Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi itu, halaman rumah Laurent kembali diselimuti suasana tenang. Sinar matahari terasa hangat, tetapi belum terlalu terik. Angin pagi bergerak perlahan melewati pepohonan dan membuat beberapa helai rambut Vivienne berayun lembut.
Vivienne duduk di kursi panjang sambil menikmati udara segar. Usia kehamilannya sudah memasuki tiga puluh enam minggu. Perutnya yang semakin besar membuatnya tidak bisa bergerak sebebas sebelumnya, tetapi pagi itu wajahnya terlihat bahagia. Ia tersenyum ketika merasakan gerakan kecil dari dalam perutnya.
"Kamu tidak sabar juga, ya?"
Vivienne terkekeh kecil. Untuk beberapa saat, pikirannya dipenuhi bayangan tentang bayi yang selama ini ia tunggu.
Namun, tiba-tiba senyumnya menghilang. Rasa nyeri muncul di bagian bawah perut. Vivienne langsung mengernyitkan kening.
Ia mengubah posisi duduk sambil memegang perutnya.
"Ah...."
Rasa sakit itu tidak terlalu kuat pada awalnya. Vivienne mencoba menarik napas panjang dan mengira mungkin bayinya hanya bergerak lebih aktif dari biasanya.
"Kenapa sakit?" gumam Vivienne sambil mengusap perutnya.
Beberapa detik kemudian, rasa nyeri itu kembali datang. Kali ini lebih kuat. Vivienne spontan membungkukkan tubuh.
"Ah..." Tangan Vivienne mencengkeram sisi kursi. Napasnya mulai tidak teratur. "Jangan-jangan ...."
Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat mengalir. Vivienne membeku. Matanya perlahan turun.
Cairan bening terlihat mengalir melewati pahanya hingga menetes ke kakinya. Wajah Vivienne langsung berubah pucat.
"Air ketuban?" Tangannya gemetar ketika menyentuh perutnya. "Astaga ...."
Vivienne mencoba berdiri, tetapi rasa panik membuat tubuhnya terasa lemas. Ia menatap sekeliling halaman. Rumah itu begitu sunyi. Tidak ada siapa pun yang bisa langsung membantunya.
"Bayiku!" Vivienne menelan ludah dengan susah payah. "Tenang, Vivi. Tenang ...."
Vivienne mencoba menenangkan dirinya sendiri, tetapi suara napasnya justru semakin cepat. "Bayi ini mau lahir."
Tangannya meraba ponsel yang berada di atas meja kecil di samping kursi. Vivienne segera mengambil benda itu. Jarinya gemetar saat membuka daftar kontak.
Ia berniat menelepon Estelle. Namun karena panik, jarinya justru menekan nama lain, Killian.
"Estelle ... Angkat!"
Vivienne baru menyadarinya ketika sambungan sudah terhubung. Terdengar suara Killian dari seberang.
"Halo?"
Vivienne langsung berbicara dengan napas tersengal. "Killian ...."
Nada suaranya membuat Killian langsung waspada. "Vivi? Kenapa?" tanya Killian cepat.
Vivienne memejamkan mata sambil menahan rasa sakit yang kembali datang. "Air ketubanku pecah."
Beberapa detik tidak terdengar suara apa pun. Kemudian suara Killian berubah panik. "Apa?"
"Aku sepertinya mau melahirkan," ujar Vivienne dengan suara gemetar.
Killian baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan handuk masih melingkar di lehernya. Mendengar ucapan Vivienne, ia langsung berdiri tegak.
"Jangan bergerak terlalu banyak!" seru Killian sambil meraih pakaiannya. "Aku ke sana sekarang."
"Killian ...."
"Aku akan sampai secepat mungkin," potong Killian tegas. Sambungan telepon berakhir.
Killian bahkan tidak sempat mengeringkan rambutnya dengan benar. Ia mengenakan pakaian seadanya, mengambil kunci mobil, lalu bergegas keluar. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kekhawatiran.
"Jangan terjadi apa-apa," gumam Killian sambil mencengkeram kemudi..Kakinya menekan pedal gas. "Vivi, tunggu aku."
Sementara itu, Vivienne masih berada di halaman. Rasa sakit semakin sering datang. Ia berusaha berdiri, tetapi lututnya kembali melemas.
"Ah ...." Vivienne memegang perutnya. "Bertahan sebentar, Sayang."
Air mata mulai menggenang di matanya. "Mama akan membawa kamu ke rumah sakit."
Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar dari arah depan rumah. Vivienne mengangkat wajah.
Pintu mobil terbuka. Killian berlari masuk dengan wajah pucat. "Vivi!"
"Aku di sini," jawab Vivienne lemah.
Killian langsung menghampirinya. Begitu melihat kondisi Vivienne, wajahnya semakin tegang.
"Kamu bisa berdiri?" tanya Killian sambil berjongkok di hadapannya.
Vivienne menggeleng. "Sepertinya tidak."
Tanpa membuang waktu, Killian langsung menggendongnya. "Pegang aku."
Vivienne refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Killian. "Pelan-pelan," ujar Vivienne dengan napas tersengal.
"Iya. Aku hati-hati." Killian membawa Vivienne menuju mobil.
"Bayiku," bisik Vivienne sambil menahan rasa sakit.
"Dia akan baik-baik saja," jawab Killian cepat. "Kamu juga akan baik-baik saja."
Suara Killian sendiri terdengar sedikit bergetar. Ia tidak ingin Vivienne semakin takut.
Begitu sampai di rumah sakit, tenaga medis langsung datang membawa kursi roda. "Pasien hamil tiga puluh enam minggu," ujar Killian cepat. "Air ketuban sudah pecah."
"Baik, kami akan segera membawanya ke ruang bersalin," jawab salah seorang tenaga medis.
Vivienne menatap Killian ketika kursi rodanya mulai didorong. "Killian ...."
Killian segera menggenggam tangannya. "Aku di sini."
"Jangan pergi."
Killian menggeleng. "Aku tidak akan pergi."
Pintu ruang bersalin akhirnya tertutup. Killian berdiri terpaku di depan pintu.
Beberapa detik kemudian, ia mulai mondar-mandir. Langkahnya tidak beraturan. Tangannya beberapa kali mengusap wajah. Wajahnya pucat.
"Semoga mereka selamat."
Killian berhenti sejenak. Kedua tangannya kemudian terkatup di depan dada. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan sampai terjadi apa-apa pada Vivi dan bayinya."
Killian menelan ludah. "Ya Tuhan, selamatkan mereka."
Ia kembali berjalan mondar-mandir. Setiap kali terdengar suara dari balik pintu, tubuhnya langsung menegang.
"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Killian ketika seorang perawat keluar.
"Proses persalinan sedang berlangsung. Mohon tunggu di luar."
Killian mengangguk cepat. "Baik."
Perawat kembali masuk.
Killian menatap pintu itu tanpa berkedip.
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Sementara itu, di dalam ruang bersalin, Vivienne menggenggam erat tangan tenaga medis. Rasa sakit datang semakin kuat. Air mata mengalir di pipinya.
"Tarik napas, Nyonya," ujar tenaga medis dengan suara menenangkan.
Vivienne mengangguk sambil berusaha mengikuti arahan.
"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi."
Vivienne memejamkan mata. Napasnya terputus-putus.
"Sayang, Mama di sini."
Rasa sakit kembali datang. Vivienne mengepalkan tangannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya. Kemudian terdengar suara tangisan bayi kecil.
Vivienne membuka mata. Bibirnya bergetar. "Bayiku."
Tenaga medis tersenyum. "Selamat, Bu. Bayinya perempuan."
Air mata Vivienne langsung mengalir deras. "Perempuan?"
"Ya. Bayinya sehat."
Vivienne menutup mulutnya dengan tangan. Tangis bahagia pecah dari bibirnya. "Anakku.
Ketika bayi mungil itu diletakkan di dekatnya, Vivienne menatap wajah kecil tersebut dengan mata berkaca-kaca. Tangannya yang masih gemetar menyentuh pipi bayinya.
"Halo, Sayang." Senyum lebar muncul di wajahnya. "Terima kasih sudah datang."
Vivienne menangis sambil mencium kepala mungil bayinya.
Di luar ruangan, Killian yang sejak tadi mondar-mandir tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara tangisan bayi. Matanya membesar. Ia menatap pintu ruang bersalin.
"Itu?!"
Suara tangisan bayi kembali terdengar. Killian menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menundukkan kepala.
"Terima kasih." Bahunya yang tegang perlahan turun.
Vivienne selamat. Bayinya juga selamat. Dan setelah semua ketakutan yang mereka lewati, akhirnya terdengar suara tangisan kecil yang menjadi tanda bahwa kehidupan baru telah dimulai.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess