tugas di kota. Akhirnya mereka terpisah. Gilang harus mengikuti orang tuanya dan tinggal di kota. Sedangkan Andin masih tetap di desa.
Setelah dua belas tahun berlalu, Gilang sudah lulus kuliah dan diterima kerja sebagai seorang dokter. Dan suatu saat, Gilang ditugaskan untuk mengabdi di sebuah desa yaitu Banjar Wangi tempat dia tinggal dulu waktu kecil.
Gilang pun dipertemukan dengan Andin yang sudah lama tak bertemu. Gilang bekerja di Puskesmas Desa Banjar Wangi. Disana dia bertemu dengan Andin yang bekerja sebagai seorang guru.
Saat bertemu Andin, Gilang sudah berstatus tunangan dengan Friska (teman kuliah Gilang).
Akankah Gilang dan Andin dapat bersatu?
Simak terus kelanjutan ceritanya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e'Rmaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6# Keluargaku
Setelah selesai membuat layang-layang, Andin pun pulang ke rumahnya. Andin sangat senang sekali bisa membuat layang-layang sebagus dan sebesar yang sudah dibuatnya bersama Gilang. Meski dia anak perempuan tapi dia senang sekali bisa berkreasi membuat layang-layang. Karena Andin bisa mendapatkan pengalaman dan ilmu baru dalam berkreasi.
Sepuluh menit kemudian, Sampailah Andin di rumahnya. Di depan pintu rumahnya, Andin mengetuk pintu sambil mengucap salam.
"Assalamualaikum... " ucap Andin.
"Walaikumsalam Ndin, " jawab ibu dan ayah Andin.
Andin pun membuka pintu rumahnya. Di ruang tamu, ibu dan ayah Andin sudah menunggunya.
"Kamu darimana saja Ndin. Kok sudah sore, kamu baru pulang," tanya ayah Andin.
"Maaf yah, Andin pulangta kesorean karena tadi Andin dari rumah Gilang." jawab Andin.
"Kenapa sampai sore begini baru sampai rumah ? Memang apa yang kamu lakukan di rumah Gilang?. "lanjut tanya ayah Andin.
"Tadi waktu di rumah Gilang, Andin sama Gilang membuat layang-layang bersama dan dibantu sama ayahnya Gilang juga kok yah, " jelas Andin.
"Kamu kan anak perempuan Ndin. Kok buat layang-layang dan apakah kamu bisa bermain layang-layang nak, " tanya ayah Andin.
"Hmmm... iya yah. Tadi Andin suka banget bikin layang-layangnya dan besok Andin mau mencoba bermain layang-layang sama Gilang. Lagi pula Andin kan juga dapat pengalaman baru dalam membuat layang-layang kan yah. Tidak apa-apa kan Andin membuatnya yah?. " jelas Andin.
"Seharusnya anak perempuan itu tugasnya membantu ibu bukan membuat dan bermain layang-layang Ndin," ucap ayahnya Andin.
"Iya Andin tau yah. Meskipun Andin anak perempuan, apakah Andin tidak boleh main layang-layang yah?, " tanya Andin.
"Boleh sih tapi... " jawab ayahnya Andin.
"Tapi... apa yah?," tanya Andin.
"Tapi kalau mendapat ijin dari orang tuanya, " jelas ayahnya Andin.
"Berarti... ayah ijinkan Andin ya??? Please..!!, " ucap Andin sambil memelas pada ayahnya.
"Hmmmm....Boleh gak ya??.... Gimana bu, Andin dibolehkan main layang-layang gak ya?, " ucap ayah Andin sambil mengetipkan mata pada ibunya Andin.
"Gimana ya yah.... ?? ," ucap ibunya Andin.
"Ayah... ibu... ijinkan Andin ya untuk bermain layang-layang, " pinta Andin pada ayah dan ibunya.
Ayah dan ibu Andin saling melihat dan sengaja menggoda Andin.
"Hmmm... Ayah ijinkan kamu bermain layang-layang tapi dengan syarat jangan pulang sampai sore seperti ini, " ucap ayahnya Andin.
"Terima kasih ayah. Ayah memang ayah terbaik. Andin janji kalau bermain layang-layang tidak akan pulang sampai sore kok yah, " ucap Andin.
"Anak kita satu ini memang pintar sekali merayu ya bu hehehe... " ucap ayah sambil memeluk Andin.
"Ya sudah, sekarang kamu segera mandi. Karena hari sudah mulai malam, " ucap ibunya Andin.
"Siiiap bu. Andin segera mandi," ucap Andin sambil tersenyum.
"Andin... Andin..," ucap ayahnya Andin sambil tersenyum.
Andin pun segera mandi.
*****
Setelah Andin masuk, tinggallah ayah dan ibu duduk di ruang tamu.
"Pak, anak kita Andin memang anak yang pintar dan hebat ya, " ucap ibu pada ayahnya Andin.
"Iya benar bu. Andin memang anak kita satu-satunya adalah anak yang pintar. Semoga kelak bisa jadi anak yang sukses dan membanggakan kita ya bu," ucap ayah berharap kesuksesan Andin.
"Amin... Semoga doa kita bisa membawa Andin menjadi anak yang di dunia dan akhirat yah, " ucap ibunya Andin.
"Sudah adzan magrib yah. Sebaiknya kita sholat jamaah dulu," ucap ayahnya Andin.
"Kalau gitu ayah segera ambil wudhu duluan ya. Ibu panggil Andin dulu biar sholat berjamaah juga, " ucap ibunya Andin.
"Iya bu. Ayah wudhu dulu, " ucap ayahnya Andin sambil berdiri dari tempat duduknya.
Ayah pun berjalan untuk segera berwudhu. Ibu memanggil Andin di kamarnya.
"Ndin. Ayo kita sholat berjamaah !," ajak ibunya Andin.
"Iya bu, Andin habis ini akan segera berwudhu bu. " jawab Andin.
Setelah memanggil Andin, ibu pun langsung berwudhu. Kemudian Andin keluar dari kamarnya dan segera ikut berwudhu.
Sesaat setelah berwudhu, Andin bersama ayah dan ibunya berkumpul di ruang tengah untuk melaksanakan sholat berjamaah.
"Andin dan ibu sudah siap, " tanya ayah.
"Sudah yah, " jawab Andin dan ibu.
Ayah mulai sholatnya. Dan setelah selesai sholat, Andin dan ibu mencium tangan ayah.
*****
Waktu sudah menunjukkan jam enam lebih menit. Ibu menyiapkan makan malam dan dibantu Andin.
"Ndin, segera panggil ayah. Kita makan malam bersama," ucap ibunya Andin.
"Iya bu. Andin panggil ayah dulu," jawab Andin.
Setelah membantu ibu menyiapkan makanan, Andin pun memanggil ayah yang ada di depan.
"Ayah, ayo kita makan bersama. Andin sama ibu sudah siapkan makanannya, " ucap Andin pada ayahnya.
"Iya nak, ayah segera kesana. " jawab ayah.
"Kalau begitu Andin sama ibu tunggu ayah, " ucap Andin.
Andin pun segera masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat makan bersama ibu sambil menunggu ayah datang.
Dan tak lama kemudian, ayah datang menghampiri Andin dan ibu.
"Nah, itu ayah sudah datang bu. " ucap Andin.
"Kalau begitu kita segera makan, " ucap ibu.
Andin mengambilkan nasi dan ikan untuk ayah dan ibu.
"Anak ayah nih pintar sekali ya, " ucap ayah sambil tersenyum pada Andin.
"Ya jelas dong yah. Siapa dulu dong yang ngajari Andin... pasti ibunya kan hehehe... " sahut ibu sambil tersenyum pada Andin.
"Ah... ayah dan ibu ini memuji Andin terus. Andin jadi malu nih, " ucap Andin tersenyum dan terlihat pipinya memerah karena terlalu banyak dipuji ayah dan ibunya.
"Lihat pipinya anak kita sudah merah tuh hehehe..., " ucap ayah sambil menggoda Andin.
"Sudah... sudah yah. Daritadi kita menggoda Andin terus nanti dia tidak mau bantu ibu lagi. Sebaiknya kita makan saja, keburu nanti makanannya dingin." ucap ibunya Andin sambil tersenyum.
"Ayah dan ibu ayo makan dong. Andin sudah lapar nih, " ucap Andin.
"Ayo kita makan!, " ucap ayahnya Andin.
Mereka pun makan bersama. Di dalam keluarga Andin sangatlah mengutamakan kebersamaan sehingga lebih mendekatkan dan menumbuhkan rasa kasih sayang.
*****
Setelah selesai makan, Andin membantu ibu merapikan meja makan dan mencuci piring di dapur. Andin bukan hanya pintar dan hebat tapi juga anak yang rajin sekaligus patuh pada orang tuanya.
Sesaat setelah Andin membantu ibu, Andin berkumpul bersama ayah ibunya di ruang tengah untuk menonton acara televisi.
"Andin anakkku yang paling rajin. Sini duduk bersama ayah, " ucap ayahnya Andin.
Andin pun duduk di samping ayahnya.
"Ada apa yah?, " tanya Andin.
"Ayah itu bangga sama kamu nak. Ayah dan ibu berdoa supaya kamu kelak akan jadi anak yang sukses dan bisa membanggakan ayah sama ibu, " ucap ayahnya Andin.
"Amin... " ucap Andin.
*****
meski sudah terpisah tp tetap dipersatukan
Sukses ya Thor 👍☺
Seneng lihat Gilang sama Andin bisa bersatu lagi😁
Andin dan Gilang happy ending 🥰🥰